LOGINPertunangan dibatalkan karena Ridwan dan Kintani ternyata sepesukuan atau sesuku. Di dalam adat-istiadat Minangkabau, itu adalah pantangan tak boleh dilanggar. Berkaitan dengan itu, orang tua mereka ingin memisahkan Kintani dan Ridwan yang telah merajut jalinan kasih selama 2 tahun. Akankah cinta sejati Ridwan dan Kintani tetap bertahan? Atau sebaliknya putus ditengah jalan?
View More"Aghh...hmmmm..O-oliver s-st-o...p!! Aghh.....A-ano ba!? Ughhh......Shit ang sarap!." Hindi ko mapigilang mapahalingling habang nanghihina ang tuhod na tinutulak ang dibdib ni Oliver.
Kasalukayang, lasing na lasing ito at nakahawak ang dalawang kamay sa magkabilaang braso ko. Habang nilalamutak ng mapagparusang labi nito ang lahat ng parte ng leeg ko. Gustuhin ko mang umayaw pero wala akong lakas dahil nakadagan ang lahat ng bigat ni Oliver sa katawan ko. "Aghhh.....hmmmmmm" Ungol ko. Nang maramdaman na ipinasok nito ang kanyang kanang kamay sa loob ng bra ko at bumaba naman ang kaliwang kamay niya sa loob ng pantulog na damit ko. Ramdam ko ang parehong init at likot ng kamay nito sa soso at sa loob ng panty ko. "Ughhhh...you're so wet baby...." Bulong na ungol nito sa ilalim ng tenga ko. Hanggang sa walang sabi sabing pinasok agad nito ang kanyang isang daliri sa loob ng bukana ko. Napapikit na dinama ko ang pinaghalong sarap at kirot nito. "Aghhh.... God.....hmmmm" Ulit na malakas na ungol ko. Nilalabas masok nito ang kanyang daliri at paulit ding nilalaro ang klitoris ko. Expertong experto ang kamay nito sa pagmamaneho ibabang bahagi ng katawan ko. "Aghhh O-oliver pl-please! Aghhhh! Shit!!.....hmmmm" Pagmamakawaang ungol na sabi ko habang lumiliyad pa rin sa masarap at masakit na sensation na pinapadama ni Oliver. Hindi naman ito ang unang beses na may nangyari sa amin. Subalit hindi pa rin maiiwasan na makaramdam ako ng kirot sa kasilanan ko. Dahil wala ata sa vocabularyo ni Oliver na dahan dahanin ako. "Hmmmm....Agghhh...O-oliver. Ughhhh.....hmmm.." Nasasarapan na ungol ko. May parte sa akin na gustong sawayin at tinulak si Oliver pero may parte din sa akin na nagsisimula ng magustuhan ang ginagawa nito. Ang kaninang kirot na nararamdaman ko ay unti unti ng natatabunan ng kakaibang sarap na binibigay ng expertong kamay nito. "Aghhhh....that's it...Oliver...A-aghhh make it fast, please!" Halos mapugtuan na ako ng hininga sa pagmamakaawa na bilisan ni Oliver ang paglalamasok sa loob ng bukana ko. Hindi ko maintindihan pero mabilis pa sa lahat ng mabilis na napainit ni Oliver ang buong katawan ko. "Hmmmm I miss you so much Ciela.... I want you so badly...Ughhhhh" Parang sinaksak ng sampung punyal ang puso ng marinig ang pangalan ni sinambit ni Oliver. Kung kanina sumasabay na sana ang katawan ko sa ginagawa niya. Pero ng marinig ko ang sinabi niya parang bula namang nawala at naglaho ang init ng katawan na nararamdaman ko. Ang init at libog na nararamdaman ko kanina ay napalitan agad ito ng panliliit at panlulumo sa sarili ko. Pakiramdam, ko wala akong kwenta babae at nandidiri ako sa sarili ko. Alam kong wala akong karapatan na masaktan sa anumang sasabihin ni Oliver. Ngunit hindi ko pa rin mapigilan ang puso ko sa tuwing binabanggit niya ang pangalan na iyon. Umpisa pa lang alam ko kung anong sitwasyon ang pinasok ko. Alam kong kahit kilan hindi ako matutunang mahalin ni Oliver Del Fuego. Dahil sa kanyang puso't isipan, ang kakambal kong si Ciela ang kanyang mundo.“Aku nggak menyangka sekeras itu keinginanmu Kintani hingga kamu berani menentang adat-istiadat kita yang telah diwarisi turun-temurun dari para leluhur, Aku juga tak mengerti mengapa kalian sebagai orang tuanya mendukung hal yang dapat membuat keluarga besar kita ini akan dipandang buruk di dalam kaum suku caniago,” tutur Pak Gindo. “Kami juga sama sekali tak menginginkan ini terjadi Uda Gindo, akan tetapi kami pun tak bisa melawan takdir dari Allah SWT. Kintani dan Ridwan nampaknya takan bisa dipisahkan lagi, jika Uda menyalahkan kami dalam hal ini kami akan terima asal Kintani bahagia dengan pria pilihannya,” ujar Bu Anggini pasrah. “Ya, semua ini adalah kesalahan kita termasuk Uda Gindo selaku Paman kandung Kintani yang sejak awal tak pernah memberi penjelasan tentang pemahaman adat-istiadat kita secara detil. Terjalinnya hubungan kasih antara Kintani dan Ridwan sedari semula merupakan titik awal semua ini terjadi, jika harus menanggung malu karena adat-istiadat kita semua tentun
