LOGIN“Suara apa itu?” tanya Kael seraya menyipitkan matanya. “Kau menjerit seperti seorang gadis yang baru pertama kali melihat pria telanjang, Elian!”
Jantung Emily terasa berhenti berdetak. Dia pun segera membekap mulutnya sendiri, lalu memaksa sebuah batuk hebat keluar dari tenggorokannya.
Dia terbatuk-batuk hingga wajahnya memerah, sebuah reaksi fisik yang sebenarnya dipicu oleh kepanikan luar biasa.
“Maaf, Tuan Duke,” kata Emily setelah berhasil mengendalikan batuk buatannya.
Dia terus berusaha merendahkan suaranya hingga mencapai nada serak yang paling maskulin yang bisa ia buat.
“Tenggorokan saya ... saya rasa suara saya sedang pecah, Tuan. Pubertas saya sedikit terlambat dibandingkan pemuda lainnya. Saya sendiri sering terkejut dengan nada suara saya yang terkadang melompat tidak beraturan.”
Kael hanya mendengus seraya menatap Emily dari atas ke bawah, tengah mempelajari siluet pelayan barunya yang tampak ringkih.
Ditatap seperti itu, Emily sontak menahan napasnya dan memastikan bebat kain di dadanya tidak bergeser sedikit pun. Dalam hatinya, dia bersyukur uap air di ruangan ini cukup tebal untuk mengaburkan detail tubuhnya.
“Pubertas yang terlambat?” Kael mendengus pelan, sebuah suara yang terdengar lebih seperti ancaman daripada tawa. “Ambil spons itu. Gosok punggungku.”
Lutut Emily terasa lemas mendengar titah itu. Dia akhirnya melangkah maju dengan ragu. Dia kemudian berlutut di tepi bak mandi, mengambil spons laut yang lembut dan sabun beraroma rempah. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia mulai menyentuh kulit pundak Kael.
Sentuhan itu terasa seperti sengatan listrik bagi Emily. Kulit Kael terasa keras, panas, dan sangat jantan.
Otot-otot pria itu terasa seperti baja di bawah ujung jemarinya. Emily berusaha menjaga jarak sejauh mungkin, hanya ujung jarinya yang bekerja, namun Kael tampaknya tidak puas.
“Jangan ragu seperti itu, Elian. Kau sedang menggosok punggung seorang prajurit, bukan patung porselen yang mudah pecah,” perintah Kael tanpa menoleh.
Emily kemudian menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. Dia pun memberikan tekanan lebih pada spons tersebut, bergerak naik turun di sepanjang tulang belikat Kael yang perkasa.
Namun, getaran di tangannya tidak bisa disembunyikan. Getaran itu merambat melalui spons, sampai ke indra peraba sang Duke.
Tiba-tiba, Kael menangkap pergelangan tangan Emily dengan gerakan secepat kilat.
Cengkeramannya begitu kuat, mengunci tangan kecil Emily tepat di atas pundaknya. Kael sedikit memutar kepalanya, lalu melirik Emily dengan tatapan yang bisa membekukan darah siapa pun.
“Kenapa kau takut padaku?” tanya Kael dengan nada mengancam yang rendah. “Aku tidak akan membunuhmu hanya karena kau gemetar saat melayaniku.”
Emily terpaku mendengar ucapan Kael barusan. “Maaf, Tuan.”
“Aku tidak akan membunuh pria yang melayaniku dengan benar,” lanjut Kael dengan suara yang kini terdengar lebih tajam, seperti mata pisau yang baru diasah.
“Kecuali jika kau sebenarnya adalah seorang perempuan. Jika itu benar, maka aku akan menebas tanganmu saat ini juga karena sudah berani menyentuh tubuhku!”
Tulang Emily terasa dingin usai mendengar kalimat terakhir yang keluar dari mulut tuannya itu. Dia tahu Kael tidak sedang menggertak.
Reputasi Duke Ravenshire sebagai pembenci wanita bukan sekadar dongeng pengantar tidur. Di kastil ini, keberadaan wanita adalah dosa yang hanya bisa ditebus dengan nyawa.
“Sa-saya adalah pria, Tuan Duke,” ucap Emily terbata-bata.
“Saya hanya ... saya hanya merasa terintimidasi oleh kehebatan Anda. Karena sebenarnya saya belum pernah melayani bangsawan setinggi Anda sebelumnya.”
Kael menatapnya beberapa detik lebih lama sebelum perlahan melepaskan cengkeramannya. “Lanjutkan,” perintahnya singkat.
Emily kembali bergerak, namun matanya secara tidak sengaja beralih ke meja kecil dari kayu ek yang terletak di samping bak mandi. Di sana, di atas tumpukan dokumen resmi kerajaan yang sedikit basah karena uap, terdapat sebuah gulungan kertas yang terbuka.
Napas Emily tercekat bahkan spons di tangannya hampir terjatuh ke dalam air.
