FAZER LOGINHari-hari Gaharu dengan Aleska di lewati dengan penuh gebrakan. Terlebih karena Gaharu yang merasakan semua tentang kehamilan Aleska. Mual dan muntah setiap hari sampai Aleska hamil enam bulan. Ngidam yang aneh-aneh dan membuat Gerald serta kedua orang tua mereka kelimpungan. "Om, hari ini harus periksa kandungan untuk yang terakhir sebelum persalinan. Jangan sampai telat." Gaharu yang tengah bersiap ke kantor menghentikan gerakannya. Ia mengingat ada agenda apa hari ini. "Sepertinya tak ada yang terlalu penting di kantor. Aku bisa pulang cepat nanti." Aleska mengangguk, dia lalu menyiapkan keperluan suaminya untuk segera berangkat. Kandungan Aleska sudah menginjak sembilan bulan dan beberapa hari terakhir Aleska juga sudah merasakan kontraksi palsunya. Hanya saja ia tak memberitahu Gaharu saat itu. Aleska mengerutkan keningnya ketika merasa perutnya kembali tak nyaman. "Sshh ....." Gaharu yang sedang memakai dasinya awalnya tak mendengar Aleska yang mulai
Beberapa hari berlalu ketika Aleska di nyatakan sudah pulih dan bisa pulang. Kandungan Aleska juga di nyatakan baik-baik saja saat ini. Sementara orang tua Aleska harus menjalani terapi sampai sembuh. Aleska tak bisa mendampingi mengingat ia juga masih rentan kehamilannya. "Sayang, pagi ini mau makan apa?" "Om Aru mau apa?" Aleska paham jika Gaharu sudah bertanya seperti itu pasti Gaharu tengah menginginkan sesuatu. "Mau gulai kambing, Sayang." Aleska mengerjap, ini baru pertama Gaharu meminta makanan itu. Selama mereka menikah tak pernah ada list makanan kambing di dalam menu mereka. "Gulai kambing? Yakin?" Gaharu langsung mengangguk dengan mata yang berbinar. "Bukannya Om Aru tidak suka baunya?" Gaharu menunduk, benar apa yang di katakan Aleska tapi saat ini ia ingin sekali makan itu. "Baiklah, kita makan gulai kambing kalau begitu. Ada yang lainnya?" Gaharu yang mendengar itu matanya langsung berbinar. "Benar kah?" Aleska mengangguk, melihat
Saat pagi tiba, Aleska mendengar suara Gaharu di kamar mandi. "Om...." panggil Aleska pelan. Gaharu keluar dari dalam kamar mandi dengan keadaan pucat. "Om kenapa?" Gaharu lemas, sejak tadi pagi bangun ia sudah berkali-kali ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya. "Sayang, bisa panggil Mama sebentar? Rasanya tak enak." Aleska menelpon Mama mertuanya, untuk datang ke ruangannya. Aleska tak tega melihat keadaan Gaharu saat ini. Norah datang dengan tergesa-gesa begitu juga dengan Gery. "Astaga, kau kenapa Aru?" Gaharu menggeleng, lalu Norah membantu Gaharu untuk berbaring sementara Gery memanggil dokter untuk memeriksa Gaharu. "Sayang, ini sejak kapan suamimu seperti ini?" Aleska mengingat sejak kapan Gaharu seperti itu. "Tadi pagi Ma, tiba-tiba mual begitu. Belum sarapan dan baru mau mandi." Norah mengangguk, sepertinya Norah tahu penyebabnya apa."Mama, itu suami Aleska kenapa?"Aleska bingung sekaligus khawatir. Ia sendiri belum sembuh jangan sampai
Gaharu baru saja masuk ke dalam kamar rawat Aleska, ia melihat istrinya terlelap karena memang hari sudah larut. Aleska yang merasa ada orang masuk ke dalam kamarnya, perlahan membuka matanya. "Om...." Gaharu yang baru saja ingin masuk ke dalam kamar mandi berhenti. "Kenapa bangun, hmm?" Akhirnya Gaharu mendekat ke arah ranjang Aleska, membantu Aleska untuk duduk dengan nyaman. "Lelah?" Bukannya menjawab pertanyaan Gaharu, tapi Aleska malah balik bertanya pada suaminya itu. "Sedikit, tapi aku lega satu persatu masalah di perusahan Daddy selesai. Besok aku akan mengadakan perlombaan besar di sana, jadi mungkin aku juga akan sedikit sibuk di sana." Aleska mengangguk mengerti, ia bersyukur jika semuanya selesai dengan baik. Namun Aleska kasihan melihat suaminya yang terlihat kelelahan seperti ini. "Kenapa lihatnya begitu?" Aleska menggeleng, ia membuka lebar kedua tangannya untuk memeluk Gaharu. Gaharu yang melihat itu tersenyum, lalu ia mendekat ke ar
