แชร์

Bab 70

ผู้เขียน: Kak Han
last update วันที่เผยแพร่: 2026-09-29 20:56:56

Tiara berlari dengan napas memburu dan mata yang sembap oleh air mata. Begitu tiba di depan pintu kaca Instalasi Gawat Darurat, langkahnya tertahan oleh petugas medis dan seorang polisi lalu lintas.

​"Mbak ini keluarga korban?" tanya petugas administrasi dengan cepat seraya memegang papan dokumen. "Kami butuh data diri korban dan tanda tangan keluarga untuk tindakan medis darurat serta operasi malam ini."

​Tiara membeku di tempatnya. Lidahnya mendadak kelat. "S-saya... adik ipar tirinya, Suster
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Nyonya, Suamimu Bukan Pria Lemah!   Bab 92

    Pintu kamar Dilan terdorong pelan. Pak Hendra dan Nyonya Hendra melangkah masuk, mengekor tepat di belakang Alena yang masih memasang raut wajah muram.​Di dalam kamar, suasana justru terasa sangat tenang. Dilan sudah mengenakan kemeja kain santainya yang dibiarkan terbuka tiga kancing teratas. Ia duduk santai di tepi ranjang, sementara Ela berdiri di sampingnya dengan telaten merekatkan ujung isolasi medis pada kain kasa perban di dada Dilan. Tidak ada kepanikan, tidak ada tanda-tanda kecangguhan.​Melihat kedatangan kedua orang tuanya bersama Alena, Dilan melirik tipis lalu menyunggingkan senyum samar.​"Alena ngadu apa ke Mama dan Papa sampai ramai-ramai datang ke kamar Dilan begini?" tanya Dilan santai, suaranya terdengar datar tanpa beban sama sekali.​Ela pun tetap melanjutkan pekerjaannya dengan tenang. Setelah merapikan perban Dilan, gadis itu dengan cekatan mengancingkan kemeja Dilan satu per satu, seolah keberadaan tiga orang di ambang pintu itu tak menggoyahkan fokusnya.​M

  • Nyonya, Suamimu Bukan Pria Lemah!   Bab 91

    ​Sambil menghentakkan kakinya keras-keras, Alena berlari turun menuju ruang keluarga. Wajah cantiknya ditekuk habis-habisan, mata diselimuti air mata buatan, dan napasnya dibikin terengah-engah seolah-olah baru saja mengalami hal yang sangat mengerikan.​Di ruang keluarga yang luas itu, Pak Hendra dan Nyonya Hendra sedang duduk santai sambil menikmati cangkir teh hangat. Tak jauh dari mereka, Olivia, adik kandung Dilan yang masih duduk di bangku SMA, sedang bersandar santai di sofa empuk sambil memegang tabletnya.​"Tante... Om..." panggil Alena dengan suara gemetar yang dibuat-buat, langsung menghampiri Nyonya Hendra dan merebahkan tubuhnya di samping wanita itu.​Nyonya Hendra yang kaget langsung meletakkan cangkir tehnya. "Astaga, Alena! Ada apa, Sayang? Kenapa kamu menangis seperti ini?"​"Dilan, Tante..." adu Alena sambil mengusap sudut matanya dengan saputangan. "Dilan benar-benar sudah keterlaluan!"​Pak Hendra melipat korannya dan mengerutkan kening. "Ada apa dengan Dilan, Ale

  • Nyonya, Suamimu Bukan Pria Lemah!   Bab 90

    ​Sejak percakapan jujur di ambang pintu waktu itu, sikap Ela berubah makin terbuka. Dia tak lagi canggung menunjukkan perhatian ekstra kepada Dilan. Dari mulai memotongkan buah menjadi potongan kecil hingga menyuapi Dilan, memastikan suhu air mandi, hingga mengusap keringat di dahi Dilan saat bekas luka operasinya mendadak nyeri. Semua dilakukan Ela dengan telaten.​Dilan sendiri sering merasa tidak enak dan canggung. Dia tahu betul bagaimana perasaan Ela padanya. Namun, Dilan juga manusia biasa. Di saat tubuhnya masih lemah, terisolasi di kamar, dan jauh dari Tiara, kehangatan serta perhatian tulus dari Ela perlahan meruntuhkan tembok pertahanannya. Ada saat-saat di mana Dilan larut dan menikmati perhatian itu, walau di dalam benaknya bayangan Tiara tak pernah benar-benar hilang.​Siang itu, udara kamar terasa agak hangat. Ela sedang membantu Dilan merapikan perban di dadanya.​"Pak Dilan," panggil Ela pelan seraya memegang gulungan kasa steril. "Perbannya harus diganti sekarang ya.

