MasukCaesar Alexander seorang mafia yang paling berbahaya di London. Bertemu dengan seorang gadis bernama Camelia Wilson, yang saat itu sedang galau karena masalah percintaannya. Pertemuan mereka berawal dari Camelia yang dengan lancang masuk ke mobil Caesar dan menyuruh Caesar mengantarkannya pulang. Di pertemuan kedua, Camelia meminta Caesar untuk menjadi pacar kontraknya dan Caesar menyetujuinya. Dan sejak itu, hubungan mereka semakin dekat dan berjalan manis. Tapi masalah mulai muncul saat Caesar menyatakan cintanya pada Camelia. Akankah Camelia dan Caesar bisa bertahan dengan semua masalah yang tiba-tiba muncul? Dan bisakah mereka berdua memecahkan misteri dari semua masalah ini?
Lihat lebih banyakNikki POV
It was the night of the blood moon and my friends and I had decided to go to the clearing to see the moon at its peak. At least, that's what I said was the reason to go to the clearing on the hillside. Usually only those 18 and older go to the clearing to find their mates under the blood moon. I convinced Charity and Silvie to go on the pretense of ‘seeing the beauty of the blood moon better’. My real reason was Frankie, I wanted to see if he found his mate.
Frankie is the Alpha's son, he's 6 foot 4 with broad shoulders and muscles for days. His brown, almost black hair hung to his shoulders and his eyes were so blue it was like staring into the sky on a sunny afternoon. Not that he'd ever notice me, my dark blonde hair and brown eyes were ordinary at best. I was short and barely a B cup, I did have a little junk in the trunk though. That didn’t stop me from praying to the Moon Goddess that Frankie wouldn’t find his mate tonight and maybe she'd save him for me.
“You know Nikki, most people don’t make this ridiculous climb up to the clearing until they have their wolves and can find their mates?” Silvie said. Silvie was whining again. “Silvie, I told you I just want to see the blood moon closer. Don’t you think it will be more beautiful higher up than it is from below?” I said.
Charity chimed in, “Nikki it is probably more beautiful from the clearing because people find their mates up there. It’s romantic. Silvie and I are only 16 and a half and you’re only 17 and a half.” “Maybe you’re right, but we are almost there and I just want to see if it is different.” I said.
We were starting to get closer. I could hear voices up ahead and smell the bonfire had already been lit. “Come on guys, it should be just past these trees.” I encouraged.
Once we got past the next bunch of trees, I could see that there were at least 40 people up here. I hadn’t realized that there would be so many unmated wolves in our pack.
“What the fuck? Who invited the pups?” Sidney said. Ugh, Sidney she is such a bitch and believes that she will be the next Luna alongside Frankie. “Shouldn’t you girls be at home playing with your dolls and having tea parties?” Sidney sneered.
“Stick it up your nasty skanky ass Sidney. We are only up here to get a better view of the blood moon. No one is bothering you.” Charity replied. Charity, I do love that girl. She says exactly what is on her mind. You know that whole good twin-evil twin thing? That is Charity and Silvie.
“Who are you calling skanky pup?” Sidney taunted. “You, SKANK! The warrior's pet she-wolf” Charity answered. And I watched it unfold in slow motion as Sidney pulled her fist back and threw the first punch, except it was me she hit as I pushed Charity out of the way and Sidney’s fist connected with my eye.
I don’t know why I did it, other than I have had a year more of training than Charity has. But boy was it worth it! “Knock it off Sidney! Why are you hitting pups?!” Frankie shouted. Frankie was in front of me offering his hand to help me up. SWOON
“Are you okay Nikki? Do you need to see the pack doctor?” Frankie asked. I couldn’t focus on anything other than the rich baritone of Frankie’s voice, I have no idea what he is saying to me. “Nikki? Nikki? Can you hear me?” Frankie asked again. I could see his lips moving, oh my goddess, can I just lean in and see if they are as luscious as they look? Right before I almost made a fool of myself I snapped out of it. “I am sorry, what did you say?” I said.
