MasukMila tersentak, menghentikan tangisnya seketika. Ia menatap suaminya dengan raut wajah tidak percaya, terluka oleh tuduhan absurd yang baru saja meluncur dari mulut Dandi."Papa bicara apa, sih?" seru Mila dengan suara serak, dadanya naik-turun menahan emosi. "Kenapa Papa sampai tega ngomong begitu? Aku sendiri yang melahirkan Axel. Aku ingat betul sakitnya, aku ingat betul bayiku. Nggak ada yang tertukar di rumah sakit.""Lalu bagaimana kamu menjelaskan pria yang jadi suaminya Viona sekarang, Ma? Papa baru saja lihat dia dengan mata kepala Papa sendiri di kantor Darmawan. Dia mirip sekali dengan Axel. Satu-satunya perbedaan cuma dia agak gelap, tapi jauh lebih gagah tinggi, tegap, dan berwibawa. Nggak mungkin dua orang asing bisa semirip itu kalau nggak ada hubungan darah. Jangan-jangan mereka sebenarnya saudara kandung... atau malah kembar yang terpisah."Mila terpaku sejenak, lalu matanya memicing tajam. Rasa sedihnya seketika berubah menjadi amarah baru yang mengarah tepat pada Da
Reno sudah membuka mulutnya, hendak merespons pertanyaan Dandi dengan tenang. Namun, Darmawan bergerak lebih cepat. Ia melangkah maju, memotong percakapan itu sebelum Reno sempat mengatakan sepatah kata pun."Reynald ini hanya anak dari keluarga orang biasa, Dandi," jawab Darmawan, suaranya menggelegar dipenuhi ketegasan. "Dia bukan berasal dari keluarga kaya raya, bukan juga anak pengusaha terpandang seperti kamu. Tapi Viona, saya dan keluarga sudah menerima dia apa adanya. Dia pria yang bertanggung jawab dan punya harga diri, jauh lebih berharga daripada anakmu yang ngakunya kaya tapi kelakuannya pengecut."Darmawan memicingkan mata, menatap Dandi dengan raut wajah penuh selidik dan sindiran tajam. "Lagi pula, kenapa kamu getol sekali mempertanyakan asal-usulnya? Wajah mereka bisa sangat mirip begini, apa jangan-jangan Reynald ini sebenarnya darah dagingmu juga? Atau hasil hubungan gelapmu di luar?"Mata Dandi membelalak seketika. Pertanyaan nyelekit dari Darmawan itu menyentil harg
"Sumpah, demi Tuhan, Darmawan," sahut Dandi cepat, mengangkat sebelah tangannya. Matanya menatap Darmawan penuh kesungguhan yang putus asa. "Saya tidak sedang bersilat lidah. Axel sama sekali tidak pernah membicarakan soal pernikahan ini, apalagi meminta restu. Saya dan ibunya benar-benar buta soal ini."Darmawan terkekeh sinis, menyandarkan tubuhnya ke pinggir meja kerja sambil menggelengkan kepala, penuh rasa tidak percaya."Bicara memang mudah, Dandi. Tapi kamu pikir saya bisa percaya begitu saja?" desis Darmawan dingin. "Anak dan orang tua sama saja. Luar biasanya pandai berskenario. Mana ada orang tua yang tidak tahu anaknya mau menikah, kecuali kalau kalian memang sengaja cuci tangan setelah rencana kalian berantakan?""Saya jujur, Darmawan," tegas Dandi, dadanya naik-turun menahan sesak dan rasa terhina. "Untuk apa saya datang ke mari, berdiri di depan kamu dan Pak Darwin, kalau cuma buat membohongi diri sendiri? Saya membela diri karena saya memang tidak tahu-menahu soal masal
Dandi terus melangkah lebar, mengabaikan teriakan dan derap langkah Axel yang mengejarnya dari belakang. Telinganya serasa berdengung, dipenuhi rasa kecewa dan amarah yang saling berbenturan. Setiap panggilan sang putra justru makin mempertegas kebohongan yang coba ditutupi."Pa! Tolong dengerin Axel dulu, Pa. Ini gak seperti yang Papa pikirkan!" seru Axel setengah berteriak saat mereka tiba di depan lobby.Axel berusaha menjangkau pintu mobil, namun Dandi bergerak lebih cepat. Pria paruh baya itu masuk ke dalam mobil SUV miliknya, menekan tombol central lock hingga terdengar bunyi klik yang mengunci seluruh akses dari luar, lalu menghidupkan mesin."Pa. Buka pintunya, Pa!" Axel menggedor-gedor kaca jendela dengan raut wajah panik.Tanpa sedikit pun menoleh ke arah Axel yang kelabakan di luar, Dandi menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil melaju kencang meninggalkan halaman kantor.Lewat kaca spion tengah, Dandi bisa melihat Axel yang berdiri terpaku dengan napas memburu. Dandi menceng