  • Nyonya, Suamimu Bukan Pria Lemah!   Bab 89

    Dilan menerima mangkuk bubur yang disodorkan Ela. Sebelum menyuap makanan itu, ia menyempatkan diri menatap wajah pembantu mudanya itu cukup lama. Ada rasa penasaran yang mendalam di benak Dilan saat melihat ketulusan yang dipancarkan dari mata Ela.​"Ela," panggil Dilan lagi, menghentikan gerakan tangan Ela yang sedang menyiapkan gelas air putih.​Ela menoleh. "Iya, Pak Dilan? Ada yang kurang?"​Dilan menggeleng pelan. Lalu dia menanyakan sesuatu pada pelayannya itu. "Aku cuma mau tanya satu hal. Kenapa kamu begitu mengutamakan kesalamatanku? Bahkan waktu itu kamu nekat pasang badan menahan pisau anak buah Anton?” ​Dilan meletakkan sendoknya kembali ke mangkuk. Dan sebelum Ela menjawab, Dilan kembali menambahkan sebuah pertanyaan."Aku ini punya banyak pengawal dan bawahan. Tapi sejujurnya, jarang sekali ada yang setulus kamu. Apalagi kamu sempat dibayar Papaku untuk jadi mata-mata. Tapi kenapa kamu malah melindungiku sampai terluka parah?"​Mendengar pertanyaan itu, gerakan tangan

  • Nyonya, Suamimu Bukan Pria Lemah!   Bab 88

    Keesokan harinya, Tiara melangkah memasuki kantor manajemen supermarket dengan seragam kerja barunya yang jauh lebih rapi dan elegan. Kartu identitas bertuliskan Asisten Supervisor Operasional terkalung manis di lehernya.“Aku harus yakin pada kemampuanku. Nggak perlu mikirin omongan negatif dari orang!” seru Tiara menyemangati dirinya sendiri.​Jujur saja, di dalam hatinya Tiara masih merasa seperti bermimpi. Semua ini terasa begitu mendadak dan tidak masuk akal. Namun, setiap kali ia mengingat cermin kamar kosnya dan nasihat hangat dari Ibu kos semalam, Tiara menguatkan hatinya.Dan tiba tiba, bayangan Dilan terlintas dalam benak Tiara. Mungkin jika hubungan mereka masih baik, Dilan akan sangat bangga dengan pencapaian Tiara saat itu. Tanpa sedikitpun Tiara sadari, jika pencapaiannya saat itu 100 persen atas perintah Dilan.​Saat berjalan menyusuri koridor lantai dua, pikiran Tiara mulai fokus dengan tanggung jawab barunya. Seketika dia hapus bayangan Dilan. Di sana, tatapan mata da

  • Nyonya, Suamimu Bukan Pria Lemah!   Bab 87

    Sepanjang jalan pulang menyusuri gang sempit menuju rumah kosnya, pikiran Tiara terus berputar. Langkah kakinya terasa begitu berat, bukan lagi karena lelah menahan sakit di tumitnya, melainkan karena beban teka-teki yang menghimpit dadanya. Rasanya baru tadi pagi ia berdiri di depan rak pameran sebagai SPG biasa, diteriaki oleh penyelia, dan dituduh mencuri oleh wanita kaya bernama Alena. Namun hanya dalam hitungan jam, hidupnya seolah diputarbalikkan secara tidak masuk akal.​Bagaimana mungkin seorang SPG baru yang kuliahnya terputus di tengah jalan tiba-tiba diangkat menjadi Asisten Supervisor? Tiara menggeleng pelan seraya meremas tali tasnya. Rasa curiga dan cemas itu terus menggerogoti hatinya.​Setibanya di bangunan kos bercat hijau tua, Tiara mendapati Ibu kos sedang duduk bersantai di teras depan sambil memotong sayuran untuk makan malam.​"Eh, Tiara sudah pulang!" sapa Ibu kos dengan wajah berseri-seri begitu melihat Tiara melangkah masuk lewat gerbang. "Gimana hari pertamam

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status