LOGINTerima kasih atas dukungan teman-teman. Semoga suka.
Mobil Jordan dan David tiba di rumah. Mereka terdiam memikirkan Aisyah yang merupakan putri semata wayang yang telah diberikan kepada keluarga di Kairo dan kini hadir di depan mata.“Maria. Mariaku. Bola mata hijaunya sangat terang. Dia gadis kecil kita.” Leana terus menangis. Dia memeluk Jordan.“Sayang, kita harus menerima konsekuensi bahwa Maria sudah menjadi putri orang lain, tetapi kini dia berada di tangan Sean.” Jordan terlihat sangat gelisah.“Sean benar-benar gila.” Noah terlihat jelas sangat kesal karena Sean mengurung Aisyah.“David, kita harus merebut Aisyah dari Sean,” tegas Noah.“Tidak bisa, Noah. Itu Sean,” balas David.“Apa yang harus kita lakukan agar Maria kembali ke rumah ini?’ tanya Leana terisak.“Ma, nama dia Aisyah. Dia adalah dokter bedah yang hebat dan sering berada di daerah konflik. Aku sudah mengaguminya. Tidak disangka dia adik kandungku.” Sean terduduk di sofa.“Sepertinya Khaled tidak akan tinggal diam,” ucap David.“Benar. Pria itu sangat mencintai Ais
Aisyah dan Leana berpelukan dalam tangis. Ada cinta dan kasih sayang serta rindu yang telah lama tertahan. Hari ini keduanya menumpahkan rasa yang menyiksa.“Maria, putriku. Maafkan Mama.” Leana memeluk erat tubuh Aisyah dan tidak ingin melepaskan.“Mama. Aku tahu aku punya mama. Aku rindu.” Aisyah terisak memeluk Leana. Dia sedang melepaskan rindu yang tertahan selama sepuluh tahun.“Maria.” David dan Noah ingin mendekati Aisyah, tetapi dihalangi Sean. Pria itu tidak mengizinkan lelaki mana pun menyentuh tunangannya.“Kalian, tidak akan pernah bisa mendekati Aisyah,” tegas Sean menjentikkan jari dan beberapa pengawal sudah masuk memegang David serta Noah.“Apa?” David dan Noah kaget karena telah dipegangi anak buah Sean. Para pria dengan jas hitam dan tubuh tegap.“Menjauhlah dari Aisyah. Jika tangan kalian berani menyentuhnya, maka aku tidak akan segan mematahkan atau memotongnya.” Sean menatap tajam pada Noah dan David yang terdiam tidak berkutik.“Mm.” Aisyah menoleh pada David da
Mobil Jordan dan David telah tiba di rumah Sean. Dua kendaraan mewah itu parkir di depan halaman yang luas. Aisyah melihat dari kamarnya. Dia memperhatikan seorang wanita dan tiga pria yang keluar dari mobil dengan tergesa-gesa.“Apa mereka keluargaku?” tanya Aisyah duduk di dinding balkon. Wanita itu benar-benar tidak takut sama sekali.“Apa kamu senang duduk di sini?” tanya Sean berdiri di belakang Aisyah.“Sean.” Aisyah menoleh. Dia hampir jatuh dan dengan cepat Sean menarik tubuh Aisyah hingga jatuh menimpa pria itu.“Hah!” Aisyah jatuh di atas tubuh Sean.“Apa kamu tidak tahu bahwa duduk di sana berbahaya, Aisyah?” Sean menatap Aisyah.“Maaf.” Aisyah segera beranjak dari tubuh Sean dan berpindah ke lantai.“Aku suka melihat pemandangan dari atas sini,” ucap Aisyah.“Apa kamu mau turun? Keluarga Jordan sudah datang.” Sean duduk di depan Aisyah.“Ya.” Aisyah mengangguk dan mendongak melihat pada Sean yang sudah berdiri.“Mari.” Sean mengulurkan tangan pada Aisyah.“Terima kasih.” Ai
