로그인Langit pagi di atas Grand Heaven tampak kelabu, seolah turut berduka atas kepergian seseorang yang begitu berarti untuk Bianca. Seseorang yang menjadi pion penting bagi PT. Maheswari Corp- perusahaan milik keluarga Bianca yang di mana sanak saudara dari Damian berkecimpung di sana.
Bangunan pemakaman mewah itu dipenuhi karangan bunga berderet rapi, sebagian besar bertuliskan nama-nama konglomerat, pejabat, hingga jajaran petinggi perusahaan ternama. Aura duka bercampur dengan kemegahan. Di aula utama, peti jenazah mendiang Damian Mahendra terbaring anggun, dikelilingi bunga lili putih dan mawar hitam. Di sisi lain, ruang khusus disiapkan untuk keluarga inti, dijaga ketat oleh pengawal berseragam hitam. Semua tamu berpakaian serba hitam. Direksi Angkasa Group hadir lengkap. Begitu pula jajaran petinggi Maheswari Corp, perusahaan yang kini kehilangan nahkodanya. Bisik-bisik tertahan terdengar di antara mereka, bukan sekadar belasungkawa, melainkan juga hitung-hitungan kepentingan dan masa depan perusahaan. Di barisan depan, Bianca duduk kaku. Wajahnya pucat. Mata sembabnya menatap kosong ke depan, seolah dunia telah kehilangan warna. Sejak pagi, ia hanya menunduk, menerima pelukan dan ucapan duka tanpa benar-benar mendengar apa pun. “Turut berduka cita, Nyonya Bagaskara… yang tabah, ya.” Bianca tersenyum kecut. 'Nyonya Bagaskara?' bahkan di saat seperti ini, ia merasa muak dengan panggilan baru itu. “Saya sangat kehilangan sosok beliau," ucap salah satu kerabat dari ayah kandung Bianca itu. “Semoga Pak Damian mendapat tempat terbaik." Ucapan itu datang silih berganti. Bianca hanya mengangguk pelan. Bibirnya bergetar, namun tak ada suara yang keluar. Tangisnya sudah habis semalam, menyisakan kehampaan yang menyesakkan. Di sampingnya, David Angkasa Bagaskara berdiri tegap. Setelan jas hitamnya tampak sempurna. Rambutnya rapi. Wajahnya tenang, terlalu tenang bagi seorang menantu yang baru kehilangan ayah mertuanya secara mendadak. Tangannya sesekali bertumpu di bahu Bianca, gesture lembut yang tertangkap jelas oleh semua mata yang memperhatikan. “Terima kasih sudah datang,” ucap David pada setiap tamu dengan nada rendah dan sopan. “Kami sangat menghargai doa dan dukungan Anda.” Ia tampak seperti suami siaga dan menantu ideal. Namun Bianca tahu, itu semua palsu. David sangat pandai bersandiwara seolah dirinya adalah laki-laki baik dan suami idaman. Beberapa tamu mengangguk kagum. “Rumor jika tuan muda David seorang gay itu tidak benar. Lihatlah, ternyata dia sangat mencintai istrinya!" “Nona Bianca beruntung punya suami sepertinya.” David mendengarnya. Pria itu tersenyum samar, reputasi tentu saja lebih utama dari apapun saat ini bagi laki-laki tak berperasaan itu. Di sudut lain ruangan, seorang pria tua berambut perak berdiri dengan tongkat hitam berukir emas—Tuan Arga Bagaskara berdiri sambil tersenyum tipis. Sorot matanya tajam, penuh wibawa. Saat David menghampiri dan sedikit menunduk hormat, lelaki tua itu mengangguk pelan. “Kau sudah melakukan tugasmu dengan baik,” ucap Tuan Arga lirih. David menjawab singkat, “Terima kasih, Kek." Tuan Arga melirik Bianca yang tampak seperti boneka kehilangan jiwa. “Pastikan dia tetap terlihat terhormat,” lanjutnya. “Dia sekarang bagian dari kita.” “Ya,” jawab David tanpa ragu. Namun ketika David kembali berdiri di sisi Bianca, pandangannya tak sengaja menangkap jemari wanita itu yang gemetar hebat. Tubuhnya terlihat rapuh, seolah satu hembusan angin saja bisa merobohkannya. Bianca menunduk. Matanya kosong, tak fokus. Sesekali bahunya bergetar, namun ia berusaha menahan tangis di hadapan publik. David perlahan mencondongkan tubuh, mendekatkan bibirnya ke telinga Bianca. “Jika kau tidak sanggup berdiri lama, kita bisa ke ruang belakang,” bisiknya pelan. Suaranya