ログイン"Apa?! Axel?" seru Viona spontan dengan bola mata yang melebar sempurna.Reno yang berdiri di sebelahnya memang sempat terkejut, namun raut wajahnya dengan cepat kembali tenang. Bagaimanapun juga, Reno sudah mengetahui kenyataan bahwa pria pengecut yang pernah menyakiti Viona itu sebenarnya masih hidup dan berada di luar negeri. Tapi baginya, kedatangan Axel yang begitu mendadak tepat di rumah ini tetap saja sebuah kejutan yang tak disangka-sangka.Viona mengalihkan pandangannya pada Reno, menatap suaminya dengan sorot mata campur aduk, antara yakin dan tidak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya."Mbok jangan ngada-ngada ya," ujar Viona beralih menatap Mbok Inah, berusaha menutupi guncangan di hatinya dengan nada bercanda. "Benaran Axel? Atau jangan-jangan hantunya yang datang?"Mbok Inah jadi merinding mendengar celetukan itu. Ia mengusap kedua lengannya yang meremang. "Aduh, Nona Viona ini. Mana ada hantu gentayangan siang bolong begini, Nona. Wujudnya asli, pakai setelan rap
"Ehem! Nggak tahu tempat banget ya, siang-siang begini malah bermesraan di sini."Suara teguran bernada dingin dan sarat kedengkian itu seketika memecah kehangatan di antara Viona dan Reno. Rima baru saja pulang, melangkah masuk melalui pintu utama, melemparkan tas mewahnya ke atas meja samping dengan wajah cemberut penuh amarah.Reno yang kaget setengah mati refleks menegakkan tubuhnya. Dengan agak canggung, ia membantu Viona turun dari pangkuannya dan berdiri tegak sembari merapikan kemejanya yang sedikit kusut."Maaf, Ibu. Tadi cuma—" ucapan Reno terputus."Nggak usah sok sopan kamu, Reno," potong Rima tajam, melipat kedua tangannya di dada sembari menatap Reno dan Viona bergantian dengan tatapan sinis. "Rumah ini ada kamar. Kalau mau bermesraan atau bikin adegan vulgar kayak tadi, masuk kamar. Nggak usah pamer di ruang tengah yang bisa dilihat semua orang, termasuk pembantu. Nggak punya malu apa kalian itu?"Viona yang dasarnya tidak pernah mau mengalah, langsung memutar matanya m
Axel kepalanya sudah mau pecah rasanya karena stres dan lelah, ditambah omelan dari Lani. Tanpa menjawab sepatah kata pun lagi, ia langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak dan memblokir sementara nomor Lani agar wanita itu tidak terus menerus mengusiknya.Tangan Axel megepal menahan emosi. Tapi belum sempat dia melangkah, ponsel di genggamannya kembali bergetar. Di layarnya kini tertera nama Mama.Jantung Axel seketika berdegup kencang, karena cemas. Ia sengaja membiarkan panggilan pertama itu terputus begitu saja karena belum siap mental. Tapi, panggilan kedua langsung masuk kembali tanpa jeda. Sambil menelan ludah dengan susah payah, Axel akhirnya memberanikan diri menggeser ikon hijau dan menempelkan layar ke telinganya."Halo, Ma," sapa Axel lirih."Axel! Kamu ini sebenarnya ada di mana, hah?" semprot Mila tanpa basa-basi, dengan suara melengking tinggi di seberang telepon, karena amarah, rasa kecewa, dan kejengkelan yang sudah meluap-luap."Kamu itu mikir masih punya
Bisik-bisik dan kasak-kusuk seketika terdengar riuh di antara jajaran staf yang hadir di ruang rapat. Mereka saling pandang dengan tatapan heran dan bingung. Bagaimana mungkin orang tua kandung Pak Axel sendiri tidak tahu-menahu soal pernikahan anaknya? Padahal acara pernikahan itu sempat menjadi perbincangan. Tapi ingatan mereka kembali berputar, menyadari fakta bahwa saat pesta pernikahan mewah itu digelar, Pak Dandi dan Bu Mila memang sama sekali tidak nampak hadir.Tidak ada satu pun manajer yang berani membuka suara untuk menjawab pertanyaan heboh dari Mila. Kesunyian canggung yang mendadak melingkupi ruangan itu justru memicu rasa curiga yang mendalam di hati Dandi. Menyadari suasana makin tidak kondusif dan fokus rapat sudah terpecah, Dandi berusaha menahan emosinya."Sudah, rapat hari ini kita cukupkan dulu sampai di sini. Kita lanjutkan besok pagi dengan laporan penyesuaian anggaran yang lebih jelas!" putus Dandi tegas sembari menahan geram.Setelah seluruh jajaran staf dan m
