LOGINSetelah puluhan menit bergulat panas di atas tempat tidur first class, ditambah sensasi mendebarkan ketika pesawat beberapa kali terguncang karena menembus awan tebal di tengah malam, keduanya akhirnya terbaring lemas saling memeluk. Karena berada di dalam kabin pesawat, kali ini mereka tidak benar-benar polos tanpa sehelai benang pun seperti biasanya, pakaian mereka hanya ditanggalkan sebagian dan kini sudah dirapikan kembali.Viona menyandarkan kepalanya di dada bidang Reno yang masih naik-turun mengatur napas, menyunggingkan senyum puas yang teramat sangat. Sentuhan dan keperkasaan Reno tak pernah gagal membuatnya melayang.Di tengah keheningan kabin yang hangat itu, Viona mendongak sedikit dan menatap suaminya."Ren... kalau bisa, kamu jangan bikin aku hamil dulu ya," letup Viona tiba-tiba dengan nada santai.Reno menaikkan sebelah alisnya, menatap Viona heran. "Lho, kok gitu?""Ya, aku masih mau menikmati kamu dan hubungan kita gini dulu, tanpa gangguan kehamilan," jawab Viona m
Reno tertawa kecil melihat reaksi spontan Viona yang mendadak cemberut di kursi kelas satu pesawat yang sedang melaju tenang menembus awan. Ia merengkuh bahu istrinya erat-erat, menarik tubuh Viona agar makin bersandar di dada bidangnya."Bukan gak boleh dandan sama sekali, Nona Cantik," goda Reno, menunduk untuk membelai pipi halus Viona yang masih ditekuk. "Kamu itu dandan tipis atau bahkan tanpa make up pun udah cantik banget dari lahir. Nanti kalau kamu dandan terlalu mencolok di kampung, yang ada orang-orang bukannya fokus sama urusan keluarga kita, tapi malah sibuk melotot mengagumi kecantikan istriku ini. Aku cuma gak mau kepemilikan aku dilirik pria-pria lain di sana."Mendengar ucapan manis yang dibungkus rasa cemburu posesif dari Reno, raut wajah Viona seketika melunak. Merah merona tipis menjalar di kedua pipinya. Ia menyunggingkan senyum manja, lalu mencubit pelan dada bidang Reno yang terbalut kaus tebal dan kemeja."Dasar Mas Mekanik posesif. Bisa aja ngelesnya," sahut V
Sementara itu, atmosfer kelam menyeruak di dalam ruang kerja Dandi. Pria itu terduduk lesu di balik meja kebesarannya, menatap tumpukan berkas pembatalan kerja sama dan surat tagihan utang yang kian menggunung. Di depannya, Mila tampak frustrasi sembari memijit pelipisnya yang berdenyut hebat.Perusahaan yang dibangun dan dipertahankan Dandi dengan segala cara kini berada di ambang kehancuran total. Kerugian finansial yang membengkak dalam hitungan minggu membuat keuangan mereka benar-benar sekarat. Tidak ada lagi investor yang mau mengulurkan tangan, dan jangankan untuk memulihkan bisnis, untuk membayar gaji karyawan bulan ini saja mereka sudah tidak sanggup lagi. Perusahaan itu dipastikan runtuh, tak bisa diselamatkan sama sekali.Dandi mengusap wajahnya dengan kasar, napasnya memburu berat. Rasa bingung dan gelisah yang membakar dadanya perlahan berubah menjadi kecurigaan yang sangat besar."Nggak masuk akal," gumam Dandi dengan suara serak, matanya menatap kosong ke arah deretan d
Mendengar kalimat pamungkas yang keluar dari bibir manis istrinya, Reno hampir saja tersedak sisa jus jeruknya. Tantangan Viona benar-benar di luar dugaan dan makin berani.Viona menyunggingkan senyum miring yang begitu menggoda, matanya berkilat nakal menatap Reno yang sedang terpaku."Kenapa harus nunggu nanti malam?" tantang Viona santai, menopang dagunya sembari menatap Reno dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Siang ini kan bisa, Reno. Mumpung kita masih bebas berdua di kamar suite hotel ini. Mau aku mendesah dan berteriak sepuasnya sampai suaraku habis pun, gak bakalan ada orang yang denger atau terganggu."Sengatan panas seketika kembali membakar seluruh aliran darah Reno. Rasa malu dan canggung yang tadi sempat hinggap kini lenyap sepenuhnya, digantikan oleh gairah pria perkasa yang terprovokasi oleh keagresifan sang istri.Reno menghabiskan sisa makanannya dalam dua suapan besar, lalu menyapu bibirnya dengan serbet. Ia bangkit dari kursi, melangkah perlahan mengikis jarak di