Frankie let go of my hand and said, “Are you okay Nikki? Do you need to see the pack doctor?” Frankie asked like he was talking to a mental patient. “Nnn- No. I’m fine. It hurts but it will heal.” I answered. “It will take longer since you don’t have your wolf yet. I don’t see any blood on the outside of your eye, so hopefully when the swelling goes down, it will be okay.” Frankie replied after looking at my eye.
“Why are you girls up here anyway? None of you are 18 yet.” Frankie asked. As I bit my lower lip I just stared for a moment. “I just wanted to see if the blood moon was prettier higher up.” I answered. I stared at the ground hoping he wouldn’t tell us we had to go back. When I looked up I could see Frankie thinking before he spoke. “Well make sure you stay out of the way. The moon will be at its apex in about 30 minutes. And if things get… complicated you’ll have to head back down.” He said a bit skeptical.
We knew what complicated actually implied. 2 blood moons ago Allison, Sidney’s sister, dropped to her knees and gave her newly found mate a blow job. I heard it was pretty gross for all to see.
“We’ll stay out of the way and leave right after the apex hits.” I told him. Frankie shook his head and walked back over to the tailgate of his truck. “Come on guys, let's find a place to sit until the moon hits its apex and then we can go.” I said to Silvie and Charity. “Frankie sure is cute, I wouldn’t mind blowing that if he were my mate.” Charity murmured. I looked to where he was standing and just grinned. “Mom says you shouldn’t talk like that, Charity. Besides, sucking dick is gross.” Silvie said prissily. “As if you’d know, Silvie. You probably think the stork brings babies too.” Charity replied back.
While they bantered back and forth, I just watched Frankie and his friends. They were drinking beer and Frankie was laughing at something Tatum said. That guy comes up with some crazy shit.
A few growls had me paying closer attention to what was going on. Looks like there’s about 8 new sets of mates. I sighed in relief and silently thanked the Moon Goddess that Frankie wasn’t one of them.
“Come on guys, I told Frankie we would head back down right after the apex.” I said once I could see all the mate pairs were done.
We got on our feet and started back down. We had been walking for about 5 minutes when we heard a large collective growl and then a howl. “SHIT! We’re under attack! RUN!” I screamed.
"Ini cek lima ratus juta. Kau bisa mendapatkannya sekarang jika menyetujui kontrak ini." "Aku tidak yakin lima ratus juta hanya untuk berpura-pura sebagai sepasang kekasih." Kenapa dia sangat pintar? Batin Camelia. Dia benar-benar tidak bisa ditipu. Baiklah, lebih baik mengatakan yang sebenarnya. Camelia menyandarkan punggungnya. "Yah, baiklah. Sebenarnya aku ingin hubungan ini berlanjut bukan hanya untuk balas dendam. Tapi karena hal lain..." Bagaimana mengatakan hal itu? Camelia ragu. Caesar menyeringai. Sudah ia duga, uang sebanyak itu hanya untuk melakukan hal konyol ini? Itu tidak mungkin. Apa yang diinginkan gadis ini darinya? "Apa yang kau inginkan?" Berdeham canggung dengan ragu Camelia menjawab, "Aku ingin kau bersikap sebagai kekasih yang baik dan emm... romantis?" "Romantis?" Bingung Caesar. Camelia menghela napas pasrah. Sepertinya ia harus menjelaskannya dari awal. Mengambil napas dalam-dalam Camelia pun menjelaskan mulai dari cita-citanya yang ingin menjadi p
