ホーム / Mafia / Nona Incaran Ketua Mafia / Bab 91 Pergi melarikan diri.

共有

Bab 91 Pergi melarikan diri.

作者: SanASya
last update 公開日: 2026-04-08 23:13:41

Di kediaman keluarga Homar, suasana hangat dan penuh kebahagiaan menyelimuti seluruh ruangan. Anggota keluarga berkumpul, merayakan keberhasilan Tuan Homar yang baru saja membeli sebuah pelabuhan terbengkalai, pelabuhan yang sebelumnya diincar oleh Giovanni DeLuca.

Kakek dan nenek Homar sempat tidak mengerti keputusan anak mereka. Menurut mereka, membeli pelabuhan sebesar itu, terlebih dalam kondisi terbengkalai bukanlah langkah bijak.

“Apa tidak terlalu berisiko?” tanya sang nenek waktu itu, k
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 286

    Suasana di dalam ruangan itu sempat menjadi canggung setelah Bella menanyakan kabar Shin. Ia sendiri tidak menyukai keheningan seperti ini, terlebih ketika harus berhadapan dengan seseorang yang pernah begitu dekat dengannya. Dulu, mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya dengan berbicara tentang hal-hal kecil. Sekarang, bahkan satu pertanyaan sederhana seperti menanyakan kabar terasa membutuhkan keberanian.Namun, keheningan itu tidak berlangsung lama."Sungguh kebetulan bertemu denganmu di sini, Nona Bella." Suara Shin terdengar tenang, seolah pertemuan mereka benar-benar terjadi tanpa rencana. "Kalau boleh kutebak, kau datang karena ajakan temanmu."Bella menatapnya beberapa saat sebelum tertawa pelan. Ada sedikit rasa geli di matanya."Seharusnya itu bukan kebetulan." Ia mengangkat dagu sedikit. "Tempat ini milikmu."Shin tampak tidak mengerti. Alisnya sedikit terangkat, sementara tatapannya tetap tertuju kepada Bella."Apa maksudmu?"Bella menatap pria itu tanpa berkedip.

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 285

    Selama makan, hati Bella tidak pernah benar-benar tenang. Meskipun tangannya masih memegang sendok dan sesekali ia menanggapi percakapan Chiara maupun Adrian, pikirannya terus tertuju pada hal yang sejak tadi mengganggunya.Shin tahu bahwa dirinya berada di sini. Setidaknya, itulah dugaan yang perlahan berubah menjadi keyakinan di dalam hati Bella.Awalnya ia masih menganggap semua yang terjadi sebagai kebetulan. Namun, semakin dipikirkan, semakin banyak hal yang terasa terlalu tepat untuk terjadi secara bersamaan. Makanan tambahan yang tidak mereka pesan, pelayanan istimewa yang datang begitu saja, dan perasaan aneh yang muncul sejak mereka memasuki tempat ini.Bella tidak percaya pada kebetulan sebanyak itu. Terlebih lagi, tempat ini adalah milik Shin.Jika pria itu benar-benar sudah mengetahui kedatangannya, maka semua yang terjadi sejak mereka duduk di meja ini mungkin bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan.Bella menundukkan pandangan. Ujung jarinya perlahan mengetuk sisi

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 284

    Bella tanpa sadar menegakkan tubuh. Percakapan itu mulai menyentuh sesuatu yang lebih besar daripada sekadar bisnis."Semenjak Anda menjadi pemimpin Red Line, kelompok-kelompok mafia lain tampaknya lebih berhati-hati," lanjut Tuan Bradley. "Mereka takut kepada Anda. Setidaknya sekarang, kejahatan terbuka di tempat umum jauh lebih jarang terjadi."Chiara melirik Bella yang tidak banyak bereaksi. Dari bilik sebelah, Shin terdengar menjawab dengan tenang."Itu tidak sepenuhnya karena saya, Tuan Bradley." Ia berhenti sebentar. "Benar, mereka mungkin takut. Tetapi jangan mengira mereka berhenti membuat rencana. Sebagian dari mereka hanya memilih untuk bergerak dengan cara yang tidak terlihat."Tak lama kemudian, pria tua itu mengembuskan napas panjang. "Kami tidak memiliki apa-apa selain bisnis dan harta. Kalau suatu hari kalian berdua membutuhkan bantuan, kami akan membantu sebisa mungkin.""Terima kasih atas tawarannya, Tuan," jawab Matteo. "Kami menerimanya."Tuan Bradley kemudian kemba

