แชร์

TIGA

ผู้เขียน: Anggiliashinta
last update วันที่เผยแพร่: 2022-01-13 20:23:07

BENEDICT POV

Suara hingar bingar musik memenuhi setiap penjuru bar. Dengan pencahayaan remang-remang gemerlap khas dunia malam. 

Tidak seperti biasanya yang selalu bersemangat untuk berpesta, aku bahkan merasa pusing dengan suara memekakan telinga itu. 

Aku merasa ada yang salah pada diriku malam ini.

 Semua terasa membosankan. Bahkan tubuh seksi Vira yang kini sudah setengah telanjang di pangkuanku tidak bisa membuat Albert kesayanganku berdiri tegak seperti biasa. 

Kutatap lantai dansa di depan sana yang sudah dipenuhi oleh manusia tanpa minat. Jika bukan karena Kevin yang tidak berhenti mengangguku dengan terus menelpon agar aku datang ke bar, aku pasti lebih memilih untuk tidur dirumah. 

Aku bergumam jengah saat Vira mulai mencium leherku, lalu bibirnya bergerak turun menjilat leherku. Aku kembali mengerang. Ingatan tentang ciuman Keyla kembali berputar di kepalaku, bagaimana gadis reaksi polos gadis itu, ciuman amatir yang memberikan efek yang sangat kuat pada diriku. Keyla jelas gadis yang berbeda. Andai saja dia disini sekarang, tentu aku tidak akan terjebak dalam situasi membosankan seperti ini.

"Udah ah, cukup." Tolakku cepat saat jemari Vira bergerak untuk membuka kancing kemejaku, kudorong tubuhnya turun dari pangkuanku, lalu bangkit dari sofa tempat aku duduk. 

Kevin, Nathan, dan Diksi yang tengah bermain biliar menatapku heran. Mungkin mereka juga menyadari jika tingkahku tidak biasa. 

"Lo enggak papa?" Tanya Kevin dengan stik ditangannya. Mengalihkan matanya dari bola warna-warni di hadapannya untuk menatapku. 

"Enggak papa, emang kenapa?" Jawabku balik bertanya, meninggalkan Vira dengan beralih ke sofa lain, lalu duduk disana. Ku tatap gelas anggur ku yang isinya masih tersisa setengah, meraihnya, dan menyesap isinya sedikit.

"Lo impoten?" 

Pertanyaan Diksi hampir membuatku menyemburkan anggur yang sedang aku minum, menatapnya tidak percaya. 

"Habis gue amatin elo udah kayak nggak doyan cewek." Terang Diksi tanpa melihat kearahku karena sibuk dengan stik dan bola warna warni di papan biliar. 

"Atau lo kena HIV?" Kali ini Nathan menatapku  curiga.

"Gila ya kalian! Temennya berhenti bikin dosa bukannya didukung malah mikir yang enggak-enggak!" 

"Bukan gimana, aneh aja tingkah lo tuh. Elo udah nggak doyan cewek sekarang?" Kata Kevin membela diri.

"Udah ah, terserah kalian mau mikir gimana." Tanggapku malas lalu menyesap anggur di gelasku hingga tandas. "Gue mau pulang." Kataku lagi lalu bangkit dari dudukku.

"Terus gue gimana?" Renggek Vira dengan logat manjanya yang membuatku mual.

"Main aja sama mereka." Jawabku acuh, menunjuk kearah mereka bertiga, sebelum akhirnya melangkah menjauh dari sana.

"Mau jadi kyai lo?!" Teriak  Kevin lagi, yang hanya aku balas dengan menggangkat satu tanganku keatas, dan terus berjalan menuju pintu keluar. 

*

Aku memacu porche hitamku keluar dari area parkir bar. Melesat cepat membelah jalanan yang sepi dengan kecepatan tinggi. Ku lirik jam di pergelangan tanganku, sekarang sudah jam 12:03.

