Share

Bab 52

Author: Trya Dhafi
last update publish date: 2026-07-13 23:54:46

Viona langsung tersadar sepenuhnya. Jantungnya berdegup kencang karena ketahuan sedang menatap Reno terlalu lama.

"Apa?" elaknya cepat dengan nada ketus. "Ngaco."

Reno masih tersenyum tipis.

"Kamu salah lihat," bantah Viona.

"Oh, jadi aku salah lihat?" Reno mengangkat sebelah alis. "Padahal dari tadi tatapanmu nggak pindah-pindah."

"Aku cuma lagi capek!"

"Bukan lagi membayangkan aku itu Axel?"

"Tentu saja bukan!" bantah Viona lebih keras dari yang ia maksudkan. "Jangan ge-er deh!"

Tanpa memberi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 149

    Darmawan tidak memperlihatkan kegentaran sedikit pun. Ia membenahi kancing jasnya, menatap balik Suryo dengan sorot mata dingin."Saya tidak menukar siapa pun, Suryo. Saya cuma menyelamatkan posisi putri saya dari ulah pengecut yang kamu bangga-banggakan itu. Juga menyelamatkan nama baik keluarga dan reputasi perusahaan," balas Darmawan tajam. "Lagi pula, daripada fakta ini dimainkan pihak luar untuk merusak perusahaan, lebih baik saya sendiri yang memberitahunya terlebih dahulu.""Aku sudah curiga dari awal." Suryo terkekeh pelan, melirik Reynald Notoharjo dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kemiripan pria ini dengan Axel memang gila, tapi permainan Darmawan jauh lebih gila."Kita lihat saja nanti, Darmawan. Kita lihat berapa lama kebanggaanmu ini bisa bertahan saat Axel benar-benar menagih haknya."Darmawan mendengus dingin, sama sekali tidak terpengaruh oleh gertakan Suryo. Ia memajukan tubuhnya sedikit, memangkas jarak di antara mereka dengan tatapan menembus tajam."Axel tidak p

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 148

    Keesokan harinya, suasana di meja makan kediaman Darmawan terasa agak berbeda. Pria paruh baya itu menyesap kopi hitamnya pelan, membiarkan uap tipis membumbung di udara. Keningnya berkerut dalam, menandakan ada sesuatu yang sedang dipikirkannya.Reno dan Viona yang baru turun dari lantai atas berjalan mendekati meja makan dan duduk di sana bergabung untuk sarapan. Di meja itu hanya ada Darmawan, Rima belum kelihatan. Sementara Vera sudah berangkat ke kampus lebih dulu.Sebelum Viona sempat membuka suara untuk menyampaikan ide Reno semalam, Darmawan sudah lebih dulu meletakkan cangkirnya ke piring alas dengan denting halus. Ia menatap Reno dan Viona secara bergantian dengan raut wajah yang sangat tegas."Papa sudah pikirkan soal ini matang-matang dari semalam," buka Darmawan langsung pada intinya, tanpa basa-basi. "Soal kamu yang mulai masuk kantor hari ini, Reno, juga soal kemunculan si pengecut itu yang berpotensi bikin keruh suasana."Reno dan Viona saling pandang sejenak, terkeju

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 147

    Malam ini, suasana hati Reno tak kalah kalut. Sejak sore, pikiran itu kembali datang mengusik, berputar-putar tanpa hentinya. Sejak awal tahu ada pria lain yang wajahnya sangat mirip, bahkan bagaikan pinang dibelah dua dengannya, emang sudah ada pertanyaan di kepala Reno.Kalimat dugaan yang diucapkan Rima tadi, makin menambah beban pikiran Reno, yang tiba-tiba mulai termakan ucapan Rima dan meragukan kenyataan hidupnya sendiri.Reno memijat pelipisnya yang terasa pening. Niat untuk menanyakan hal ini langsung pada sang ibu sempat terlintas kuat. Tapi, akal sehatnya langsung menahan. Ibunya baru saja melewati masa-masa sulit akibat operasi jantung dan kini masih dalam proses pemulihan yang sangat rentan. Sudah cukup ulah abangnya yang terus-menerus bikin ulah dan menambah beban pikiran ibunya, Reno tidak boleh egois. Jika ia menanyakan hal seberat ini sekarang, nyawa ibunya bisa jadi taruhannyaTapi, mengabaikan rasa penasaran ini juga membuatnya tidak bisa tenang.'Kalau bukan ke Ibu

