Teilen

Lepas Kendali

last update Veröffentlichungsdatum: 09.09.2026 21:33:55

Elena menghela napas pelan.

Rasa hangat itu tidak juga mereda.

Justru semakin lama, semakin terasa jelas. merambat pelan, mengisi ruang di dalam tubuhnya yang seharusnya tenang.

Ia menarik bagian kerah blazernya dengan gelisah, seolah kain itu tiba-tiba terasa terlalu tebal di kulitnya. Padahal sejak tadi udara kamar sudah cukup dingin.

“Kenapa sih…” gumamnya lirih.

Tanpa berpikir panjang, ia membuka blazernya, lalu melemparkannya begitu saja ke arah kursi. Bahkan ia tidak benar-benar peduli k
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Noda Pernikahan Paksa   Pelangi Setelah Hujan (End)

    Tiga Tahun Kemudian​Pagi itu, sinar matahari hangat menerobos masuk melalui celah gorden kamar utama. Aroma lavender dari pelembab udara berpadu lembut dengan wangi kopi hangat yang dibawa Axel ke dalam kamar.​Di atas ranjang besar, Elena tersenyum tipis saat merasakan sebuah kecupan lembut di keningnya. Perlahan ia membuka mata, menyambut senyum hangat dari pria yang tiga tahun terakhir ini tak pernah absen berdiri di sampingnya. menjadi pelindung, penopang, dan satu-satunya tempat ia pulang.​"Pagi, Sayang," bisik Axel lembut, lalu mendaratkan tangan hangatnya di atas perut Elena yang membuncit besar. "Pagi juga, Jagoan Papi..."​Elena mengelus jemari Axel yang berada di atas perutnya. "Pagi, Papi..."​Tiga tahun bukan waktu yang singkat untuk menyembuhkan luka akibat kehilangan kedua orang tuanya. Namun, Axel membuktikannya. Pria itu tidak pernah memaksa, selalu sabar menuntun Elena keluar dari masa-masa kelam, hingga akhirnya Elena benar-benar luluh dan membuka hatinya seutuhnya

  • Noda Pernikahan Paksa   masih ada mama...

    ​"Elena... lihat Mama, Nak..." suara ibu Axel, Heranica. terdengar begitu lembut, bergetar menahan duka yang sama besar.​Elena perlahan mendongak dengan pandangan kabur oleh air mata. Matanya sembab, merah, dan tatapannya begitu kosong seolah nyawanya telah ikut pergi bersama brankar yang baru saja melintas.​Heranica merengkuh wajah Elena dengan kedua tangannya, mengusap pipi wanita muda itu yang terasa dingin. "Mama tahu ini berat... berat banget buat kamu. Tapi Mama sama Papa kamu udah tenang, Nak. Mereka udah nggak ngerasain sakit lagi..."​"Mama Heranica..." bisik Elena, suaranya parau dan tercekik. "Aku... aku sekarang sendirian, Ma... Papa udah nggak ada... Mama juga pergi..."​"Enggak, Sayang. Kamu nggak sendirian," potong Heranica tegas namun hangat, lalu membawanya kembali ke dalam pelukan erat. "Kamu masih punya Mama, punya Papa Ares, punya Axel... Kita keluarga kamu. Mama nggak akan pernah biarkan kamu sendirian."​Di seberang lorong, Axel berdiri menatap dua wanita itu d

  • Noda Pernikahan Paksa   Kepergian Mama...

    Pintu kamar terbuka pelan, disusul langkah Axel yang kembali masuk dengan raut wajah yang jauh berbeda dari sebelumnya. Tidak ada lagi ketenangan yang tadi ia paksakan. Garis rahangnya menegang, sorot matanya tampak berat, seolah menyimpan sesuatu yang sulit diucapkan.Elena yang sejak tadi duduk gelisah di atas ranjang langsung menoleh. Hatinya berdegup lebih cepat hanya dengan melihat ekspresi Axel."Ada apa, Axel?" tanyanya, keningnya berkerut, firasat buruk mulai merayap masuk tanpa permisi.Axel tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri beberapa langkah dari tempat Elena, menatap wanita itu dengan ragu. Bibirnya sempat terbuka, namun kembali tertutup. Seolah kata-kata yang ingin keluar tertahan di tenggorokan."Axel?" Elena kembali memanggil, kali ini dengan nada lebih tegas. "Ada apa?"Hening.Axel menghela napas pelan, mencoba menenangkan dirinya sendiri sebelum melangkah mendekat. Ia duduk di tepi ranjang, jaraknya cukup dekat hingga ia bisa meraih tangan Elena yang terasa din

