แชร์

Rayuan Kakak Tiri

ผู้เขียน: Sedap Malam
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-11 08:31:00

Sumiyati menarik tangan Yudha menuju ke arah gubuk yang dikelilingi oleh rumpun bambu, meskipun dinding bangunan itu terbuat dari kayu namun cukup tertutup dan tak mungkin terlihat jika ada seseorang yang melintas di jalan sana. Gubuk itu berukuran sekitar 3x4 meter. Biasanya selain digunakan untuk beristirahat orang yang bekerja di ladang, juga digunakan untuk menyimpan beberapa peralatan bertani dan sisa pupuk.

Wajah Sumiyati yang saat ditemukan dalam kondisi menangis ini berubah lebih bersemangat, ada rasa penasaran yang tinggi tentang sosok pria muda yang selama ini menjadi bahan cemoohan warga sekitar. Sumiyati tahu betul jika Yudha itu bukan cuma miskin, ia juga impoten dan memiliki cacat bawaan lahir berupa kaki kiri yang memiliki ukuran berbeda dari sebelah kanan namun di hadapannya justru yang terlihat sosok yang jauh berbeda.

"Di sini gelap," ucap Yudha begitu mereka sampai di dekat gubuk, dengan tenang Sumiyati membuka pintu. Dia paham jika di salah satu sudut bangunan tersebut tersimpan lampu minyak.

"Ayo masuk, Di dalam sudah ada tikar kok," bujuk Sumiyati yang sudah tidak sabar.

Diterangi dengan cahaya temaram, Sumiyati mulai melepaskan kancing baju. Rambutnya yang semula terikat ini justru terurai hingga ke punggung. Setiap apa yang dilakukan oleh Sumiyati membuat jantung Yudha berdebar kencang. Kini perempuan yang merupakan istri dari juragan Kardi sudah tidak mengenakan apapun untuk menutupi tubuh indahnya.

"I---ini, bagus sekali. Meskipun kamu lebih tua dariku, tapi kondisi badanmu masih terlihat seperti gadis," ucap Yudha saat pertama kali memandang melon kembar milik Sumiyati.

"Badanku yang indah ini tak cukup membuat suamiku merasa puas, nyatanya dia masih berburu perempuan muda di luar sana," balas Sumiyati.

"Boleh aku menyentuhnya?" Yudha Yang penasaran minta izin untuk memegang permukaan melon kembar itu, Sumiyati mengangguk bahkan dia meletakkan telapak tangan juga tepat di atas salah satu melon miliknya.

"Hangat," decak Yudha.

"Lakukan apa yang kamu mau, Yudha. Tapi jangan lupa rahasiakan apa yang terjadi di tempat ini," bisik Sumiyati.

Yudha jadi bersemangat. Duduk tepat di belakang punggung Yudha, dia mulai dengan ucapan lembut dan pijatan pada bahu. Bibirnya menempel pada leher Sumiyati, sedangkan tangannya berselancar bebas meremas melon kembar yang kenyal. Sumiyati pun tidak kalah agresif, dengan posisi seperti itu tangannya terjulur ke belakang menggapai pusaka Yudha yang berdiri maksimal namun masih bersembunyi di dalam celana.

"Yudha, besar sekali ini. Ayo kita mulai ke inti permainan saja," desah Sumiyati yang sudah merasa basah dan tak mampu membendung hasratnya lebih lama lagi. Yudha termangu, iya biarkan Sumiyati menurunkan celananya. Di saat keduanya bersiap, tiba-tiba terdengar samar suara orang yang sedang berteriak dari kejauhan.

"Nyonya Sumi! Nyonyaaa, Anda di mana?!"

"Nyonya! Juragan Kardi ingin Nyonya cepat pulang!"

Begitu suara yang terdengar dari luar, Yudha dan Sumiyati terkejut. Mendadak pusaka Yudha langsung melunak, dia memperbaiki celananya seperti semula. Begitu pula dengan Sumiati yang gugup, berpakaian sebisanya sebelum orang-orang itu sampai ke tempat tersebut.

"Yudha, itu anak buah suamiku. Sebaiknya kamu lekas pergi, sebelum hal buruk terjadi padamu!" pinta Sumiyati sambil mendorong Yudha untuk berjalan ke arah pintu.