Sore hari terasa begitu terik. Apalagi saat berada di luar ruangan yang dekat dengan jalanan aspal tempat kendaraan berlalu lalang. Tidak hanya panas tapi juga polusi yang kotor.Diatas semua itu gadis ini justru menunggu di depan cafe sambil memakan es krim rasa coklatnya. Mungkin rasa dingin pada es krim membuatnya mengabaikan terik matahari yang menyengat dan polusi yang bertebaran.Tepat disuapan terakhir, pria yang gadis ini tunggu akhirnya datang. Begitu selesai menelan suapan terakhir es krim miliknya, ia langsung mencampakkannya dengan sedikit keras di tong sampah."Sopankah anda membuat seorang gadis cantik menunggu lama di depan cafe sendirian?" Sindir Camelia."Aku sibuk," jawab Caesar singkat. Tanpa minta maaf. Tentu saja itu membuat Camelia kesal.Tapi lupakan itu, ada hal yang lebih penting yang harus ia bicarakan."Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.""Kita bicarakan di dalam," ujar Caesar bergerak ingin masuk ke dalam cafe tapi Camelia buru-buru menarik tangannya. "
"Really?? Hanya segini pembacaku?!" Camelia berteriak frustasi melihat layar laptopnya. Ini sudah hampir setengah tahun tapi ceritanya selalu sepi pembaca. Yah sepi bukannya tidak ada pembaca maksudnya hanya puluhan orang yang tertarik membaca ceritanya. Tapi tetap saja puluhan itu sangat sedikit! "Perasaan cerita gue bagus, malahan bagus banget. Update juga nggak lama-lama banget. Tapi kenapa jumlah pembacanya sedikit begini?" Tanya Camelia bingung. Camelia mengetuk meja sembari memikirkan ceritanya. "Gue harus apa coba? Promosi? Udah. Apa lagi??" Menjatuhkan kepalanya di meja, Camelia menatap sendu tong sampah yang penuh oleh kertas-kertas. Itu semua adalah cerita buatannya yang ia ajukan kepada penerbit. Tapi satupun tidak ada yang lolos. Benar-benar menyebalkan. "Tunggu, Alisya mungkin bisa membantu." Camelia meraih hp nya dan mulai menelpon temannya. "Alisyaaa..." Bukan sapaan halo melainkan suara rengekan yang keluar. Tampaknya Camelia benar-benar putus asa. "Lo, kenapa?"
Sepasang kekasih yang tengah bergandengan tangan itu akhirnya melepaskan tautan tangan mereka saat tiba di parkiran. Camelia berjalan mundur ke samping begitu juga dengan Caesar."Kenapa tiba-tiba rencananya berubah?" Caesar bertanya sambil bersedekap dada menatap Camelia dengan tajam.Rencana mereka Camelia akan memperkenalkannya sebagai seorang kekasih. Tapi mendadak Camelia mengganti kata-kata itu menjadi 'calon suami'. Bahkan mengatakan mereka sudah bertunangan. Benar-benar tidak seperti yang direncanakan.Camelia berdeham singkat. "Karena pria brengsek itu aku jadi tidak dapat mengontrol ucapanku. Melihat wajahnya langsung membuatku jengkel. Saat melihat tatapan cemburunya aku merasa senang lalu mengatakan kalimat itu tanpa pikir panjang," jelas Camelia sedikit gugup.Tatapan mata Caesar masih tajam. Camelia mendesah kesal melihat itu. "Mau aku bilang pacar atau calon suami, itu tidak ada bedanya. Tujuannya kan sama. Yaitu membuat pria brengsek itu cemburu.""Ngomong-ngomong, ken
"Selamat atas kehamilannya, kak Jian." Deg! Semua orang yang berada di pesta terkejut mendengarnya. "KAU!" Tuan Thomas berteriak marah, "Beraninya gadis rendahan sepertimu mengatakan omong kosong seperti itu!!" &nbs
Sebuah pesta pernikahan digelar dengan megah di sebuah hotel bintang lima. Tamu-tamu undangan berbondong-bondong memasuki aula pesta. Semuanya menggunakan jas dan gaun pesta yang mewah. Berbaur dengan sesama tamu undangan yang ikut menikmati pesta. Sepasang pengantin be
Apa Camelia akan langsung percaya dengan perkataan Caesar? Yang katanya ingin bertemu dengannya di cafe. Membantunya membalas mantan pacarnya dengan berpura-pura menjadi sepasang kekasih. Tidak. Camelia tidak ingin percaya. Tapi... Siang ini,
Apa yang aku lakukan? Kenapa aku menolongnya? Sejak tadi, pikiran itu terus menganggunya. Dia merasa bingung dengan dirinya sendiri. Kenapa dia tiba-tiba ingin menolong gadis asing itu? Setelah gagal membunuh gadis itu, sekarang dia malah menolong gadis itu. Ini sangat konyol. Entah apa yang terj












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan