แชร์

Bab 169

ผู้เขียน: Piemar
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-10-07 21:17:50

Leon segera melipat surat yang baru saja ia baca dan menyimpannya ke dalam saku balik jubahnya.

"Yang Mulia, apa ada hal penting dari istana?"

Lord Rowan bertanya karena dilanda penasaran. Apalagi setelah melihat raut wajah pangeran yang terlihat berubah tegang usai membaca surat tersebut.

Leon segera menormalkan perasaannya. Ia pun menjawab dengan tenang. "Ayahanda memintaku segera pulang. Ada banyak urusan istana yang harus aku segera selesaikan."

Lord Rowan mengangguk, tak ingin bertanya lebih lanjut kendati sebetulnya belum merasa puas. Leon tidak menyebutkan urusan istana secara spesifik.

Sementara itu Leon khawatir andaikata Rowan mengubah keputusannya dengan menahan Ana di sana. Ia akan membawa Ana bagaimanapun caranya.

Tanpa banyak kata Leon langsung memerintahkan Sir Juan dan para pasukannya untuk bersiap-siap menempuh perjalanan menuju Ravensel siang itu.

Sebelum pergi, Leon dan Ana berpamitan pada Lord Rowan dan Lord Cedric.

Ana memeluk ayahnya dengan erat, air matanya m
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (2)
goodnovel comment avatar
Endah Wati
jangan pisahkan ana dan Leon,ga ada pokoknya Clarissa nanti jadi selir atau jadi bagian keluarga Revenzel, tidak ada pokoknya, jauh2 dari ana Leon pokoknya, ratu Dajjal iblis sarapina modar pokoknya, modar.....
goodnovel comment avatar
Dimas rengga permana Firmansyah
thor jgn aneh aneh yah. kasihan ana selalu menderita
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • PUTRI YANG TERTUKAR   Bab 456

    “Inez, menunduk!” Inez menunduk begitu saja ketika mendengar suara seseorang yang berteriak. Ia sempat menoleh ke arah sosok itu. Pandangannya mengabur. Ia tidak bisa melihat jelas siapakah dia.Naasnya, babi hutan datang lalu menyeruduk. Namun sosok pria bertubuh jangkung menghantamnya dari samping dengan sangat keras. Babi hutan itu terlempar ke pasir sembari mengeluarkan suara melengking karena marah. Sementara itu Inez terhempas ke belakang. Napasnya terhenti sesaat sebelum suara itu menyusul. “Inez!” teriaknya dengan keras. Burung camar memekik kaget, berterbangan ke langit. Inez mengerjap saat mendengar suara familiar itu. Wajahnya kini terlihat jelas. “Pangeran Evander,” gumam Inez dengan mata yang berkaca-kaca. Suaranya pecah diiringi tangisan tertahan—yang selama ini ia sembunyikan dari siapapun.Inez yang dingin kini menjelma seperti seorang gadis seusianya. Gadis muda yang sedang menangis haru melihat sosok pria yang selama ini ia hindari kehadirannya, muncul dalam kea

  • PUTRI YANG TERTUKAR   Bab 455

    Di pesisir pantai yang sunyi, seorang pria berusaha merangkak menuju garis air. Ombak kecil menjilat pergelangan kakinya.Tubuhnya basah kuyup dan penuh luka. Namun kesadarannya masih utuh. Satu kata yang terucap di bibirnya, nyaris tak terdengar. “In … ez”Evander memanggil nama Inez berulang kali kendati kesadarannya sempat hilang. Ia memukul pasir putih dengan frustrasi. “Inez,” lirihnya dengan perasaan yang sesak. Kepalanya terkulai di atas pasir. Tak peduli butiran pasir kasar menempel di pipinya. Padahal sebelumnya ia masih bisa menerjang badai. Ketika Inez jatuh tenggelam ke dalam air laut. Ia sempat menyelam dan menemukannya. Bahkan ia sempat meraih tubuhnya untuk menaiki sekoci kayu. Naasnya, gelombang badai yang dahsyat membuat mereka terombang-ambing di tengah lautan dan berakhir terdampar di pantai asing yang sunyi.Evander hampir menyerah. Namun suara burung camar yang memekik menyadarkannya. “Tidak boleh menyerah. Aku harus menemukannya. Inez, aku akan mencari hingga