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 283

    Begitu duduk di dalam bilik, Bella, Chiara, dan Adrian segera memesan makanan. Mereka berbicara jauh lebih pelan daripada sebelumnya. Ketiganya beberapa kali melirik ke arah pembatas kayu di samping mereka, memastikan suara mereka tidak terdengar sampai ke bilik sebelah.Seorang pelayan datang membawa buku catatan kecil dan menunggu dengan sopan. Bella membuka menu, lalu memilih beberapa makanan berat yang menurutnya cukup untuk mengisi perut mereka. Ia juga memesan minuman nonalkohol.Chiara sempat mengangkat wajah dari menu. "Kenapa tidak memesan anggur saja?""Kita belum makan.""Tapi kita sedang berada di bar."Bella menatapnya. "Itulah alasan kalian harus makan lebih dulu."Chiara mengembuskan napas, lalu mencoba membujuknya. "Ayolah, Bella. Mumpung kita sedang di sini, cicipi sedikit saja."Bella menggeleng. "Lebih baik makan siang dulu. Kalian sudah mengikutiku kemari sampai tidak jadi makan siang."Adrian yang sejak tadi memperhatikan daftar makanan mereka akhirnya ikut berbic

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 282

    Setelah sosok Shin menghilang di balik pintu bar, Bella masih berdiri di tempatnya. Tatapannya tertahan pada pintu kayu berwarna gelap itu, seolah berharap pria yang baru saja dilihatnya akan keluar kembali dan membuktikan bahwa apa yang dilihatnya tadi hanyalah kesalahpahaman. Namun, itu tidak terjadi.Suara percakapan para pengunjung dan alunan musik dari dalam bar terdengar samar hingga ke luar. Bella menarik napas perlahan. Ada perasaan aneh yang kembali muncul di dadanya, campuran antara terkejut, dan gugup. Ia tidak menyangka akan bertemu Shin di tempat seperti ini.Bella akhirnya mengalihkan pandangan kepada kedua sahabatnya. "Kalian pergi ke restoran duluan, ada sesuatu yang harus aku lakukan. Nanti aku menyusul."Chiara dan Adrian saling berpandangan. Keduanya langsung menggeleng hampir bersamaan.Bella mengernyit. "Kenapa?""Tiba-tiba Aku tidak terlalu lapar," jawab Adrian santai. Ia melirik pintu bar, lalu kembali menatap Bella. "Bagaimana kalau kita mencicipi minuman anggu

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 281

    Pada awalnya, Adrian mengira Distrik d'Elite tidak jauh berbeda dari pasar malam atau pusat perbelanjaan biasa. Namun, semakin jauh mereka berjalan, semakin ia menyadari bahwa perkiraannya benar-benar keliru. Kawasan itu jauh lebih luas daripada yang terlihat dari gerbang utama. Setiap bagian seolah memiliki area dan suasananya sendiri, lengkap dengan toko-toko yang menjual berbagai macam barang kelas atas.Tanpa terasa, hampir setengah jam telah berlalu hanya untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Setelah berjalan selama hampir dua jam tanpa benar-benar beristirahat, Adrian mulai merasa lelah. Ia bahkan tidak lagi peduli dengan kemewahan tempat itu. Yang ada dalam pikirannya sekarang hanyalah kursi, minuman dingin, dan kesempatan untuk duduk selama beberapa menit.Tiga pengawal yang mengikuti mereka juga mulai kewalahan. Kedua tangan mereka sudah penuh dengan berbagai tas belanja, sementara Chiara dan Bella masih terlihat bersemangat mengamati barang-barang yang dipajang

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 5

    Bella keluar dari kamar mandi dan melihat Adrian sibuk di dapur. Rambutnya tergerai masih setengah basah, matanya menatap senang pada Adrian yang datang membawakan makanan untuknya. Kebetulan Bella lapar, dia tidak perlu masak."Aku tadi buat minestrone, kamu pasti belum makan malam, makanlah." Adr

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 4

    Bella duduk di kursi makan dan merenung. Benar kata Adrian, dirinya agak ceroboh membawa pria itu kerumahnya. Walau terluka dan tidak sadarkan diri, ia tidak mengenalnya.Siapa yang melukainya? Luka separah itu jika ia tidak melihatnya pasti tidak akan selamat sampai esok hari.'Apakah pelakunya su

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 3

    Udara malam Desa San Felice menusuk kulit Bella, dingin terasa semakin pekat karena keringat yang bercampur dengan ketakutan. Dengan susah payah, ia menahan tubuh pria asing itu yang beratnya jauh melebihi tenaganya.Nafasnya tersengal, kakinya hampir menyeret, namun entah dari mana kekuatan itu mu

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 2

    "Astaga… semoga bukan sesuatu yang buruk." Gumamnya pelan.Untuk penerangan lebih jelas, ia mengeluarkan ponsel dari tas, jari-jarinya gemetar saat menyalakan senter. Cahaya putih menembus kegelapan, menguak bayangan tembok bata yang lembap.Dan di sanalah ia melihatnya."Hhh... hhh..."Seorang pri

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status