MasukAxel terdiam sejenak mendengar pertanyaan tajam dari Mila. Alih-alih merasa bersalah atau menciut nyalinya, sudut bibirnya justru terangkat membentuk senyuman sinis yang menyebalkan. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi dengan angkuh, menatap wanita yang telah membesarkannya itu tanpa sedikit pun rasa hormat."Kalau cara itu bisa menjamin hidupku tetap mewah, kenapa tidak?" ucap Axel dingin dan tanpa beban. "Mama sebagai orang tua yang harusnya bertanggung jawab penuh padaku saja sekarang malah pelit, lepas tangan, dan membiarkan aku menderita. Jadi jangan salahkan aku kalau aku mengambil jalan ini."Axel menatap Mila tajam, lalu melontarkan kalimat yang membuat darah Mila mendidih seketika."Lagi pula, semua ini bukan salahku. Ini salah Papa dan Mama sendiri kenapa dulu aku bisa menjadi anak kalian," maki Axel tanpa rasa bersalah. "Kalau dari dulu aku tahu aku bakal ditelantarkan begini, aku juga nggak bakal mau jadi bagian dari keluarga ini. Aku maunya dengan orang tua kandungku."D
Axel melangkah cepat menghampiri meja tempat Mila duduk. Tanpa menunggu aba-aba atau menunjukkan gestur sopan santun layaknya seorang anak yang sudah berapa waktu tidak berjumpa dengan ibu yang merawatnya, seperti menyalami, mencium tangan, atau sekadar menanyakan kabar dengan tulus, Axel langsung duduk.Dari meja mereka yang berjarak beberapa meja, Harjo dan Ambar memperhatikan setiap gerak-gerik pemuda yang baru saja duduk berhadapan dengan Mila.Pandangan Harjo tidak lepas dari wajah Axel. Dari jarak dekat seperti itu, kemiripan genetik antara Axel dan Reynald memang sangat kentara. Struktur tulang pipi, bentuk rahang, hingga garis hidung mereka tampak begitu mirip, bak pinang dibelah dua. Tapi, jika diperhatikan lebih teliti, ada perbedaan fisik yang cukup mencolok. Axel tidak setinggi, setegap, ataupun sekekar Reynald yang terbiasa hidup dalam kerja leras dulu, perawakan Axel tampak lebih ramping, dengan kulit yang sedikit lebih putih, menandakan gaya hidupnya selama ini yang le
Mila mengambil ponsel dari dalam tasnya, membuka aplikasi pesan singkat dan langsung mengetikkan kata demi kata.[Axel, Mama kangen sama kamu, pengen ketemu. Gimana kabar kamu sekarang? Kira-kira bisa ketemu sama Mama nggak? Besok pagi atau siang saat Papa ke kantor, kita ketemuan ya?]Beberapa menit kemudian, terlihat pesan itu sudah berubah tanda centang dua biru, pesan itu langsung dibaca Axel dalam hitungan menit.Tak sampai dua menit, ponsel Mila bergetar singkat menandakan pesan masuk.Mila dengan cepat membaca balasan dari Axel di layarnya. "Langsung dibalas, Ma?" tanya Dandi penasaran, mencoba mengintip ke layar ponsel istrinya.Mila menoleh ke arah Harjo, Ambar, dan Reno sambil mengangguk pelan. "Iya, Pa... Tebakan kita benar. Dia langsung balas dan langsung mau."Mila kemudian membacakan balasan pesan dari Axel agar semua orang di ruangan bisa mendengarnya.[Bisa, Ma! Axel juga kangen banget sama Mama. Kebetulan Axel lagi butuh bantuan Mama banget nih. Besok jam 11 siang ya
Ambar dan Harjo saling berpandangan sejenak, lalu pandangan keduanya beralih menatap Reno yang duduk tenang di sisi Viona. Ada keraguan di mata kedua orang tua paruh baya itu.Harjo menarik napas pelan sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Dandi."Sebenarnya, sebagai orang tua kandung, tentu saja saya dan Ambar ingin sekali bertemu dengannya, ingin melihat secara langsung keadaan anak itu," tutur Harjo jujur. "Tapi... kami juga harus tahu diri. Mengingat Axel saat ini bahkan menolak Reynald sebagai saudaranya, saya khawatir dia juga akan menolak kami."Mendengar keraguan itu, Viona langsung nyeletuk dengan nada yang santai namun menyindir telak."Ah, kalau soal itu, Pa... Sepertinya Axel bakalan langsung mau menerima, tapi bukan karena alasan ikatan darah. Dia kan setelah diusir oleh Om Dandi jadi hidup sengsara, kehilangan semua fasilitas mewah dari Om Dandi. Makanya sekarang dia malah jadi simpanan tante-tante kaya demi tetap bisa foya-foya," ucap Viona terus terang.Deg.Dandi dan M
