Teilen

93 - 

last update Veröffentlichungsdatum: 23.09.2026 20:00:10

Hughes mengangguk dan keluar dari ruang kerja.

Kenneth tetap duduk di kursinya. Ia tidak langsung bergerak. Tangannya meraih pena di meja, memutarnya pelan di antara jari-jemarinya. Cahaya dari obor di taman jatuh ke lantai kayu, bergetar pelan setiap kali angin lewat.

Ia sudah mendengar gosip itu sendiri hari ini. Di gereja, dari mulut orang-orang yang bahkan tidak meng

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Nona Hart, Tuan Earl Tak Mau Kau Pergi   132 - Melewatiku Dulu

    Kenneth masih berdiri ketika suara dari bawah terdengar lagi, teriakan, bunyi kayu beradu, langkah kaki yang berlari di lorong.“Bisa berjalan?”Elia mengangguk, meski lututnya terasa kaku dan kepalanya belum sepenuhnya percaya pada apa yang dilihatnya. Kenneth meraih tangannya. Genggaman itu erat, hangat, dan nyata. Ia menarik Elia ke pintu.Berta berdiri di lorong, dan ia tidak ikut melangkah.“Aku tidak ikut,” katanya, cepat dan pelan. “Kalau aku hilang, mereka akan curiga.” Ia menunjuk ke kiri. “Tangga belakang di ujung lorong. Turun satu lantai, lalu belok kanan. Ada pintu kayu kecil ke halaman belakang. Jangan lewat tangga depan.”Kenneth mengangguk sekali. “Terima k

  • Nona Hart, Tuan Earl Tak Mau Kau Pergi   131 - Menjemputmu

    Finneas berhenti di depan gerobak dan mengangkat dagu sedikit.“Pengiriman teh dari Mistvale,” katanya, menyebut nama itu dengan penekanan yang tidak perlu. “Sehari sebelum pernikahan. Menarik sekali.”Thomas menjawab pelan. “Kami hanya diperintahkan mengantar, Tuan.”“Tentu.” Finneas berjalan ke sisi gerobak. Sepatunya berderit di atas batu, dan bau cologne manis menyusul di belakangnya. Ia meletakkan tangan di tepi terpal, merasakan kain tebal itu di bawah jarinya. “Aku harap ini bukan rencana majikan kalian untuk membawa lari pengantin. Akan sangat merepotkan kalau calon istri Viscount Blackthorne menghilang sebelum upacara.”Ia tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke mata. Matanya bergerak dari Thomas k

  • Nona Hart, Tuan Earl Tak Mau Kau Pergi   130 - Jonas

    “Nama?”Kenneth menahan napas sesaat sebelum menjawab. Ia sudah memperkirakan pertanyaan itu akan datang, dan tetap saja lidahnya terasa kering.“Jonas.”“Jonas siapa?”“Jonas saja, Tuan. Anak penjaga gudang di Mistvale.”“Jonas.” Penjaga itu mengulang nama itu pelan, seolah menimbang apakah jawaban itu layak dipercaya. Tatapannya tidak beranjak dari wajah Kenneth.Kenneth mempertahankan ekspresi datar, kedua tangannya menggantung di sisi tubuh. Sarung tangan kasar itu longgar di ujung jari, dan ia harus mengingatkan dirinya berkali-kali agar tidak menariknya.Di belakangnya,

  • Nona Hart, Tuan Earl Tak Mau Kau Pergi   129 - Pengiriman

    Gerobak itu sudah ditutup terpal ketika Kenneth keluar dari gudang.Enam pekerja berdiri di sekitarnya, mantel tebal dikancingkan sampai dagu, napas mereka mengepul putih di udara dingin. Thomas berjalan dari satu orang ke orang lain, menarik tali, mengetuk peti, memastikan setiap ikatan kuat. Kenneth menghampiri mereka dengan pakaian kerja sederhana, kemeja gelap tanpa kancing berlapis, mantel wol usang yang ujung lengannya sudah berbulu. Tidak ada yang menunjukkan bahwa ia seorang Earl. Telapak tangannya terasa asing di balik sarung tangan kasar, dan ia sudah melepas cincin signet-nya tadi malam, menyimpannya di laci.Thomas menoleh. “Kita siap, Tuan.”“Jangan panggil aku Tuan di jalan.” Kenneth naik ke gerobak, duduk di samping peti yang paling dekat dengan terpal. “Aku salah satu pe

  • Nona Hart, Tuan Earl Tak Mau Kau Pergi   128 - Malam Terakhir

    Hughes mengantar Hazel masuk ke ruang duduk, dan William berdiri begitu melihat perempuan itu.Hazel masih memakai mantel perjalanan, rambutnya berantakan tertiup angin. Ia berdiri di ambang pintu dengan tangan mencengkeram tali tasnya, buku-buku jarinya pucat. Matanya bergerak dari Kenneth ke William, lalu ke meja yang penuh kertas.“William,” katanya, suaranya lebih tenang dari wajahnya.“Hazel.”Kenneth melangkah dari meja. “Terima kasih sudah datang. Aku hanya minta kau membawa apa yang kau ingat.”Hazel menunduk sopan. “Saya tidak tahu apakah yang saya ingat berguna, Tuan. Dan...” Ia menelan ludah. “Saya baru tahu kalau Nona Camelia disekap.”Kenneth mengangguk, menunjuk kursi di seberang meja. “Duduklah.”Hazel duduk. William kembali ke kursinya di dekat jendela, tapi kali ini ia condong ke depan, tangan di lutut. Hughes keluar dan menutup pintu, dan bunyi kayu yang beradu terdengar jelas di ruangan yang tiba-tiba sunyi.Kenneth duduk dan meletakkan pena. “Kau bekerja di kediama

  • Nona Hart, Tuan Earl Tak Mau Kau Pergi   127 - Ramuan

    Finneas menarik kursi dan menunjuk ke arahnya. “Duduklah.”Elia duduk, punggung tegak, tangan terlipat di pangkuan.Finneas mengambil teko dari meja kecil dan menuang sendiri. Uap naik, membawa aroma melati yang manis dan sedikit pahit di ujung. Ia meletakkan cangkir tepat di depan Elia, memutarnya sampai gagangnya menghadap tangan kanan Elia, gerakan kecil yang rapi, seperti seseorang yang terbiasa dilayani sambil berpura-pura melayani.“Aku tidak ingin kita bermusuhan,” kata Finneas. “Kau pikir aku jahat. Aku mengerti. Tapi coba lihat dari sisiku. Kau perempuan, Camellia. Rumah itu, nama itu, bagaimanapun, semuanya akan jadi milikku. Dan kau akan hidup nyaman.”Ia menatap Elia lekat-lekat, lalu mencondongkan tubuh sedikit. &ldq

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status