Ku hela napas panjang, berusaha mengusir rasa jenuh dalam diriku. Otakku terus dipenuhi oleh nama Keyla, tentang penolakannya tadi siang, dan juga fakta yang tadi sore aku ketahui, tetang hutangnya yang sudah akan jatuh tempo besok.

Kenapa aku terus merasa gelisah seperti ini? Apa yang harus kulakukan? Kenapa aku harus peduli? Toh dia yang sudah menolakku. 

Ku ketuk-ketukan jariku di kemudi mobil, berusaha mengendalikan pikiranku yang sangat kacau sekarang. Ku injak pedal gasku semakin dalam, memacu mobilku semakin cepat, tanpa arah. 

Dan disinilah aku sekarang, di depan rumah munggil sederhana yang tampak rapi, terawat. 

Ya, pasti aku sudah gila! 

Aku menghela napas panjang. Kembali menatap rumah dihadapanku itu sekali lagi, dan memutuskan untuk menghidupkan mesin mobilku, berencana untuk pergi dari sana. Tapi yang kulakukan selanjutnya adalah kembali mematikan mesin mobilku, dan turun dari mobil dengan cepat. 

Persetan lah! Umpatku dalam hati, sebelum akhirnya melangkah mendekati pagar setinggi pingang yang mengelilingi rumah sederhana tersebut. 

Dan saat aku membukanya, ternyata tidak terkunci, membuatku melangkah masuk dengan mudah. Perlahan, aku menyusuri bagian dalam perkarangan rumahnya yang ditumbuhi oleh rumput dan bermacam-macam bunga. 

Gadis itu ternyata tidak hanya pintar dalam hal akademik saja, tapi juga cukup pintar mengatur rumahnya yang sederhana menjadi cukup enak untuk dilihat. 

Aku sudah mencari tahu tentang Keyla akhir-akhir ini. Ayahnya meninggal saat dia berusia 4 tahun, dan ibunya koma karena kecelakaan saat pulang kerja tahun lalu. Membuatnya tinggal sendirian, dan melewati hidup yang sulit di usianya yang masih muda. 

Awalnya aku hanya penasaran dengan kehidupan gadis yang selalu menghindar, bahkan menatapku tidak suka saat aku mendekatinya. Tapi semakin lama aku mengamati, Keyla menjadi semacam obsesi untukku. Ya, ini adalah pertama kalinya aku menghadapi gadis seperti Keyla, karena biasanya, tanpa perlu mengejarpun ,mereka sudah antre, menyodorkan diri kepadaku dengan suka rela. 

Aku mengamati bagian depan rumahnya yang remang-remang berkat lampu yang mengantung di teras. Bagian dalam rumahnya gelap, dan mataku tertarik dengan cahaya temaram di sisi lain rumahnya. Satu-satunya cahaya yang aku tangkap dari dalam rumahnya. 

Aku melangkah perlahan mendekati cahaya tersebut, berusaha tidak menimbulkan suara berisik, dari derap langkahku. Ya, sepertinya aku sudah benar-benar tidak waras, menyelinap ke rumah orang tengah malam seperti maling. Ini benar-benar tidak masuk akal untuk seorang Benedict, apa aku kerasukan? 

Bodo amat lah!

Ku lanjutkan langkahku dengan hati-hati, menghampiri jendela kaca yang terpasang di bagian depan, lalu mengintip ke dalam dari sana. 

"HUWAAA!!" 

Aku berteriak dan terjungkal kebelakang karena kaget. Tidak, tidak. Kami berteriak kencang bersama, aku dan Keyla yang ternyata tengah duduk di depan meja belajar yang menghadap ke jendela yang tengah aku intip. Dia pasti terkaget dengan kemunculanku yang tiba-tiba, dan aku yang juga sangat kaget saat langsung berkontak mata dengannya, spontan ikut berteriak saat Keyla menjerit. 

"Hey! Siapa itu?!" Teriaknya lagi dari dalam, terdengar gugup dan takut yang menjadi satu, disusul dengan terbukanya jendela kaca di hadapanku. 