Harjo mendengarkan pengakuan dan permohonan maaf dari Dandi dengan saksama. Dia menarik napas pelan, lalu menyunggingkan senyuman bijak untuk meredakan beban berat yang dirasakan Dandi."Pak Dandi, tenanglah. Reynald dan Viona sebelumnya sudah menceritakan semuanya kepada kami. Mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur, udah terlanjur. Apa yang terjadi di masa lalu, termasuk bagaimana Axel tumbuh dan memilih jalannya sendiri, memang sudah menjadi takdir yang harus kita hadapi."Harjo menatap Dandi dan Mila secara bergantian. "Sebagai orang tua, kita tentu ingin yang terbaik untuk anak-anak kita. Tapi setiap anak punya jalan hidup dan pilihannya masing-masing. Kita doakan saja, semoga suatu saat nanti Axel bisa sadar, merenungkan semua perbuatannya, dan berubah menjadi pribadi yang lebih baik."Di samping Harjo, Ambar juga mengangguk lembut, setuju dengan ucapan suaminya. Tatapannya terlihat ketulusan seorang ibu yang tidak menyimpan dendam sedikit pun, meskipun tahu Axel adalah an
Dandi bertanya, mencoba bersikap tenang meski matanya terus bergantian menatap Harjo dan Reno. "Siapa mereka? Dan kenapa kami diundang ke sini?"Viona berdiri dan mulai memperkenalkan. "Oh iya, Om Dandi, Tante Mila. Perkenalkan beliau ini, Pak Dandi dan Bu Ambar serta Revan. Mereka baru datang dari Australia." Viona lalu menoleh ke arah Pak Harjo. "Dan, Pa, Ma, ini Pak Dandi dan Bu Mila."Kelima orang itu saling memperkenalkan diri sambil berjabat tangan bergantian. Dalam pikiran Dandi dan Mila bertanya-tanya kenapa Viona menyebut dua orang itu dengan panggilan papa dan mama kalau tidak salah."Lalu apa hubungannya dengan kami, Vi?" tanya Mila tidak sabaran."Pak Dandi, Bu Mila, tenang dulu. Duduk dulu saja biar kita ngobrolnya enak," jawab Darmawan.Mila menggenggam erat lengan Dandi saat mereka berdua duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan Harjo, Ambar, Reno, dan Revan. Suasana ruang keluarga yang tadinya hangat mendadak berubah hening dan tegang."Om Dandi, Tante Mila, kami
Viona yang masih menarik pergelangan tangan Reno menuju dalam rumah, mendadak langkahnya berhenti saat mendengar pertanyaan itu. "Bagaimana dengan Axel? Apa kamu sudah dapat kabarnya lebih lanjut?" Tubuh Viona langsung menegang. Beberapa detik yang lalu dia masih sibuk mengomel soal acara keluar
Keesokan paginya, Reno terbangun lebih dulu dibanding penghuni rumah lainnya, atau lebih tepatnya dibanding Viona yang masih berada di dalam kamar utama. Meski semalaman tidur di sofa ruang keluarga, tidurnya justru cukup nyenyak. Sofa itu bahkan jauh lebih empuk daripada kasur tipis yang selama
Brakk! Pintu ruang rias VIP itu terbuka begitu keras hingga semua orang yang ada di dalam ruangan langsung menoleh ke arah sumber suara. Seorang wanita muda, cantik berdiri di ambang pintu dengan napas sedikit memburu. Gaun pengantin putih yang dikenakannya tampak sempurna. Riasan wajahnya juga je
"Nikahi putriku dan sebagai gantinya, biaya pengobatan ibumu dan utang-utang keluargamu dua ratus juta, lunas kubayar." Reno alias Reynald Notoharjo merasa seperti baru saja disambar petir di siang bolong. Pria berusia dua puluh lima tahun itu berdiri kaku di tengah ruangan mewah yang bahkan la







