ANMELDENDengan nada suara berwibawa yang sengaja ditekankan, Ibu Panti itu membuka suara, "Selamat siang. Ada urusan apa yang membuat Anda sekalian datang ke panti asuhan kami tanpa adanya pemberitahuan terlebih dahulu?"Adrian tetap mempertahankan gaya tenangnya yang luar biasa, ketenangan yang sudah ia bangun sejak belajar kedokteran. Dengan intonasi bicara yang penuh dengan rasa percaya diri, ia menjawab sembari mengarahkan pandangan matanya menatap lurus tepat pada manik mata sang Ibu Panti yang bertindak sebagai ketua pengawas tempat tersebut."Selamat siang, Ibu. Kami semua adalah tim dokter cadangan yang ditugaskan dan dikirim secara langsung oleh Dokter Lance untuk menggantikan jadwal pemeriksaan kesehatan hari ini," ujar Adrian dengan pembawaan yang sangat meyakinkan.Ia menjeda kalimatnya sejenak, lalu memberikan penjelasan logis untuk mendukung kebohongannya. "Hari ini, Tuan Bianchi Vittorio tidak bisa ikut mendampingi kunjungan karena beliau mendadak harus menangani urusan birokra
Dokter Lance dan tim perawatnya sedang berada dalam perjalanan menuju panti asuhan ketika tiba-tiba ponselnya berdering nyaring. Panggilan itu rupanya berasal dari rumah sakit tempatnya bekerja. Melalui suara suster di seberang telepon, ia diharuskan untuk segera datang ke rumah sakit sekarang juga demi menangani seorang pasien darurat yang membutuhkan tindakan operasi besar.Dokter Lance mengernyitkan dahi dalam-dalam, merasa terusik. Dengan nada angkuh, ia menyahut, "Batalkan atau alihkan ke dokter lain. Katakan kepada kepala ruang bedah bahwa hari ini saya sudah mengajukan izin resmi untuk berangkat siang. Saat ini saya sedang dalam perjalanan bersama Tuan Bianchi Vittorio untuk mengurus agenda penting."Dokter Lance sengaja membawa nama besar Ketua Dewan Kota agar suster tersebut tahu diri dan paham bahwa ia sedang menangani urusan orang yang teramat penting di kota ini. Akan tetapi, di luar dugaan, suara dalam sambungan telepon itu mendadak berubah. Suara suster tadi digantikan o
Melihat penghadangan itu, pemimpin staf Departemen Perpajakan melangkah maju. Dengan raut wajah mengeras, ia berkata dengan nada tegas, "Menyingkir! Jangan menghalangi pemeriksaan resmi yang akan kami lakukan hari ini!"Demi membuat pengawas perusahaan makanan instan tersebut percaya, ia menyodorkan selembar dokumen resmi tepat di depan wajah pria itu. "Ini surat perintah penggeledahan asli yang sah di mata hukum. Kalau kau masih menghalangi, kalian semua akan mendapat hukuman!"Namun, pengawas perusahaan itu hanya melirik dokumen tersebut sekilas dengan tatapan meremehkan. "Kalian baru boleh masuk setelah Tuan Bianchi sendiri sampai ke pabrik ini."Padahal, kenyataannya Bianchi sama sekali tidak akan datang ke tempat ini. Pengawas itu terpaksa bertahan hanya karena sebelumnya ia sudah dihubungi dan diberitahu bahwa akan ada sekelompok orang kuat yang datang untuk membantunya. Meski ia sendiri tidak tahu kapan tepatnya bantuan dari kelompok yang disebutkan itu akan tiba, ia sadar tida
Suasana di dalam gedung kantor perusahaan elektronik milik Bianchi Vittorio terlihat sangat kacau dan mencekam. Seluruh pegawai telah dikumpulkan ke dalam satu ruangan aula besar. Mereka berada di bawah penjagaan ketat oleh barisan personel pasukan keamanan kota bersenjata lengkap. Para pekerja itu tidak memiliki pilihan lain selain duduk diam dengan perasaan cemas, sembari membiarkan para staf dari Departemen Perpajakan menggeledah setiap meja kerja, laci berkas, hingga memeriksa riwayat data di komputer mereka satu per satu.Di depan pintu masuk ruang aula, Komandan Richard Lombardi berdiri tegak mengawasi jalannya proses pembersihan tersebut. Aura militernya yang terkenal sangat tegas, keras, dan berwibawa seketika menciutkan nyali siapa pun."Tetap di posisi kalian! Jangan ada yang menyentuh ponsel atau mencoba keluar dari ruangan ini sebelum pemeriksaan selesai!" seru Komandan Lombardi dengan suara baritonnya yang menggelegar ketika melihat salah satu pegawai mengeluarkan ponseln