Suasana di meja makan terasa jauh lebih hangat malam itu. Viona benar-benar tanpa rasa malu menunjukkan kemesraannya di depan seluruh anggota keluarga. Sepanjang jalan menuju meja makan hingga duduk berdua, ia tak henti-hentinya menempel dan bersikap manja pada suaminya. Sebaliknya, Reno yang merasa sedikit sungkan hanya bisa bersikap biasa, berusaha tetap tenang dan sopan menjaga wibawanya di depan sang mertua.Rima melangkah mendekati meja makan dengan wajah yang dibuat sehangat mungkin. "Ayo duduk, Viona, Reno. Mama udah minta Bik Inah masak hidangan kesukaan kalian malam ini," sapanya berpura-pura baik, mencoba menutup-nutupi rasa tidak suka yang menyelimuti hatinya.Begitu makan malam dimulai, suasana santai itu kembali dipanaskan oleh kelakuan Vera. Gadis itu menopang dagu sembari menatap Viona dan Reno bergantian dengan tatapan jahil."Gimana Kak Viona, kapan nih keponakan jadi? Masa belum ada hilalnya juga?" tagih Vera menaik-turunkan alisnya.Viona yang sedang mengunyah santa
"Bikin dulu perencanaan yang jelas mau usaha apa, hitung berapa modalnya," jawab Reno tegas. "Kalau bingung, lanjutkan aja usaha jualan Ibu. Bikin lebih besar dan profesional."Mendengar ucapan Reno, binar di mata Rizal seketika padam. Wajahnya kembali lesu terlipat. Membayangkan harus menyusun rencana, berpikir keras, apalagi melanjutkan jualan ibunya yang terkesan remeh, langsung meruntuhkan bayangan indahnya tentang uang kaget.Melihat respons abangnya, Reno hanya menghela napas panjang. Tanpa perlu berdebat lagi karena waktu yang makin mendesak, Reno merogoh dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu, lalu menyodorkannya pada Rizal."Nih, buat peganganmu dulu," kata Reno singkat.Rizal dengan cepat menyambar uang itu. "Iya, makasih.""Kami jalan dulu ya, Bu, Rav," pamit Reno sekali lagi.Reno dan Viona kemudian melangkah menuju mobil, masuk ke dalam kabin yang nyaman, lalu perlahan melaju meninggalkan halaman rumah sederhana itu.Bu Rahma dan Ravita berdiri di pi
Viona yang masih menarik pergelangan tangan Reno menuju dalam rumah, mendadak langkahnya berhenti saat mendengar pertanyaan itu. "Bagaimana dengan Axel? Apa kamu sudah dapat kabarnya lebih lanjut?" Tubuh Viona langsung menegang. Beberapa detik yang lalu dia masih sibuk mengomel soal acara keluar
Keesokan paginya, Reno terbangun lebih dulu dibanding penghuni rumah lainnya, atau lebih tepatnya dibanding Viona yang masih berada di dalam kamar utama. Meski semalaman tidur di sofa ruang keluarga, tidurnya justru cukup nyenyak. Sofa itu bahkan jauh lebih empuk daripada kasur tipis yang selama
Brakk! Suara itu begitu keras hingga membuat mata Reno langsung terbuka sempurna. Beberapa detik kemudian suara benda pecah lainnya kembali terdengar, disusul tangisan yang terdengar putus asa dan nyaris histeris. Prang! Reno segera bangkit dari sofa. Jantungnya berdegup lebih cepat ketika m
Hari yang terasa seperti mimpi buruk itu akhirnya selesai juga. Pernikahan terlaksana. Resepsi berjalan tanpa hambatan berarti. Para tamu penting yang hadir sama sekali tidak mengetahui kekacauan besar yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Di mata mereka, semuanya terlihat sempurna. Pengantin wa







