LOGINSetelah panggilan telepon ditutup, Reno langsung mengembuskan napas panjang sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Sambil mulai menarik kursi dan mulai menyantap sarapan mereka yang sudah dingin di meja makan, sang mekanik tampan itu akhirnya melemparkan protes kecil pada istrinya."Vi, kamu kalau ngomong jangan blak-blakan banget kayak gitu, dong... Malu aku sama Pak Darmawan," ujar Reno dengan nada memelas, wajahnya masih menyisakan sisa-sisa rona merah karena salah tingkah. "Urusan ranjang kita dibahas sampai bawa-bawa kata ketagihan dan mengadon segala. Nanti Papa mikirnya aku yang ngajarin kamu ngomong begitu pula."Viona yang sedang mengunyah sepotong croissant dingin hanya tertawa renyah. Sama sekali tak ada rasa bersalah di wajah cantiknya. Dengan santai, ia meminum sedikit jus jeruknya lalu menatap Reno dengan binar mata yang hangat."Yaelah, Ren... enggak apa-apa kali. Lagian kan cuma sama Papa aja," balas Viona ringan. "Kamu harus tahu, Papa itu bakalan seneng dan bahagia
Di seberang telepon, suara Darmawan terdengar agak menggelegar, menunjukkan nada tidak sabar. "Kemana saja si Reno, Vi? Papa hubungi dari tadi nomornya aktif tapi tidak diangkat-angkat! Jadi pulang hari ini kalian?"Mendengar cecaran sang papa, Viona tidak bisa menahan rasa humor dan kebahagiaan yang sedang membuncah di dadanya. Tanpa beban dan dengan nada suara yang teramat riang, Viona langsung menjawab blak-blakan."Aduh Papa... pantesan gak denger, orang kita tadi baru aja main di kamar mandi," cerocos Viona santai sambil tertawa kecil, melirik ke arah Reno yang seketika melotot panik menatap istrinya karena kelewat jujur.Sementara itu, di tanah air, Pak Darmawan yang sedang duduk di balik meja kerja megahnya seketika membeku. Kebetulan di ruangan itu ada Rima, yang sedang berkunjung dan duduk di sofa. Karena suara Viona cukup nyaring dari pengeras suara ponsel, Rima ikut mendengar dengan jelas perkataan anak tirinya. Kedua orang tua itu saling bertatap muka, membelalakkan mata
Melihat Viona yang kembali menerjangnya dengan tatapan lapar dan gairah yang sudah membumbung tinggi, Reno tak lagi berpikir untuk membawa wanita itu hingga ke kamar mandi. Jalur menuju kamar mandi terasa terlalu jauh untuk menahan gejolak gairah yang sudah di ujung tanduk.Tanpa membuang waktu sedetik pun, Reno langsung menyambar tubuh Viona, memotong langkah wanita itu lalu melepas bajunya dan merebahkannya di atas sofa empuk berbahan kulit yang berada tepat di ruang tengah suite mewah mereka."Ren... bukannya kita mau di kamar mandi?" bisik Viona terperanjat pelan, namun tatapan matanya berkilat kegirangan."Kelamaan, Vi," geram Reno serak di depan wajah Viona. "Sofa ini udah cukup panas buat nampung kita pagi ini." Reno lalu melepas bajunya sendiri, menanggalkan semuanya. Viona menganga melihat pemandangan itu yang begitu jelas dengan lampu yang menyala. Tubuh atletis dan kotak-kotak Reno, serta pusakanya yang tegak menjulang, membuatnya menganga dan tidak sabaran.Viona tertawa
Perlakuan Viona dan bisikan manjanya yang begitu menggoda, seketika membakar seluruh saraf lelaki normal dalam diri Reno. Tanpa bisa dicegah, senyum penuh makna yang dibumbui sedikit godaan nakal terbit di wajah yang semakin tampan sang mekanik, setelah dipermak dan perawatan.Bukannya langsung menuruti ajakan wanita itu, Reno justru menahan pinggul Viona. Tangan besarnya yang hangat perlahan menyusup turun ke balik gaun tidur sutra nan tipis, lalu mengusap lembut inti tubuh Viona yang masih terlindungi kain dalaman."Bukannya tadi ada yang ngeluh mau istirahat, hm?" goda Reno dengan suara serak yang amat dalam, jemarinya memberikan tekanan halus persis di pusat sensitif sang istri. "Katanya inimu masih sakit akibat ulahku semalam?""Nghh..." Viona melenguh halus, matanya seketika terpejam menikmati sentuhan magis Reno yang begitu pas di titik sensitifnya. Usapan lembut itu bukannya meredakan, malah justru membakar gairahnya hingga berkali-kali lipat dalam hitungan detik.Viona mendon
