Share

Bab 27

Author: Trya Dhafi
last update publish date: 2026-07-03 23:56:11
Setelah makan malam, mereka kembali ke kamar lagi bersiap untuk beristirahat.

Tanpa banyak bicara, Reno langsung merebahkan tubuh di sofa yang menjadi tempat tidurnya selama beberapa hari terakhir.

Viona yang sejak tadi berusaha mengalihkan pikirannya ke ponsel sama sekali tidak menoleh, sudah duduk di ranjang.

Namun pikirannya justru semakin kacau. Kenapa aku jadi membandingkan mereka Padahal jelas-jelas Reno bukan Axel.

Reno menghela napas pelan. Setelah memastikan Viona kembali sibuk
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 147

    Malam ini, suasana hati Reno tak kalah kalut. Sejak sore, pikiran itu kembali datang mengusik, berputar-putar tanpa hentinya. Sejak awal tahu ada pria lain yang wajahnya sangat mirip, bahkan bagaikan pinang dibelah dua dengannya, emang sudah ada pertanyaan di kepala Reno.Kalimat dugaan yang diucapkan Rima tadi, makin menambah beban pikiran Reno, yang tiba-tiba mulai termakan ucapan Rima dan meragukan kenyataan hidupnya sendiri.Reno memijat pelipisnya yang terasa pening. Niat untuk menanyakan hal ini langsung pada sang ibu sempat terlintas kuat. Tapi, akal sehatnya langsung menahan. Ibunya baru saja melewati masa-masa sulit akibat operasi jantung dan kini masih dalam proses pemulihan yang sangat rentan. Sudah cukup ulah abangnya yang terus-menerus bikin ulah dan menambah beban pikiran ibunya, Reno tidak boleh egois. Jika ia menanyakan hal seberat ini sekarang, nyawa ibunya bisa jadi taruhannyaTapi, mengabaikan rasa penasaran ini juga membuatnya tidak bisa tenang.'Kalau bukan ke Ibu

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 146

    Mendengar ucapan Axel, raut wajah Dandi dan Mila seketika melunak. Rasa panik dan kesal mereka perlahan luruh, berganti menjadi keprihatinan yang mendalam. Mereka menatap putra semata wayangnya itu dengan tatapan iba, membayangkan betapa hancurnya posisi Axel yang menjadi korban dan ditolak oleh orang-orang yang seharusnya mempercayainya."Axel..." suara Mila terdengar bergetar karena kasihan. Ia melangkah mendekat dan mengusap lengan putranya dengan lembut. "Kasihan kamu, Nak. Kamu pasti bingung dan sakit hati sekali menghadapi mereka sendirian."Dandi pun menghela napas berat, mengepalkan tangannya rapat-rapat. Mendadak kesal pada keluarga Darmawan. "Kurang ajar. Berani-beraninya Darmawan dan Viona memperlakukan kamu seperti ini. Tenang, Axel, Papa tidak akan tinggal diam. Kita akan usut siapa pria itu dan apa rencana mereka sebenarnya."Melihat kedua orang tuanya sepenuhnya termakan oleh bualannya, Axel memamerkan ekspresi lesu yang sengaja dibuat-buat. Rasa puas yang tersembunyi r

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 145

    Bukannya menjawab rentetan pertanyaan orang tuanya yang panik dan kesal, Axel justru berdiri kaku dengan mata menatap lurus ke arah Dandi dan Mila, dengan emosi yang hampir meledak.Dandi dan Mila langsung membeku. Atmosfer di ruang tamu rumah mewah itu seketika menjadi sangat tegang.Pertanyaan yang keluar begitu tiba-tiba itu membuat Dandi dan Mila saling pandang. Raut kemarahan di wajah Dandi luruh seketika, berganti menjadi kepanikan yang berusaha ia sembunyikan rapat-rapat. Sementara Mila mendadak bungkam, kedua matanya membelalak kaget, menyiratkan ada sebuah rahasia besar yang selama puluhan tahun ini terkunci rapat di balik dinding keluarga mereka."Kamu... kamu bicara apa sih, Axel?" elak Mila, mencoba menutupi kegugupannya dengan tawa hambar yang terdengar dipaksakan. "Jangan ngelantur begitu. Pergi ke mana kamu sebulan ini sampai pulang-pulang menanyakan hal aneh begini?"Dandi meremas jemarinya sendiri, menambahi ucapan istrinya dengan nada yang sengaja dibuat menggelegar

