로그인😏😏 hati2 mamah
“Tapi kenapa kau ingin tahu soal Lea sampai harus bertanya kepada Stefan?” Ra kembali pada Lila. Dia tidak suka ibunya terkesan menjadi penguntit kehidupan pribadinya.“Tentu saja karena aku ingin tahu apakah anakku berada dalam jalur yang lurus, dan benar-benar berhubungan dengan wanita.”“Aku normal, Mom. Oh My God!” Ra menepuk meja dengan jengkel. “Ya, kini aku tahu kau normal. Apa yang aku lihat di kamar tadi sudah membuktikannya.” Senyum Lila lebar sempurna. Pertanda puas dan lega.Lea yang sejak tadi minim reaksi, memekik kecil, sambil menutup wajahnya dengan malu. Teringat apa yang mereka lakukan tadi. Tidak banyak, tapi bukan juga kegiatan yang harus dipamerkan, apalagi di hadapan ibu Ra.“Berapa lama kau ada disana dan mengamati kami?” Ra bertanya dengan bibir terkatup.“Hmm… Aku sampai saat kau mengatakan sesuatu tentang melati?”Lea kembali merintih. Lea tidak hanya ingin terbenam masuk ke dalam tanah, tapi terbang ke gunung tinggi untuk menyepi, agar bisa menghilangkan ras
Ra melonjak bangun, sambil memandang sekitar.“Apa?!” Lea yang terkejut akibat gerakan tiba-tiba dari Ra, ikut bangun dengan bingung.“Mom?!” Ra berseru menatap pintu kamar dengan mata melotot. Kejutan ini lebih dari semua kejutan yang pernah dia terima seumur hidup. Ini mungkin kerugian memiliki kamar yang lebar dan luas, Ra sama sekali tidak menyadari ada seseorang yang berdiri di depan kamar Lea, bahkan tidak menyadari saat ibunya membuka pintu. Ibunya memiliki semua kunci ruangan di rumah itu memang.Dan kini Ra mengerti kenapa ibunya bersuara pelan saat menelpon. Sejak awal percakapan ibunya sudah ada di depan pintu, tapi memilih diam dan mengamati.Ra sedikit lupa jika ibunya yang ini terkadang memang bisa sangat unik.Lila masih berdiri di pintu kamar dengan ponsel di telinganya. Dia tersenyum kecil menatap Lea yang balik memandangnya.Otak Lea berjalan lambat, sangat lambat. Apalagi dia belum mencicipi kopi sama sekali. Beberapa detik berlalu, dia hanya menatap Lila dan Ra ber
“Apa aku tertidur?” Lea mewaraskan diri.“Aku rasa kau terlalu lelah.” Ra mengangguk.Lea mengangguk setuju. Dia menangis hampir sepanjang jalan menuju Sussex kemarin, Lea tak ingat lagi bagaimana dia tertidur, yang jelas keadaan kepalanya sudah lebih ringan sekarang.Ra meraih dagu Lea, meminta agar Lea memandangnya. Dia belum puas menatap wajah Lea sepagian ini.“Jangan bersembunyi, aku ingin melihatnya.”“Tapi…” Lea menggigit bibir. Dia tak tahan jika harus memandang Ra terus menerus. “Jangan lakukan itu…” desah Ra.“Melakukan apa?”“Itu tadi. Menggigit bibir.” Lea terlalu menggiurkan saat seperti itu.“Oh.. Why?”“Karena pose itu membuatku ingin melupakan janji yang tadi malam. Dan saat ini pagi, akan lebih mudah, karena…”Lea menutup bibir Ra. “Aku mengerti! Tidak usah dijelaskan!” Lea memerah. Dia tidak sepolos itu.Kini Lea hanya bisa memandang sampai ke leher Ra saja. Tak berani lebih kebawah lagi. Meski Ra masih berpakaian lengkap, bukan berarti tidak ada kemungkinan Lea bisa
