LOGIN"Anjani! Apa kamu tidak bisa ketuk pintu dulu sebelum masuk?!” Farhan membentak dengan tatapan tajam. Ia segera mengambil bingkai foto yang terjatuh dan langsung memasukkannya kembali ke dalam laci meja.
Anjani berjalan mendekati suaminya dengan wajah datar. Tatapannya lurus pada Farhan. “Siapa wanita dalam foto itu, Mas?!“ Kini Anjani berdiri di depan Farhan dengan meja sebagai penghalang mereka. Farhan terlihat gugup, tapi secepatnya mengubah ekspresi gugup menjadi datar. "Kamu gak perlu tau siapa dia!“ Anjani tersenyum kecut. Tatapannya tak pernah berpindah dari kedua mata suaminya. “Bu Vanya?” Mata Farhan membeliak, terkejut sampai hatinya berdenyut ngilu. Secepat mungkin mengubah ekspresi wajah menjadi datar. "Jangan ngaco kamu! Mana mungkin foto itu Ibu!” sentak Farhan mencoba untuk tidak gugup. "Dia Bu Vanya, kan? Ibu tiri kamu?” Meskipun suaranya terdengar tenang, tapi hatinya bergemuruh. Kaki dan seluruh tubuhnya gemetar karena marah. "Kamu jangan bicara sembarangan, An! Dia bukan Ibu! Mana mungkin aku cinta sama ibuku sendiri!” Farhan berdalih, setiap kata yang terucap dari bibirnya terasa mencekik lehernya sendiri. "Ya, mana mungkin kamu cinta sama Ibu kamu sendiri, Mas. Meskipun dia hanya Ibu tiri...?” Anjani terkekeh miris. “Tapi karena itu kamu, maka semuanya bisa terjadi. Sudah berapa lama kamu cinta sama Ibu tiri kamu sendiri, Mas? Apa sejak pertama kali Ayah menikah dengannya?” Farhan terdiam dengan rahang mengeras, tangannya di bawah meja mengepal kuat. Matanya menatap tajam ke arah Anjani. "Kamu hanya lelah, jadi bicara sembarangan! Dia bukan Ibu!” Farhan masih mencoba meredam amarahnya. Bagaimanapun Anjani punya tempat tersendiri di sudut hatinya. Meskipun masih samar. Suaminya masih saja berdalih, Anjani semakin terluka. Dia seperti orang bodoh yang mengejar merpati terbang. Sekeras apapun berusaha, Anjani tidak akan pernah bisa mendapatkan merpati tersebut. “Sampai kapan kamu akan ngelak, Mas? Aku sudah tahu semua! Aku tahu foto itu adalah foto Ibu Vanya! Aku tau, Mas! Jadi jangan berdalih lagi!” Suaranya bergetar saat bicara. Sungguh hatinya teramat sakit. Farhan menggebrak meja dengan kedua tangan. Amarah yang berusaha ia redam medelak juga. “Lancang Kamu, An! Beraninya kamu menyentuh barang pribadiku!“ bentak Farhan murka. Selama ini dia tidak pernah mengijinkan Anjani menyentuh apapun yang berada di kamar tamu maupun ruang kerja. “Lancang katamu, Mas?! Aku istrimu, aku berhak atas semua barang pribadimu termasuk dirimu, Mas! Aku berhak tau siapa wanita itu!” “Kamu gak punya hak, An!” Farhan kembali membentak, kali ini suaranya memenuhi ruang kerja. Anjani tersenyum pahit. "Baiklah, karena aku gak punya hak atas dirimu. Maka ceraikan aku!” Hatinya seperti di tusuk ribuan jarum saat mengatakannya. Sungguh sakit. Farhan meraup wajah kasar, amarahnya melonjak saat mendengar kata cerai dari bibir Anjani. Dia tatap istrinya itu dengan tatapan tajam. "Sampai mati, aku gak akan menceraikanmu!” Anjani meremas nampan yang ia pegang. Hatinya seperti tersayat mendengar ucapan Farhan. “Katakan, Mas! Aku harus gimana? Kamu gak cinta sama aku, gak mau menyentuhku, kamu juga cinta wanita lain. Tapi kamu gak mau ceraikan aku. Katakan, aku harus gimana...??” Lelah fisik masih bisa diobati dengan istirahat, tapi lelah batin sungguh menyiksa membuatnya hampir kehilangan kewarasan. Anjani menatap Farhan dengan tatapan penuh kekecewaan. Tangannya