Kabar kepulangan Kintani ke rumah orang tuanya pagi itu diketahui oleh Pak Gindo melalui sambungan telpon yang disampaikan oleh Bu Anggini, tentu saja Paman kandung dokter muda cantik itu segera datang bersama keluarganya. Pak Gindo berfikir Kintani pulang karena menyadari kesalahan telah menentang keinginan mereka untuk menjodohkannya dengan Romi, makanya Pak Gindo begitu semangat pagi itu membawa putra dan istrinya menemui Kintani. “Assalamualaikum,” ucap Pak Gindo saat tiba di depan pintu rumah Pak Wisnu. “Waalaikum salam,” sahut Pak Wisnu sekeluarga yang pagi itu duduk di ruangan depan. Pak Wisnu dan Bu Anggini menghampiri mereka lalu mempersilahkan duduk di ruangan depan itu, sementara Kintani ke belakang membuatkan minum. “Alhamdulillah jika Kintani udah kembali Wisnu, kami turut cemas karena lebih dari 3 bulan nggak ada kabarnya,” ucap Pak Gindo. “Ya, Alhamdulillah Uda. Akhirnya Kintani dapat ditemukan dan kami bawa pulang ke rumah ini,” ucap Pak Wisnu pula. “Ditemukan d
Jam 9 malam mobil yang dikemudikan Pak Wisnu dengan Ridwan duduk di sebelahnya sementara Kintani bersama Ibunya di belakang, tiba di kenagarian MK tepatnya di rumah kedua orang tua Ridwan. Pak Rustam dan Bu Suci serta Fitria terkejut melihat mobil Pak Wisnu datang kembali berkunjung, mereka lebih terkejut lagi ketika melihat Ridwan juga turun dari mobil itu. “Assalamualaikum,” ucap Pak Wisnu, Ridwan, Kintani dan Bu Anggini begitu tiba di teras rumah di hadapan Pak Rustam sekeluarga. “Waalaikum salam, ada apa ini kenapa Ridwan juga ada bersama kalian?!” sahut Pak Rustam diiringi rasa kaget dan penasarannya. “Hemmm, sabar Ayah. Sebaiknya kita persilahkan Pak Wisnu dan keluarga masuk dulu,” ujar Ridwan. “Oh iya, silahkan masuk Wisnu dan yang lainnya,” ajak Pak Rustam. Mereka pun duduk bersama di ruangan depan, sementara Fitria Adik kandung Ridwan ke belakang membuatkan minum. “Sangat menganggetkan dan mengherankan kenapa kamu bisa bersama Pak Wisnu dan keluarga, Ridwan?” tanya Pak
Bu Anggini langsung menoleh ke arah Pak Wisnu, ia berfikir suaminya itu akan marah mendengar penuturan Kintani yang menegaskan jika masalah dia tak ingin pulang bukan hanya karena perjodohannya dengan Romi saja melainkan juga karena tak ingin dipisahkan lagi dengan Ridwan. “Kintani, ini nggak akan mudah terlaksana meskipun kami berdua akan merestui kalian. Sanksi adat kita sangat berat bukan saja kalian akan terbuang dari adat tapi juga harta pusaka keluarga tidak akan bisa diwariskan terutama pada kamu Kintani,” jelas Pak Wisnu sambil menarik napas dalam-dalam. “Ayah, apapun itu sanksinya aku siap menerimanya termasuk tak mendapatkan harta warisan keluarga. Bagiku harta bukanlah segalanya karena bisa dicari asalkan mau berusaha,” Kintani kembali menegaskan. “Tapi dalam berumah tangga tak cukup hanya atas dasar cinta dan kasih sayang saja,” ujar Pak Wisnu. “Nggak apa-apa Ayah, meskipun nanti kami hidup apa adanya yang terpenting kami bahagia,” ulas Kintani. “Kamu dengar Ridwan be
Setelah menyerahkan surat pengunduran dirinya melalui Clara, sejak hari itu Ridwan tak lagi bekerja dan menjadi karyawan di kantor perusahaan Anggelina. Clara tentu saja bingung dengan keputusan Ridwan itu, namun setelah Ridwan menjawab alasannya ingin kembali ke kampung dan membuka usaha di sana, C
“Nggak bisa Anggelina seperti yang dikatakan Opa dan Omamu jika kalian ingin tetap menikah, kalian harus bersedia memeluk keyakinan masing-masing jika memang Ridwan nggak bisa masuk ke dalam agama dan keyakinan kita,” tegas Pak Wijaya. “Tapi Pa, ini untuk kebahagiaanku.” “Iya Papa tahu itu, Papa dan
Dengan penuh tanda tanya Kintani mengendarai mobil jazznya menuju rumah di iringi Pak Wisnu setelah Ayahnya itu menemuinya di rumah sakit dan memintanya segera pulang, saking sibuknya bekerja hingga sampai saat ini Kintani sama sekali tak menyadari jika handphonenya ketinggalan di rumah, karena mema
Minggu pagi sekitar jam 9 lewat Pak Wisnu menerima kedatangan Pak Gindo di rumahnya, Paman Kintani itu datang sendiri tidak bersama istrinya. Di rumah itu pula hanya ada Pak Wisnu dan Bu Anggini, sementara Kintani hari minggu tetap pergi ke rumah sakit yang ia pimpin. “Tumben pagi-pagi datang berkun


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews