Home / Mafia / Nona Incaran Ketua Mafia / Bab 86 Bukti tersembunyi.

Share

Bab 86 Bukti tersembunyi.

Author: SanASya
last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-02 20:54:01

Suara langkah cepat Bella dan Adrian menggema di lorong yang cukup sepi, diikuti empat pengawal di belakang mereka.

Dengan cepat sampai di depan kamar Gannaro, para pengawal yang berjaga di depan pintu, berdiri tegap dengan ekspresi serius. Pintu kamar tertutup rapat—di baliknya, Chiara masih melakukan interogasi.

Melihat kedatangan Bella dan Adrian, para pengawal itu segera menundukkan kepala hormat.

"Nona Bella, Tuan Adrian," sapa mereka serempak.

Bella dan Adrian membalas dengan anggukan sin
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 237

    Jarum jam sudah hampir menunjukkan tengah malam saat seluruh kediaman utama DeLuca dilingkupi oleh keheningan malam yang pekat. Di saat semua penghuni rumah dan pelayan mulai tidur nyenyak, Bella di dalam kamarnya masih berjalan mondar-mandir dengan gelisah. Sesekali ia melangkah mendekat dan menengok ke luar jendela, memastikan jeda waktu patroli dari para penjaga yang lewat di halaman bawah.Tiba-tiba, ia teringat pada sosok Rico. Pria itu pasti akan membantunya untuk bisa keluar dari rumah ini demi menemui bosnya. Tanpa membuang waktu lagi, Bella segera menyambar ponselnya di atas ranjang dan melakukan panggilan cepat. Tiga detik kemudian panggilan langsung tersambung."Ya, Nona Bella. Ada urusan mendesak apa hingga Anda menghubungi saya di tengah malam begini?" tanya Rico dari seberang telepon, suaranya terdengar jelas dilingkupi rasa heran dan malas.Bella langsung mengatakan tujuannya tanpa basa-basi, "Saya ingin pergi mengunjungi Bosmu malam ini juga. Bisa kau bantu alihkan per

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 236

    Setengah jam kemudian, Bella, Chiara, dan Adrian melangkah keluar dari ruang kerja Giovanni. Sementara itu, para tetua masih berkumpul di dalam untuk mendiskusikan kelanjutan masalah politik yang belum menemukan titik terang.Begitu pintu tertutup, Chiara langsung menarik lengan Bella dengan protektif, membawanya masuk ke dalam kamar tidur Bella, diikuti oleh Adrian yang berjalan mengekor di belakang. Adrian, yang sejak tadi sudah mendengar seluk-beluk masalah pelik mengenai ditangkapnya pemimpin kelompok mafia terbesar di Blackstone, tentu saja dilingkupi rasa penasaran yang cukup besar tentang apa sebenarnya akan dibicarakan oleh kedua perempuan di depannya ini.Sesampainya di dalam kamar Bella, ketiganya langsung duduk berhadapan. Bella, yang kini berstatus sebagai tersangka utama dalam hal menyembunyikan rahasia besar, mendadak harus menerima dua tatapan mata yang menghujam dari kedua sahabatnya. Suasana kamar seketika terasa agak mengintimidasi."Kenapa kamu masih cemberut sepert

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 235

    Bella sadar bahwa apa yang ia lakukan saat ini pasti akan terlihat seperti tindakan membela seorang penjahat di mata keluarganya. Meskipun di dalam lubuk hatinya ia memang memiliki niat terselubung untuk membantu Shin, setelah memikirkan sesuatu beberapa saat yang lalu ia mengatakan pendapatnya."Kakek, aku katakan hal ini dengan jujur. Selama beberapa bulan berinteraksi dan berhubungan dengan Shin, aku sedikit banyak tahu bagaimana sifat asli dari pria itu," ujar Bella, menatap kakeknya dengan yakin. "Dia memang pria yang kejam, licik, dan penuh dengan kebohongan. Meskipun aku sendiri tidak pernah melihat bagaimana bentuk kekejamannya yang sebenarnya di dunia mafia, tetapi aku yakin bahwa dia bukanlah tipe orang kejam yang akan tega membantai masyarakat yang tidak berdosa demi uang."Paman Giorgino menghela napas pendek, menatap keponakannya dengan sangsi. "Bella, bagaimana kamu bisa begitu yakin kalau semua tragedi itu bukan perbuatan dari Shin atau kelompoknya?"Bella menatap paman