Dandi berdiri dari kursinya, menatap Axel dengan mata mendelik lebar penuh kecurigaan. Ucapan Suryo lewat telepon tadi seolah membukakan mata Dandi atas kejanggalan yang ada."Jawab Papa, Axel!" bentak Dandi, suaranya bergetar menahan amarah. "Apa benar kamu sengaja kabur waktu hari pernikahan itu dan apa alasanmu? Apa kamu sengaja membiarkan posisi itu kosong sampai Darmawan terpaksa mencari pengganti buat menutup malu keluarga mereka?"Axel seketika salah tingkah. Tatapan tajam sang papa membuat tenggorokannya terasa kering secara mendadak. Kebohongan rapi yang ia susun dari kemarin, runtuh seketika di hadapan kenyataan bahwa Darmawan bersikap begitu agresif dan percaya diri. Otaknya berputar cepat, mencari celah untuk memutarbalikkan fakta demi menyelamatkan mukanya sendiri.Axel menunduk sejenak, memegang pelipisnya sambil berpura-pura emosional, mencoba memancing kembali rasa iba dan percaya sang papa."Pa... Papa lebih percaya sama ucapan Om Darmawan dan Om Suryo daripada anak P
Darmawan tidak memperlihatkan kegentaran sedikit pun. Ia membenahi kancing jasnya, menatap balik Suryo dengan sorot mata dingin."Saya tidak menukar siapa pun, Suryo. Saya cuma menyelamatkan posisi putri saya dari ulah pengecut yang kamu bangga-banggakan itu. Juga menyelamatkan nama baik keluarga dan reputasi perusahaan," balas Darmawan tajam. "Lagi pula, daripada fakta ini dimainkan pihak luar untuk merusak perusahaan, lebih baik saya sendiri yang memberitahunya terlebih dahulu.""Aku sudah curiga dari awal." Suryo terkekeh pelan, melirik Reynald Notoharjo dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kemiripan pria ini dengan Axel memang gila, tapi permainan Darmawan jauh lebih gila."Kita lihat saja nanti, Darmawan. Kita lihat berapa lama kebanggaanmu ini bisa bertahan saat Axel benar-benar menagih haknya."Darmawan mendengus dingin, sama sekali tidak terpengaruh oleh gertakan Suryo. Ia memajukan tubuhnya sedikit, memangkas jarak di antara mereka dengan tatapan menembus tajam."Axel tidak p
Viona yang masih menarik pergelangan tangan Reno menuju dalam rumah, mendadak langkahnya berhenti saat mendengar pertanyaan itu. "Bagaimana dengan Axel? Apa kamu sudah dapat kabarnya lebih lanjut?" Tubuh Viona langsung menegang. Beberapa detik yang lalu dia masih sibuk mengomel soal acara keluar
Keesokan paginya, Reno terbangun lebih dulu dibanding penghuni rumah lainnya, atau lebih tepatnya dibanding Viona yang masih berada di dalam kamar utama. Meski semalaman tidur di sofa ruang keluarga, tidurnya justru cukup nyenyak. Sofa itu bahkan jauh lebih empuk daripada kasur tipis yang selama
Brakk! Suara itu begitu keras hingga membuat mata Reno langsung terbuka sempurna. Beberapa detik kemudian suara benda pecah lainnya kembali terdengar, disusul tangisan yang terdengar putus asa dan nyaris histeris. Prang! Reno segera bangkit dari sofa. Jantungnya berdegup lebih cepat ketika m
Hari yang terasa seperti mimpi buruk itu akhirnya selesai juga. Pernikahan terlaksana. Resepsi berjalan tanpa hambatan berarti. Para tamu penting yang hadir sama sekali tidak mengetahui kekacauan besar yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Di mata mereka, semuanya terlihat sempurna. Pengantin wa