Spontan Aku langung bangun, membersihkan pungungku dari tanah,  dan menayap Keyla yang kini sudah berdiri di depan jendela dengan sebuah kayu panjang di tangannya yang entah dia dapat dari mana. 

"Ini gue, Ben.." sahutku sedikit gugup, lalu melangkah maju agar Keyla bisa melihatku dengan jelas. Dan aku bisa melihat matanya membulat lebar

"Elo?" Dia terkaget saat melihatku. "Ngapain lo disini?"  Tanyanya Keyla lagi jelas tidak suka dengan keberadaaku. 

"Mmm.." aku bergumam tidak jelas, memberi jeda pada ucapanku sembari berpikir kata apa yang tepat untuk menjawab pertanyaan Keyla barusan. "Bertamu?" Jawabku sekenanya lebih mirip dengan pertanyaan dari pada peryataan. Ya, karena aku memang tidak memiliki alasan yang jelas, dan tidak ada waktu juga untuk memikirkan jawaban yang tepat. 

"Bertamu? Lo gila ya?!" Teriaknya marah, dan..

Brak! 

Dia menutup kembali jendela kamarnya dengan cara membantingnya dari dalam tepat di depan mukaku. 

Kutatap jendela kaca yang kini sudah tertutup rapat itu sekali, sebelum akhirnya menghembuskan napas berat, dan memutuskan untuk menjauh dari sana. 

Ya, Keyla benar, sepertinya aku memang sudah gila. Tidak, tidak, bukan sepertinya, tapi aku sudah sepenuhnya gila. Entah apa yang ada dalam otakku, datang ke rumah orang tengah malam begini. 

Memukul kepalaku yang sepertinya bermasalah akhir-akhir ini, aku hanya bisa menghela napas berat di sela langkahku menyusuri area rumah gadis itu yang jauh dari kata terang. 

Dia berhemat atau apa sih? Apa salahnya memasang lampu yang sedikit bercahaya? Runtukmu lagi dalam hati menatap lampu kecil yang bersinar kekuningan itu dengan tatapan sebal. Ya, aku berusaha mencari sesuatu yang bisa di salahkan sekarang, agar rasa kesal dalam diriku sedikit berkurang. 

Dan saat kakiku yang melangkag tanpa semangat sudah sampai bagian depan rumah, Pintu kayu itu terbuka, disusul munculnya Keyla disana.

Kemunculannya yang tiba-tiba itu hampir membuatku melompat saking kagetnya, beruntung aku bisa mengontrol diriku. Jika sampai aku terjungkal untuk kedua kalinya, pasti itu akan terlihat sangat konyol di mata gadis itu. 

"Lo nggak papa?" Tanya Keyla kemudian, membuat dahiku mengerut dalam menatapnya.

"Iya?" Jawabku balik bertanya tidak paham. Dan aku bisa mendengar Keyla mendengus kesal.

"Punggung lo." Jawabnya dengan nada enggan. "Baik-baik aja?" Tanya kayla lagi memastikan. 

Ah, ternyata dia mengkhawatirkan pungungku. 

"Nggak papa, kok. Gue rasa pungung gue masih dalam posisi normal." Gurauku sambil mengelus bagian pungungku yang sebenarnya sedikit terasa sakit. Sepertinya aku tadi menghantam pot bunga saat jatuh.

"Oh, yaudah. Sana pulang" Kata Keyla lagi, sebelum akhirnya kembali menutup pintu rumahnya. 

Udah? Gitu aja? 

Aku menatap pintu kayu yang kini sudah tertutup itu, lalu tersenyum. Gadis itu sangat lucu. 

Dengan tawa kecil aku kembali melangkah menyusuri perkarangan rumahnya, keluar dari pagar. Kepalaku menoleh sekali lagi untuk menatap rumah kecil di belakangku itu, dan mengamatintq sebentar, sebelum akhirnya berjalan menuju mobilku yang terparkir tidak jauh dari sana. 