tetap datar… tapi kali ini lebih rendah, lebih lembut tanpa dibuat-buat. Bianca menoleh sedikit. Matanya merah, berkaca-kaca. "Aku…" bisiknya lirih. "Aku bukan wanita lemah," ucapnya. Masih ada sedikit keangkuhan disana. Bianca membenci David, namun mau tak mau ia harus menggantungkan hidupnya saat ini. Bukan hanya karena soal investor perusahaan, namun karena ibunya yang sekarang kritis di rumah sakit. David telah meminta perawatan terbaik untuk Nyonya Sintya Laurent. Dan Bianca tak mau sampai David mencabut itu semua dan berhenti membiayai pengobatan ibunya. David tersenyum sinis, tanpa ragu ia menggenggam tangan Bianca lebih erat dari sebelumnya. Di balik wajah dinginnya, David Angkasa Bagaskara tetaplah CEO kejam dan penuh kalkulasi. Namun hari itu, di tengah duka megah Grand Heaven, ia merasakan sesuatu yang asing. Sesuatu yang membuatnya tak nyaman. Waktu terus bergulir. Hujan tipis masih turun saat David mengantar Tuan Arga hingga ke halaman depan Grand Heaven. Deretan mobil mewah berjajar rapi, para sopir berdiri tegap di sisi pintu kendaraan masing-masing. Limosin hitam berlapis baja itu sudah menunggu. “Jaga istrimu. Jangan biarkan dia sendirian! Ajak dia pulang jika sudah selesai," ucap Tuan Arga sambil menggenggam tongkatnya. David mengangguk. “Saya mengerti. Saya akan menyusul nanti, Kek.” Pria tua itu menatap cucunya lekat-lekat. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia masuk ke dalam mobil mewahnya. Pintu limosin tertutup perlahan. Mobil itu melaju meninggalkan bangunan megah yang menjadi tempat peristirahatan terakhir sebelum dimakamkan. David berdiri beberapa detik, menatap ke arah mobil yang menjauh. Wajahnya tetap tenang, rahangnya mengeras seperti biasa. Setelah itu, ia berbalik dan melangkah kembali ke aula utama. Namun langkah itu tiba-tiba terhenti. Dari jarak beberapa meter, tepat di balik deretan karangan bunga, David melihat Bianca bersama seorang pria yang memegang kedua tangan istrinya itu. Tingginya hampir sama dengan Bianca, tubuhnya ramping, wajahnya muda. Setelan jas hitamnya sederhana, tidak semewah tamu-tamu lain, namun pas di tubuhnya. Namun dari caranya menatap dan memegang tangan Bianca, David bisa tahu jika itu adalah kekasih istrinya. “Maaf… aku baru bisa datang,” ucap Rendi pelan. Suaranya tenggelam oleh hiruk-pikuk aula. “Aku dengar soal ayahmu… dan ibumu…” Bianca menunduk. Bahunya bergetar. Pria itu menggenggam erat kedua tangan kekasihnya itu. "Bi, aku sangat mencintaimu. Ayo ikut bersamaku!" “Aku… aku tidak punya pilihan, Ren,” bisiknya lirih. "Aku tidak bisa ikut bersamamu. Keluargaku, Mama ... Semua menggantungkan hidup mereka di perusahaan. Aku tidak mungkin tega melihat mereka semua menderita," ucap Bianca, bahunya makin berguncang. Rendi menghela nafasnya, wajahnya teramat sendu. Sebelah tangannya terulur, menyentuh pipi kekasihnya itu lalu menghapus jejak air matanya. "Kapanpun kamu butuh, aku akan selalu ada, Bi. Aku akan selalu menunggumu ..." Rendi menarik Bianca ke dalam pelukannya. Dari kejauhan, David melihat semuanya. Kepala Bianca yang bersandar di dada pria lain. Tangan laki-laki yang mengusap punggung istrinya. Meskipun pernikahan mereka karena perjodohan dan tanpa cinta, tapi tetap saja Bianca adalah istrinya yang sah. Tidak ada ekspresi di wajah David. Wajahnya tetap datar dan dingin. Namun kedua tangan pria itu mengepal. Ia hanya berdiri diam beberapa detik, menatap adegan itu tanpa berkedip. Tanpa langkah tergesa, David berbalik, meninggalkan aula. Langkahnya tenang dan teratur. Seolah yang baru saja ia saksikan hanyalah pemandangan biasa yang tidak berarti apa-apa. "Maaf, Ren. Kita putus! Aku sudah menjadi istri orang lain!" tegas Bianca seraya mendorong pelan tubuh pria yang dicintainya itu. "Aku tahu kamu terpaksa, Bi. Aku