"I--iya," jawab Yudha tanpa membantah, namun sebelum sempat dia kabur dari tempat itu tiba-tiba Sumiyati menarik lagi dirinya ke belakang.

"Ada apa lagi?"

"Untuk saat ini mungkin apa yang kita inginkan tidak terjadi, tapi berjanjilah padaku kita akan bertemu lagi untuk menikmati momen seperti ini, Yudha," bisik Sumiyati.

"Baik, aku pasti membuktikan kejantananku padamu!" Yudha tersenyum, secara tidak langsung dia tidak perlu repot-repot untuk mencari target sebab di hadapannya sudah ada orang yang dengan sukarela menyerahkan diri.

"Cepat. Lewat sana saja!" perintah Sumiyati setelah memberikan sebuah kecupan di bibir Yudha.

Hanya berselang beberapa menit, rombongan anak buah Juragan Kardi sudah tiba di tempat itu. Jika terlambat sedikit saja mungkin Yudha sudah ketahuan.

"Nyonya, kamu di sini?" tanya salah satu anak buah Kardi.

"Syukurlah kalau kita ketemu. Ayo kita pulang, juragan Kardi sudah lama menunggu," ajak anak buah yang lain.

"Aku tidak mau pulang!" Sumiyati menolak ajakan itu, bukan karena dia tidak ingin pulang tapi hanya ingin memberi waktu agar Yudha tidak berpapasan dengan mereka. Dia sengaja mengulur waktu.

"Tolonglah kami, Nyonya. Jika anda tidak pulang, kami akan dihukum dan gaji kami akan dipotong tentunya!" rengek anak buah Juragan Kardi.

"Itu bukan urusanku. Kalian sendiri juga membiarkan juragan Kardi yang mau kawin lagi bukan? Harusnya kalian bisa memberi masukan padanya!"

"Iya kami janji menasehati juragan Kardi. Yang penting sekarang kita pulang dulu." Merasa usahanya hampir sia-sia akhirnya anak buah Juragan Kardi menyanggupi permintaan Sumiyati.

Sementara itu Yudha masih bersembunyi di balik pohon besar, menunggu orang-orang itu benar-benar pulang membawa Sumiyati tanpa melukai. Telah semua dirasa aman barulah dia kembali berjalan menuju ke arah rumah.

Sesampainya di rumah, Yudha segera masuk. Di sana Sari sudah menunggu dengan wajah murung karena kepergian Yudha yang katanya sebentar ternyata berlangsung beberapa jam.

"Kamu ini dari mana?" tanya Sari sambil melipat tangan di depan dada.

"Aku cari beberapa rempah-rempah dan bumbu pesananmu, tadi di sana orang-orang mengejekku. Mereka mengatakan jika aku tidak mungkin mendapatkan ikan saat melaut," Yudha langsung menceritakan apa yang terjadi di pantai tadi.

"Abaikan saja mereka. Orang-orang itu memang pandai dalam melaut, sedangkan kamu belum pernah sekalipun pergi ke lautan lepas,"

"Tapi aku sudah bosan mereka terus mengejekku. Kali ini aku akan membuktikan jika omongan mereka salah," ucap Yudha membulatkan tekad.

"Tak perlu meladeni tantangan seperti itu. Apalagi pada beberapa malam terakhir kondisi laut sedang tidak baik-baik saja, sering terjadi badai dan gempa yang bisa memicu tsunami. Berdiam diri di rumah lebih aman tak beresiko,"

"Kita ini hidup di tepi lautan, salah satu cara bertahan hidup yaitu dengan mencari ikan. cepat atau lambat, sekarang atau nanti aku pasti juga akan melaut seperti mereka," imbuh Yudha.

"Aku kuatir dengan kamu, Yudha. Cuma kamu yang aku punya,"

"Mbak, tenang aja. Nanti kalau aku sudah pandai menangkap ikan, hasilnya bisa aku jual dan membuatkan kamu sebuah rumah mewah agar tidak ada lagi orang yang meremehkan kita," pungkas Yudha.

