INICIAR SESIÓN
Seorang wanita muda yang anggun nan polos itu tampak tengah berdiri di atas karpet merah. Pada saat itu, bibirnya mengukir senyuman indah, dan matanya memancarkan sebuah binar penuh kebahagiaan yang selama ini jarang ia perlihatkan.
Sebelum ia pergi, melangkah lebih jauh menuju ke sebuah singgasananya dalam satu hari, lelaki paruh baya yang ada di sampingnya dan menggenggam tangannya itu tampak menghentikan langkahnya. Ana Adamson, gadis berusia Duapuluh Lima Tahun itu akhirnya melakukan hal yang sama. Henry Adamson sang ayah tampak menatap putri bungsunya dengan tatapan yang terlihat berkaca-kaca, "Nak, kamu akan menjadi bagian anggota baru di keluarga lemos, maafkan ayah karena ayah tidak pernah memperhatikan kamu, dan seolah mengabaikan kamu. Ayah menyesal dengan segala hal yang terjadi, dan meski semua terasa terlambat, tapi ingatlah satu hal – ayah sangat menyayangi kamu." Tangan dingin lelaki itu lantas menggenggam tangan halus Ana. Membawanya berjalan menuju altar, dan di sana seorang pria mengenakan jas hitam tampak memunggungi mereka dengan kepala tampak tegak. Ana sudah dapat membayangkan ekspresi wajah dingin dan datar pria tampan itu..., yang telah mencuri hatinya, yang telah membuatnya hilang akal sehat. Bibir Ana justru tersenyum, ia bahagia, meski sikap pria itu masih saja dingin. Beberapa langkah lagi... Ia sampai dan akan menyandang status sebagai seorang istri, akan tetapi suatu hal membuatnya terpaku di saat ia mendengar suara tembakan bertubi-tubi. Seiring tragedi itu, Tubuh Alexander Lemos berbalik dan salah satu sudut bibirnya terangkat sembari menatap ke arah Ana. Ana terpaku, sadangkan tubuhnya kini dilindungi oleh sang Ayah. "Bertahanlah, Nak." gumam pria itu. Ana masih saja tidak mengerti dengan segala situasi yang tengah terjadi, sebelum akhirnya tubuhnya ambruk saat ia menyadari – ayahnya sudah melemah. "Ayah?!" pekik Ana yang kini duduk bersimpuh di lantai marmer. Ia menatap wajah ayahnya yang tampak pucat pasi, dan nafasnya tersengal-sengal. "A–ana, maafkan ayah. Ayah tidak bisa melindungi kamu, dan ternyata..., mereka berkhianat." "Ayah?! Ayah?!" Ana menjerit histeris saat melihat ayahnya jatuh di pangkuannya. "Ayah bangun! Ayah! Aku tidak akan memaafkan kamu– kalau kamu tidak bangun, Ayah! Ayah bangun!" Teriakan Ana menggema di segala penjuru ruangan itu. Gadis itu menangis histeris dan memaksa ayahnya untuk bangun. Ia menjerit, dan terlihat frustasi. Suara senjata masih terdengar nyaring. "Tunggu!" Tegas seorang pria yang tidak lain dan tidak bukan adalah Alexander. Ana tidak memperdulikannya, ia masih meratapi kepergian ayahnya, dan setelah benar-benar sadar semuanya telah hancur, ia akhirnya menundukan kepalanya dan menatap ke arah gaun putih pengantinnya telah berubah warnah menjadi merah darah karena percikan darah sang ayah. "Kau kira semua kisah cinta akan berakhir menikah, dan bahagia– Ana? Sungguh naif sekali! Gaun pengantin yang engkau kenakan sekarang memiliki harga yang setimpal, yaitu darah dari keluargamu sendiri!" tekan Alexander. "Gadis polos yang naif, dan aku merasa kau tidak lebih dari gadis bodoh!" Ejeknya. Ana diam, tapi seketika tatapannya tampak menuju ke arah seorang pria yang sudah terang-terangan mengakui pengkhianatan pada keluarganya. Dengan bibir yang bergetar, ia berusaha berucap. Meskipun terasa berat, dan ia merasa tidak sanggup melakukannya. "Alexander Lemos, segala pengkhianatan ini akan aku ingat sampai mati, aku akan mengambil semua milikmu, seperti apa kamu mengambil apa yang aku miliki, aku akan pastikan, tidak akan ada wanita yang berdiri di sampingmu