LOGINSang kapten tentara rahasia tidak mengindahkan pertanyaan itu. Ia melayangkan kode gerakan tangan agar anggota timnya yang lain segera bergerak memeriksa dan menggeledah seluruh isi ruangan tersebut."Kalian tidak boleh menyentuh barang-barang itu!" tiba-tiba suara si gadis berkacamata kembali naik, nada suaranya dipenuhi kepanikan yang berlebihan saat melihat lemari arsipnya didekati.Melihat tawanan ini akan memprotes dan berteriak lagi, tentara rahasia di belakangnya dengan sigap mengambil selembar sapu tangan kain yang tergeletak di atas meja kerja, lalu menyumpal mulut si gadis tanpa ampun. Dengan cekatan, ia menarik kedua tangan perempuan itu ke belakang dan mengikatnya erat menggunakan tali."Lebih baik kamu duduk manis dan diam saja di sini," ucap tentara rahasia itu sembari mendudukkan paksa si gadis berkacamata di kursi kerjanya, tidak lupa mengikat tubuhnya ke sandaran kursi agar ia tidak memiliki celah untuk melarikan diri.Setelah memastikan tawanan mereka tidak membuat k
Kelima personel tentara rahasia itu seketika tercengang menyaksikan apa yang baru saja terjadi di hadapan mereka. Dinding rak buku itu bergeser lambat tanpa menimbulkan derit yang berarti. Keempat bawahan sang kapten langsung menatap pemimpin mereka dengan tatapan takjub, lalu secara serempak mengangkat jempol untuknya."Wah, Kapten! Anda benar-benar hebat! Bagaimana Anda bisa langsung tahu bahwa buku itu adalah tuas penarik mekanismenya?" bisik salah satu tentara rahasia dengan mata berbinar kagum.Sang kapten yang sebenarnya hanya asal menarik buku, buru-buru menguasai ekspresi wajahnya. Ia memasang wajah santai dan biasa saja demi menjaga wibawanya. "Tentu saja karena aku sangat teliti. Aku memperhatikan setiap jengkal bagian yang paling mencurigakan saat pertama kali menyisir ruangan ini. Sudah kubilang jangan banyak bicara dan tetap fokus. Ayo, kita masuk."Keempat bawahannya menelan bulat-bulat penjelasan sang kapten. Mereka mempercayai setiap kata pemimpinnya tanpa ragu, sehing
Begitu langkah mereka tiba di jarak terdekat yang membatasi koridor dengan ruang kantor pribadi milik Bianchi Vittorio, langkah mereka tertahan. Di depan pintu kayu jati mahoni tersebut, berdiri dua orang penjaga bertubuh kekar. Dari struktur otot, cara berdiri, dan tampilan luarnya saja, para tentara rahasia langsung bisa mendeteksi bahwa kedua orang ini adalah petarung handal kelas berat.Tentara rahasia kembali menerapkan metode yang sama. Bubuk obat bius dosis tinggi kembali ditaburkan lewat aliran udara AC ruangan. Sepuluh menit kemudian, setelah kedua penjaga itu tampak berdiri dengan pandangan mata yang kosong dan tubuh yang sedikit terhuyung kaku, para tentara rahasia itu dengan langkah tenangnya melangkah melewati para penjaga tersebut tanpa memicu kepanikan sedikit pun.Mereka berhenti tepat di depan pintu masuk. Dari markas keamanan Whitesand, divisi IT yang bekerja sama dengan Bella segera melakukan peretasan jarak jauh untuk membobol kode sandi elektronik pintu tersebut.
