Share

Bab 151

Author: Trya Dhafi
last update publish date: 2026-09-03 23:57:43

Dandi terus melangkah lebar, mengabaikan teriakan dan derap langkah Axel yang mengejarnya dari belakang. Telinganya serasa berdengung, dipenuhi rasa kecewa dan amarah yang saling berbenturan. Setiap panggilan sang putra justru makin mempertegas kebohongan yang coba ditutupi.

"Pa! Tolong dengerin Axel dulu, Pa. Ini gak seperti yang Papa pikirkan!" seru Axel setengah berteriak saat mereka tiba di depan lobby.

Axel berusaha menjangkau pintu mobil, namun Dandi bergerak lebih cepat. Pria paruh baya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 152

    "Sumpah, demi Tuhan, Darmawan," sahut Dandi cepat, mengangkat sebelah tangannya. Matanya menatap Darmawan penuh kesungguhan yang putus asa. "Saya tidak sedang bersilat lidah. Axel sama sekali tidak pernah membicarakan soal pernikahan ini, apalagi meminta restu. Saya dan ibunya benar-benar buta soal ini."Darmawan terkekeh sinis, menyandarkan tubuhnya ke pinggir meja kerja sambil menggelengkan kepala, penuh rasa tidak percaya."Bicara memang mudah, Dandi. Tapi kamu pikir saya bisa percaya begitu saja?" desis Darmawan dingin. "Anak dan orang tua sama saja. Luar biasanya pandai berskenario. Mana ada orang tua yang tidak tahu anaknya mau menikah, kecuali kalau kalian memang sengaja cuci tangan setelah rencana kalian berantakan?""Saya jujur, Darmawan," tegas Dandi, dadanya naik-turun menahan sesak dan rasa terhina. "Untuk apa saya datang ke mari, berdiri di depan kamu dan Pak Darwin, kalau cuma buat membohongi diri sendiri? Saya membela diri karena saya memang tidak tahu-menahu soal masal

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 151

    Dandi terus melangkah lebar, mengabaikan teriakan dan derap langkah Axel yang mengejarnya dari belakang. Telinganya serasa berdengung, dipenuhi rasa kecewa dan amarah yang saling berbenturan. Setiap panggilan sang putra justru makin mempertegas kebohongan yang coba ditutupi."Pa! Tolong dengerin Axel dulu, Pa. Ini gak seperti yang Papa pikirkan!" seru Axel setengah berteriak saat mereka tiba di depan lobby.Axel berusaha menjangkau pintu mobil, namun Dandi bergerak lebih cepat. Pria paruh baya itu masuk ke dalam mobil SUV miliknya, menekan tombol central lock hingga terdengar bunyi klik yang mengunci seluruh akses dari luar, lalu menghidupkan mesin."Pa. Buka pintunya, Pa!" Axel menggedor-gedor kaca jendela dengan raut wajah panik.Tanpa sedikit pun menoleh ke arah Axel yang kelabakan di luar, Dandi menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil melaju kencang meninggalkan halaman kantor.Lewat kaca spion tengah, Dandi bisa melihat Axel yang berdiri terpaku dengan napas memburu. Dandi menceng

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 150

    Dandi berdiri dari kursinya, menatap Axel dengan mata mendelik lebar penuh kecurigaan. Ucapan Suryo lewat telepon tadi seolah membukakan mata Dandi atas kejanggalan yang ada."Jawab Papa, Axel!" bentak Dandi, suaranya bergetar menahan amarah. "Apa benar kamu sengaja kabur waktu hari pernikahan itu dan apa alasanmu? Apa kamu sengaja membiarkan posisi itu kosong sampai Darmawan terpaksa mencari pengganti buat menutup malu keluarga mereka?"Axel seketika salah tingkah. Tatapan tajam sang papa membuat tenggorokannya terasa kering secara mendadak. Kebohongan rapi yang ia susun dari kemarin, runtuh seketika di hadapan kenyataan bahwa Darmawan bersikap begitu agresif dan percaya diri. Otaknya berputar cepat, mencari celah untuk memutarbalikkan fakta demi menyelamatkan mukanya sendiri.Axel menunduk sejenak, memegang pelipisnya sambil berpura-pura emosional, mencoba memancing kembali rasa iba dan percaya sang papa."Pa... Papa lebih percaya sama ucapan Om Darmawan dan Om Suryo daripada anak P

