تسجيل الدخولAxel kepalanya sudah mau pecah rasanya karena stres dan lelah, ditambah omelan dari Lani. Tanpa menjawab sepatah kata pun lagi, ia langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak dan memblokir sementara nomor Lani agar wanita itu tidak terus menerus mengusiknya.Tangan Axel megepal menahan emosi. Tapi belum sempat dia melangkah, ponsel di genggamannya kembali bergetar. Di layarnya kini tertera nama Mama.Jantung Axel seketika berdegup kencang, karena cemas. Ia sengaja membiarkan panggilan pertama itu terputus begitu saja karena belum siap mental. Tapi, panggilan kedua langsung masuk kembali tanpa jeda. Sambil menelan ludah dengan susah payah, Axel akhirnya memberanikan diri menggeser ikon hijau dan menempelkan layar ke telinganya."Halo, Ma," sapa Axel lirih."Axel! Kamu ini sebenarnya ada di mana, hah?" semprot Mila tanpa basa-basi, dengan suara melengking tinggi di seberang telepon, karena amarah, rasa kecewa, dan kejengkelan yang sudah meluap-luap."Kamu itu mikir masih punya
Bisik-bisik dan kasak-kusuk seketika terdengar riuh di antara jajaran staf yang hadir di ruang rapat. Mereka saling pandang dengan tatapan heran dan bingung. Bagaimana mungkin orang tua kandung Pak Axel sendiri tidak tahu-menahu soal pernikahan anaknya? Padahal acara pernikahan itu sempat menjadi perbincangan. Tapi ingatan mereka kembali berputar, menyadari fakta bahwa saat pesta pernikahan mewah itu digelar, Pak Dandi dan Bu Mila memang sama sekali tidak nampak hadir.Tidak ada satu pun manajer yang berani membuka suara untuk menjawab pertanyaan heboh dari Mila. Kesunyian canggung yang mendadak melingkupi ruangan itu justru memicu rasa curiga yang mendalam di hati Dandi. Menyadari suasana makin tidak kondusif dan fokus rapat sudah terpecah, Dandi berusaha menahan emosinya."Sudah, rapat hari ini kita cukupkan dulu sampai di sini. Kita lanjutkan besok pagi dengan laporan penyesuaian anggaran yang lebih jelas!" putus Dandi tegas sembari menahan geram.Setelah seluruh jajaran staf dan m
Suasana di meja makan terasa jauh lebih hangat malam itu. Viona benar-benar tanpa rasa malu menunjukkan kemesraannya di depan seluruh anggota keluarga. Sepanjang jalan menuju meja makan hingga duduk berdua, ia tak henti-hentinya menempel dan bersikap manja pada suaminya. Sebaliknya, Reno yang merasa sedikit sungkan hanya bisa bersikap biasa, berusaha tetap tenang dan sopan menjaga wibawanya di depan sang mertua.Rima melangkah mendekati meja makan dengan wajah yang dibuat sehangat mungkin. "Ayo duduk, Viona, Reno. Mama udah minta Bik Inah masak hidangan kesukaan kalian malam ini," sapanya berpura-pura baik, mencoba menutup-nutupi rasa tidak suka yang menyelimuti hatinya.Begitu makan malam dimulai, suasana santai itu kembali dipanaskan oleh kelakuan Vera. Gadis itu menopang dagu sembari menatap Viona dan Reno bergantian dengan tatapan jahil."Gimana Kak Viona, kapan nih keponakan jadi? Masa belum ada hilalnya juga?" tagih Vera menaik-turunkan alisnya.Viona yang sedang mengunyah santa
"Bikin dulu perencanaan yang jelas mau usaha apa, hitung berapa modalnya," jawab Reno tegas. "Kalau bingung, lanjutkan aja usaha jualan Ibu. Bikin lebih besar dan profesional."Mendengar ucapan Reno, binar di mata Rizal seketika padam. Wajahnya kembali lesu terlipat. Membayangkan harus menyusun rencana, berpikir keras, apalagi melanjutkan jualan ibunya yang terkesan remeh, langsung meruntuhkan bayangan indahnya tentang uang kaget.Melihat respons abangnya, Reno hanya menghela napas panjang. Tanpa perlu berdebat lagi karena waktu yang makin mendesak, Reno merogoh dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu, lalu menyodorkannya pada Rizal."Nih, buat peganganmu dulu," kata Reno singkat.Rizal dengan cepat menyambar uang itu. "Iya, makasih.""Kami jalan dulu ya, Bu, Rav," pamit Reno sekali lagi.Reno dan Viona kemudian melangkah menuju mobil, masuk ke dalam kabin yang nyaman, lalu perlahan melaju meninggalkan halaman rumah sederhana itu.Bu Rahma dan Ravita berdiri di pi
