MasukSiang itu suasana Arkanza Group cukup sibuk. Beberapa karyawan terlihat mondar-mandir membawa dokumen, sementara Amara sedang memeriksa beberapa berkas di mejanya.Tidak lama kemudian, seorang perempuan datang ke area resepsionis. Penampilannya elegan dan profesional.Lilis.Ia tersenyum kepada resepsionis sebelum bertanya,"Maaf, saya ingin bertemu Pak Leon."Resepsionis memeriksa jadwal."Bu Lilis?""Iya.""Untuk urusan kerja sama?"Lilis mengangguk. Namun sebelum resepsionis memanggil seseorang, Amara kebetulan keluar dari ruangannya. Begitu melihat Lilis, ia langsung mengenalinya."Bu Lilis?"Lilis menoleh."Oh, Bu Amara."Amara tersenyum."Kebetulan saya yang menangani beberapa dokumen kerja sama dengan perusahaan Ibu.""Kalau begitu saya bisa menyerahkan dokumennya kepada Anda."Lilis menyerahkan sebuah map. Amara menerimanya."Pak Leon ada?"Lilis melihat ke arah ruangan CEO."Saya kira beliau ada."Amara terdiam sebentar."Pak Leon sudah pulang?"Lilis terlihat sedikit terkeju
Alena masih duduk di kamar ketika suara ponsel ibunya terdengar dari ruang tengah.Awalnya ia tidak terlalu memperhatikan.Pikirannya masih tertuju pada Leon. Sejak mendengar percakapan Leon dengan ibunya pagi tadi, hatinya tidak lagi setenang sebelumnya.Ia menyesal.Sangat menyesal.Kalimat kita cerai saja terus terngiang di kepalanya. Padahal ia tidak benar-benar menginginkan perceraian. Ia hanya ingin Leon membuktikan bahwa dirinya masih penting. Ingin Leon datang mengejarnya, memperhatikannya lebih lagi. Ingin merasa bahwa meskipun ada Lilis di masa lalu Leon, dirinya tetap menjadi satu-satunya wanita yang dipilih.Namun sekarang, setelah mendengar bahwa Leon takut dirinya merasa tidak dibutuhkan, Alena mulai sadar bahwa selama ini ia justru salah memahami suaminya.Leon tidak menjauhinya.Leon hanya terlalu sibuk.Dan mungkin... ia memang terlalu banyak berpikir.Alena mengusap perutnya."Maaf ya, Nak, mama jadi mau menang sendiri."Tangannya bergerak perlahan di atas perut yang
Malam itu terasa jauh lebih panjang daripada biasanya. Setelah Alena mengucapkan kata yang seharusnya tidak pernah keluar dari mulutnya, ia langsung masuk ke kamar.Leon masih berdiri di ruang tengah. Ia tidak mengejar. Bukan karena marah. Justru karena pikirannya terlalu penuh.Cerai.Kata itu terus berputar di kepalanya. Leon akhirnya duduk di sofa. Ia mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi.Alena sedang hamil. Emosinya memang berubah. Ia lebih mudah tersinggung, lebih sensitif, bahkan beberapa kali menangis hanya karena hal kecil. Namun ucapan malam ini terasa berbeda.Leon teringat masa lalu. Pernikahannya dengan Cyntia dulu. Saat itu, ia terlalu sibuk dengan pekerjaan. Ia mengira selama kebutuhan rumah tangga terpenuhi, semuanya akan baik-baik saja. Ternyata tidak.Cyntia pernah merasa sendirian meskipun tinggal bersamanya. Dan Leon tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Ia tidak ingin Alena suatu hari mengatakan bahwa dirinya tidak dibutuhkan.Malam semakin larut. Leo
Beberapa hari setelah Leon ikut mengungsi ke rumah Ibu Alena, suasana perlahan kembali membaik.Alena sudah tidak lagi memasang wajah masam setiap kali melihat suaminya. Bahkan pagi itu, ketika Leon hendak berangkat ke Arkanza Group, Alena masih sempat membawakan kopi."Ini."Leon menerima cangkir itu sambil tersenyum."Untukku?""Iya.""Wah, berarti aku sudah dimaafkan?"Alena mengerucutkan bibir."Jangan ge-er. Aku cuma enggak tega lihat kamu berangkat tanpa sarapan."Leon tertawa kecil."Baik."Ia kemudian mencium kening Alena."Jaga diri.""Kamu juga."Hubungan mereka memang belum sepenuhnya kembali seperti sebelum pertengkaran, tetapi setidaknya sudah jauh lebih tenang.Siang harinya, Leon mendapat kabar bahwa pembahasan kerja sama dengan salah satu perusahaan besar akan dilanjutkan.Perusahaan itu ternyata merupakan tempat Lilis bekerja. Leon sempat terdiam ketika melihat nama perusahaan tersebut. Namun ia segera kembali profesional.Tidak ada alasan untuk menghindari pekerjaan