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 146

    Mendengar ucapan Axel, raut wajah Dandi dan Mila seketika melunak. Rasa panik dan kesal mereka perlahan luruh, berganti menjadi keprihatinan yang mendalam. Mereka menatap putra semata wayangnya itu dengan tatapan iba, membayangkan betapa hancurnya posisi Axel yang menjadi korban dan ditolak oleh orang-orang yang seharusnya mempercayainya."Axel..." suara Mila terdengar bergetar karena kasihan. Ia melangkah mendekat dan mengusap lengan putranya dengan lembut. "Kasihan kamu, Nak. Kamu pasti bingung dan sakit hati sekali menghadapi mereka sendirian."Dandi pun menghela napas berat, mengepalkan tangannya rapat-rapat. Mendadak kesal pada keluarga Darmawan. "Kurang ajar. Berani-beraninya Darmawan dan Viona memperlakukan kamu seperti ini. Tenang, Axel, Papa tidak akan tinggal diam. Kita akan usut siapa pria itu dan apa rencana mereka sebenarnya."Melihat kedua orang tuanya sepenuhnya termakan oleh bualannya, Axel memamerkan ekspresi lesu yang sengaja dibuat-buat. Rasa puas yang tersembunyi r

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 145

    Bukannya menjawab rentetan pertanyaan orang tuanya yang panik dan kesal, Axel justru berdiri kaku dengan mata menatap lurus ke arah Dandi dan Mila, dengan emosi yang hampir meledak.Dandi dan Mila langsung membeku. Atmosfer di ruang tamu rumah mewah itu seketika menjadi sangat tegang.Pertanyaan yang keluar begitu tiba-tiba itu membuat Dandi dan Mila saling pandang. Raut kemarahan di wajah Dandi luruh seketika, berganti menjadi kepanikan yang berusaha ia sembunyikan rapat-rapat. Sementara Mila mendadak bungkam, kedua matanya membelalak kaget, menyiratkan ada sebuah rahasia besar yang selama puluhan tahun ini terkunci rapat di balik dinding keluarga mereka."Kamu... kamu bicara apa sih, Axel?" elak Mila, mencoba menutupi kegugupannya dengan tawa hambar yang terdengar dipaksakan. "Jangan ngelantur begitu. Pergi ke mana kamu sebulan ini sampai pulang-pulang menanyakan hal aneh begini?"Dandi meremas jemarinya sendiri, menambahi ucapan istrinya dengan nada yang sengaja dibuat menggelegar

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 144

    Hembusan napas lega terdengar kompak dari Darmawan, Reno dan Viona saat pintu utama akhirnya tertutup rapat. Atmosfer tegang perlahan mulai mencair. Mereka bertiga melangkah menuju sofa ruang tamu dan mendaratkan tubuh di sana, berusaha menetralkan emosi yang sempat menguras tenaga.Hanya Rima yang tampak berbeda. Raut wajahnya masih diliputi ketidakpuasan dan kekecewaan yang tertahan."Bener-bener enggak tahu malu," gumam Darmawan sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Masih punya muka dia datang dan berdiri di sini, sok menunjuk orang lain padahal kelakuannya sendiri yang busuk.""Sudahlah, Pa. Yang penting drama ini akhirnya selesai," sahut Viona, menyandarkan punggungnya ke sofa.Rima yang sedari tadi melipat tangan di dada tiba-tiba bertanya dengan nada memprovokasi. "Tapi dari kalian tadi enggak ada yang bertanya atau penasaran, kenapa Axel sampai bisa bertindak senekat dan seberani itu?"Viona langsung memotong cepat ucapan Mama tirinya. Tatapannya menajam ke arah Rima."Aku engg

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 6

    Viona yang masih menarik pergelangan tangan Reno menuju dalam rumah, mendadak langkahnya berhenti saat mendengar pertanyaan itu. "Bagaimana dengan Axel? Apa kamu sudah dapat kabarnya lebih lanjut?" Tubuh Viona langsung menegang. Beberapa detik yang lalu dia masih sibuk mengomel soal acara keluar

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 5

    Keesokan paginya, Reno terbangun lebih dulu dibanding penghuni rumah lainnya, atau lebih tepatnya dibanding Viona yang masih berada di dalam kamar utama. Meski semalaman tidur di sofa ruang keluarga, tidurnya justru cukup nyenyak. Sofa itu bahkan jauh lebih empuk daripada kasur tipis yang selama

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 4

    Brakk! Suara itu begitu keras hingga membuat mata Reno langsung terbuka sempurna. Beberapa detik kemudian suara benda pecah lainnya kembali terdengar, disusul tangisan yang terdengar putus asa dan nyaris histeris. Prang! Reno segera bangkit dari sofa. Jantungnya berdegup lebih cepat ketika m

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 3

    Hari yang terasa seperti mimpi buruk itu akhirnya selesai juga. Pernikahan terlaksana. Resepsi berjalan tanpa hambatan berarti. Para tamu penting yang hadir sama sekali tidak mengetahui kekacauan besar yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Di mata mereka, semuanya terlihat sempurna. Pengantin wa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status