Viona hanya mengibas-ngibaskan tangannya dengan santai, sama sekali tidak peduli dengan urusan tiket pesawat kelas bisnis yang dipastikan akan hangus begitu saja. Bagi seorang putri konglomerat, nominal tiket tersebut hanyalah angka kecil yang tidak akan memengaruhi isi rekeningnya.Melihat reaksi santai Viona, Reno yang berjiwa hemat dan terbiasa hidup pas-pasan seketika meringis. Dadanya terasa agak sesak memikirkan uang sebanyak itu dibuang-buang begitu saja hanya demi menambah jatah liburan mereka."Vi, tapi itu tiketnya kan mahal banget... Sayang uangnya kalau tiketnya hangus," potong Reno dengan dahi berkerut, merasa bersalah secara finansial.Viona terkekeh geli melihat wajah cemas suaminya. Ia menarik selimutnya kembali hingga sebatas dada. "Ah, uang segitu mah gak seberapa, Reno. Anggap saja biaya sewa untuk kenyamanan barang berharga aku yang lagi butuh istirahat ini. Udah ah, aku mau merem lagi sebentar."Reno akhirnya hanya bisa pasrah dan mengangguk. Namun, begitu melihat
Pandangan mereka berdua akhirnya terkunci pada satu titik di tengah seprai putih yang tampak sedikit kusut. Di sana, tercetak dengan jelas beberapa tetesan noda merah segar yang kontras dengan warna sprei, bukti otentik bahwa gawang keperawanan Viona telah resmi jebol oleh keperkasaan Reno barusan.Melihat noda merah tersebut, secercah senyum penuh kelegaan langsung terbit di wajah cantik Viona. Ada rasa bangga yang membuncah di dadanya karena ia berhasil menjaga kesuciannya hingga momen yang tepat, dan memberikannya pada pria yang tulus serta luar biasa perkasa. Di sampingnya, Reno juga mengembuskan napas panjang dengan perasaan puas yang tak terkira. Noda itu seolah menjadi stempel resmi atas kejantanannya sebagai seorang pria sejati yang telah menyempurnakan ibadah malam pertama mereka."Tuh kan, Ren... spek mekanik kamu emang gak kaleng-kaleng," goda Viona sambil menyenggol pelan lengan Reno, wajahnya merona merah namun sarat akan kepuasan.Reno terkekeh serak. Tanpa membalas den
Hari yang terasa seperti mimpi buruk itu akhirnya selesai juga. Pernikahan terlaksana. Resepsi berjalan tanpa hambatan berarti. Para tamu penting yang hadir sama sekali tidak mengetahui kekacauan besar yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Di mata mereka, semuanya terlihat sempurna. Pengantin wa
Brakk! Pintu ruang rias VIP itu terbuka begitu keras hingga semua orang yang ada di dalam ruangan langsung menoleh ke arah sumber suara. Seorang wanita muda, cantik berdiri di ambang pintu dengan napas sedikit memburu. Gaun pengantin putih yang dikenakannya tampak sempurna. Riasan wajahnya juga je
Viona yang masih menarik pergelangan tangan Reno menuju dalam rumah, mendadak langkahnya berhenti saat mendengar pertanyaan itu. "Bagaimana dengan Axel? Apa kamu sudah dapat kabarnya lebih lanjut?" Tubuh Viona langsung menegang. Beberapa detik yang lalu dia masih sibuk mengomel soal acara keluar
"Nikahi putriku dan sebagai gantinya, biaya pengobatan ibumu dan utang-utang keluargamu dua ratus juta, lunas kubayar." Reno alias Reynald Notoharjo merasa seperti baru saja disambar petir di siang bolong. Pria berusia dua puluh lima tahun itu berdiri kaku di tengah ruangan mewah yang bahkan la