  • Noda Pernikahan Paksa   Kabar Duka

    Stasiun kereta terdekat tampak penuh sesak.Orang-orang berkerumun di berbagai sudut. Suara tangis, teriakan, dan pertanyaan saling bersahutan tanpa jeda.Beberapa orang terlihat histeris, memanggil nama anggota keluarga mereka.Sebagian lainnya mengerumuni petugas, memaksa meminta kepastian."Mas, tolong dicek lagi! Nama suami saya belum ada!""Anak saya ada di gerbong tiga, Mas! Tolong!""Daftar korban di mana?!"Suasana benar-benar kacau.Penuh kepanikan.Penuh ketidakpastian.Elena berdiri di tengah keramaian itu, wajahnya pucat, matanya terus mencari ke sana kemari, seolah berharap menemukan jawaban di antara kerumunan orang.Tangannya mencengkeram lengan Axel erat."Ax… Mama sama Papa pasti mereka naik-baik saja kan…?" suaranya lirih, penuh harap yang rapuh. Axel menatap sekeliling, lalu kembali ke Elena."Iya… kita cari, ya. Tenang… aku di sini."Meski ucapannya terdengar tenang, matanya sendiri tak bisa menyembunyikan kecemasan.Beberapa kali, Axel menarik Elena mendekat saat

  • Noda Pernikahan Paksa   Kecelakaan Kereta

    ​“A-anu, Non… Nyonya Besar dan Tuan Besar… kecelakaan, Non!”​Elena tertawa hampa. “Ngaco! Jangan bercanda ah, nggak lucu. Satu jam lalu aku masih teleponan sama Mama, Bi. Mama lagi baik-baik aja.”​“Saya nggak berani bercanda soal ini, Non!” potong pelayan itu dengan suara bergetar panik. “Barusan ada berita sela di TV… kecelakaan kereta api setengah jam yang lalu. Parah banget, Non… banyak korban jiwa…”​“Ya terus apa hubungannya sama Papa Mama?” cecar Elena, suaranya mulai meninggi karena menolak kenyataan. “Masa iya Papa sama Mama naik kereta? Mereka itu naik pesawat!”​“Tapi, Non… di daftar nama korban yang ditayangkan… ada nama Tuan Theo dan Nyonya Elis…”​Dada Elena berdesir hebat. Otaknya menolak mentah-mentah ucapan itu. Dengan gerakan panik, ia menyambar ponselnya dan menekan nomor Mamanya.​“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.”​Elena mencoba menghubungi Papanya. Sama. Suara mesin menjawab dingin. Jarinya yang gemetar mulai tak kontrol men

  • Noda Pernikahan Paksa   jatuh cinta lagi

    ​"Boleh aku duduk sebentar?"​"Silakan, Dok."​Keenan duduk di hadapan Elena dengan napas yang belum teratur. "Terakhir, Elena... apa kamu yakin nggak ada kesempatan sedikit pun buat aku?"​Elena menatapnya lurus. "Keenan... aku rasa jawabanku kemarin sudah jelas. Maaf banget, jawabanku masih tetap sama."​Keenan menunduk, meremas tangannya pelan sebelum menghembuskan napas panjang. Dari sudut lain, Axel memperhatikan interaksi itu dari jauh dengan raut tak tenang.​Keenan kembali mendongak dengan senyum tipis. "Baik, aku terima. Aku cuma berharap kamu selalu bahagia." Ia mengusap wajahnya sekilas. "Sore ini aku fly ke London. Tugasku di sini sudah selesai."​Elena terkejut. "Keenan... are you okay?"​"Aku nggak apa-apa," sahut Keenan cepat, berusaha tersenyum. Ia meneguk habis minumannya, lalu berdiri. "Jaga diri baik-baik. Kalau butuh apa-apa, nomorku masih sama."​Tanpa menunggu balasan, Keenan berbalik dan melangkah pergi. Elena hanya bisa menatap punggung pria itu dengan sedikit

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status