Di atas kertas itu, tergambar dengan jelas tato lambang keluarga Dawson, sebuah perisai dengan sayap burung rajawali yang megah.
Di bawahnya, tertulis daftar buronan tingkat tinggi dengan nama ayahnya, Marquis Dawson, berada di urutan paling atas.
Ada catatan kaki dengan tulisan tangan yang tajam dan tegas: 'Tangkap hidup atau mati. Habisi seluruh keturunannya tanpa sisa.'
Emily mengenali tulisan tangan itu. Itu adalah tulisan tangan Kael.
Pria yang sedang ia gosok punggungnya ini, pria yang saat ini berada hanya beberapa sentimeter, adalah algojo yang dikirim Raja untuk memusnahkan seluruh garis keturunannya.
Kael adalah orang yang paling aktif memburu keluarganya, orang yang paling berambisi melihat kepalanya dipenggal di depan alun-alun kota.
Dunia seolah berputar bagi Emily. Dia dipaksa melayani pria yang setiap malam bermimpi untuk membunuhnya. Setiap kali dia menyentuh kulit Kael, dia sebenarnya sedang menyentuh kematiannya sendiri.
Emily berusaha keras untuk tidak menangis. Dia harus bertahan. Dia harus tetap menjadi Elian, si pelayan remaja yang canggung dan tidak berguna, sampai ia bisa menemukan jalan untuk membersihkan nama ayahnya atau melarikan diri dari kerajaan ini.
Setelah sesi mandi yang terasa seperti selamanya itu berakhir, Kael berdiri dan melangkah keluar dari bak mandi. Emily dengan sigap menyampirkan jubah mandi sutra ke bahu pria itu, matanya tetap menunduk, tidak berani melihat wajah Kael lagi.
“Kau boleh pergi, Elian,” ucap Kael dingin sambil berjalan menuju ruang ganti. “Besok pagi, siapkan pakaian berburuku. Aku akan pergi ke perbatasan untuk menindaklanjuti laporan tentang tikus-tikus Dawson.”
Emily membungkuk dalam-dalam dengan tangan terkepal kuat di samping tubuhnya hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangan.
Dia menunggu sampai suara langkah kaki Kael menghilang di balik pintu kayu yang berat sebelum dia membiarkan dirinya terduduk lemas di lantai marmer yang basah.
Uap di ruangan itu masih terasa sesak, namun ketakutan di hatinya jauh lebih mencekik.
Emily menatap bayangannya yang buram di genangan air lantai, bayangan seorang gadis yang kini terjebak di sarang serigala paling berbahaya di seluruh negeri.
Dia membayangkan jika Kael melihat daftar buronan itu dan kemudian melihat wajahnya dengan lebih teliti. Satu saja kesalahan dalam penyamarannya, dan
“Bagaimana jika dia tahu aku adalah anak dari Marquis Dawson? Dia pasti akan membunuhku saat itu juga.”
Udara di dalam gua terasa membeku, seolah-olah dinginnya batu meresap langsung ke dalam sumsum tulang.Di luar, badai salju menderu-deru, menutup mulut gua dengan tirai putih yang tebal.Satu api unggun kecil di tengah ruangan hanya menyisakan bara merah yang lemah, memberikan cahaya remang yang tidak cukup untuk mengusir kegelapan di sudut-sudut gua.Para prajurit tidur dalam barisan yang rapat di sisi lain gua, saling berbagi kehangatan dari tubuh masing-masing.Namun, sebagai pelayan pribadi, Emily tidak memiliki kemewahan untuk bergabung dengan mereka.“Elian. Kemari,” ucap Kael dengan suara beratnya.Emily yang sedang mencoba menggosok kedua telapak tangannya yang membiru, menoleh dengan ragu.“Suhu di sini bisa membunuhmu dalam satu jam jika kau tidur sendirian di pojok itu,” ucap Kael tanpa membuka mata. “Tidur di sini. Kita harus berbagi panas tubuh agar tidak membeku sebelum pagi.”Emily menelan ludah. “Tuan Duke, saya ... saya bisa tidur di dekat api unggun. Saya tidak ingin
Malam telah tiba.“Cepat ikat kembali peti-peti itu! Kita harus segera mencari tempat berteduh sebelum badai ini menutup jalur!” teriakan Komandan Penjaga memecah suara angin.Emily bergegas menghampiri kuda cokelatnya yang membawa pasokan senjata cadangan. Tangannya yang masih kaku akibat kedinginan mencoba menarik tali pengikat yang mulai membeku.Jalur yang mereka lalui kini menjadi sangat berbahaya; sisi kanan adalah dinding tebing hitam yang tegak lurus, sementara sisi kiri adalah jurang dalam yang tertutup kabut dan salju.Tiba-tiba, kuda logistik di depan Emily meringkik panik. Tanah lumpur yang bercampur salju di bawah kaki hewan itu amblas. Kuda itu tergelincir, kaki belakangnya menggantung di udara.“Tunggu! Jangan jatuh!” teriak Emily tanpa pikir panjang.Ia lalu melompat dari kudanya dan menerjang maju, mencoba mencengkeram tali kekang kuda yang tergelincir itu agar tidak terseret jatuh ke jurang.Namun, berat beban peti senjata dan kekuatan tarikan kuda yang panik justru
