Beranda / Romansa / OM CEO, I LOVE YOU! / Bab 81 - Retakan dalam sangkar

Share

Bab 81 - Retakan dalam sangkar

Penulis: BabyCaca
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-15 10:32:58

Pagi itu, Mansion Vanderwick mandi cahaya matahari yang hangat. Di ruang makan yang megah, Alistair duduk dengan wibawa yang tak tergoyahkan. Fokusnya terbagi antara berkas laporan keamanan dan sosok Lala yang sedang duduk di depannya. Lala tampak sibuk mengoleskan selai cokelat ke roti bakarnya, hingga sedikit selai menempel di sudut bibirnya.

"Makan dengan tenang, Mikaila. Kau tidak perlu terburu-buru seperti sedang dikejar musuh," ucap Alistair dengan suara beratnya, meski matanya tetap te
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 116 - Pelayan Vanderwick

    Senin pagi yang seharusnya menjadi hari yang sibuk bagi para pria berkuasa di Jakarta, mendadak berubah menjadi hari paling "melelahkan" dalam sejarah hidup Alistair, Kenzo, dan Elvin. Semua itu bermula saat Lala terbangun dengan raut wajah murung. Ia menolak sarapan mewah buatan koki mansion dan hanya mau duduk diam di teras belakang sambil menatap kolam renang dengan pandangan kosong. "Sayang, ada apa? Mau makan sesuatu yang lain? Atau mau beli pulau lagi hari ini?" tanya Alistair panik, berlutut di depan kursi Lala. Lala menghela napas panjang, mengusap perutnya yang sudah memasuki usia dua bulan. "Lala tidak mau pulau, Bub. Lala cuma merasa... rumah ini terlalu kaku. Lala ingin hari ini kita semua berkumpul, tapi Lala bosan dilayani pelayan berseragam." Alistair mengernyit. "Lalu?" "Lala mau Bub, Kak Kenzo, dan Dokter Elvin jadi pelayan pribadi Lala hari ini. Pakai celemek, bawa nampan, dan tidak boleh ada yang membantah. Ada Sisi dan Intan juga yang akan jadi juri," ucap Lala

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 115 - Es dawet

    Minggu pagi di Mansion Vanderwick biasanya diawali dengan aroma kopi mahal dan ketenangan yang elegan. Namun, semenjak Lala hamil dua bulan, aturan main di rumah itu berubah total. Pagi ini, udara Jakarta sedang tidak bersahabat—panas terik sudah menyengat sejak pukul sembilan pagi, membuat siapa pun ingin berendam di dalam kolam es. Lala duduk di sofa ruang tengah, terus-menerus mengipasi wajahnya dengan majalah. "Bub... panas sekali. Lala merasa seperti sedang di dalam oven," keluh Lala dengan bibir mengerucut. Alistair yang sedang memeriksa laporan keuangan di tabletnya langsung menoleh. Ia segera menaikkan suhu AC hingga maksimal. "Sudah dingin, Sayang. Masih merasa panas?" Lala menggeleng. "Bukan panas kulitnya, tapi panas dalamnya. Lala mau sesuatu yang dingin, yang manis, yang ada santannya... Oh! Lala mau es dawet ayu yang di pinggir jalan dekat gerbang komplek, Bub! Yang bapak-bapaknya pakai pikulan kayu itu!" Alistair memijat pelipisnya. Lagi-lagi permintaan yang sangat

  • OM CEO, I LOVE YOU!   BAB 114 - Kencan tepi pantai

    Akhir pekan telah tiba, membawa suasana yang jauh lebih santai di Mansion Vanderwick. Usia kehamilan Lala kini telah menginjak dua bulan. Sejauh ini, kehidupan Lala benar-benar terjamin aman dan nyaman. Alistair menepati janjinya dengan sangat luar biasa; ia tidak hanya menjaga keselamatan fisik Lala, tetapi juga menjaga kestabilan emosi istrinya yang kadang naik turun karena hormon kehamilan. Pagi itu, udara Jakarta terasa sedikit lebih sejuk. Lala terbangun dengan keinginan yang sangat spesifik. Ia tidak ingin makan nasi uduk jam dua pagi, tidak juga ingin jengkol semur. Kali ini, ia merindukan aroma laut, suara ombak, dan rasa segar dari tangkapan laut yang dibakar langsung di tepi pantai. "Bub..." panggil Lala sambil mengeratkan pelukannya pada pinggang Alistair yang masih terlelap. Alistair yang memang sangat peka dengan gerakan sekecil apa pun dari Lala, langsung membuka matanya. Ia mengecup kening istrinya dengan sayang. "Iya, Sayang? Ada yang sakit? Atau si 'anak kecebong'