  • PUTRI YANG TERTUKAR   Bab 454

    Elia segera diboyong menuju kamarnya di paviliun sayap selatan. Langkah para pelayan tergesa, panik bercampur isak tertahan. Tubuh Elia terkulai lemah, wajahnya pucat.Tabib istana sudah menunggu.Saat Elia dibaringkan di ranjang, pria tua itu bergerak cepat. Ia langsung memeriksa denyut nadinya, membuka kelopak matanya, lalu meracik ramuan dengan tangan yang terlatih meskipun tegang. Aroma pahit dari cairan obat segera memenuhi kamar wanita itu.“Bagaimana keadaannya?” tanya Edric, berdiri di sisi ranjang. Suaranya rendah, penuh kecemasan.“Ratu mengalami syok berat, Yang Mulia,” jawab tabib sambil meneteskan ramuan ke bibir Elia. “Kehilangan kesadaran ini dipicu oleh guncangan emosi yang mendadak. Tubuhnya lemah, napasnya tidak stabil.”Edric mengatupkan rahang. Tangannya menggenggam jemari Elia yang dingin. “Pastikan ia selamat,” katanya lirih, tegas. “Apa pun yang kau butuhkan.”Tabib mengangguk. “Ia harus beristirahat total. Tidak boleh ada kabar buruk yang sampai kepadanya, seti

  • PUTRI YANG TERTUKAR   Bab 453

    Istana Ravensel mendadak gempar karena kedatangan seorang perwira pelabuhan secara tiba-tiba pagi itu.Leon menyambutnya dengan wajah tegang. “Apa yang ingin kausampaikan?” nada suaranya tegas tapi bergetar. Sang perwira berlutut sembari menundukan wajahnya.“Ini ditemukan terdampar di pesisir barat,” Pria itu meletakan sebilah pedang di atas meja raja. Gagangnya tergores, tapi lambang mahkota masih utuh. Pedang Ironfall adalah pedang milik Evander.Bertepatan ia meletakan pedang, Edric baru saja tiba di sana. Wajahnya dingin. Ia langsung bertanya dengan suara yang pelan tapi penuh penekanan. “Apa maksudmu dengan pedang ini?”Padahal tanpa perlu dijelaskan, sebuah pedang yang ditemukan tanpa sang empunya berarti memang pemiliknya dianggap tidak selamat. Sang perwira mengangkat pandangan hingga tatapannya bertemu dengan manik seorang ayah yang tengah mengkhawatirkan putranya yang tidak pulang. “Yang Mulia, Paduka Raja. Kapal ekspedisi menuju perairan Selvara tidak kembali.”Edric me

  • PUTRI YANG TERTUKAR   Bab 452

    Suasana kapal berubah menjadi chaos. Kapal terjungkal menyebabkan kepanikan yang tak bisa dihindari. Para awak kapal berusaha menyelamatkan diri masing-masing. Tak lama kemudian bunyi keras lainnya menyusul. Kapal terbelah menjadi dua. Teriakan histeris berdengung.Tanpa ragu, Evander menjatuhkan diri, mengulurkan tangan.“Inez, pegang tanganku!”Jari-jari mereka hampir bersentuhan. Namun kapal berguncang lebih besar dari tadi! Suara petir dan hujan badai terdengar menggema seperti monster yang berusaha menelan kapal. Ketika kapal terbelah, Inez terlempar lebih dulu. Tubuhnya menghantam papan licin lalu terseret ke tepi geladak oleh air yang mengamuk. Napasnya terasa sesak. Jeritannya tertahan. Evander menegang, matanya terbelalak saat tangannya meraih apapun yang bisa digenggamnya. “Inez, bertahanlah!” teriaknya parau, air mata jatuh satu per satu di pipinya bercampur dengan air asin. “Inez! Tidak! Jangan!” teriaknya lagi. Pangeran itu menerjang tanpa membuang waktu. Tak peduli

  • PUTRI YANG TERTUKAR   Bab 451

    Seorang pria tengah duduk di atas singgasana dengan menegak anggur. Di pangkuannya seorang wanita seksi duduk anggun dengan gaun yang setengah terbuka. “Mau lagi anggurnya Yang Mulia?” tawar wanita bertubuh molek itu dengan suara yang selembut beledu. “Tambahkan lagi!” katanya dengan seringai puas. Wanita itu lalu turun dari pangkuannya. Namun sebelum turun dia mengambil cangkir piala dari tangan pria berwajah maskulin itu dengan mata yang berkedip genit sembari menekan sedikit dadanya yang montok ke dada bidang pria itu. “Kau tak sabar, kelinci,” beonya dengan mata yang mengerling nakal. Suara langkah kaki menggema. Pria yang berwajah serupa dengan pria yang duduk itu berbicara dengan suara lantang. “Kakakku, kau memang genius. Kini kapal Ravensel sudah terjebak di koordinat yang kita jebak,” Pria itu berdiri tegak. Senyum culas terbit di wajahnya. “Aku memang jenius. Mereka pasti terjebak di sana dan pulang hanya membawa nama, Thorian,”Thorian, sang adik mengangguk mantap. “K

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status