Home / Mafia / PEREMPUAN MILIK MORETTI / Permainan Itu Baru Dimulai

Share

Permainan Itu Baru Dimulai

last update publish date: 2026-03-08 16:22:41

Nampan itu terasa lebih berat dari yang terlihat.

Elena memegangnya dengan kedua tangan, berusaha menyembunyikan ketegangan di jari-jarinya.

Di atas nampan itu terdapat botol anggur dan beberapa gelas kristal.

Tidak ada yang mengatakan apa pun.

Namun ruangan itu penuh dengan tatapan.

Menunggu.

Menilai.

Mengukur.

Elena menarik napas perlahan.

Baik.

Jika tidak ada instruksi, berarti ia harus membaca situasinya sendiri.

Ia berjalan menuju meja.

Langkahnya terdengar terlal
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Satu Ciuman, Dua Pengkhianatan

    Ciuman itu putus tanpa benar-benar memberi jarak. Napas mereka masih saling menyentuh. Elena lebih dulu memalingkan wajah. Bukan menjauh penuh. Hanya cukup untuk mengambil udara tanpa harus melewati Julian. Dadanya naik perlahan. Turun. Ia menelan sekali sebelum mengangkat tangan—menyentuh pergelangan Julian yang masih berada terlalu dekat di sisi wajahnya. Menurunkannya. Pelan. Tidak kasar. “Kau seharusnya tidak melakukan itu.” Suaranya kembali rapi lebih dulu dibanding matanya. Julian tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap pada Elena—pada bibir yang belum sepenuhnya kehilangan jejaknya, pada napas yang masih datang tidak utuh. Ia tidak meminta maaf. Tidak juga mundur. Lorong sempit itu terasa terlalu kecil untuk diam yang belum selesai berubah bentuk. Elena mendorong tubuhnya lepas sedikit dari rak di belakang. Cukup untuk mendapatkan kembali garis tegaknya sendiri. “Aku serius.” “Kau masih di sini.” Jawaban itu datang rendah. Tenang. B

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Ia Tidak Pergi. Itu yang Menghancurkan

    Langkah mereka tidak kembali ke keramaian. Arah saja yang berubah—cukup tegas untuk membuat tubuh mengikuti tanpa perlu ditarik lebih keras. Suara dari ruang utama tertinggal beberapa lapis di belakang. Masih ada, tapi pecah. Tawa berhenti di tengah. Nama-nama tidak lagi utuh saat sampai. Lorong di belakang barisan artefak lebih sempit. Cahaya jatuh lurus dari atas—dingin, tanpa pantulan. Dinding tidak menawarkan apa-apa selain jarak. Julian terus berjalan. Sampai langkah mereka mulai terdengar sendiri. Baru ia berhenti. Tangannya lepas dari pergelangan Elena—bukan dilepaskan, lebih seperti dibuang dari posisi yang sudah tidak diperlukan. Ada sisa dorongan kecil di akhir gerakan itu. Elena tidak mundur. Tidak juga mendekat. Ia tetap di tempatnya saat jarak di antara mereka terbuka tipis—cukup untuk terasa. Udara di sini berbeda. Lebih

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Satu Tarikan, Semua Batas Bergeser

    Mereka keluar dari koridor yang lebih sempit. Suara kembali utuh—lapisan percakapan yang saling bertumpuk, gelas yang bersentuhan ringan, nama-nama yang disebut tanpa tekanan. Ruang terasa lebih hidup, tapi tetap terkurasi; setiap sudut seperti sudah memilih apa yang boleh terlihat. Barisan artefak memanjang di depan mereka. Orang-orang berdiri dalam kelompok kecil. Jarak dijaga, tapi tidak kaku. Tatapan datang dan pergi dengan ritme yang lebih halus dari sebelumnya—mengenali tanpa perlu memastikan. Tangan Adriano masih di pinggang Elena. Tidak berubah. Ia berhenti di satu titik di tengah barisan. Seseorang sudah menoleh bahkan sebelum langkah itu benar-benar selesai. Seorang pria—usia matang, setelan gelap tanpa usaha berlebihan. Senyumnya sudah ada saat ia mendekat. “Signor Moretti.” Adriano menoleh. Singkat. Jabat tangan terjadi, bersih. Percakapan masuk tanpa pembuka panjang. Tentang pengiriman. Tentang jalur. Tentang sesuatu yang tidak disebutkan sepenuhnya tapi dipaha

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Yang Dipajang Hanya Setengah Kebenaran

    Cahaya menyempit saat mereka masuk lebih dalam.Suara dari ruang utama tertinggal di belakang—tidak hilang, hanya tidak lagi membentuk sesuatu yang utuh. Dinding terasa lebih dekat. Pantulan di kaca tidak lagi membawa kerumunan, hanya garis dan sudut yang dipilih untuk tetap terlihat.Tangan Adriano masih di pinggang Elena.Tidak bergerak.Tidak menekan.Hanya ada.Mereka berhenti di depan satu panel.Batu gelap. Ukiran dangkal. Sebagian permukaan tertutup lapisan restorasi yang terlalu bersih untuk sesuatu yang seharusnya tua. Retakan tipis berjalan dari satu sisi, menghilang di bawah lapisan baru, lalu muncul lagi di ujung lain—seperti sesuatu yang tidak pernah benar-benar utuh.Elena menggeser posisi.Bukan mendekat.Mengubah sudut.Cahaya berpindah.Garis yang tadi tenggelam muncul—sebentar—lalu hilang lagi.Julian datang ke sisi lain.Tidak memotong.Tidak masuk ke garis Adriano.Hanya mengambil bidang pandang yang berbeda.Ia menunduk sedikit.“Pahatan yang rapi,” katanya pelan.

