Home / Mafia / PEREMPUAN MILIK MORETTI / Permainan Itu Baru Dimulai

Share

Permainan Itu Baru Dimulai

last update publish date: 2026-03-08 16:22:41

Nampan itu terasa lebih berat dari yang terlihat.

Elena memegangnya dengan kedua tangan, berusaha menyembunyikan ketegangan di jari-jarinya.

Di atas nampan itu terdapat botol anggur dan beberapa gelas kristal.

Tidak ada yang mengatakan apa pun.

Namun ruangan itu penuh dengan tatapan.

Menunggu.

Menilai.

Mengukur.

Elena menarik napas perlahan.

Baik.

Jika tidak ada instruksi, berarti ia harus membaca situasinya sendiri.

Ia berjalan menuju meja.

Langkahnya terdengar terlal
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Tempat yang Tak Lagi Sama

    Cahaya pagi masuk dari sela tirai yang tidak tertutup sempurna.Garis tipisnya jatuh di ujung kasur.Elena membuka mata.Pandangannya bergeser ke sisi lain ranjang.Kosong.Bantal di sana rapi. Permukaannya sudah dingin.Ia tetap diam beberapa detik.Matanya turun ke dekat jendela.Kursi yang semalam menampung gaun hitam itu masih berada di tempat yang sama.Tas lusuhnya terletak di atasnya.Tali bahu menjuntai sedikit ke samping.Dari sela resleting yang tidak tertutup rapat, sesuatu menyembul keluar.Merah.Bentuk kecil seperti dua buah ceri.Elena bangkit.Kakinya menyentuh lantai dingin.Jepit rambut itu berpindah ke tangannya.Cat merahnya sudah pudar di salah satu sisi.Jarinya menyapu permukaan kecil itu.***"Anak aneh.""Itu tidak cocok dipakai sama dia."Tangan kecil menarik rambutnya dari belakang.Tubuh Elena terhuyung.Tawa pecah di dekat ayunan.Jepit rambut itu berpindah tangan."Kembalikan."Suara lain masuk.Langkah kecil berhenti di depannya."Kubilang kembalikan."T

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Saat Semuanya Mulai Masuk Akal

    Pintu kamar tertutup.Bunyi pendeknya tenggelam di balik sunyi yang ikut masuk bersama Elena.Ia tetap berdiri dekat pintu.Tangannya masih berada di gagang beberapa detik sebelum terlepas sendiri.Gaun hitam yang dikenakannya terasa berat di bahu.Resleting di punggung terbuka sedikit demi sedikit.Kain itu turun.Jatuh di kursi dekat jendela.Matanya terangkat ke cermin.Rambut berantakan.Bekas air yang mengering meninggalkan garis tipis di pipi.Debu putih menempel di ujung lengan.Sedikit di siku.Sedikit di punggung tangan.Jarinya menyapu bagian itu.Putihnya berpindah ke ujung jemari.Masih tersisa.Ia mengusap lagi.Masih ada.Gagang pintu bergerak.Elena tidak menoleh.Pantulan di cermin berubah.Tubuh tinggi memasuki ruangan.Jas hitam.Manset gelap.Langkah berhenti di belakangnya.Tak terlalu dekat.Tak terlalu jauh.Elena memandang wajahnya sendiri di cermin."Kenapa?"Suara itu keluar pelan.Nyaris seperti sesuatu yang tertinggal di tenggorokan.Di belakangnya, Adriano

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Yang Dibawa Pulang Hari Itu

    Debu masih turun.Butiran putih tipis melayang tanpa arah sebelum menempel di ujung sepatu Elena. Sebagian jatuh di kain hitam gaunnya. Sebagian lagi menempel di punggung tangannya.Ia tidak bergerak.Di depan sana, Stella Maris sudah tidak lagi utuh.Pilar dekat gerbang retak sampai ke dasar. Cat putih yang dulu mengelupas di sudut pagar kini pecah menjadi serpihan kecil di tanah. Salah satu kusen jendela lantai bawah menggantung miring, tertahan di sisi dinding yang patah.Matanya turun.Di dekat tangga, pot kecil tertimbun pecahan semen.Separuh badannya masih terlihat.Tanahnya tumpah ke sisi jalan.Tak jauh dari sana, potongan kayu pagar tergeletak menyamping.Cat putih masih menempel di salah satu sudut.Ada bekas cat biru kecil di pinggirnya.Minggu lalu seorang anak menumpahkannya.Elena belum sempat membersihkan.Tak jauh dari sana, lonceng angin kecil terbaring di bawah jendela.Benang pengikatnya putus.Satu keping kayunya retak.Diam.Tangannya bergerak pelan.Jari-jarinya

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Yang Pergi Tidak Menoleh Lagi

