LOGINMalam itu terasa jauh lebih panjang daripada biasanya. Setelah Alena mengucapkan kata yang seharusnya tidak pernah keluar dari mulutnya, ia langsung masuk ke kamar.Leon masih berdiri di ruang tengah. Ia tidak mengejar. Bukan karena marah. Justru karena pikirannya terlalu penuh.Cerai.Kata itu terus berputar di kepalanya. Leon akhirnya duduk di sofa. Ia mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi.Alena sedang hamil. Emosinya memang berubah. Ia lebih mudah tersinggung, lebih sensitif, bahkan beberapa kali menangis hanya karena hal kecil. Namun ucapan malam ini terasa berbeda.Leon teringat masa lalu. Pernikahannya dengan Cyntia dulu. Saat itu, ia terlalu sibuk dengan pekerjaan. Ia mengira selama kebutuhan rumah tangga terpenuhi, semuanya akan baik-baik saja. Ternyata tidak.Cyntia pernah merasa sendirian meskipun tinggal bersamanya. Dan Leon tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Ia tidak ingin Alena suatu hari mengatakan bahwa dirinya tidak dibutuhkan.Malam semakin larut. Leo
Beberapa hari setelah Leon ikut mengungsi ke rumah Ibu Alena, suasana perlahan kembali membaik.Alena sudah tidak lagi memasang wajah masam setiap kali melihat suaminya. Bahkan pagi itu, ketika Leon hendak berangkat ke Arkanza Group, Alena masih sempat membawakan kopi."Ini."Leon menerima cangkir itu sambil tersenyum."Untukku?""Iya.""Wah, berarti aku sudah dimaafkan?"Alena mengerucutkan bibir."Jangan ge-er. Aku cuma enggak tega lihat kamu berangkat tanpa sarapan."Leon tertawa kecil."Baik."Ia kemudian mencium kening Alena."Jaga diri.""Kamu juga."Hubungan mereka memang belum sepenuhnya kembali seperti sebelum pertengkaran, tetapi setidaknya sudah jauh lebih tenang.Siang harinya, Leon mendapat kabar bahwa pembahasan kerja sama dengan salah satu perusahaan besar akan dilanjutkan.Perusahaan itu ternyata merupakan tempat Lilis bekerja. Leon sempat terdiam ketika melihat nama perusahaan tersebut. Namun ia segera kembali profesional.Tidak ada alasan untuk menghindari pekerjaan
Pagi itu, rumah Ibu Alena terasa lebih ramai dari biasanya. Leon yang semalam ikut mengungsi akhirnya benar-benar tidur di kamar Alena. Meskipun awalnya hanya diberi tempat sedikit di ujung kasur, setidaknya ia tidak jadi tidur di ruang tamu.Pagi-pagi sekali, Leon sudah terbangun. Ia masih berbaring sambil memandangi Alena yang tidur menyamping membelakanginya. Perut istrinya yang mulai membesar membuat Leon semakin sadar bahwa beberapa bulan lagi kehidupan mereka akan berubah total.Leon tersenyum kecil. Ia baru saja hendak bangun ketika terdengar suara Alena."Sayang..."Leon langsung menoleh."Hm?""Aku mau sesuatu."Leon langsung waspada."Apaan?"Alena membalikkan tubuhnya."Aku mau bakso."Leon terdiam."Bakso?"Alena mengangguk."Iya.""Sepagi ini?""Iya.""Benar-benar mau?""Iya."Leon langsung bangkit dari tempat tidur."Baik. Tunggu di sini."Alena tersenyum."Jangan lama-lama."Leon mengangguk mantap."Suamimu akan mencarikannya."Ia keluar kamar dengan semangat. Begitu sa
Malam semakin larut setelah Leon resmi memutuskan untuk ikut "mengungsi" ke rumah Ibu Alena.Koper besarnya sudah diletakkan di dekat kamar Alena. Namun masalah berikutnya justru baru muncul."Leon tidur di mana?" tanya Ibu Alena.Leon mengangkat bahu."Saya bisa tidur di ruang tamu, Bu."Alena yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari mereka langsung mengangguk."Nah, bagus."Leon menoleh."Kamu setuju?""Iya.""Kenapa?""Supaya aku bisa tidur tenang."Leon hampir tertawa. Namun sebelum ia menjawab, Ibu Alena langsung menggeleng."Enggak."Alena menatap ibunya."Kenapa?""Ibu tidak mau ruang tamu berubah jadi kamar tidur.""Tapi, Bu...""Terserah Leon mau tidur di sampingmu atau di lantai."Ibu Alena menunjuk ke arah kamar."Pokoknya kalian sekamar."Alena langsung membelalakkan mata."Bu!""Kenapa?""Aku sedang marah sama dia.""Ibu tahu.""Terus kenapa harus sekamar?""Karena kalian suami istri."Leon yang sejak tadi menahan senyum akhirnya menunduk. Ibu Alena kemudian menatap Leon.