sampai kapanpun! Ini bukan hanya sebuah ucapan, tapi aku menjatuhkan kutukan itu!" gumam Ana dengan suara bergetar hebat. Pria tampan yang tampak menatapnya dengan tatapan tajam, serta tegas itu tampak murka! Ia mengambil pistolnya dan... Beberapa peluru ia lepaskan menuju ke arah Ana. Peluru itu bersarang di area dad4, dan beberapa bagian lainnya. "Persetan dengan kutukan! Kau hanya manusia hina, dan kutukan itu tidak nyata! Sekarang, lakukan saja dari neraka kalau kau bisa!" tekan pria itu sebelum akhirnya ia melihat tubuh Ana yang melemah dan ambruk ke lantai. "Buang mayat mereka semua ke laut!" suara Alexander masih terdengar, Ana mendengar semuanya, meskipun ia sudah tidak bisa bergerak samasekali. Gelap, semuanya hanya gelap..., dan Ana juga merasa – ia mulai sesak nafas! “Apa aku akan mati? Kalau Tuhan itu ada, maka aku akan memohon padamu dengan satu permintaan dalam seumur hidupku. Tolong bangkitkan aku dari kematian, meskipun harga yang aku bayar nantinya bahkan harus menempuh jalur hitam! Bersekutu dengan Iblis-pun akan aku lakukan, asal aku bisa bangkit dan menuntut balas akan semua pengkhianatan ini” batin Ana sebelum akhirnya ia benar-benar tidak mendengarkan apapun, dan kedua matanya tertutup rapat!Ana kembali ke ruang makan, ekspresi wajahnya terlihat sedikit lesu. Jujur untuk hal yang satu itu, Ia sedikit berat hati karena Ia merasa– Ia akan sama brengseknya seperti mereka. Akan tetapi, semua harus Ia lakukan. Ia tidak bisa hanya diam, dan menunggu mereka yang mengerjakan semuanya. "Aira, kamu kenapa?" tanya Rere saat ia menyadari gadis itu tengah melamun. "Hmm, enggak apa-apa..., Mah. Aku sedang pusing saja. Sepertinya aku butuh istirahat." gumam Ana. "Kalau begitu, selesaikan makanmu dulu sebelum kamu beristirahat." ujar Rere. Ana hanya tersenyum kecil saat itu. Ia makan dengan cepat, dan setelahnya ia hendak menuju ke kamar. "Aku sudah selesai, dan aku ingin izin istirahat ke kamar, apa boleh – Mah?" tanya Ana. "Silahkan, Nak." Ana tampak mulai bergerak, berdiri dan hendak pergi dari sana, tapi tiba-tiba saja... "Tunggu, Nak!" Ana yang mendengar wanita itu mencegahnya pergi akhirnya menghentikan langkah. Ia membalikan tubuhnya dan seketika kedua bola matanya terbuk
"Aira, siapa yang membelikan kamu makanan? Aku yakin, bukan kamu yang membelinya, kan? Kenapa tidak bilang padaku?! Aku akan membelikannya untukmu, dan aku juga akan memasakan makanan yang kamu mau, kalau kamu menginginkannya!" Ucapan Alex seketika membuat Ana menoleh ke arahnya. Tatapannya kali ini berbeda, ia lebih menunjukan rasa penasaran daripada sikap dingin. "Kenapa? Kamu cemburuan?" tanya Ana. Akan tetapi, yang dilakukan oleh Alex hanya diam. Pria itu bingung, tapi juga gugup akhirnya. Ana menghela nafas panjang, ia mulai menyuapkan makanan ke mulutnya. "Kalau kau memang perduli padaku, mungkin sedari dahulu kau akan membantuku, tapi nyatanya tidak! Dan kalau kau cemburu padaku..., atas dasar apa kau berani melakukannya?!" tanya Ana sembari mengarahkan sumpit ke Alex. "Sebaiknya kau hentikan saja sebelum kau menyesal, Alex!" tekan Ana. Tanpa mengharapkan jawab, Ana kembali makan dan menikmati beberapa hidangan yang dibelikan oleh Jack. Memang dalam hidupnya sekarang, hany