Setelah panggilan telepon ditutup, Reno langsung mengembuskan napas panjang sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Sambil mulai menarik kursi dan mulai menyantap sarapan mereka yang sudah dingin di meja makan, sang mekanik tampan itu akhirnya melemparkan protes kecil pada istrinya."Vi, kamu kalau ngomong jangan blak-blakan banget kayak gitu, dong... Malu aku sama Pak Darmawan," ujar Reno dengan nada memelas, wajahnya masih menyisakan sisa-sisa rona merah karena salah tingkah. "Urusan ranjang kita dibahas sampai bawa-bawa kata ketagihan dan mengadon segala. Nanti Papa mikirnya aku yang ngajarin kamu ngomong begitu pula."Viona yang sedang mengunyah sepotong croissant dingin hanya tertawa renyah. Sama sekali tak ada rasa bersalah di wajah cantiknya. Dengan santai, ia meminum sedikit jus jeruknya lalu menatap Reno dengan binar mata yang hangat."Yaelah, Ren... enggak apa-apa kali. Lagian kan cuma sama Papa aja," balas Viona ringan. "Kamu harus tahu, Papa itu bakalan seneng dan bahagia
Di seberang telepon, suara Darmawan terdengar agak menggelegar, menunjukkan nada tidak sabar. "Kemana saja si Reno, Vi? Papa hubungi dari tadi nomornya aktif tapi tidak diangkat-angkat! Jadi pulang hari ini kalian?"Mendengar cecaran sang papa, Viona tidak bisa menahan rasa humor dan kebahagiaan yang sedang membuncah di dadanya. Tanpa beban dan dengan nada suara yang teramat riang, Viona langsung menjawab blak-blakan."Aduh Papa... pantesan gak denger, orang kita tadi baru aja main di kamar mandi," cerocos Viona santai sambil tertawa kecil, melirik ke arah Reno yang seketika melotot panik menatap istrinya karena kelewat jujur.Sementara itu, di tanah air, Pak Darmawan yang sedang duduk di balik meja kerja megahnya seketika membeku. Kebetulan di ruangan itu ada Rima, yang sedang berkunjung dan duduk di sofa. Karena suara Viona cukup nyaring dari pengeras suara ponsel, Rima ikut mendengar dengan jelas perkataan anak tirinya. Kedua orang tua itu saling bertatap muka, membelalakkan mata
Brakk! Suara itu begitu keras hingga membuat mata Reno langsung terbuka sempurna. Beberapa detik kemudian suara benda pecah lainnya kembali terdengar, disusul tangisan yang terdengar putus asa dan nyaris histeris. Prang! Reno segera bangkit dari sofa. Jantungnya berdegup lebih cepat ketika m
Hari yang terasa seperti mimpi buruk itu akhirnya selesai juga. Pernikahan terlaksana. Resepsi berjalan tanpa hambatan berarti. Para tamu penting yang hadir sama sekali tidak mengetahui kekacauan besar yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Di mata mereka, semuanya terlihat sempurna. Pengantin wa
Brakk! Pintu ruang rias VIP itu terbuka begitu keras hingga semua orang yang ada di dalam ruangan langsung menoleh ke arah sumber suara. Seorang wanita muda, cantik berdiri di ambang pintu dengan napas sedikit memburu. Gaun pengantin putih yang dikenakannya tampak sempurna. Riasan wajahnya juga je
"Nikahi putriku dan sebagai gantinya, biaya pengobatan ibumu dan utang-utang keluargamu dua ratus juta, lunas kubayar." Reno alias Reynald Notoharjo merasa seperti baru saja disambar petir di siang bolong. Pria berusia dua puluh lima tahun itu berdiri kaku di tengah ruangan mewah yang bahkan la