Keesokan paginya, Leon benar-benar datang ke rumah Ibu Alena. Ia datang lebih awal dari biasanya. Setelah memarkir mobil, Leon membawa sebuah tas kecil dan berjalan menuju pintu rumah.Ibu Alena yang sedang berada di ruang tengah langsung menyambutnya."Leon.""Selamat pagi, Bu.""Masuk."Leon mengangguk."Alena di kamar?""Iya."Leon menarik napas pelan."Saya ingin bicara dengannya."Ibu Alena tersenyum tipis."Silakan."Leon mengetuk pintu kamar."Sayang."Tidak ada jawaban. Leon mengetuk lagi."Alena, aku masuk, ya."Kali ini terdengar suara dari dalam."Masuk."Leon membuka pintu. Alena sedang duduk di tempat tidur dengan wajah masih terlihat kesal. Begitu melihat Leon, bukannya tersenyum, Alena justru memalingkan wajah. Leon mendekat."Bagaimana keadaanmu?""Baik.""Sudah sarapan?""Sudah.""Vitamin?""Sudah."Leon duduk di tepi tempat tidur."Aku datang untuk bicara.""Aku tahu.""Maaf soal kemarin."Alena langsung menoleh."Maaf karena apa?"Leon terdiam sesaat."Karena aku ti
Sejak mengetahui Alena berada di rumah ibunya, Leon sebenarnya sudah ingin langsung datang.Namun hari berikutnya justru menjadi salah satu hari paling sibuk di Arkanza Group.Sejak pagi, rapat demi rapat berlangsung tanpa jeda. Ada pembahasan kontrak, laporan keuangan, pertemuan dengan beberapa klien, hingga rapat lanjutan mengenai kerja sama dengan perusahaan tempat Lilis bekerja.Beberapa kali Leon melihat ponselnya.Tidak ada pesan dari Alena. Ia sebenarnya ingin menelepon. Bahkan beberapa kali jarinya sudah hampir menekan nama istrinya di layar, tetapi ia selalu mengurungkan niat.Leon tahu Alena masih marah. Mungkin istrinya memang membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Dan bukankah beberapa kali selama ini Alena mengatakan bahwa ketika sedang kesal, ia ingin dibiarkan sebentar?Leon memilih menghormatinya. Meskipun sebenarnya ia sendiri tidak tenang. Setiap kali rapat selesai, hal pertama yang dilakukannya adalah melihat ponsel.Tetap tidak ada pesan.Tidak ada panggilan.Tid
Pintu ruang wawancara tertutup pelan di belakang Alena, namun detak jantungnya masih belum benar-benar stabil. Beberapa menit sebelumnya, ia baru saja bertemu kembali dengan Leon di dalam lift. Pria itu tetap sama, tampan, dingin, dan memancarkan aura yang membuat orang otomatis menjaga jarak. Dan
Lima tahun kemudian, Alena berdiri di depan cermin kamar sambil menatap pantulan dirinya dalam diam yang cukup lama. Wanita di depannya bukan lagi gadis kecil yang pernah nekat mengajak pria asing menikah demi dua mangkuk bakso dan segelas es teh. Wajahnya kini lebih dewasa, dengan garis rahang yang
Sudah seminggu. Dan Leon tidak muncul lagi. Awalnya Alena masih berpikir pria itu hanya sibuk bekerja seperti biasa, mungkin lembur, mungkin ada meeting penting, karena bukankah orang kaya memang selalu sibuk. Namun setelah beberapa hari berlalu dan mobil hitam Leon tak pernah lagi terlihat masuk k
Sejak hari itu, Alena punya kebiasaan baru: mengintip rumah Leon. Setiap sore sepulang sekolah, gadis itu akan duduk di teras rumah neneknya sambil pura-pura mengerjakan PR. Buku tulis terbuka di pangkuannya, pena sesekali bergerak, tetapi matanya lebih sering melirik rumah besar di sebelah komplek