Mendengar perkataan adik tirinya itu Sari jadi terharu, spontan ia memeluk Yudha dengan dekapan erat. Bisa seperti ini pusaka Yudha yang menempel di perut Sari kembali bereaksi mengencang, Sari bisa merasakan itu.

"Yudha, pusakamu bangun?"

"Dikit," jawab Yudha malu-malu.

"Mbak mau lihat!" desak Sari.

"Enggak mau ah! Lebih lebih baik sekarang kamu buatkan aku campuran untuk membuat umpan agar malam ini aku bisa lekas berlayar meladeni dan tangan mereka," kata Yudha.

Sreeet!

Tanpa menunggu persetujuan Yudha, Sari segera berjongkok dan langsung menurunkan celana adik tirinya itu. Mata Sari membulat karena tepat di depan bibirnya pusaka Yudha mengencang.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Ritual Persembahan

    "Lihat, Malam ini kita memiliki cukup makanan dan teman tidur yang cantik," ujar salah satu orang yang ada di depan Sari.Orang-orang berwajah sangar, berpakaian kumuh dan rambut panjang serta membawa senjata berupa kapak, panah, golok dan tombak. Seolah mereka itu berasal dari dunia kuno. "Tuan, kami enggak sengaja ke sini," ujar Sari, dia berusaha melindungi Ratna yang bersembunyi di belakang punggungnya."Hah? Kalau kalian sudah berada di sini, berarti sudah memasuki wilayahku. Artinya kalian harus menebus kesalahan itu dengan sesuatu yang sepadan," ujar ketua kelompok."Aku bawa uang, mungkin bisa digunakan untuk kalian berbelanja kebutuhan pokok semacam beras atau ikan segar," Sari mengeluarkan sejumlah uang yang dia bawa dari desa nelayan, uang tersebut pemberian Sumiyati.Clink!Koin emas itu dilempar membentur bebatuan di tanah, salah satu pria berwajah sangar segera memungutnya. Yang memeriksa apakah uang itu benar-benar emas asli atau bukan. "Dari mana kamu mendapatkan uang

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Terjebak Di Pulau

    Sementara Kardi sibuk mengendalikan hawa nafsunya, ia sering berdiam diri di kamar karena merasa tidak nyaman jika keluar dari ruangan. Orang-orang akan melihat bagian pribadinya menonjol di balik celana, jadi Dia memutuskan hanya berada di dalam kamar saja."Apa yang terjadi dengan Sari? Apakah dia memiliki penyakit menular kelamin?" tanya Kardi yang pada saat itu ditemani Sumiyati."Aku tidak tahu, kenapa kamu masih memikirkan dia? Padahal aku siap melayanimu dengan segala kemampuan yang akan bisa, coba Mas di mana kurangku selama ini?" Sumiyati balik bertanya, dia merasa sekarang waktunya untuk memperbaiki hubungan rumah tangga mereka yang selama ini berlangsung dengan dingin tanpa komunikasi yang dua arah."Sejak menikah denganmu, aku merasa semuanya hambar. Terkadang butuh perempuan lain yang memakai tentang diriku," kata Kardi."Kamu kurang bersyukur, sudah beberapa kali menikah namun selalu berakhir dengan perceraian. Dengan mudahnya kamu mengakhiri hubungan, tanpa mempedulikan

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Mencari Yudha ke pulau kosong

    Dulu Aini, ibunya Sari mahir membuat ramuan obat. Kemampuan itu diturunkan pada Sari, untuk mengibarkan penyakit ringan dengan bahan-bahan yang disediakan oleh alam. Sebenarnya yang dibuat Sari itu merupakan obat pengencang alat vital bagi perempuan melahirkan atau bisa juga digunakan perempuan biasa untuk membersihkan alat vital dari racun dan bakteri yang mengganggu (gurah vagina). Efek samping dari ramuan itu bisa mengeluarkan racun berbahaya bagi organ kewanitaan, cairan kuning keruh yang keluar merupakan bakteri jahat yang membuat keputihan."Ternyata kamu mahir dalam membuat ramuan semacam itu," puji Sumiyati esok harinya saat bertemu Sari di dapur. Sari lantas menjelaskan berbagai khasiat lainnya, hanya saja ikan busuk tidak termasuk bagian dari ramuan tersebut."Aku hanya melakukan seperti yang pernah ibuku ajarkan dulu," ucap Sari tetap rendah hati."Lantas ramuan apa saja yang bisa kamu kerjakan, membuat organ intim wanita menjadi lebih enak bagi laki-laki. Jika kamu bisa me