akan membahagiakanmu." Bianca tersenyum getir. Meskipun hatinya sakit, namun ia nekat untuk mengakhiri hubungannya. Keluarga besarnya kini benar-benar bergantung padanya. "Sekali lagi aku minta maaf. Aku butuh uang, Ren. Jadi ... bahagia saja tidak cukup," ucap Bianca lalu berbalik, meninggalkan Rendi yang kini menatapnya kecewa. "Dasar cewek matre!!!" *** Bersambung ...David tidak menjawab. Ia hanya terus melangkah mendekat sementara Bianca mulai memundurkan tubuhnya hingga terpojok di sandaran sofa kulit mahal itu. Kemeja putih David kini terbuka di bagian atas, menampilkan dada bidangnya yang kokoh. Atmosfer di dalam ruangan yang berpendingin udara itu mendadak terasa panas dan menyesakkan."Mas... ini kantor!" cicit Bianca dengan wajah yang sudah semerah kepiting rebus.David menyeringai tipis, tipe seringai yang membuat bulu kuduk Bianca meremang sekaligus jantungnya berdisko tidak keruan. Pria itu menumpukan kedua tangannya di sisi tubuh Bianca, mengurungnya sepenuhnya."Kantorku, aturanku," bisik David rendah. Suaranya yang serak tepat di depan wajah Bianca membuat gadis itu reflek memejamkan mata.David tidak benar-benar melakukan 'hukuman' yang ada di pikiran mesum Bianca. Alih-alih bertindak brutal, ia justru meraih remote kontrol di meja kerja dan menekan sebuah tombol. Seketika, kaca besar transparan yang menghadap ke arah meja sekretaris
Pagi itu, suasana di meja makan terasa jauh lebih dingin dari biasanya, meski matahari bersinar terik di luar. Bianca duduk dengan gelisah, sesekali melirik ponselnya yang terus bergetar di saku hoodie-nya. Ada serentetan pesan dari nomor tidak dikenal yang membuat jantungnya hampir melompat keluar. “Temui aku di belakang gedung fakultas jam 10 pagi. Atau foto-foto mesra kita dulu akan sampai ke meja kerja suamimu yang terhormat itu. — Rendi.” Bianca menelan ludah. Ia melirik David yang sedang tenang memotong omelet-nya. Pria itu tampak tidak terganggu, namun matanya yang tajam sempat menangkap kegelisahan istrinya. “Makan makananmu, Bianca. Kau terlihat seperti orang yang sedang menunggu vonis mati,” tegur David tanpa menoleh. “A-aku nggak apa-apa, Mas. Cuma kepikiran tugas bimbingan aja,” kilah Bianca cepat. Veronica, yang duduk di samping David, tersenyum penuh arti. Ia tahu sesuatu sedang terjadi. “Anak muda zaman sekarang memang gampang stres ya, Dav. Mungkin Bianca butuh li
David langsung melompat dari kursinya. Tanpa memedulikan Veronica yang masih berdiri mematung di depannya, ia melesat keluar ruang kerja. Aroma hangit itu semakin menusuk indra penciumannya saat ia mendekati area dapur. "Bianca!" teriaknya dengan nada rendah namun penuh penekanan. Di depan matanya, kepulan asap tipis menyelimuti area kompor. Bianca berdiri dengan wajah coreng-moreng hitam, memegang spatula seolah itu adalah pedang perang. Di sampingnya, Arjuna sedang sibuk mengibaskan serbet ke arah detektor asap agar alarm tidak berbunyi. "Aduh, Mas! Jangan teriak-teriak, aku lagi konsentrasi!" sahut Bianca tanpa menoleh, matanya perih karena asap. David melangkah lebar, langsung mematikan kenop kompor dengan kasar. Ia merebut spatula dari tangan Bianca dan membantingnya ke wastafel. "Konsentrasi apa? Membakar rumahku? Aku sudah bilang jangan menyentuh dapur kalau hanya ingin membuat kekacauan!" "Aku cuma mau bikin steak buat Kak Juna! Tadi apinya tiba-tiba membesar," bela Bianc