    "Lakukan perintahku."Jemari di pergelangan Elena terlepas.Angin laut menyapu halaman, mengangkat beberapa helai rambut yang menempel di pipinya.Adriano memalingkan kepala.Bukan kepadanya.Tatapannya jatuh ke Stella Maris."Waktu habis."Di dekat alat berat, operator mengangkat wajah dari balik kabin. Tangan kasarnya meraih tuas.Mesin menggeram lebih dalam.Getarannya merambat ke tanah.Masuk ke telapak kaki.Naik perlahan sampai ke dada.Napas Elena tertahan.Pintu Stella Maris terbuka.Julian keluar lebih dulu.Seorang balita berada dalam gendongannya. Mata kecil itu masih merah, pipinya basah oleh sisa tangis.Di belakangnya, anak-anak mulai keluar satu per satu.Tas sekolah menggantung miring di pundak kecil.Ritsleting yang tak tertutup rapat.Buku gambar dengan sudut terlipat.Foto lama yang pinggirannya mulai memudar.Botol minum.Boneka kain.Mereka berjalan memenuhi halaman tanpa suara.Elena menatap mereka.Tubuh-tubuh kecil yang beberapa jam lalu masih duduk di meja mak

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Sebelum Semua Terlambat

    Mesin mobil menyala lebih dulu sebelum pintu tertutup sempurna. Getarannya merambat ke lantai beton, naik ke sepatu, lalu hilang di udara yang masih menggantung di dalam gudang. Adriano masuk tanpa menoleh. Pintu tertutup. Bunyi logam pendek memutus sisa ruang. Di kaca spion, gambar itu masih ada. Elena di lantai. Kepala sedikit menunduk. Rambut jatuh menutupi sisi wajah. Julian berdiri di dekatnya. Satu tangannya belum sepenuhnya turun, seperti masih mencari sesuatu yang sudah terlambat disentuh. Mobil bergerak. Bayangan itu mengecil. Terpotong sudut gerbang. Hilang. Keheningan turun terlalu cepat setelahnya. Julian berlutut. Lututnya menyentuh beton dingin. Tangannya menyentuh lengan Elena. Hangat. Masih ada. “Kita tidak punya waktu.” Elena tidak menjawab. Matanya masih tertinggal di pintu gudang yang sudah kosong. Seolah menunggu sesuatu kembali dari arah yang tidak akan terbuka lagi. “Aku…” Suara itu pecah sebelum menemukan bentuk

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Harga yang Tak Bisa Dihindari

    “Bayar dulu.” Kalimat itu tidak naik, tidak turun. Datar, seperti sesuatu yang sudah selesai sebelum sempat diperdebatkan. Rantai di atas kepala bergeser pelan. Bunyi kecil yang tidak menemukan tempat jatuh. Julian tidak langsung menjawab. Tangannya masih menggenggam pergelangan Elena. Lebih erat dari sebelumnya. Seolah jika dilepas sedikit saja, seluruh ruang ini ikut lepas bersamanya. Matanya turun ke map di tangan Adriano. Naik lagi. “Kau pikir ini apa?” Suara Julian rendah. Tertahan di tenggorokan, dipaksa keluar sebelum berubah jadi sesuatu yang lain. Jemarinya mengencang di kulit Elena. “Kau bahkan tidak membeli barang.” Hening. “Kau membeli orang.” Adriano tidak bergerak. Wajahnya tidak berubah. Seolah kalimat itu tidak menemukan tempat untuk menempel. Map di tangannya turun perlahan ke sisi tubuh. Tangannya masuk ke saku jas. Sesuatu keluar. Hitam. Tipis. Gerakan Julian berhenti. Casing itu terlihat di bawah cahaya lampu industri. Sudut kecilnya tergore

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Harga yang Belum Lunas

    Pagi di mansion Moretti berjalan seperti biasa bagi siapa pun yang tidak tahu cara membaca perubahan kecil.Lift servis tetap naik turun membawa kotak logistik. Langkah staff berderak pelan di lantai marmer koridor timur. Aroma kopi dari dapur menyusup sampai area administrasi, bercampur

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Jauh Sebelum Hari Ini

    Pintu kamar mandi masih terbuka saat Adriano berbalik. Air menetes dari ujung rambut Elena. Dari dagunya. Dari lengan yang gemetar menahan tubuhnya sendiri. Langkah Adriano sudah mencapai ambang pintu ketika sesuatu menarik ujung celananya. Ia menunduk. Jari-jari Elena mencengkeram

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Setelah Pengampunan Berakhir

    Pintu menghantam kusennya. Gaungnya masih bergetar di dinding saat Adriano melepaskan lengan Elena. Dorongan itu membuat tubuh Elena kehilangan keseimbangan. Lututnya menghantam lantai lebih dulu, telapak tangan menyusul. Napasnya tersentak.

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Saat Ia Berhenti Mendengarkanku

    Ponsel itu tergeletak di lantai marmer.Di antara lembar audit yang berserakan.Di dekat bercak darah yang terus menetes dari hidung supervisor distribusi.Tak ada yang bergerak.Napas pria itu terdengar berat. Patah-patah.Monitor transit masih menyala di dinding.Alexandria tetap merah.Tak seora

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status