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Gagal Maning Gagal Maning

    Pagi itu sebuah kesimpulan disepakati oleh Ratna, Sari dan Sumiyati tentang upaya pembatalan pernikahan antara Kardi dan Sari, dengan sebuah kompensasi berupa pemberian uang serta perhiasan kepada Sari."Untuk sementara aku memberimu ini dulu, nanti kalau benar-benar gagal aku tambahin lagi uangnya!" ucap Sumiyati, dia menyerahkan sebuah gelang yang terbuat dari emas pada Sari."Ya aku pun tidak ingin menikah dengannya," kata Sari tersenyum.Sekitar jam 09.00 pagi, Sari pergi ke pasar yang ada di dekat pelabuhan untuk membeli beberapa rempah-rempah. Kemudian setelah itu dia pulang ke rumah lamanya yang dalam kondisi porak-poranda akibat badan gempa hari ini, di bekas dapur dia mencampur jahe merah, kunyit, rumput gajah dan ikan busuk yang sudah dihaluskan."Aku harus mengoleskan ini ke alat vitalku? Huh, konyol ... tapi cuma ini yang bisa aku lakukan untuk mencegah pernikahan itu terjadi, semoga dia enggan menyentuhku," ujar Sari, telah mencampur beberapa rempah-rempah dan menggilingn

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    seperti malam pertama.

    "Aaah, Maaaas! Ini gede banget, aaaakh!" Sumiyati menggeliat, ia merasakan pusaka itu masuk tanpa hambatan dan membuat miliknya teras penuh menyentuh setiap syaraf pemicu kenikmatan. Kardi tersenyum, ia begitu percaya diri setelah sekian tahun enggak merasakan kenikmatan hakiki percintaan dengan istrinya. "Kamu suka? Coba gerakan lebih lembut," bisik Kardi, ia melihat Sumiyati membungkuk dan mulut mereka beradu. Hisapan Sumiyati pada lidahnya seperti stimulasi tersendiri yang membuat permainan itu semakin liar dan ganas layaknya pengantin baru."Ayo, gerakkan dengan lembut!" Kardi yang menghentak dari bawah menepuk pinggul Sumiyati, ia mulai kehabisan energi dan membiarkan istrinya mengulek pelan.Namun keperkasaan Kardi di ranjang belum juga bisa diimbangi oleh Sumiyati, perempuan itu terlihat kaku. Hanya butuh beberapa menit saja, Sumiyati yang merasakan sensasi super geli tiba-tiba menggelinjang, tangannya berpegang pada pundak dan dada Kardi, mulutnya mendesis. "Aaaah, aku keluar!

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Efek Pil Kejantanan

    Jam dua dini hari Kardi terbangun, dia yang tidurnya tengkurap merasa ada sesuatu yang mengganjal di bawah sana dan sangat mengganggu. Belum lagi soal perutnya ya benar-benar membuat Kardi tidak bisa tidur dengan posisi yang nyaman akibat terlalu banyak makan sore tadi. "Benda apa ini kok ada di sini?" gumam Kardi, dia duduk dan meraba lantai tempat dia tidur namun tidak menemukan apapun. Kemudian dia berdiri, hal aneh yang dia rasakan ketika dia melihat bayangan dirinya di cermin."A---apa ini?" Celananya terlihat menonjol, seperti ada sebuah timun besar dia simpan di dalam saku sekarang. Dia segera merogoh, menggemam benda itu namun terasa hangat dan hidup."Tak mungkin! Ini benar-benar punyaku!" seru Kardi, dia yang tidak percaya segera menurunkan celananya dan benar saja benda itu merupakan organ intim miliknya yang memiliki ukuran berbeda dari biasanya, besar dan berotot. Jika sebelumnya Kardi merasa malas untuk bergerak, tiba-tiba tubuhnya merasa bugar dan bertenaga bahkan ada h

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status