Beranda / Mafia / PEREMPUAN MILIK MORETTI / Mereka Menunggu Kesalahannya

Share

Mereka Menunggu Kesalahannya

Penulis: Pilar Waisakha
last update Terakhir Diperbarui: 2026-03-07 23:58:02

Elena tidak langsung menyadari Adriano sudah masuk ke kamar.

Ia sedang berdiri di dekat jendela ketika suara pintu terbuka pelan di belakangnya.

Refleks membuatnya menoleh.

Adriano berdiri di ambang pintu.

Seperti biasa, ekspresinya sulit dibaca.

Tidak marah.

Tidak juga ramah.

Hanya… dingin.

Elena merasakan ketegangan aneh di udara.

“Ada apa?” tanyanya hati-hati.

Adriano tidak langsung menjawab. Ia melangkah masuk beberapa langkah, lalu berhenti. Tatapannya menyapu ruangan seolah mem
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Rumah Ini Menggigit yang Ragu

    Halaman belakang mansion terasa lebih luas saat seseorang bekerja sendirian di dalamnya. Rumput masih basah di beberapa sudut, namun matahari telah naik cukup tinggi untuk mengusir sisa dingin pagi. Di tengah taman itu, Elena berdiri dengan gunting rumput besar di tangannya. Bilah besinya terbuka. Menutup. Terbuka lagi. Suara logamnya berulang pelan—ritme kerja yang sunyi. Kakinya masih nyeri. Gigitan anjing tadi tidak dalam, tetapi cukup membuat setiap langkah terasa berat. Ia menahan bobot tubuh pada kaki yang lain. Lalu kembali memotong. Batang-batang tanaman jatuh satu per satu ke tanah. Dari sisi taman, gonggongan anjing terdengar lagi. Keras. Tidak sabar. Mereka mondar-mandir di balik kandang besi. Gigi-gigi mereka menyeringai tiap kali geraman rendah keluar dari tenggorokan. Elena tidak menoleh. Ia terus bekerja. Gunting itu makin terasa berat di tangannya. Ia berhenti sejenak. Menarik napas panjang. Keringat menetes di pelipisnya. Dengan punggung tangan,

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Anjing-Anjing Valerius

    Elena masih berdiri di ambang pintu. Ia tidak bergerak sejak percakapan itu berakhir. Tidak pula melangkah masuk. Seolah garis tipis antara lorong dan ruang makan adalah batas yang tak boleh ia lewati tanpa izin. Kertas koran berdesir pelan. Lalu berhenti. Tatapan abu-abu Valerius Moretti terangkat dari balik halaman. Pelan. Menemukan Elena. Bukan tatapan marah. Lebih seperti seseorang yang baru menyadari ada benda asing diletakkan di meja kerjanya. “Pelayan.” Suaranya ringan— namun cukup membuat staf yang berdiri di dinding segera bergerak. Seorang pelayan mendekat dan membungkuk tipis. Valerius tak menoleh padanya. Tatapannya tetap pada Elena. “Perempuan itu tampaknya belum memahami rutinitas rumah ini.” Nada suaranya nyaris ramah. “Barangkali kita harus mulai memperkenalkannya.” Pelayan itu menunggu instruksi. Valerius melipat koran dengan hati-hati. “Kebun belakang membutuhkan perhatian.” Jeda singkat. “Dan anjing-anjingku belum dibe

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Meja Itu Tidak Menyediakan Kursi

    Pintu kamar menutup tanpa bunyi. Lorong mansion sudah hidup, tapi tidak pernah benar-benar ramai. Langkah-langkah ringan bergerak cepat di atas marmer mengilap. Kain lembut menyapu permukaan meja konsol. Cairan pembersih meninggalkan jejak kilap di porselen putih. Seorang pelayan berdiri di atas bangku kecil, menjangkau guci tinggi di sudut lorong. Kilau keramik memantulkan siluet Elena saat ia lewat. Tak ada yang menyapa. Tak ada yang menahan langkah. Namun bahu-bahu itu menegang sepersekian detik. Mereka tahu ia lewat. Elena berjalan lurus. Ia tidak bertanya ke mana Adriano. Tidak mencari penjelasan. Rumah besar selalu punya satu pusat gravitasi di pagi hari. Ruang makan. Pintu kayu gelap di ujung lorong terbuka sedikit. Cahaya pagi mengalir dari dalam seperti garis tipis yang memotong lantai. Elena mendorongnya pelan. Ruangan itu luas dan bersih oleh cahaya. Meja makan panjang membelah ruang seperti garis komando. Hanya dua kursi terisi.