Sean sudah duduk di kursi depan meja makan. Wajah pria itu tampak berseri melihat kedatangan Aisyah.“Bagaimana luka kamu?” tanya Aisyah duduk di depan Sean.“Ini hanya tergores,” jawab Sean.“Siapa yang mencabut infus?” Aisyah melihat pada Sean.“Aku sendiri. Menunggu kamu tidak datang-datang hingga infus kering,” ucap Sean.“Maaf, aku pikir kamu punya banyak pelayan yang bisa melayani kamu. Aku periksa luka kamu sekarang.” Aisyah berdiri.“Kita sarapan dulu. Setelah itu baru melihat luka ku.” Sean tersenyum.“Baiklah.” Aisyah memang lembut, tetapi dia tegas.Rasa peduli seorang dokter dan suka menolong telah mandarah daging pada jiwa serta raga Aisyah. Selama itu makhluk hidup pasti akan dia obati ketika terluka. Walaupun seorang penjahat dan pembunuh sekali pun.Aisyah membaca doa dan menikmati sarapan yang sangat dirindukan. Rasa yang tidak asing di lidahnya dan dia mulai terbiasa dengan memory-memory yang datang tiba-tiba. Wanita itu bukan tipe orang yang mudah panik.“Apa rencana
Aisyah beranjak dari atas sajadah. Dia mendengar deru mobil sport dari kamarnya. Wanita itu melihat sebuah mobil hitam meninggalkan halaman luas istana Sean.“Apa itu Sean?” tanya Aisyah memperhatikan sekeliling.Kamar Aisyah adalah atap paling tinggi dari rumah Sean sehingga dia dengan mudah bisa melihat pemandangan yang jauh sekali pun.“Tempat ini jauh dari pusat kota. Lahan yang luas dan pasti milik pribadi. Akan sulit lari dari sini tanpa kendaraan.” Aisyah naik ke atap kamarnya tanpa ragu dan takut. Dia melihat hingga titik terjauh mata memandang.“Apa kamar itu dikunci?” Aisyah ingin kembali ke kamar di mana dia melihat masa lalunya.“Sepertinya Sean memang pria dari masa sepuluh tahun yang lalu.” Aisyah melompat ke balkon kamarnya.“Aku suka kamar ini. Unik dan Istimewa.” Aisyah masuk ke lift dan pergi ke kamar paling ujung. Dia berjalan dengan santai dan mencoba membuka pintu kamar, tetapi tidak bisa karena dikunci Sean. “Apa Anda mau masuk, Nona?” tanya bibi mengejutkan Aisy
Sean dan Aisyah menyelesaikan makan malam berdua pertama mereka setelah sepuluh tahun yang lalu. Pria itu benar-benar puas melihat tunangannya telah berada di depan matanya. “Terima kasih untuk makan malamnya.” Aisyah beranjak dari kursi.“Apa kamu tidak mau melihat masa kecil kamu sepuluh tahun yang lalu?” tanya Sean mendongak melihat pada Aisyah yang berdiri di depannya. Pria itu terlihat dingin menanti jawaban dari wanita yang hanya diam saja.“Aku memang tidak bisa mengingat apa pun sebelum tiba di rumah Umi,” ucap Aisyah di dalam hati. Dia hanya terdiam hingga tanpa sadar kedua bola matanya saling bertemu dengan Sean.“Apa pria ini ada di masa kecilku?” tanya Aisyah pada diri sendiri.“Kenapa diam?” tanya Sean karena Aisyah tidak memberikan jawaban atas pertanyaannya.“Di mana aku bisa melihatnya?” Aisyah balik bertanya.“Ikut aku!” Sean beranjak dari kursi dan berjalan melewati Aisyah.“Kemana dia akan pergi?” Aisyah mengikuti Sean dari belakang. Mereka menaiki tangga menuju kam