yang tadi memegang nampak kini melepas nampan tersebut hingga jatuh menghantam lantai. Cangkir berisi kopi juga piring kecil berisi cemilan pecah berserakan. Bahkan serpihan gelas mengenai kakinya. Rasa perih di kakinya tak seberapa dibanding rasa sakit di hatinya. “Kamu lihat ini, Mas? Meskipun kamu satukan cangkir ini kembali, ia tidak akan sama. Seperti hubungan kita. Semenjak kamu menolakku, pernikahan kita sudah retak. Setiap kali kamu menolakku, retakannya semakin lebar. Sekarang sudah pecah. Gak mungkin bisa diperbaiki lagi.“ Anjani menghirup napas dalam-dalam, menatap Farhan yang diam membisu. "Pernikahan kita sudah lama berakhir, Mas!” Farhan berdiri dari duduknya, dia tidak terima dengan akhir seperti ini. Yang boleh mencampakkan hanya dia, bukan Anjani. Yang boleh membuat keputusan perihal pernikahan mereka sudah hancur atau tidak, hanya dia bukan Anjani. “Pernikahan kita belum berakhir, Anjani! Kita masih suami istri, dan akan seperti itu sampai maut memisahkan kita!” Suara Farhan pelan, tapi terdengar dingin dan menusuk. "Jangan mimpi kamu, Mas! Pernikahan kita sudah berakhir! Kalau kamu gak mau menceraikan aku. Biar aku yang ajukan gugatan cerai!” Farhan menatap nyalang. "Kamu berani?!” Suaranya rendah, menusuk dan tajam. Anjani mengangkat dagu, membalas tatapan Farhan tak kalah tajam. "Kenapa aku tidak berani? Mau bukti?“ Kini tatapan keduanya saling mengunci. Dalam, tajam, dan penuh intimidasi. Anjani sudah muak dengan pernikahannya. Sudah muak dengan sikap Farhan, bahkan sudah jijik. "Sebentar lagi kamu akan menerima gugatan cerai dari aku, Mas!“ Dia berbalik, tapi sebelum pergi dari ruangan itu, Farhan menahan lengannya. Farhan mencengkram lengan Anjani kuat. Menatap istrinya tajam. “Anjani, dengar ini. Sampai matipun aku gak akan menceraikanmu. Kamu akan tetapi menjadi istriku sampai kapanpun!“ Anjani membalas tatapan Farhan tak kalah tajam. “Seandainya aku dan Bu Vanya diambang kematian. Siapa yang akan kamu selamatkan?" Farhan mendengkus, menyentak tangan Anjani kasar. "Jangan memulai! Kamu tau jawabannya!” Sudut bibir Anjani membentuk senyum sinis. "Meskipun begitu, kamu masih mau memilikiku? Kamu waras?“ Farhan memejamkan mata. Mudah baginya untuk menyetujui permintaan cerai dari Anjani, akan tetapi sudut hatinya menolak. Selama satu tahun ia sudah terbiasa dengan kehadiran Anjani. Terbiasa dengan segala macam perhatian wanita itu. Apakah benar hanya karena biasa? Ataukah hatinya memang sudah memilih istrinya? Dia hanya butuh waktu sebentar lagi untuk memastikan perasaannya. Ya, hanya sebentar. Mungkin hanya beberapa bulan lagi. "Anjani, tunggulah sebentar lagi. Aku hanya perlu waktu untuk semuanya. Beri waktu untuk melupakan cintaku dan menerimamu seutuhnya. Hanya sebentar, aku mohon bersabarlah.” Farhan menggenggam tangan Anjani erat. Memberi keyakinan akan ucapannya. Mata Anjani bergerak gelisah, genggaman itu adalah pertama kali selama ia mencintai dan selama ia menjadi istri. “Aku mohon. Bersabarlah untuk rumah tangga kita. Aku janji, gak akan lama.