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 144

    Hembusan napas lega terdengar kompak dari Darmawan, Reno dan Viona saat pintu utama akhirnya tertutup rapat. Atmosfer tegang perlahan mulai mencair. Mereka bertiga melangkah menuju sofa ruang tamu dan mendaratkan tubuh di sana, berusaha menetralkan emosi yang sempat menguras tenaga.Hanya Rima yang tampak berbeda. Raut wajahnya masih diliputi ketidakpuasan dan kekecewaan yang tertahan."Bener-bener enggak tahu malu," gumam Darmawan sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Masih punya muka dia datang dan berdiri di sini, sok menunjuk orang lain padahal kelakuannya sendiri yang busuk.""Sudahlah, Pa. Yang penting drama ini akhirnya selesai," sahut Viona, menyandarkan punggungnya ke sofa.Rima yang sedari tadi melipat tangan di dada tiba-tiba bertanya dengan nada memprovokasi. "Tapi dari kalian tadi enggak ada yang bertanya atau penasaran, kenapa Axel sampai bisa bertindak senekat dan seberani itu?"Viona langsung memotong cepat ucapan Mama tirinya. Tatapannya menajam ke arah Rima."Aku engg

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 143

    Atensi semua orang di ruangan itu langsung tertahan. Pandangan Darmawan, Viona, dan Rima kini bergantian tertuju pada Axel dan Reno.Bahkan Reno sendiri perlahan mengalihkan pandangannya. Matanya yang tajam kini menatap raut wajah Axel dengan cermat, seolah untuk pertama kalinya ia benar-benar menyadari kemiripan garis wajah mereka berdua.Keheningan itu mendadak pecah oleh tawa sumbang yang keluar dari mulut Axel."Hubungan darah? Kakak adik?" cibir Axel dengan nada sangat sinis, meskipun napasnya masih tersengal menahan emosi. Wajahnya meringis jijik saat menatap Rima, lalu beralih melirik Reno dari ujung kepala sampai ujung kaki."Tante Rima kalau mau ngelawak jangan di saat seperti ini. Otak Tante udah geser, ya?" tembak Axel pedas, meluapkan kekesalannya.Axel lalu menunjuk Reno dengan tatapan penuh penghinaan dan rasa tidak suka."Mana mungkin aku punya hubungan darah sama pria udik dan miskin kayak dia? Lihat penampilannya. Dari ujung rambut sampai ujung kaki cuma bawa aura kem

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 142

    Reno memegang lembut jemari Viona, melanjutkan penjelasannya dengan suara yang tenang namun merasuk ke dalam hati. "Makanya dari kemarin aku sengaja menunggu waktu yang tepat, Vi. Aku menunggu momen di mana kebohongan pria ini terbongkar dengan sendirinya, tanpa membuatku terkesan mengada-ada atau berniat buruk memecah belah," tambah Reno, terlihat meyakinkan. Darmawan mengangguk-angguk setuju, raut amarahnya pada Reno seketika mereda berganti dengan rasa paham. Pria paruh baya itu menghela napas panjang lalu merangkul bahu putri kesayangannya. "Ya sudah, tidak usah dipikirkan dan diperdebatkan lagi, Vi," hibur Darmawan dengan nada membujuk. "Reno benar. Yang jelas sekarang kamu sudah tahu fakta sebenarnya, kalau pria pengecut di depan kita ini ternyata jauh lebih brengsek dari yang kita bayangkan." Viona terdiam sejenak, meresapi setiap perkataan Papa dan suaminya. Gejolak emosi di dadanya perlahan menyurut. Sedetik kemudian, sebuah senyuman tipis, senyum lega tanpa beban, mengem

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 5

    Keesokan paginya, Reno terbangun lebih dulu dibanding penghuni rumah lainnya, atau lebih tepatnya dibanding Viona yang masih berada di dalam kamar utama. Meski semalaman tidur di sofa ruang keluarga, tidurnya justru cukup nyenyak. Sofa itu bahkan jauh lebih empuk daripada kasur tipis yang selama

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 4

    Brakk! Suara itu begitu keras hingga membuat mata Reno langsung terbuka sempurna. Beberapa detik kemudian suara benda pecah lainnya kembali terdengar, disusul tangisan yang terdengar putus asa dan nyaris histeris. Prang! Reno segera bangkit dari sofa. Jantungnya berdegup lebih cepat ketika m

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 3

    Hari yang terasa seperti mimpi buruk itu akhirnya selesai juga. Pernikahan terlaksana. Resepsi berjalan tanpa hambatan berarti. Para tamu penting yang hadir sama sekali tidak mengetahui kekacauan besar yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Di mata mereka, semuanya terlihat sempurna. Pengantin wa

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 2

    Brakk! Pintu ruang rias VIP itu terbuka begitu keras hingga semua orang yang ada di dalam ruangan langsung menoleh ke arah sumber suara. Seorang wanita muda, cantik berdiri di ambang pintu dengan napas sedikit memburu. Gaun pengantin putih yang dikenakannya tampak sempurna. Riasan wajahnya juga je

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status