Sementara itu di dalam kamar Reno, suasana terasa begitu panas dan sarat akan gairah. Viona yang sudah tidak tahan menahan hasrah gairahnya sejak kemarin, enggan menunggu sampai mereka tiba di Jakarta besok. Tanpa ragu, wanita cantik itu mengambil inisiatif meminta haknya malam ini pada sang suami."Vi, pelan-pelan ya, di sebelah kan ada Bang Rizal. Nanti dengar," bisik Reno memperingatkan sembari menatap dalam mata istrinya yang diliputi gairah."Mana bisa aku tahan, Ren. Kamu tuh bikin aku melayang terus," jawab Viona dengan desahan manja sembari melingkarkan kedua tangannya erat di leher tegap Reno.Namanya juga Viona, rasanya ada yang kurang jika ia tidak mengekspresikan kenikmatan yang dirasakannya. Erangan-erangan halus dan desahan nikmatnya terus lolos dari bibir indahnya, memecah kesunyian malam. Derit ranjang kayu tua yang bergoyang ritmis seolah menjadi musik pengiring dalam pergulatan intim mereka.Di balik dinding yang tipis, Rizal hanya bisa meremas sprei dengan napas mem
Reno dan Viona saling melempar pandangan, sementara di dalam kamar yang gelap, Rizal rupanya sedang menempelkan telinganya di balik pintu kayu, mendengarkan setiap kata percakapan itu dengan napas tertahan dan hati yang makin bergejolak panas."Nggak usah, Bu. Yang penting kita berdua udah sah secara hukum dan agama. Toh besok aku sama Viona juga udah harus balik ke Jakarta lagi," ujar Reno tenang sembari mengusap lembut punggung tangan istrinya.Bu Rahma manggut-manggut, meski raut wajahnya masih menyimpan sedikit rasa tidak enak pada warga sekitar."Lagian para tetangga juga belum ada yang tahu kalau kami sebenarnya udah nikah. Hanya keluarga Yunita kemarin. Kalau cuma mau bikin syukuran kecil-kecilan sih nggak apa-apa, Bu. Bikin besok malam atau kapan aja, meski aku udah berangkat, karena nggak sempat kalau sebelum aku berangkat. Bilang aja syukuran keselamatan atas keberangkatanku balik merantau. Kalau harus bikin pesta resepsi segala, jelas butuh biaya yang nggak sedikit, Bu," ta
Viona yang masih menarik pergelangan tangan Reno menuju dalam rumah, mendadak langkahnya berhenti saat mendengar pertanyaan itu. "Bagaimana dengan Axel? Apa kamu sudah dapat kabarnya lebih lanjut?" Tubuh Viona langsung menegang. Beberapa detik yang lalu dia masih sibuk mengomel soal acara keluar
Keesokan paginya, Reno terbangun lebih dulu dibanding penghuni rumah lainnya, atau lebih tepatnya dibanding Viona yang masih berada di dalam kamar utama. Meski semalaman tidur di sofa ruang keluarga, tidurnya justru cukup nyenyak. Sofa itu bahkan jauh lebih empuk daripada kasur tipis yang selama
Brakk! Suara itu begitu keras hingga membuat mata Reno langsung terbuka sempurna. Beberapa detik kemudian suara benda pecah lainnya kembali terdengar, disusul tangisan yang terdengar putus asa dan nyaris histeris. Prang! Reno segera bangkit dari sofa. Jantungnya berdegup lebih cepat ketika m
Hari yang terasa seperti mimpi buruk itu akhirnya selesai juga. Pernikahan terlaksana. Resepsi berjalan tanpa hambatan berarti. Para tamu penting yang hadir sama sekali tidak mengetahui kekacauan besar yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Di mata mereka, semuanya terlihat sempurna. Pengantin wa







