로그인Reymond menepati janjinya. Selama dua hari terakhir, ia nyaris tak pernah meninggalkan sisi Kiara. Ia mengurus semua kebutuhannya, mulai dari mengambil obat, memastikan infus tetap berjalan dengan baik, hingga menyuapi Kiara ketika wanita itu belum cukup kuat mengangkat tangannya sendiri.
Perhatian yang ia berikan membuat para perawat berkali-kali tersenyum setiap kali melihat mereka. Bahkan beberapa di antara mereka mengira Reymond adalah suami Kiara."Suaminya benar-benar telaten, y"Dan aku juga tahu kalau suamiku memiliki perempuan lain di belakangku. Jika aku menemukannya, aku akan membuat hidup wanita itu hancur."Kilatan kebencian yang memancar dari kedua mata Anggi membuat Kiara membeku di tempat.Napasnya tercekat. Jemarinya yang semula menggenggam selimut perlahan bergetar. Ucapan Anggi barusan bukan lagi sekadar luapan hati seorang istri yang terluka, melainkan sebuah ancaman yang menghantam tepat ke jantungnya.Untuk sesaat, Kiara merasa seluruh ruangan berputar."Anggi ..." suaranya lirih, nyaris tak terdengar.Namun Anggi sama sekali tidak menyadari perubahan raut wajah sahabatnya. Emosi yang selama ini ia pendam akhirnya meluap tanpa bisa dibendung."Aku benar-benar membencinya," ucapnya dengan rahang mengeras. "Perempuan itu pasti tahu Diego sudah beristri. Tapi dia tetap memilih mendekati suamiku."Setetes air mata kembali jatuh membasahi pipinya."Aku tidak tahu siapa dia. Aku tidak tahu seperti apa wajahnya.
Anggi berdiri di depan pintu ruang rawat inap. Jemarinya mengusap sudut matanya yang sembab, memastikan tak ada lagi jejak air mata yang dapat dibaca siapa pun.Ia menarik napas panjang, lalu merapikan riasan yang mulai memudar dengan sentuhan singkat di pipi dan bibirnya. Tak boleh ada yang melihat betapa rapuh dirinya saat ini.Setelah merasa cukup tenang, Anggi mengambil kembali bingkisan yang sempat ia letakkan di lantai. Plastik pembungkusnya ia lepaskan, lalu dibuang ke tong sampah yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Barulah ia menggenggam erat parsel buah itu, mendorong gagang pintu dan melangkah masuk.Suasana ruangan begitu hening. Hanya terdengar desau lembut angin yang menggerakkan tirai di dekat jendela.Di atas ranjang, Kiara yang semula memandang ke luar jendela sontak menoleh. Matanya membulat seketika saat melihat sosok wanita yang berjalan menghampirinya."Anggi ...?" gumamnya lirih, jelas tak menyangka wanita yang paling ingin ia hindari
Reymond menepati janjinya. Selama dua hari terakhir, ia nyaris tak pernah meninggalkan sisi Kiara. Ia mengurus semua kebutuhannya, mulai dari mengambil obat, memastikan infus tetap berjalan dengan baik, hingga menyuapi Kiara ketika wanita itu belum cukup kuat mengangkat tangannya sendiri.Perhatian yang ia berikan membuat para perawat berkali-kali tersenyum setiap kali melihat mereka. Bahkan beberapa di antara mereka mengira Reymond adalah suami Kiara."Suaminya benar-benar telaten, ya. Jarang ada yang sesabar ini," bisik seorang perawat kepada rekannya.Kiara hanya mampu tersenyum kikuk mendengar anggapan itu. Ia hendak meluruskan kesalahpahaman tersebut, tetapi Reymond lebih dulu mengalihkan pembicaraan seolah tak ingin mempermalukannya. Sikapnya yang tenang justru semakin membuat para perawat yakin bahwa mereka adalah pasangan yang saling mencintai.Di sisi lain, suasana yang bertolak belakang terjadi di ruang kerja Diego.Brak!Ponsel yang berada di