"Jadi, kita mau bergerak seperti apa, Kapten?" tanya salah seorang tentara rahasia lainnya, suaranya berupa bisikan yang teredam.Sang kapten tentara rahasia tidak langsung menjawab. Ia mengecek layar ponselnya terlebih dahulu, membaca laporan terkini dari intelijen pusat mengenai pergerakan tim lain di Whitesand. Laporan itu menyatakan bahwa di dua lokasi perusahaan legal milik Bianchi Vittorio, tidak ada data yang dicari.Ia meletakkan ponselnya kembali di atas dashboard mobil sembari menjawab dengan nada suara yang tenang. "Sepertinya kita tidak bisa memaksa masuk dengan cara kekerasan atau memicu baku tembak di sini. Di dua lokasi perusahaan milik Bianchi saat ini sudah terjadi keributan besar akibat penggeledahan Komandan Lombardi dan Jaksa Chiara. Kita jangan sampai membuat para penjaga di panti asuhan ini menjadi waspada terlebih dahulu, sebelum kita mengetahui dengan pasti apakah di sinilah tempat dokumen rahasia itu disembunyikan."Kapten itu mengetuk kemudi perlahan. "Terpak
Dengan nada suara berwibawa yang sengaja ditekankan, Ibu Panti itu membuka suara, "Selamat siang. Ada urusan apa yang membuat Anda sekalian datang ke panti asuhan kami tanpa adanya pemberitahuan terlebih dahulu?"Adrian tetap mempertahankan gaya tenangnya yang luar biasa, ketenangan yang sudah ia bangun sejak belajar kedokteran. Dengan intonasi bicara yang penuh dengan rasa percaya diri, ia menjawab sembari mengarahkan pandangan matanya menatap lurus tepat pada manik mata sang Ibu Panti yang bertindak sebagai ketua pengawas tempat tersebut."Selamat siang, Ibu. Kami semua adalah tim dokter cadangan yang ditugaskan dan dikirim secara langsung oleh Dokter Lance untuk menggantikan jadwal pemeriksaan kesehatan hari ini," ujar Adrian dengan pembawaan yang sangat meyakinkan.Ia menjeda kalimatnya sejenak, lalu memberikan penjelasan logis untuk mendukung kebohongannya. "Hari ini, Tuan Bianchi Vittorio tidak bisa ikut mendampingi kunjungan karena beliau mendadak harus menangani urusan birokra
Dokter Lance dan tim perawatnya sedang berada dalam perjalanan menuju panti asuhan ketika tiba-tiba ponselnya berdering nyaring. Panggilan itu rupanya berasal dari rumah sakit tempatnya bekerja. Melalui suara suster di seberang telepon, ia diharuskan untuk segera datang ke rumah sakit sekarang juga demi menangani seorang pasien darurat yang membutuhkan tindakan operasi besar.Dokter Lance mengernyitkan dahi dalam-dalam, merasa terusik. Dengan nada angkuh, ia menyahut, "Batalkan atau alihkan ke dokter lain. Katakan kepada kepala ruang bedah bahwa hari ini saya sudah mengajukan izin resmi untuk berangkat siang. Saat ini saya sedang dalam perjalanan bersama Tuan Bianchi Vittorio untuk mengurus agenda penting."Dokter Lance sengaja membawa nama besar Ketua Dewan Kota agar suster tersebut tahu diri dan paham bahwa ia sedang menangani urusan orang yang teramat penting di kota ini. Akan tetapi, di luar dugaan, suara dalam sambungan telepon itu mendadak berubah. Suara suster tadi digantikan o
Kakek Ruggero dari tempat duduknya pun melihatnya tadi. Ini pertama kalinya sejak ia membawa Shin waktu kecil, senyum yang terlihat manusiawi itu muncul. Meski sekilas tapi nyata. Sebuah kilatan singkat, bukan kejam, bukan sinis, melainkan hangat.'Apa itu benar? Atau aku hanya mulai terlalu tua hi
Pintu kamar Bella terbuka tanpa suara, seorang pria tinggi dengan pakaian acak-acakan penuh darah muncul dibaliknya. Pencahayaan minim tidak membuatnya sulit melihat keseluruhan ruangan itu.'Ini tidak seperti rumah Walikota,' pikirnya.Rumah walikota yang berada di pusat kota tentu sangat besar da
Bella keluar dari kamar mandi dan melihat Adrian sibuk di dapur. Rambutnya tergerai masih setengah basah, matanya menatap senang pada Adrian yang datang membawakan makanan untuknya. Kebetulan Bella lapar, dia tidak perlu masak."Aku tadi buat minestrone, kamu pasti belum makan malam, makanlah." Adr
Bella duduk di kursi makan dan merenung. Benar kata Adrian, dirinya agak ceroboh membawa pria itu kerumahnya. Walau terluka dan tidak sadarkan diri, ia tidak mengenalnya.Siapa yang melukainya? Luka separah itu jika ia tidak melihatnya pasti tidak akan selamat sampai esok hari.'Apakah pelakunya su