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Pagi Setelah Satu Ranjang

    Cahaya pagi belum sepenuhnya menembus kamar. Tirai masih tertutup rapat. Udara dingin menggantung, sunyi, tak terusik. Di ranjang besar itu, dua orang berbagi ruang— namun hanya satu yang terjaga. Adriano Moretti membuka matanya perlahan. Napasnya tetap tenang. Seolah ia memang tak pernah benar-benar tidur terlalu dalam. Beberapa detik ia tidak bergerak. Hanya mendengarkan. Tak ada langkah di koridor. Tak ada suara dari lantai bawah. Hanya satu hal— napas lain, pelan, teratur… di belakangnya. Ia bergeser sedikit. Bukan untuk melihat. Hanya memastikan. Sosok itu masih ada. Elena tertidur di sisi lain ranjang. Tubuhnya tetap lurus seperti semalam. Tidak mendekat. Tidak menjauh. Jarak di antara mereka masih utuh. Adriano memalingkan wajahnya kembali ke langit-langit. Konfirmasi kecil itu cukup. Ia duduk. Kasur berderit lirih—hampir tak terdengar. Gerakannya terlatih. Tenang. Tanpa ragu. Kakinya menyentuh marmer dingin. Ia be

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Malam Pertama di Ranjang Adriano

    Elena mendorong pintu dapur dengan bahu. Nampan masih di tangannya. Ruangan itu luas dan terang, berbeda dari sunyi ruang makan yang baru saja ia tinggalkan. Lampu-lampu putih memantul di permukaan baja dan porselen. Para pelayan berpakaian rapi bergerak cepat dalam ritme yang terlatih—piring berpindah tangan, air mengalir, kain mengusap meja tanpa suara berlebih. Tidak ada yang benar-benar menatapnya. Namun semua sadar ia ada. Seorang pelayan wanita mendekat. Wajahnya datar, profesional. “Tuan Valerius memerintahkan Anda mencuci piring makan malam dan membereskan dapur.” Kalimat itu disampaikan tanpa tekanan, tanpa empati—sekadar informasi yang harus sampai. Elena mengangguk. Refleks, jarinya meremas ujung gaun tepat di tempat luka tipis itu tersembunyi. Perihnya masih ada, berdenyut halus. Ia menahannya agar tak terlihat, agar tak menjadi tontonan kedua malam ini. Ia menaruh nampan. Mengambil karet rambut dari pergelangan tangan. Rambutnya diikat

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Semua Mata Menunggu Dia Berlutut

    Pisau dan garpu kembali bergerak. Daging terpotong rapi. Anggur kembali mengalir ke dalam kristal. Seorang tamu menceritakan sesuatu yang cukup lucu untuk memancing tawa sopan. Valerius ikut tersenyum tipis. Lalu— Ia mengangkat gelas anggurnya. Gerakannya tenang. Terukur. Anggun seperti biasa. Namun di tengah ayunan kecil itu, jemarinya melepas. Gelas kristal terjatuh. Pecah. Suara retakannya tajam, memantul di lantai marmer. Anggur merah menyebar cepat—pekat, seperti darah yang tumpah. Percakapan terputus. Semua kepala menoleh. Dua pelayan yang berdiri paling dekat refleks bergerak maju— Namun tangan Valerius terangkat sedikit. Isyarat kecil. Cukup untuk menghentikan mereka. Hening turun perlahan, menekan ruangan. Valerius tidak melihat para pelayan. Ia memutar kepalanya pelan. Tatapannya menyisir meja… Mencari. Lalu berhenti. Pada Elena. Tak ada kata. Tak ada perintah. Hanya dagu yang terangkat samar ke arah lantai kotor. Be

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status