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 149

    Darmawan tidak memperlihatkan kegentaran sedikit pun. Ia membenahi kancing jasnya, menatap balik Suryo dengan sorot mata dingin."Saya tidak menukar siapa pun, Suryo. Saya cuma menyelamatkan posisi putri saya dari ulah pengecut yang kamu bangga-banggakan itu. Juga menyelamatkan nama baik keluarga dan reputasi perusahaan," balas Darmawan tajam. "Lagi pula, daripada fakta ini dimainkan pihak luar untuk merusak perusahaan, lebih baik saya sendiri yang memberitahunya terlebih dahulu.""Aku sudah curiga dari awal." Suryo terkekeh pelan, melirik Reynald Notoharjo dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kemiripan pria ini dengan Axel memang gila, tapi permainan Darmawan jauh lebih gila."Kita lihat saja nanti, Darmawan. Kita lihat berapa lama kebanggaanmu ini bisa bertahan saat Axel benar-benar menagih haknya."Darmawan mendengus dingin, sama sekali tidak terpengaruh oleh gertakan Suryo. Ia memajukan tubuhnya sedikit, memangkas jarak di antara mereka dengan tatapan menembus tajam."Axel tidak p

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 148

    Keesokan harinya, suasana di meja makan kediaman Darmawan terasa agak berbeda. Pria paruh baya itu menyesap kopi hitamnya pelan, membiarkan uap tipis membumbung di udara. Keningnya berkerut dalam, menandakan ada sesuatu yang sedang dipikirkannya.Reno dan Viona yang baru turun dari lantai atas berjalan mendekati meja makan dan duduk di sana bergabung untuk sarapan. Di meja itu hanya ada Darmawan, Rima belum kelihatan. Sementara Vera sudah berangkat ke kampus lebih dulu.Sebelum Viona sempat membuka suara untuk menyampaikan ide Reno semalam, Darmawan sudah lebih dulu meletakkan cangkirnya ke piring alas dengan denting halus. Ia menatap Reno dan Viona secara bergantian dengan raut wajah yang sangat tegas."Papa sudah pikirkan soal ini matang-matang dari semalam," buka Darmawan langsung pada intinya, tanpa basa-basi. "Soal kamu yang mulai masuk kantor hari ini, Reno, juga soal kemunculan si pengecut itu yang berpotensi bikin keruh suasana."Reno dan Viona saling pandang sejenak, terkeju

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 147

    Malam ini, suasana hati Reno tak kalah kalut. Sejak sore, pikiran itu kembali datang mengusik, berputar-putar tanpa hentinya. Sejak awal tahu ada pria lain yang wajahnya sangat mirip, bahkan bagaikan pinang dibelah dua dengannya, emang sudah ada pertanyaan di kepala Reno.Kalimat dugaan yang diucapkan Rima tadi, makin menambah beban pikiran Reno, yang tiba-tiba mulai termakan ucapan Rima dan meragukan kenyataan hidupnya sendiri.Reno memijat pelipisnya yang terasa pening. Niat untuk menanyakan hal ini langsung pada sang ibu sempat terlintas kuat. Tapi, akal sehatnya langsung menahan. Ibunya baru saja melewati masa-masa sulit akibat operasi jantung dan kini masih dalam proses pemulihan yang sangat rentan. Sudah cukup ulah abangnya yang terus-menerus bikin ulah dan menambah beban pikiran ibunya, Reno tidak boleh egois. Jika ia menanyakan hal seberat ini sekarang, nyawa ibunya bisa jadi taruhannyaTapi, mengabaikan rasa penasaran ini juga membuatnya tidak bisa tenang.'Kalau bukan ke Ibu

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 6

    Viona yang masih menarik pergelangan tangan Reno menuju dalam rumah, mendadak langkahnya berhenti saat mendengar pertanyaan itu. "Bagaimana dengan Axel? Apa kamu sudah dapat kabarnya lebih lanjut?" Tubuh Viona langsung menegang. Beberapa detik yang lalu dia masih sibuk mengomel soal acara keluar

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 5

    Keesokan paginya, Reno terbangun lebih dulu dibanding penghuni rumah lainnya, atau lebih tepatnya dibanding Viona yang masih berada di dalam kamar utama. Meski semalaman tidur di sofa ruang keluarga, tidurnya justru cukup nyenyak. Sofa itu bahkan jauh lebih empuk daripada kasur tipis yang selama

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 4

    Brakk! Suara itu begitu keras hingga membuat mata Reno langsung terbuka sempurna. Beberapa detik kemudian suara benda pecah lainnya kembali terdengar, disusul tangisan yang terdengar putus asa dan nyaris histeris. Prang! Reno segera bangkit dari sofa. Jantungnya berdegup lebih cepat ketika m

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 3

    Hari yang terasa seperti mimpi buruk itu akhirnya selesai juga. Pernikahan terlaksana. Resepsi berjalan tanpa hambatan berarti. Para tamu penting yang hadir sama sekali tidak mengetahui kekacauan besar yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Di mata mereka, semuanya terlihat sempurna. Pengantin wa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status