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 234

    Tujuan Kakek Gan datang secara tiba-tiba ke kediaman putra pertamanya adalah untuk membicarakan masalah besar yang sedang membahayakan posisi Giovanni di pemerintahan. Mengetahui bahwa para tetua keluarga akan mendiskusikan urusan yang sangat penting, Bella, Chiara, dan Adrian hendak berpamitan untuk keluar dari ruangan. Namun, Kakek Gan mengangkat tangan kirinya, memberi isyarat agar ketiganya tetap berada di sana untuk mendengarkan."Generasi muda juga perlu belajar. Tentu saja, jika mereka memiliki ide dan saran yang bagus, kita akan tetap mendengarkannya," ucap pria tua itu dengan nada berwibawa sembari menatap wajah-wajah muda di depannya.Kakek Gan kemudian mengambil tempat duduk di kursi kerja kebesaran Giovanni. Ia mengetukkan tongkatnya sekali ke lantai sebelum memulai pembicaraan dengan menatap lurus ke arah putra sulungnya. "Kamu sudah tahu kalau ini adalah sebuah umpan jebakan yang sengaja dipasang untuk menjatuhkanmu. Kenapa kamu malah nekat menggigitnya, Giovanni?"Giova

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 233

    Brak!!Pintu ruang kerja tiba-tiba terbuka dengan kasar dari arah luar. Suara hantaman kayu itu seketika memotong kalimat Bella dan mengejutkan seluruh orang di dalam ruangan. Kepala semua orang spontan menoleh ke arah ambang pintu dengan tatapan tegang."Ayah?!" seru Giovanni, langsung berdiri dari kursi kerjanya dengan mata membelalak."Kakek?" gumam Bella lirih. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Rasa terkejut dan gugup kini bercampur aduk di dalam dadanya.Chiara, Adrian, dan Komandan Lombardi segera membenarkan posisi berdiri mereka. Mereka menundukkan kepala dengan takzim, menyapa pria tua yang melangkah masuk ke dalam ruangan dengan ekspresi sedingin es. Pria tua itu adalah Gan DeLuca. Suara ketukan tongkat kayu berkepala perak di tangan kanannya terdengar konstan, beradu dengan lantai bersamaan dengan langkah kakinya yang tegap dan berwibawa.Di belakangnya, berdiri seorang pria paruh baya yang memiliki gurat wajah sangat mirip dengan Giovanni. Dia adalah adiknya, Giorg

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 232

    Brak!Giovanni menepuk keras permukaan meja kerjanya karena geram. "Kurang ajar! Apakah dia sengaja melakukan hal itu agar bisa terus menjeratmu dengan hutang budi imbalan yang tidak berujung?! Jika begitu masalahnya, lebih baik kita segera memberikan sesuatu yang menguntungkan kepadanya agar ikatan ini cepat selesai!"Giovanni terdiam selama beberapa saat, otaknya berputar cepat mencari aset yang sepadan untuk menebus kesepakatan putrinya. "Bagaimana kalau kita berikan saja perusahaan konstruksi milik Ayah? Perusahaan kontraktor itu sangat besar, legal, dan menghasilkan keuntungan yang tinggi setiap tahunnya."Bella segera menggelengkan kepalanya dengan tegas. Ia mana mungkin tega memberikan bisnis besar milik ayahnya hanya untuk membayar kesepakatan pribadi yang ia buat sendiri dengan seorang bos mafia. Bagaimana pun dari bisnis inilah ayahnya bisa menghasilkan uang, meski ayahnya seorang walikota, tapi gaji tiap bulannya tidak tinggi dan ayahnya tidak pernah mengambil uang itu yang

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 144 Kau merindukan ku?

    Bella memperhatikan para karyawan yang berlalu-lalang di lobi perusahaan Nexus Global. Mereka tampak rapi dan elegan, bahkan pakaian yang dikenakan terlihat modis dan penuh percaya diri.Penampilan mereka sangat berbeda dengan Bella yang tampak sederhana, meskipun tetap rapi dan anggun. Tidak ada y

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 143 Penyerangan belum berhenti.

    “Aku mendengar soal apa yang terjadi di wilayah timur kota. Kupikir orang-orang yang melakukan penyerangan ini benar-benar gila. Kalian tahu? Mereka juga menyerang mobil yang membawa tenaga medis yang dikirim untuk mengobati orang-orang terluka di sana.”Adrian tampak frustrasi, terlihat jelas dari

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 141 Kedatangan seseorang.

    Steve melihat jam di dashboard dan langsung panik. Sudah jam empat sore, dan ia belum menjemput Alan.Pikiran Steve sedang bercabang ke mana-mana saat ini, memikirkan ayahnya yang berada di penjara, ibunya yang pingsan di rumah, dan putranya yang belum ia jemput di sekolah.Saat melihat gerbang sek

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 138 Mengakui untuk sebuah permohonan.

    Asisten itu langsung mendongak untuk melihat Komandan Lombardi yang menyerahkan handphone tersebut kepada anak buahnya. Sebelum ia sempat memprotes, ia mendengar Komandan Lombardi memerintahkan bawahannya untuk menggeledah Barna dan asistennya, lalu mengambil semua handphone milik keduanya.Barna b

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status