Pagi itu, rumah Ibu Alena terasa lebih ramai dari biasanya. Leon yang semalam ikut mengungsi akhirnya benar-benar tidur di kamar Alena. Meskipun awalnya hanya diberi tempat sedikit di ujung kasur, setidaknya ia tidak jadi tidur di ruang tamu.Pagi-pagi sekali, Leon sudah terbangun. Ia masih berbaring sambil memandangi Alena yang tidur menyamping membelakanginya. Perut istrinya yang mulai membesar membuat Leon semakin sadar bahwa beberapa bulan lagi kehidupan mereka akan berubah total.Leon tersenyum kecil. Ia baru saja hendak bangun ketika terdengar suara Alena."Sayang..."Leon langsung menoleh."Hm?""Aku mau sesuatu."Leon langsung waspada."Apaan?"Alena membalikkan tubuhnya."Aku mau bakso."Leon terdiam."Bakso?"Alena mengangguk."Iya.""Sepagi ini?""Iya.""Benar-benar mau?""Iya."Leon langsung bangkit dari tempat tidur."Baik. Tunggu di sini."Alena tersenyum."Jangan lama-lama."Leon mengangguk mantap."Suamimu akan mencarikannya."Ia keluar kamar dengan semangat. Begitu sa
Malam semakin larut setelah Leon resmi memutuskan untuk ikut "mengungsi" ke rumah Ibu Alena.Koper besarnya sudah diletakkan di dekat kamar Alena. Namun masalah berikutnya justru baru muncul."Leon tidur di mana?" tanya Ibu Alena.Leon mengangkat bahu."Saya bisa tidur di ruang tamu, Bu."Alena yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari mereka langsung mengangguk."Nah, bagus."Leon menoleh."Kamu setuju?""Iya.""Kenapa?""Supaya aku bisa tidur tenang."Leon hampir tertawa. Namun sebelum ia menjawab, Ibu Alena langsung menggeleng."Enggak."Alena menatap ibunya."Kenapa?""Ibu tidak mau ruang tamu berubah jadi kamar tidur.""Tapi, Bu...""Terserah Leon mau tidur di sampingmu atau di lantai."Ibu Alena menunjuk ke arah kamar."Pokoknya kalian sekamar."Alena langsung membelalakkan mata."Bu!""Kenapa?""Aku sedang marah sama dia.""Ibu tahu.""Terus kenapa harus sekamar?""Karena kalian suami istri."Leon yang sejak tadi menahan senyum akhirnya menunduk. Ibu Alena kemudian menatap Leon.
Lima tahun kemudian, Alena berdiri di depan cermin kamar sambil menatap pantulan dirinya dalam diam yang cukup lama. Wanita di depannya bukan lagi gadis kecil yang pernah nekat mengajak pria asing menikah demi dua mangkuk bakso dan segelas es teh. Wajahnya kini lebih dewasa, dengan garis rahang yang
Sudah seminggu. Dan Leon tidak muncul lagi. Awalnya Alena masih berpikir pria itu hanya sibuk bekerja seperti biasa, mungkin lembur, mungkin ada meeting penting, karena bukankah orang kaya memang selalu sibuk. Namun setelah beberapa hari berlalu dan mobil hitam Leon tak pernah lagi terlihat masuk k
Sejak hari itu, Alena punya kebiasaan baru: mengintip rumah Leon. Setiap sore sepulang sekolah, gadis itu akan duduk di teras rumah neneknya sambil pura-pura mengerjakan PR. Buku tulis terbuka di pangkuannya, pena sesekali bergerak, tetapi matanya lebih sering melirik rumah besar di sebelah komplek
“Berani nggak?” Alena yang sedang meniup es teh plastiknya langsung menoleh bingung ke arah teman-temannya. “Berani apa?” Tiga anak perempuan di sampingnya langsung cekikikan sambil menunjuk ke arah seberang jalan. Di depan minimarket, sebuah mobil hitam mewah baru saja berhenti. Seorang pria







