로그인"Tekan monitornya! Kecepatannya melebihi batas toleransi otak!" Mayor Sarah berteriak sembari mencengkeram besi sandaran tandu. Suaranya nyaris tenggelam oleh deru baling-baling helikopter yang membelah kegelapan langit malam.
"Tanda-tanda vitalnya tidak stabil, Mayor! Gelombang otaknya ... ini tidak masuk akal, seolah dia sedang bermimpi buruk sambil terjaga!" Dokter militer di samping Kania sibuk dengan tabung oksigen dan berbagai suntikan penenang yang tampaknya tidak memberikan eRivan menatapnya dalam diam selama beberapa detik sebelum tangannya turun ke pinggang Kania. Sentuhannya tidak kasar, namun penuh penekanan kepemilikan yang mutlak. “Kau lelah,” ucap Rivan. Itu bukan pertanyaan, melainkan sebuah pernyataan yang tepat sasaran. Kania mengangguk kecil, kepalanya terasa berat. “Aku lelah berpikir. Lelah menebak-nebak.” “Kalau begitu berhenti berpikir. Biarkan aku yang melakukannya untukmu.” “Mudah bagimu bicara begitu.” Rivan tersenyum tipis. “Karena aku sudah memutuskan tujuan kita sejak lama.” “Kau tidak pernah merasa ragu sedikit pun?” tanya Kania. “Dalam hal memilikimu?” Rivan menggeleng perlahan, matanya menatap Kania seolah ia adalah satu-satunya objek yang ada di dunia ini. “Tidak pernah sekalipun.” Kalimat itu seharusnya terdengar salah dan mengerikan. Namun di titik ini, Kania me
Suasana di antara mereka bergeser. Menjadi lebih berat, lebih intim, dan jauh lebih berbahaya. Rivan mengangkat tangannya, menyentuh sisi leher Kania. Sentuhan itu lembut, namun terasa seperti borgol yang tak kasat mata. “Kau marah padaku,” bisik Rivan. “Aku sangat marah.” “Tapi kau tidak pergi.” Kania membenci kenyataan itu. Ia membenci dirinya sendiri karena masih berdiri di sana, tak mampu melangkah menjauh dari pria yang telah merusak hidupnya. “Kau yang membuatku menjadi seperti ini,” suara Kania melemah, hampir menyerah. “Tidak,” Rivan mendekat hingga napas mereka bersatu. “Aku hanya menunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya saat kau berhenti berpura-pura menjadi lemah.” Napas Kania tercekat. Tanpa sadar, jemarinya mencengkeram ku
Hujan turun membasahi bumi saat mereka kembali bergerak. Rintiknya tidak terlalu deras, namun cukup untuk menciptakan jejak air yang mengaburkan pandangan pada kaca depan mobil. Wiper bergerak perlahan, menciptakan irama monoton yang anehnya terasa menenangkan di tengah kekacauan yang tak pernah benar-benar usai. Kania duduk diam, namun badai di pikirannya tak kunjung reda. Tatapannya tertuju pada pistol yang tergeletak di pangkuannya—benda logam dingin yang beberapa jam lalu terasa begitu asing, namun kini mulai terasa... familiar. Familiaritas itulah yang membuat dadanya terasa sesak. “Jangan lihat itu terlalu lama,” suara Rivan memecah keheningan. Kania menoleh pelan. “Kenapa?” “Karena kau akan mulai terbiasa.” Jawaban itu keluar dengan begitu tenang. Terlalu tenang, seolah Rivan sedang membicarakan cuaca dan bukannya tentang senjata yang baru saja digunakan untuk melukai nyawa lai
Bunyi ledakan ban itu masih terngiang jelas di telinga Kania, seperti gema yang tak mau hilang. Namun, mobil mereka kini sudah melaju jauh, meninggalkan kekacauan di belakang. Satu per satu, lampu kendaraan yang mengejar mereka menghilang, tertelan oleh kegelapan malam yang pekat. Sunyi kembali merajai kabin mobil. Namun, sunyi kali ini terasa berbeda—lebih berat, lebih berisi. Kania masih menggenggam pistol itu. Jemarinya kaku, belum sepenuhnya bisa rileks. Ia menunduk, menatap benda logam dingin yang baru saja ia gunakan untuk mencelakai orang lain. Ia menatapnya cukup lama, mencoba mencari sisa-sisa dirinya yang dulu di sana. "Aku benar-benar melakukannya..." bisik Kania. Suaranya sangat pelan, nyaris tenggelam oleh deru mesin. Rivan melirik sekilas, ekspresinya tetap datar namun matanya mengawasi setiap perubahan raut wajah wanita di sampingnya. "Ya." Jawaban singkat itu menghanta
Mobil melesat membelah jalanan dengan lebih agresif. Deru mesinnya meraung, seolah mencerminkan ketegangan yang memuncak di dalam kabin. Cahaya lampu kendaraan di belakang mereka tak lagi berupa titik samar di kejauhan; kini cahaya itu berpendar terang, menyilaukan mata dari kaca spion. Mereka masih diburu. Kania tidak lagi menoleh ke belakang. Bukan karena ia tak acuh, melainkan karena ia sudah tahu persis apa yang ada di sana. Bahaya itu nyata, dan ia lelah terus-menerus merasa takut. Tangannya masih berada dalam genggaman Rivan, dan untuk pertama kalinya, ia sama sekali tidak terpikir untuk melepaskannya. "Ada dua kendaraan di belakang kita," ucap Rivan datar. Pandangannya lurus ke depan, fokus sepenuhnya pada jalanan yang berkelok. Kania mengangguk kecil, mencoba mengatur napasnya. "Interpol?" "Satu." "Yang satu lagi?" Rivan tersenyum tipis,
Keheningan yang menyelimuti lorong itu tidak benar-benar membawa ketenangan. Ia seolah hanya sedang menunggu—menanti saat yang tepat untuk kembali meledak. Langkah kaki Abian telah lama menghilang ditelan kegelapan, namun jejak kehadirannya masih terasa pekat di udara, mengawasi dan menunggu dari balik bayang-bayang. Kania masih berdiri di titik yang sama. Tangannya belum lepas dari genggaman Rivan. Justru, jemarinya semakin merapat, mencengkeram tangan pria itu lebih erat dari sebelumnya. Kali ini, ia tidak lagi bersandiwara. Ia tidak lagi berpura-pura tidak sadar akan apa yang ia lakukan. Rivan menunduk, menatap tautan tangan mereka selama beberapa detik sebelum perlahan mengangkat pandangannya ke wajah Kania. "Kau tidak melepaskanku," bisik Rivan. Suaranya rendah, nyaris seperti geraman tenang. Kania tidak memalingkan wajah. Ia menatap mata itu dengan kejujuran yang menyakitkan. "Aku tahu."