Jujur saja aku sangat ingin  bersama Keyla sekarang. Tapi aku harus bersabar malam ini. Bukan begini cara mainnya. Dan aku sudah memiliki rencana untuk mendapatkannya. 

TBC.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • PERNIKAHAN ANAK SMA   DUAPULUH

    Sekarang Keyla dan Benedict duduk di ruang makan. Duduk berhadapan di meja makan apartement Benedict yang sudah di penuhi makanan. Berbagai macam masakan tersaji di meja berbahan kaca tersebut, entah dari mana asal makanan sebanyak ini, Keyla tidak tahu. Yang pasti Ben membelinya atau apa. Keyla menyendok makan di piringnya. Tidak langsung melahap makananya, gadis itu malah berhenti dan menatap Benedict yang kini sibuk dengan makanan yang berada di piringnya. Mungkin cowok itu merasa jika Keyla tengah menatapnya, mengangkat kepalanya, Benedict bertanya."Kenapa? Nggak suka ya?" Cowok itu ikut menghentikan acara makannya dan menegakkan posisi duduknya untuk menatap Keyla. "Enggak kok." Keyla menggelengkan kepalanya cepat dan salah tingkah, "ini enak." Tambah gadis itu lagi, kali ini merasa bersalah. "Terus kenapa nggak makan?" Tanya Ben lagi dengan kening mengerut, menatap gadis di hadapannya itu dengan netranya yang tajam. "Im just.." jawab Keyla terputus, bingung harus bagaimana

  • PERNIKAHAN ANAK SMA   SEMBILAN BELAS

    "Gue mau ganti baju dulu." Menunjukkan ke arah kamar yang dia tempati, Keyla menatap Ben yang kini mengangguk. "Oke," kata Benedict setuju. "Jangan lama-lama ya, kita perlu sarapan, elo pasti laper kan."Gantian, kali ini Keyla yang menganggukkan kepala kepada cowok itu untuk menanggapi ucapannya. Berjalan meninggalkan area kamar mandi, Keyla melintasi kamar Benedict dengan langkah cepat. Melirik sekilas ke arah ranjang yang tampak berantakan tanpa dengan sprei putih yang tadi dia lihat kini sudah menghilang. Keyla memilih untuk mengabaikannya dan masuk kedalam kamar melalui pintu yang menghubungkan antara kamar Ben dan kamarnya. Ah, sial. Akhirnya dia benar-benar sendirian sekarang. Batin Keyla kesenangan saat dirinya kini bisa menjauh dari Benedict. Berjalan menghampiri ranjang yang dia tidak dia tiduri semalam, gadis itu menghempaskan tubuhnya di sana. Sangat nyaman. Batin gadis itu sekali lagi, membenamkan kepalanya ke bantal dan memejamkan matanya. Ini seperti di dunia mimp

  • PERNIKAHAN ANAK SMA   DELAPAN BELAS

    Masih menggunakan jubah mandi, Keyla duduk di kursi kecil yang berada di depan wastafel. Menghadap ke kaca besar dengan Benedict di belakangnya. Cowok yang juga masih menggenakan jubah mandi sepertinya itu bersikeras untuk membantunya mengeringkan rambut Keyla dengan hairdryer. "Gue bisa sendiri." Kata-kata itu entah sudah terasa sangat tidak asing di antara mereka, dan entah berapa puluh Keyla mengatakannya. Dan begitu pula dengan Benedict, cowok keras kepala itu terus memaksakan kehendak, dan melakukan apapun yang dia suka. Termasuk mengeringkan rambut Keyla. "Diem aja, biar gue yang kerja." Kata Ben santai, dan seolah pekerja profesional mulai mengeringkan rambut Keyla. Membuat gadis itu menghela napas panjang. Suara bising dari hairdryer yang menyala memenuhi indra penndengaran mereka. "Elo ini vampir atau apasih." Gumam Keyla saat mengamati bayangannya di cermin, membuat Ben yang tidak paham dengan arah pembicaraan gadis di hadapannya itu menatap ke depan, mereka sa