"Kak, dia membanting tubuh Aldo!" Aldi mulai bicara sembari menunjuk ke arah Ana. Ana hanya menatap datar, dan ia tampak tidak bereaksi samasekali. Tidak ada penyesalan, ia adalah tipe orang yang tidak akan pernah menyesali perbuatannya. Alex yang sebelumnya menanyakan apa yang terjadi dengan nada suara yang meninggi kini hanya menatap mereka, termasuk Ana dengan tatapan yang perlahan akhirnya bingung. "Benar, Aira?" tanya Alex. Ana maju dan mulai mendekat ke arahnya, wajah mereka kini sangat dekat, bahkan Alex dapat merasakan hangatnya nafas adik angkatnya itu. "Kalau iya, kenapa? Mulutnya terlalu lantam, dia menuduhku jual diri! Kalau kamu tidak percaya, silahkan saja cek Cctv! Bukankah kamu sudah menggantinya, dan menaruh alat penyadap suara?!" Ana bicara tepat di depan telinga Alex di detik-detik kata-kata terakhir. Kedua pupil mata Alex melebar saat mendengar adiknya mengetahui suatu hal yang bahkan tidak keluarganya ketahui. Ana tersenyum miring saat itu, dan ia akhirnya m
Langkah kaki jenjang itu akhirnya sampai ke sebuah bangunan pertama yang ia singgahi barusan. Ia turun dengan ringan dari lantai paling atas, ia memakai helemnya lalu bergegas pulang. Sebelum pulang, ia kembali ke markas. Jack menyambutnya dengan baik, Ana mengambil sebatang rokok dan mulai menghisapnya. "Apa semua berjalan dengan baik, Nona?" tanya Jack. "Hm, mereka pasti akan mengubur berita itu, tidak akan ada kehebohan. Tolong suruh orang siapkan makanan, Jack, aku samasekali belum makan setelah kambali." "Apa?! Anda tidak makan?! Apa mereka tidak memberi anda makan?!" tanya Jack dengan suara yang terdengar sangat terkejut. "Hm, ya begitu kira-kira, aku selalu terasingkan di sana anak kembar mereka tidak menyukai aku, dan hal itu terjadi karena ucapan Tiffany yang selalu membuatku serba salah." terang Ana. "Baiklah, saya akan menyuruh mereka menyiapkan makan malam anda mandilah dulu." ujar Jack. Ana pergi ke kamarnya, ia segera menuju kamar mandi. Wanita itu membuka
"Aira? Kenapa dengan kamu? Apa yang terjadi?" tanya Alexander. Ia memang sedikit terkejut saat gadis di hadapannya itu mengetahui saat ia mengikutinya, akan tetapi – perhatiannya teralih ke sikap gadis itu. Ana memandang pria itu dengan tatapan yang terlihat sangat dingin. Alex merasa gadis di hadapannya ini terlihat sangat berbeda akhirnya, ia mendekat, tapi Ana mundur dan menjauh. "Cukup, aku punya kehidupan sendiri! Tidak perlu sampai begitu, aku datang, hanya ingin membalas budi pada sepasang suami-istri yang menganggap ku sebagai anak! Aku bukan saudarimu, dan jangan ikut campur segala urusanku, paham?!" tekan Ana! Ana berbalik pergi, dan ia akhirnya mengendarai sepeda motornya dan segera pergi dari sana. "Aira, siapapun kamu..., aku tidak pernah menganggapmu sebagai saudari, tapi sebagai wanita. Tidakkah kamu merasakannya?" gumam Alex. *** Laju motor mulai membelah jalan raya, menyalip satu persatu kendaraan yang ada, dan setelah beberapa saat kemudian akhirnya Ana sampai
Langkah kaki gadis itu tidak lagi terhenti. Alex menatap punggung kecil yang menjauh darinya. Ada rasa sakit setiap gadis itu menolaknya tanpa sebab, dan tanpa kata. Sebenarnya, apa yang terjadi sehingga Ana begitu membencinya? Alasannya cukup sederhana, karena pria itu memiliki nama yang sama seperti orang yang menghancurkan hidupnya. "Aku tahu, seharusnya aku tidak begini. Tapi aku tidak bisa," gumam Ana. Setelah berjalan beberapa saat, kaki jenjangnya akhirnya sampai ke sebuah tempat. Di hadapannya kini ada sebuah pintu berwarna coklat yang menunggu untuk ia buka. Ragu, hanya itu yang ada di dalam benak Ana. Ia ingin melangkah, dan bergerak lebih jauh, tapi ia ragu. Sebelum akhirnya ia merasa ada pergerakan dari balik tubuhnya. Tangan kokoh itu terulur dan mulai menekan gagang pintu. Tidak perlu melihat, hanya melihat tangan dan mencium aromanya, Ana sudah tahu siapa dia. "Mama sudah menunggu," bisik pria itu, tepat di belakang telinga Ana. Ana yang sudah mati rasa dengan kata