“Dengarkan dulu!” Lea mencoba menenangkan karena bisa melihat bagaimana mata Ra seolah menyala karena girang.“Aku ingin kita berjalan pelan. Tidak terburu-buru, karena ini sedikit membuatku... kewalahan.”“Ini apa? Apa yang kau maksud dengan ‘ini’?”“Maksudku aku ingin kita….”Lea mengalihkan pandangan, tak berani meneruskan kalimat. Permintaannya ini akan menjadi aneh, mengingat mereka bukan lagi anak kecil. Tapi Lea benar-benar tidak siap jika hubungan mereka harus bergerak secepat itu.“Oh … Wow! Apa yang kau pikirkan? Kenapa wajahmu memerah parah?”Awalnya Ra memang tidak tahu apa yang dimaksud ‘ini’ oleh Lea, tapi melihatnya perlahan berubah merah, memberi Ra petunjuk apa yang ingin Lea katakan. “Apa yang kau maksud dengan ‘ini’, sampai membuatmu malu?” goda Ra, berpura-pura tidak tahu.“Lupakan! Aku tak ingin membahasnya!” Lea mundur dengan sangat cepat, tidak kuasa lagi menahan malu.“Baiklah. Karena kau tidak jadi mengatakannya, aku saja berarti. Aku menginginkan yang cepat!”
“Tidak!” Mata Lea yang telah memandang sembarang tempat, bergerak semakin cepat. “Apanya yang tidak? Tidak karena kau menolakku, atau tidak karena kau tak butuh bujukan lagi? Dua hal ini sangat berbeda.”“Pokoknya tidak!”Lea berusaha berbalik menghindari pertanyaan, tapi Ra menangkap bahunya. Memastikan Lea tak bisa bersembunyi.“Aku tidak mengerti arti jawaban itu, kau harus menjelaskan.” Ra tak akan menerima jawaban setengah hati seperti itu.“Tidak ada yang perlu dijelaskan!”“Ada, Lea. Jawaban itu tidak berarti apa-apa bagiku. Aku masih tidak tahu apa kau menginginkan aku atau tidak.”Mata Lea kali ini memandang kancing kemeja kedua Ra, sementara tangannya saling meremas karena gelisah.“Aku akan butuh jawaban, Lea. Kau tidak akan menjadi kejam dengan membuatku menunggu seumur hidup dalam keadaan seperti ini bukan? Terkadang kau hanya harus mengaku, maka hidupmu akan menjadi lebih mudah,” bujuk Ra.“Mengakui apa?”“Mengakui kalau kau cemburu. Mengakui jika kau marah melihatku den
Tangis Lea sudah mulai berhenti saat mereka mencapai rumah. Masih tersisa sedikit isakan tapi paling tidak air matanya lebih jarang muncul.Ra ingin mengangkat Lea ke kamarnya, tapi akan berlebihan. Dia hanya bisa menahan diri, sementara membantunya berjalan masuk ke rumah.Osiris yang ada di ruang tengah, sudah ingin menyahut bertanya, tapi Ra menggeleng. Bukan saatnya dia banyak bicara. Kali ini Osiris bertenggang rasa, melihat keadaan Lea yang payah.Ra membantu Lea membuka mantel begitu mereka sampai di kamarnya, sementara Lea membuka sepatu, lalu menjatuhkan diri ke ranjang begitu saja.Kepalanya terasa bagai terbelah karena mengeluarkan begitu banyak air mata.“Aku akan mengambil minum,” kata Ra.Tapi tangan Lea menyambar lengan jas Ra yang ada di depan matanya. Meski itu adalah gerakan tangannya sendiri, Lea merasa heran. Tubuhnya sekali lagi dengan lancang bergerak tanpa meminta persetujuan otaknya.“In... Ini..” Lea tergagap saat ingin menjelaskan, karena tak tahu harus berala