Bianchi sama sekali tidak merasa tersindir oleh kalimat sarkasme tersebut, karena memang bukan dirinya yang turun langsung memotret kejadian. Ia mendengus, lalu memberikan kode kedua kepada asistennya untuk membagikan salinan berkas rahasia dari koper kecil ke atas meja para pejabat tinggi."Jika foto itu belum cukup, maka lihatlah dokumen-dokumen ini!" seru Bianchi, mulai menyodorkan tumpukan berkas bukti-bukti data keuangan palsu dan laporan transaksi senjata ilegal yang sudah ia manipulasi sejak lama bersama kelompok Black Serpent demi menjebak posisi Giovanni. "Seluruh berkas perkara, jalur dana, dan kesaksian tertulis ini mengarah pada keterlibatan kelompok Red Line di kota kita. Dan Anda, Walikota DeLuca, dengan sengaja memberikan konsesi dermaga pariwisata kepada mereka sebagai imbalan kolusi!""Semua lembar kertas yang Anda bagikan itu adalah kebohongan yang tidak berdasar!" bantah Giovanni dengan suara lantang, langsung mementahkan dokumen tersebut.Atmosfer di dalam ruang pe
Pintu ruang pertemuan itu terbuka lebar. Bianchi Vittorio melangkah masuk dengan gaya angkuh yang tertutup rapat oleh topeng ketenangan khas bangsawan tua. Di belakangnya, sang asisten pribadi berjalan cepat sembari membawa sebuah koper kecil berisi berkas-berkas penting rahasia.Seluruh atensi pejabat tinggi langsung tertuju pada Bianchi saat pria tua itu mengambil posisi di ujung meja panjang, tepat berhadapan dengan Giovanni DeLuca yang duduk di kursi pemimpin tertinggi. Suasana ruangan yang tadinya dipenuhi bisik-bisik bingung seketika hening total.Bianchi membuka suara, nadanya terdengar sangat prihatin dan sarat akan wibawa yang dibuat-buat. "Selamat siang, para pejabat yang saya hormati, dan Tuan Walikota DeLuca. Kedatangan saya yang terkesan mendadak ini murni didasari oleh rasa kepedulian yang teramat besar terhadap stabilitas dan keamanan Kota Whitesand. Sebagai Ketua Dewan Kota, saya mengemban sumpah untuk menjaga kota ini dari segala ancaman, termasuk ancaman yang datang
“Aku mendengar soal apa yang terjadi di wilayah timur kota. Kupikir orang-orang yang melakukan penyerangan ini benar-benar gila. Kalian tahu? Mereka juga menyerang mobil yang membawa tenaga medis yang dikirim untuk mengobati orang-orang terluka di sana.”Adrian tampak frustrasi, terlihat jelas dari
Steve melihat jam di dashboard dan langsung panik. Sudah jam empat sore, dan ia belum menjemput Alan.Pikiran Steve sedang bercabang ke mana-mana saat ini, memikirkan ayahnya yang berada di penjara, ibunya yang pingsan di rumah, dan putranya yang belum ia jemput di sekolah.Saat melihat gerbang sek
Asisten itu langsung mendongak untuk melihat Komandan Lombardi yang menyerahkan handphone tersebut kepada anak buahnya. Sebelum ia sempat memprotes, ia mendengar Komandan Lombardi memerintahkan bawahannya untuk menggeledah Barna dan asistennya, lalu mengambil semua handphone milik keduanya.Barna b
Pagi harinya, Giovanni, Komandan Lombardi, dan pemimpin pengawal berangkat lebih awal ke gedung pemerintahan. Ia sengaja berangkat sebelum banyak karyawan datang karena membawa sesuatu yang rahasia.Tidak lama kemudian, beberapa orang datang ke ruangan walikota. Mereka adalah Chiara yang menjadi ja