“ Farhan kembali menyakinkan Anjani, ia membawa tubuh mungil itu ke dalam pelukan. Hangat.... Pelukan Farhan sangat hangat, dan ini juga peluka pertama yang ia dapatkan dari Farhan selama mereka menjadi suami istri. Hatinya bergetar, ada rasa gelisah di dalam sana. Bimbang, itulah yang Anjani rasakan saat ini. Apakah ia harus bertahan sebentar lagi? "An, kamu hanya perlu membimbingku. Ingatkan aku saat aku bersikap berlebihan padanya. Ingatkan aku saat rasa ini tidak terkendali. Cuma kamu yang bisa melakukan itu. Jadi tolong jangan tinggalkan aku. Aku janji tidak akan lama.” Tutur kata Farhan seolah menyiram hati Anjani yang telah lama gersang. Apakah ia bisa bertahan sebentar lagi? Apa dia sanggup? *,*..Anjani terpaku ketika melihat Vana berdiri dengan wajah basah oleh air mata. Langkahnya mendekat. "Vana...." Tenggorokannya serasa tercekik. "Kamu mendengarnya?" "Mbak..." Vana tak mampu berkata. Kenyataan yang baru saja ia dengar membuatnya syok. Ia tak menyangka jika Kakaknya Farhan akan memiliki perasaan tak pantas pada ibunya. “A-apa, I-ibu tahu...?" Anjani memeluk tubuh Vana erat, melihat Vana menangis dia ikut menangis. Rasa sakit yang selama ini ia pendam tumpah dalam pelukan adik iparnya. "Sakit sekali, Vana. Aku nggak sanggup." "Mbak Anjani nggak sendiri, masih ada aku." Vana memeluk Anjani tak kalah erat. Untuk beberapa saat mereka berpelukan hingga Anjani melerainya. Ia mengajak Vana untuk ke kamar gadis itu, ada banyak hal yang ingin ia katakan pada adik iparnya. Sesampainya di kamar Vana langsung mengunci pintu, sedangkan Anjani sudah duduk di tempat tidur. "Mbak, kapan Mbak Anjani tahu tentang perasaan Mas Farhan pada-" Vana tak sanggup meneruskan perkataa
"Benci katamu?“ Farhan tersenyum sinis. "Kamu tidak akan bisa membenciku, Anjani!" ucapnya penuh percaya diri. "Kamu sangat mencintaiku!" Kata cerai yang dilontarkan hanya gertakan wanita itu saja. Farhan yakin Anjani tidak akan pernah meninggalkannya wanita itu tidak akan bisa hidup tanpanya."Kamu hanya cemburu, Anjani." Bibirnya tersenyum miring salah satu tangannya mengelus wajah Anjani. "Kamu sangat mencintaiku. Mana mungkin kamu bisa hidup tanpaku, hem?““Kamu terlalu percaya diri, Mas! Tunggu saja surat gugatan cerai datang padamu!“"Kau!" Farhan meremas kedua tangan Anjani, matanya menatap tajam dengan rahang mengeras. “Kita lihat. Setelah kau sepenuhnya menjadi milikku, apa kau masih bisa pergi?“ Dia menyeringai.“Mas! Jangan gila kamu! Lepaskan aku!“ Jantungnya berdebar kencang ketika melihat Farhan semakin mendekatkan wajah. "Kamu nggak cinta sama aku!" Anjani berontak.Farhan berhenti ia kembali menatap Anjani dengan senyuman sinis. “Bukankah kamu mencintaiku?“ Dia kemba
Bu Vanya menatap suaminya yang terbaring di ranjang pasien dengan tatapan sendu. Berbagai alat penunjang kehidupan menempel di hampir seluruh tubuh. Air mata tak sanggup di bendung melihat kondisi lelaki itu. Tangannya meraih tangan Ayah Panji lalu menggenggamnya erat. "Mas..., kamu pasti sembuh, kan? Seperti sebelumnya? Jangan tinggalin aku ya? Aku gak bisa tanpamu.“ Air matanya semakin deras. Cukup lama menangis hingga tak sadar Anjani sudah berdiri di sampingnya. "Bu..., Ayah pasti sembuh," ucap wanita itu lembut. Anjani merasa bersalah dengan apa yang menimpa Ayah Panji. Andaikan tidak mengutarakan niat bercerai dari Farhan, mungkin Ayah Panji tidak akan terbaring lemah seperti sekarang. Anjani sangat menyesal. Bu Vanya mengusap air matanya, menatap Anjani dengan bibir tersenyum tipis. "Kamu jangan merasa bersalah ya. Ayah memang sudah mengeluh sakit beberapa hari ini. Tidak perlu tunda rencana perceraian kalian." Anjani menunduk kedua tangannya saling meremas. Melihat