Pagi itu rumah terasa berbeda. Lebih ramai. Tapi tidak hangat. Mungkin karena para penghuni sementara yang sejujurnya membuat kedua belah pihak tak nyaman. Bianca yang tidak suka dengan kehadiran Veronica, pun dengan David yang tak suka dengan kehadiran Arjuna, sepupunya sendiri. Bianca sedang berada di taman belakang bersama Arjuna. Pria itu duduk santai di bangku kayu, lengan bersandar di sandaran, sementara Bianca berdiri memegang segelas jus jeruk. “Aku baru tahu,” ucap Arjuna sambil menatap langit, “kau suka tanaman bunga.” Bianca mengangkat bahu. “Lebih tepatnya… aku suka sesuatu yang bisa tumbuh kalau dirawat. Di rumahku, ada taman mawar. Mama selalu merawatnya," ucapnya sambil tersenyum. "Ah, jadi kangen rumah." Arjuna menoleh padanya, tersenyum tipis. "David tidak pernah mengajakmu pulang? Bukankah Nyonya Rachel sudah pulang dari rumah sakit?" tanya Arjuna, sedikit banyak tahu tentang Bianca dari keluarganya. Termasuk tentang ibunya Bianca yang kini sudah semakin memb
David berdiri kaku beberapa detik setelah Tuan Agra menyampaikan keputusan final. Wajahnya datar, tapi Bianca yang kini sudah cukup mengenalnya, bisa melihat jelas rahang pria itu mengeras, urat di pelipisnya menegang. “Baik, Kek,” ucap David akhirnya, suaranya rendah dan tertahan. “Dia boleh tinggal disini selama proyek kita masih berjalan." “Bagus,” jawab Tuan Agra singkat. “Aku percaya kau cukup dewasa untuk menempatkan keluarga di atas ego.”Ego? Bianca mengerutkan keningnya, ego apa yang pria tua itu maksud? Apakah sebelumnya hubungan David dengan sepupunya itu memang kurang baik?Suasana cukup tegang, hingga akhirnya muncul Veronica yang sudah sangat rapi dengan setelan yang cukup formal namun tetap stylish."Hallo, Opa Agra. How are you?"Tuan Agra mengerutkan keningnya, cukup terkejut melihat wanita yang tak asing baginya itu. "Veronica? Oh ya ampun, kapan datang?"Bianca yang awalnya tersenyum miring dan punya kesempatan untuk mengadukan kelakuan David pada kakeknya, dibu
Bianca melangkah ke ruang makan dengan perasaan yang campur aduk. Satu sisi masih gengsi dan kesal dengan sikap David, namun sisi lain ia puas jika melihat yang menggatal itu kepanasan."Semoga aja si ulat bulu itu cepat pergi deh. Gue sih gak masalah juga CEO kulkas itu mau sama siapa, tapi gak dibawa ke rumah juga kelezz," batinnya. Ia duduk kemudian menatap sajian lezat disana. "Wah, enak nih! semoga saja bukan buatan model sok kece itu.""Ehmmm..." Suara dehaman itu datang dari arah tangga. Bianca refleks mendongak. David berdiri di sana, rapi dengan setelan abu-abu gelap. Rambutnya tersisir sempurna, wajahnya kembali menjadi topeng dingin yang biasa. Tidak ada jejak pria semalam. "Eh, Mas. Mau sarapan?" tanyanya basa-basi. David menatapnya beberapa detik. Tatapan itu misterius, sedikit menyebalkan. “Aku langsung berangkat," jawabnya datar. Bianca mendelik sebal seraya menahan napas saat David melewatinya. Aroma parfumnya singgah sebentar, cukup untuk membuat jantungnya berd
Ciuman itu berakhir secepat dimulai. David menarik diri lebih dulu. Tidak ada penjelasan. Tidak ada emosi di wajahnya. Seolah yang barusan terjadi hanyalah tindakan impulsif yang tak perlu diingat. Bianca masih terpaku. Napasnya tercekat, dadanya naik turun tidak stabil. “Kau—” Bianca hendak bic
Gedung utama keluarga Bagaskara berdiri megah di hadapan mereka, diterangi lampu-lampu kristal yang berkilau seperti mata para tamu yang siap menilai. Malam itu adalah jamuan keluarga besar Bagaskara Grup, ajang pamer dan adu gengsi. Begitu mobil berhenti, David turun lebih dulu. Ia berdiri tegak,
Bianca berdiri di depan jendela besar kamar tamu. Ya, kamar tamu, bukan kamar utama lagi. Sejak pagi, pelayan rumah itu dengan sopan namun tegas memintanya pindah. “Tuan David memerintahkan demikian, Nyonya.” Kata Nyonya terdengar seperti ejekan. Ia menatap pantulan dirinya di kaca jendela. G
Langkah kaki David terdengar semakin jauh. Pintu rumah tertutup dengan bunyi pelan, namun bagi Bianca, suara itu terdengar seperti dentuman keras di dadanya."Ish, dasar aneh! udah capek-capek masak juga! Cicipi kek minimal," gumamnya. Bianca berdiri kaku di ruang makan, menatap kursi kosong yang