  • PERNIKAHAN ANAK SMA   TUJUH BELAS

    Mendengar jeritan Keyla, membuat Benenict yang tengah sibuk dengan sprei bernoda darah itu tersentak kaget saking terkejutnya. Melempar gulungan kain di tangannya itu ke keranjang tempat pakaian kotor, sebelum akhirnya melesat cepat, berlari menuju kamar mandi tempat dimanaya gadis itu tengah berada. Apa yang terjadi? Di lihat dari cara gadis itu berteriak, sepertinya itu adalah sesuatu yang benar-benar buruk, Karena Ben tahu jika Keyla bukan gadis yang suka membesar-besarkan masalah. Memikirkan hal itu membuat jantung Benedict berdegup kencang, meraih handle pintu kamar mandi, cowok itu dengan cepat pintu kaca tersebut dan masuk kedalam. "What happened?" Tanya Benedict saat melangkah masuk ke dalam kamar mandi, mengamati Keyla yang tengah berdiri di dekat bath up. Cowok itu cukup terkejut saat matanya menemukan Keyla sudah telanjang bulat. Suara Benedict hanya membuat Keyla bertambah histeris. Gadis itu spontan berusaha menutupi dada dan pangkal pahanya dengan kedua tangannya. "

  • PERNIKAHAN ANAK SMA   ENAM BELAS

    Mematuhi perintah Benedict, Keyla hanya menunggu di ranjang sementara cowok itu menghilang entah kemana. Menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang, gadis itu memutuskan untuk mengamati ke sekeliling kamar. Ruangan tempat gadis itu berada sekarang memiliki nuansa hitam putih pada dindingnya dan juga furniture yang tertata rapi si setiap sudutnya. Tempat tidur king size putih, lalu ada sofa hitam tertata di dekat dinding kaca dengan gorden besar berwarna putih juga. Keyla menghela napas saat mengagumi Kamar pribadi Ben yang sangat mewah itu. Entah mengapa rasanya mereka benar-benar hidup di dunia yang berbeda. Dan saat matanya sudah lelah berkeliling, Keyla menundukkan kepalanya, jantungnya seolah berhenti berdetak saat indra penglihatannya itu menemukan noda merah darah pada bagian atas ranjang Ben yang di lapisi oleh sprei berwarna putih. Ya, Tuhan.. jerit Keyla dalam hati dan meraih salau satu bantal yang berada di sampingnya untuk menutupi noda merah tersebut dengan cepat. Wajahn

  • PERNIKAHAN ANAK SMA   LIMA BELAS

    Jam digital yang terletak di atas nakas samping ranjang menunjuk ke angka delapan lewat empat puluh enam menit saat Benedict keluar dari pintu kamar mandi yang terletak di sudut kamarnya. Berbalut handuk yang menutupi bagain bawah tubuhnya, rambut cowok itu masih terlihat basah. Dengan pungung yang terlihat merah-merah bekas cakaran, Benedict Berjalan dengan hati-hati, tidak ingin langkahnya membuat bangun gadis yang masih terlelap di atas ranjang. Benedict menghampiri lemari kaca besar dan meraih satu calana panjang dari tumpukan pakaian tidurnya, memakainya cepat dan melemparkan handuk basah di tangannya ke keranjang baju kotor yang tersedia. Senyum samar terukir di sudut bibirnya saat matanya menatap lagi ke arah Keyla yang masih terlelap di atas ranjang, gadis itu bergelung di bawah selimut tebal seperti bayi, tampak begitu polos dan menggoda di mata Ben. Dia berjalan mendekat lalu duduk di sisi ranjang dengan hati-hati, menundukkan kepalanya dan memberi kecupan lembut di pipi

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status