Gebrakan yang dilakukan Gaharu dan Gerald membuktikan jika siapapun yang menyakiti keluarga mereka akan mendapatkan balasan yang setimpal. Saat ini hari sudah gelap, Gaharu dan Gerald serta tim yang lain masih berada di ruangan meting yang utama. "Paman Bram, hari ini cukup sampai di sini. Semuanya sudah lelah, besok kita lanjutkan lagi. Dan untuk pertemuan besok, aku mau setiap divisi dan juga pihak HRD hadir di meting besok. Umumkan kepada semuanya akan ada penggantian jabatan di semua tempat dan divisi. Tak akan ada diskriminasi lagi di perusahaan, dan juga berlaku untuk semua cabang!" Bram serta yang lain mengangguk, lalu Gaharu mengambil ponselnya mengetikkan sesuatu. Ting.... Ponsel Bram berbunyi, ia lalu melihatnya. Matanya membola dan menatap Gaharu cepat. "Tuan, apa ini? Kenapa mengirimi ku banyak sekali yang?" Gaharu tersenyum, ia lalu bangkit dari duduknya saat ini. "Paman, tolong bagi dengan tim Paman yang sudah bekerja keras hari ini. Traktir merek
Kegaduhan yang di buat oleh Wijaya dan Cipto membuat semua orang tercengang. Terlebih tak lama setelah Gaharu naik ke atas, beberapa petugas polisi juga tiba di sana. Mereka langsung di arahkan untuk menemui Gaharu di ruangan meting. Yang lebih Gongnya lagi ketika tak lama Cipto dan Wijaya di seret paksa keluar dari perusahaan Kael dengan wajah tertunduk. ( Pengumuman : Karena ada nya kejadian yang merugikan perusahaan, hari ini akan di adakan pemeriksaan ulang dan juga audit besar-besaran setiap divisi. Pastikan data dan juga pekerjaan bersih tanpa adanya data nepotisme dan juga penggelapan dana serta pelanggaran yang lain. Jika di temukan pelanggaran sekecil apapun semua akan di bereskan di pengadilan!) Semua karyawan mendapatkan email pemberitahuan tentang audit itu. Mereka kelabakan dan segera memeriksa pekerjaan mereka masing-masing. Gaharu benar-benar di buat sibuk saat ini. "Tuan Gaharu, ada beberapa divisi yang juga terlibat dengan Cipto dan Wijaya. Mereka sudah
Gaharu yang mendengar teriakan Aleska menepuk keningnya. Dia lupa jika dia belum mengenakan pakaiannya setelah mandi. ( "Maaf sayang, aku baru selesai mandi. Tunggu sebentar, aku pakai baju dulu." ) Pipi Aleska menjadi panas karena panggilan Gaharu kepadanya. Dia belum terbiasa dengan itu, ras
Aleska hari ini pergi ke toko kue miliknya. Dia sejak semalam tak bisa tidur karena memikirkan pernikahannya yang mendadak dengan Gaharu. Huft..... Semua karyawannya menatap aneh pada Aleska. "Nona seperti orang putus cinta, kenapa lemas sekali hari ini?" Aleska mengerjapkan matanya saat
Langkah Gaharu membawanya ke taman belakang dimana Aleska baru saja kabur. Duk.... "Aw ...." Sret .... Gaharu menarik pinggang Aleska agar Aleska tak sampai terjatuh karena baru saja menabrak dada bidangnya. Mata Aleska mengerjap ketika mendapati dia dalam pelukan Gaharu. Dia lalu me
"Ahhh .... sayang..... " "Kenapa hemm? Kau menikmatinya?" "Iya..... ah...... tapi.... apa kau tak takut jika Aleska tahu apa yang kita lakukan?" "Kenapa harus takut, dia hanya gadis yatim piatu yang polos." Tangan seseorang yang baru saja disebut itu menggantung di udara. Dadanya terasa