“Kenapa diam saja?” ucap Kael yang terdengar sangat datar dan tidak sabar. “Potong kulitnya dari bagian persendian kaki belakang. Tarik ke bawah.”Emily menelan ludahnya sambil berusaha menahan rasa mual yang mendesak di tenggorokannya.Ia lalu memposisikan mata pisau di atas kulit rusa yang masih hangat. Saat logam tajam itu menyobek lapisan kulit luar, suara robekan jaringan tubuh hewan itu terdengar nyata di telinganya.Emily memejamkan mata sejenak, sementara jemarinya yang pucat kini mulai berlumuran cairan merah yang lengket.Lucian, yang berdiri tak jauh dari sana sambil memegang nampan kayu kosong, menatap Emily dengan tatapan iba.Ia tahu Emily adalah seorang wanita yang tidak pernah menyentuh bangkai seumur hidupnya. Lucian ingin sekali merebut pisau itu dan menyelesaikannya dalam sekejap, namun ia sadar bahwa Kael sedang mencari alasan untuk menghukum mereka lebih berat.Dengan langkah pelan, Lucian mendekat seolah-olah ingin memberikan nampan tersebut kepada Emily agar dag
Selama perjalanan yang melelahkan, mereka tak kunjung menemukan makanan yang bisa mereka makan.Perut Emily melilit perih, rasa lapar mulai mengikis konsentrasinya, namun ketegangan di sekitarnya jauh lebih menyiksa daripada rasa lapar itu sendiri.Di depannya, Duke Kael memacu kudanya dengan pelan, punggungnya tegak lurus, menolak untuk menunjukkan kelelahan sedikit pun.Di punggung Kael tersampir busur besar yang terbuat dari kayu hitam yang diperkuat dengan lempengan besi di bagian tengahnya. Emily menatap busur itu dengan perasaan ngeri.Ia tahu seberapa besar tenaga yang dibutuhkan untuk menarik tali busur sekuat itu, dan ia tahu seberapa mematikan akurasi sang Duke.Tiba-tiba, Kael mengangkat tangannya. Pasukan di belakangnya berhenti seketika tanpa suara. Kael turun dari kuda, dia bergerak seperti seringan kucing hutan meski ia mengenakan zirah besi.Ia mengambil busur besarnya, memasang anak panah dengan ujung perak yang tajam, dan mulai membidik ke arah semak belukar di kejau
Kegelapan di Hutan Obsidian tidak seperti kegelapan di pinggiran kota. Di sini, cahaya bulan seolah tertelan oleh tajamnya dahan-dahan pohon hitam yang saling mengunci di atas kepala.Emily duduk meringkuk di atas akar pohon yang keras sambil memeluk lututnya erat-erat. Di sekelilingnya, para prajurit Duke Kael tertidur dengan tangan tetap menggenggam hulu pedang, sementara api unggun kecil di tengah perkemahan hanya memberikan kehangatan yang minim.Auuuuuuu—Lolongan serigala membelah kesunyian malam, terdengar sangat dekat dari balik semak berduri di sisi barat.Tubuh Emily tersentak hebat. Suara itu bukan sekadar suara binatang baginya; itu adalah suara yang membangkitkan memori paling kelam dalam hidupnya.Ia seolah kembali ke malam di mana ibunya berteriak kesakitan, dengan kaki yang koyak dan darah yang mengalir deras setelah diserang oleh kawanan serigala hutan saat mereka mencoba melarikan diri dari kejaran prajurit kerajaan tahun lalu.“Jangan mendekat... tolong, jangan mend
Kabut putih yang pekat mulai menelan iring-iringan kuda saat mereka melewati batas luar Hutan Obsidian.Pohon-pohon di sini tidak seperti pohon di pinggiran Ravenshire; batangnya hitam legam, menjulang tinggi dengan dahan-dahan yang saling melilit, menutupi sebagian besar cahaya matahari yang tersisa.Emily menarik napas, namun udara yang masuk ke paru-parunya terasa tajam dan membekukan, kontras dengan pelipisnya yang masih basah oleh keringat akibat memikul beban logistik tadi.Akar-akar pohon yang menonjol seperti tulang-tulang raksasa sering kali menjerat kaki kuda, membuat perjalanan menjadi sangat lambat dan melelahkan. Emily mencengkeram tali kekang kudanya dengan tangan yang mulai mati rasa karena kedinginan.Di barisan paling depan, Kael tampak tidak terpengaruh oleh suhu yang anjlok drastis. Jubah bulu serigalanya berkibar tertiup angin kencang, menutupi zirah besinya yang berkilau kusam.Meski ia memacu kudanya dengan kecepatan konstan, Emily menyadari bahwa setiap beberapa