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Ia Tidak Lagi Sekadar Dipamerkan

    Pintu kaca terbuka.Udara di dalam lebih dingin—rata, cahaya jatuh merata di permukaan—lukisan, kaca, logam—tidak ada yang menonjol, tidak ada yang tertinggal.Percakapan sudah ada.Tidak berhenti ketika Adriano masuk.Hanya bergeser.Elena berjalan di sisinya.Sejajar.Tidak menyentuh.Tidak tertinggal.Beberapa kepala menoleh.Tidak serempak.Cukup banyak.Lalu kembali.Dan menoleh lagi—lebih singkat, lebih hati-hati.Langkah Adriano tidak berubah.Ia berhenti di satu titik yang tidak ditandai apa pun.Ruang di sekitarnya menyesuaikan—sedikit mundur, sedikit membuka.Elena tetap di sana.Tidak dipanggil.Tidak dipindahkan.Namun tidak berada di luar garis.Seorang pria mendekat dari sisi.Senyumnya sudah terbentuk sebelum langkahnya berhenti.“Signor Moretti.”Adriano menoleh sedikit.Jabat tangan terjadi.Singkat.Bersih.Beberapa kata lewat—tanpa cukup waktu untuk mengubah posisi siapa pun.Tatapan pria itu jatuh ke Elena.Lebih lama dari yang diperlukan.Tidak ada perkenalan.Tid

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Ia Dibawa Keluar Sebagai Sesuatu

    Pagi tidak benar-benar masuk sebagai sesuatu yang baru. Cahaya sudah ada lebih dulu—tipis, rata, menempel di permukaan tanpa menghangatkan apa pun. Adriano membuka mata. Langit-langit tetap sama. Tidak ada suara yang mendahului. Di sisi ranjang, ruang itu kosong. Seprai sudah kembali rata. Tidak sempurna—lipatan halus masih tertinggal di beberapa titik—tapi cukup untuk menghapus bentuk yang seharusnya masih ada. Bantal kembali ke posisinya. Tidak ada yang mencoba bertahan. Adriano duduk. Tangannya menyentuh kain itu sekali, ringan. Dingin yang tersisa tidak lagi tajam, hanya melekat. Ia berdiri. Langkahnya lurus menuju kamar mandi. Pintu terbuka tanpa bunyi yang benar-benar terdengar. Elena ada di sana. Di depan cermin. Sudah berpakaian. Gaun yang dikenakannya menutup rapat, garisnya bersih, tidak mengikuti tubuh—hanya menjaga jarak yang tepat dari permukaan kulit. Rambutnya sudah ditata. Tidak ada sisa air. Tidak ada yang tertinggal dalam bentu

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Meja Itu Tidak Menyediakan Kursi

    Pintu kamar menutup tanpa bunyi. Lorong mansion sudah hidup, tapi tidak pernah benar-benar ramai. Langkah-langkah ringan bergerak cepat di atas marmer mengilap. Kain lembut menyapu permukaan meja konsol. Cairan pembersih meninggalkan jejak kilap di porselen putih. Seorang pelayan berdiri d

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Pagi Setelah Satu Ranjang

    Cahaya pagi belum sepenuhnya menembus kamar. Tirai masih tertutup rapat. Udara dingin menggantung, sunyi, tak terusik. Di ranjang besar itu, dua orang berbagi ruang—hanya satu yang terjaga. Adriano Moretti membuka matanya perlahan. Napasnya tetap tenang. Seolah ia memang tak pernah benar

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Malam Pertama di Ranjang Adriano

    Elena mendorong pintu dapur dengan bahu. Nampan masih di tangannya. Ruangan itu luas dan terang, berbeda dari sunyi ruang makan yang baru saja ia tinggalkan. Lampu-lampu putih memantul di permukaan baja dan porselen. Para pelayan berpakaian rapi bergerak cepat dalam ritme yang terlatih—piring

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Semua Mata Menunggu Dia Berlutut

    Pisau dan garpu kembali bergerak. Daging terpotong rapi. Anggur kembali mengalir ke dalam kristal. Seorang tamu menceritakan sesuatu yang cukup lucu untuk memancing tawa sopan. Valerius ikut tersenyum tipis. Lalu— Ia mengangkat gelas anggurnya. Gerakannya tenang. Terukur. Anggun sepert

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status