"Hamil ..." Kiara bergumam lirih. Jemarinya bergerak perlahan mengusap perutnya yang masih rata, seolah ingin meyakinkan dirinya bahwa sebuah kehidupan benar-benar tengah tumbuh di sana. Pandangannya beralih ke luar jendela. Sebatang pohon berdiri kokoh diterpa embusan angin sore, sementara beberapa ekor burung gereja beterbangan dari satu dahan ke dahan lain. Kicauan mereka terdengar begitu riang, seolah dunia tak pernah mengenal kesedihan. Tanpa sadar, sudut bibir Kiara terangkat membentuk senyum tipis. Namun, senyum itu perlahan memudar, tergantikan tatapan sendu yang menyimpan begitu banyak kegelisahan. Masa depan yang semula telah ia susun kini berubah menjadi teka-teki yang sulit ia pecahkan. Ia tak pernah membayangkan bahwa hubungan satu malam bersama Diego akan meninggalkan jejak sebesar ini. Bukan sekadar kenangan, melainkan seorang calon buah hati yang kini bersemayam di dalam rahimnya. Jema
Di tempat yang berbeda, Anggi memutuskan menemui seseorang di sebuah restoran mewah. Demi menjaga kerahasiaan, ia sengaja memesan ruang VIP yang tertutup rapat dari pandangan pengunjung lain.Di hadapannya telah duduk seorang pria bertubuh tegap dengan aura dingin yang begitu kuat. Rambut panjangnya yang diikat rapi serta tatapan tajamnya membuat lelaki itu tampak seperti seorang mafia kelas kakap."Aku ingin kamu mencari tahu tentang wanita ini."Anggi mendorong sebuah map cokelat ke arahnya. Di dalamnya tersimpan beberapa foto yang diam-diam ia ambil dari ruang rahasia milik suaminya. Rasa penasaran terus menggerogoti pikirannya. Ia harus mengetahui siapa wanita yang berhasil menguasai hati suaminya hingga lelaki itu tak lagi memedulikannya.Pria itu membuka map tersebut. Satu per satu foto ia amati dengan teliti. Selain foto, terdapat tiga lembar dokumen yang berisi identitas singkat suami Anggi beserta daftar informasi yang ingin ia peroleh."Ini uang mukanya
“Kamu cuma ingin memaksaku mengingat sesuatu yang sudah kubunuh dari pikiranku bertahun-tahun!” Ranti membentak, menepuk dadanya sendiri. “Aku membenci lelaki yang kamu panggil Papa itu. Setelah dia menghancurkan hidupku dan memaksaku melahirkanmu, sekarang dia justru pergi meninggalkanku. Hidupnya kini tenang dengan wanita lain, sementara aku? Apa itu adil, tidak. Kamu ... kamu yang harus membayar semua perlakuan buruknya padaku!”Tatapan mata itu tak hanya tajam tapi penuh dengan kebencian. Kebencian yang selalu Kiara dapati saat Ranti melihat dirinya. "Lalu kenapa hanya aku yang Mama hukum? Kenapa tidak dengan Nara?""Kenapa katamu?" Ranti menjeda ucapannya sejenak untuk memberikan senyuman sinis dan juga jijik."Karena kamu dan Nara itu berbeda. Nara—"Nara spontan meraih lengan Ranti, mencoba menenangkan. “Ma … ayo kita pulang. Kepalaku pusing."Tak hanya ucapan Ranti yang terputus, wajah tegangnya pun langsung mengendur seketika berganti raut cemas dan
Anggi tersenyum. Wanita manis itu tak menyadari perubahan yang tiba-tiba menguasai atmosfer. "Sayang, ini Kiara, sahabatku sejak SMA." Tangannya merangkul manja lengan lelaki yang ia perkenalkan sebagai suami. Berbeda dengan wajah Anggi yang sumringah. Lelaki itu justru diam sejenak, kemudian meng
Pernah tidak kalian mendengar ada yang bilang, lebih baik capek badan daripada capek otak? Capek badan bisa hilang saat dibawa istirahat, tetapi capek otak mau tidur 24 jam sekalipun tak mampu membuat hilang sakit di kepala. Itulah yang tengah Kiara alami pagi ini. Suasana pagi yang cerah tetapi t
Kiara menarik napas cepat, rasa lelahnya berganti waspada. "Mama jarang berbicara dengan nada seperti itu dan jika beliau sampai menunggu di apartemen tanpa memberi tahuku sebelumnya, berarti ada sesuatu yang diinginkannya dariku." Lagi-lagi Kiara hanya mampu bergumam di dalam hati, walau seribu t
Kiara merasa akhir-akhir ini Dewi kesialan tengah mengutuknya. Setelah beberapa hari yang lalu bersusah payah kabur seperti seorang buronan dari dekapan lelaki asing yang memiliki pikiran gila, kini ia dihadapkan dengan dua orang wanita yang menyebalkan. "Gila, tampan banget. Aku tidak menyangka l