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 113 - Konsultasi dadakan

    Siang itu, ruang tamu utama Mansion Vanderwick yang biasanya digunakan untuk menyambut tamu-tamu negara atau kolega bisnis kelas atas, mendadak berubah fungsi menjadi ruang konsultasi medis paling tidak lazim. Elvin, yang baru saja selesai memeriksa tekanan darah Lala, masih duduk di sofa single dengan tas medis yang terbuka di atas meja marmer. Alistair duduk di sofa panjang, merangkul pinggang Lala dengan posesif seolah-olah istrinya itu akan terbang jika tidak dipegangi. Sementara itu, Kenzo dan Sisi duduk di seberang mereka, ditemani Intan yang duduk di kursi kayu antik di sudut, berusaha terlihat tidak mencolok. "Kondisi janin dan rahim Lala sangat kuat," ucap Elvin dengan suara baritonnya yang datar, memecah keheningan ruang tamu yang luas itu. "Meski ada efek kehamilan simpatik yang membuatmu mual, Al, secara fisik Lala sangat sehat." Alistair mengangguk-angguk serius. Ia memperbaiki posisi duduknya, wajahnya tampak sangat berwibawa seolah sedang memimpin rapat merger perusa

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 112 - Para pria posesif

    Suasana di ruang makan Mansion Vanderwick benar-benar berubah menjadi panggung sandiwara yang aneh. Setelah perdebatan panas yang hampir berujung baku hantam, Alistair kini duduk dengan wajah yang ditekuk, namun tangannya tidak sedetik pun lepas dari menggenggam ujung pakaian Lala. Ia tampak seperti singa yang baru saja dijinakkan paksa, namun masih mengeluarkan geraman kecil setiap kali matanya bertemu dengan Rehan. Rehan, pria bertato dengan gaya baggy jeans-nya yang santai, baru saja selesai menghabiskan hidangan penutup. Ia menatap Alistair dengan senyum mengejek. "Kau tahu, Tuan Alistair? Wajah kaku mu itu sebenarnya cukup lucu kalau sedang menahan marah. Kenapa tidak tersenyum sedikit? Adikku bisa stres kalau melihat suaminya terlihat seperti ingin menelan orang hidup-hidup." "Bicara mu jangan sok keren," desis Alistair dengan nada benci yang kental. Rehan hanya tertawa renyah, menyandarkan punggungnya ke kursi mahal itu. "Aku memang keren, kau dengan jas mu itu yang kaku, Tu

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 111 - Siapa Rehan?

    Ketegangan di ruang tamu Mansion Vanderwick mencapai titik didih. Udara seolah membeku di sekitar Alistair. Tatapannya yang tajam terkunci rapat pada Rehan, sementara tangannya mencengkeram pergelangan tangan Lala dengan erat—bukan untuk menyakiti, melainkan sebagai tanda kepemilikan mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. Rehan, yang sejak tadi duduk santai, kini berdiri dengan gerakan yang tenang namun waspada. Ia tidak tampak terintimidasi oleh aura membunuh yang dipancarkan Alistair. Sebagai pria yang tumbuh di jalanan dan sering berurusan dengan sisi gelap logistik, gertakan adalah makanannya sehari-hari. Namun, ia harus mengakui bahwa pria di depannya ini memiliki jenis intimidasi yang berbeda; sebuah otoritas yang lahir dari kekuasaan tanpa batas. "Aku tanya sekali lagi," suara Alistair merendah, hampir menyerupai geraman yang keluar dari dada bidangnya. "Siapa kau, dan apa urusanmu dengan istriku?" Rehan tersenyum miring, memasukkan kedua tangannya ke saku baggy jeans-nya. "

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status