Anjani menunduk dalam, dia seperti terdakwa yang menunggu dijatuhi hukuman. Kedua tangannya saling meremas di atas pangkuan. Jantungnya berdebar cemas. “Anjani," panggil Ayah Panji. "Apa Farhan tidak baik padamu?" Dia tahu betul sifat menantunya. Anjani tidak akan menggugat cerai jika Farhan bersikap baik. Anjani menatap Ayah mertua dengan mata berkaca. Melihat raut kecewa Ayah Panji membuat hatinya sakit. "Maafkan Anjani, Ayah." Lidahnya terlalu kelu untuk mengucapkan isi hatinya. Ayah Panji mengalihkan tatapannya pada Farhan. Tatapannya menghunus tajam. "Ayah kecewa denganmu, Farhan! Anjani istri yang baik! Kenapa kamu tidak bisa memperlakukannya dengan baik?!" Farhan menunduk dalam, dadanya bergemuruh marah. Bercerai dari Anjani tidak pernah terlintas dalam benaknya. "Aku tidak pernah menyetujui perceraian ini!" Ayah Panji menghela napas. Dia bisa melihat wajah tertekan Anjani. Dari pertama datang ke rumah ini, dia sudah bisa melihat hubungan keduanya tak seperti suami
Bu Vanya menepis tangan Farhan saat lelaki itu akan memegang tangannya. Menatap Farhan dengan tatapan tak percaya. "Sejak kapan Farhan? Sejak kapan kamu begini?“ Dia menatap Farhan seraya menunjukkan fotonya. Rasanya tak percaya Farhan akan seperti ini. Farhan menunduk merasa bersalah. Sesal dalam hati membuatnya malu luar biasa. Namun, inilah konsekuensi akibat perbuatannya yang menyimpang. “Sejak pertama kali melihatmu. Sebelum kamu menikah dengan Ayah," ungkapnya. Cinta itu tumbuh jauh sebelum Bu Vanya menjadi istri sang ayah. Bu Vanya menatap lekat wajah Farhan. Rasanya tak percaya, anak tirinya akan jatuh cinta padanya. Helaan napas panjang keluar dari mulutnya. Rasa kecewa itu ada, tapi dia mencoba untuk memaafkan dan melupakan. “Ibu tidak akan memberitahu ayahmu. Tapi, lupakan perasaanmu. Jalani rumah tanggamu dengan Anjani dengan baik. Ibu gak mau jadi perusak rumah tangga kalian.“ "Kamu gak pernah merusak rumah tangga siapapun!" Farhan menatap lekat wajah wanita yang
Pagi tiba seperti biasa. Anjani menjalani aktivitasnya, menyiapkan air hangat dan baju ganti untuk Farhan. Selesai dengan tugasnya di lantai atas, kini Anjani turun ke lantai bawah, langkahnya menuju dapur. Di sana sudah ada Bu Vanya. Wanita itu sedang membuat kopi untuk ayah mertua. “Pagi, Bu," sapa Anjani sopan. Bu Vanya tersenyum. "Pagi juga, An. Ibu sudah masak untuk sarapan,“ kata Bu Vanya. “Iya, Bu. Tapi lain kali biar Anjani yang masak. Ibu gak usah repot-repot.“ Anjani tersenyum tipis. Teringat saat Farhan memarahinya karena membiarkan Bu Vanya masak sendiri. "Ibu gak repot. Masak untuk anak mantu masak dibilang repot sih.“ Anjani kembali tersenyum tipis. Dia mengambil kopi dan menyeduhnya. Meskipun hati tak lagi sama, tetapi dia masih berstatus istri Farhan. Keperluan lelaki itu masih ia siapkan. “An, mana kopiku?“ Dua wanita itu menoleh saat mendengar suara Farhan. Mereka menatap dengan ekspresi masing-masing. Bu Vanya dengan senyuman, Anjani dengan wajah
Anjani meremas selimut dengan kuat. Sentuhan Farhan semakin menuntut. Jika dulu pastilah bahagia yang dirasa, tapi sekarang hanya jijik yang ada. Netranya masih setia terpejam, berharap Farhan menghentikan aksinya. Namun, sepertinya suaminya itu telah diliputi nafsu. "An, bukankah ini yang sela
Anjani menampik tangan Farhan, rasa perih di rahang tak sebanding rasa perih di hatinya. "Ke luar Mas!“ Farhan menatap Anjani nanar, tangannya terulur ingin menyentuh pipi Anjani yang memar akibat ulahnya. Namun, tangannya langsung ditampik Anjani kasar. “Aku ingin sendiri.“ Ada rasa bersa







