LOGIN
“Eksekusi semua wanita yang berani masuk ke dalam istanaku tanpa izin! Gantung mayatnya di gerbang barat agar menjadi peringatan bagi siapa pun yang mencoba menguji kesabaranku!”
Raungan membahana itu memecah keheningan fajar di Kastil Ravenshire, sebuah benteng batu hitam yang angkuh dan terasing di utara Kerajaan.
Suara itu milik sang penguasa absolut, Duke Kael van Ravenshire, pria yang reputasi kekejamannya mendahului namanya.
Penyusup wanita dengan pakaian lusuh baru saja tertangkap basah di koridor lantai dua.
Di Ravenshire, keberadaan wanita adalah tabu terbesar. Trauma masa lalu yang terkunci rapat membuat Kael Memberlakukan aturan berisi: tidak boleh ada satu pun wanita masuk ke dalam lingkungan pribadinya.
Pelanggaran terhadap aturan ini hanya memiliki satu konsekuensi: kematian yang cepat dan mengerikan.
Prajurit penjaga menyeret wanita malang yang menangis tersedu-sedu itu melintasi halaman utama. Tak ada belas kasihan di wajah Kael saat dia berdiri di balkon, mengawasi prosesi kematian itu dengan mata yang dingin.
Di sudut halaman, di antara barisan pelayan pria yang tertunduk ketakutan, berdiri “Elian”. Dia adalah pelayan magang bertubuh ringkih dengan pakaian pelayan yang agak kebesaran.
Topi baret cokelat tua menutupi rambutnya yang dipotong pendek secara serampangan, dan noda jelaga sengaja diusapkan di wajahnya untuk menyamarkan fitur wajah yang terlalu halus. Elian bukan siapa yang mereka kira.
Dia adalah Emily Dawson. Putri bungsu dari Marquis Dawson yang terhormat, atau setidaknya, pernah terhormat.
Berita kejatuhan keluarga Dawson mengguncang ibu kota sebulan yang lalu. Ayahnya dituduh melakukan pengkhianatan dan korupsi besar-besaran.
Dan dalam semalam, status mereka berubah dari bangsawan menjadi pengkhianat negara. Perintah Raja tegas: seluruh keturunan Dawson harus dimusnahkan.
Seorang sipir penjara membantu Emily memotong rambut panjangnya dan melarikan diri melalui saluran pembuangan penjara bawah tanah yang menjijikkan. Hingga akhirnya dia tiba di sini, di Ravenshire menjadi pelayan laki-laki.
Melihat wanita itu diseret ke halaman, tenggorokan Emily tercekat.
Tali di tiang gantung halaman ditarik meninggalkan suara jeritan wanita itu terhenti seketika, digantikan oleh kesunyian yang mencekam.
Sebuah yang tubuh kini berayun kaku di tiang gantung, menjadi peringatan visual yang mengerikan tentang harga yang harus dibayar karena menentang aturan Duke Kael.
Duke Kael membalikkan badannya, hingga jubah hitamnya berkibar tertiup angin fajar yang dingin.
Tatapan matanya yang tajam menyapu seluruh halaman, mengamati setiap pelayan dan prajurit yang ada di sana, seolah-olah dia sedang mencari kelemahan di barisannya.
“Dengar, kalian semua!” suara Kael kembali membahana, kini lebih tenang namun jauh lebih mematikan. “Keamanan di kastil ini memalukan.”
“Siapa pun yang lalai dalam tugasnya, siapapun yang membiarkan seorang wanita masuk ke dalam kastil ini lagi, leher kalian akan berada di tiang gantung yang sama dengan wanita itu. Saya tidak akan mentolerir kegagalan.”
Pengumuman dari Duke Kael barusan membuat Emily menelan ludah ketakutan. Jika dia tertangkap, maka kematian adalah satu-satunya hal yang menunggunya. Dia harus lebih berhati-hati, lebih waspada, dan lebih diam. Dia harus menjadi “Elian” sepenuhnya.
Kael kembali menatap barisan pelayan, tatapannya menyusuri setiap wajah yang tertunduk. Hingga pandangannya berhenti pada “Elian” yang ringkih. Emily merasa seperti serigala yang sedang mengintai mangsanya.
“Kau!” Kael mengacungkan jarinya ke arah Emily. “Siapa namamu, pelayan?”
Jantung Emily berhenti berdetak selama satu detik usai Kael menanyakan namanya. Dia lalu menelan ludah, berusaha menguasai suaranya agar tidak gemetar.
“E-Elian, Tuanku,” jawab Emily dengan suara yang sedikit parau, berusaha meniru suara seorang pemuda yang sedang ketakutan.
“Elian,” Kael mengulang namanya dengan nada meremehkan. “Mulai hari ini, kau akan menjadi pelayan pribadiku. Tugas pertamamu, Elian: siapkan air dingin ke dalam bak mandiku. Sekarang!”
Emily tersentak. Menjadi pelayan pribadi Duke Kael? Itu adalah mimpi buruk terburuknya. Itu berarti dia harus berada di sekitar Duke Kael setiap saat, mengurus kebutuhannya, bersentuhan dengannya, peluang penyamarannya terbongkar akan berlipat ganda.
Namun, dia tidak punya pilihan. Menolak perintah Duke Kael adalah tindakan bunuh diri.
“Baik, Tuanku,” jawab Emily dengan cepat.
Dia langsung berbalik dan berlari sekencang mungkin menuju koridor kastil yang gelap, menuju kamar mandi pribadi sang Duke.
“Siapkan air dingin. Siapkan air dingin,” gumamnya berulang kali, seolah-olah itu adalah mantra yang bisa memberinya kekuatan. Dia harus bertindak cepat.
Tak lama kemudian, Emily mendengar suara langkah kaki yang berat mendekat ke pintu kamar mandi. Duke Kael.
Emily mempercepat gerakannya yang tengah mengaduk air di dalam bak mandi dengan kedua tangannya yang gemetar. Dia harus menyelesaikan tugasnya sebelum sang Duke masuk.
Pintu kamar mandi terbuka. Duke Kael pun masuk, dengan jubah hitamnya yang masih berkibar di belakangnya.
Emily langsung membeku, dengan tangannya masih berada di dalam air dingin yang dia siapkan.
“Air sudah siap, Tuanku,” gumam Emily dengan pelan.
“Hm,” jawab Kael dingin, lalu berjalan menuju bak mandi. “Aku akan mandi sekarang.”
Emily menelan ludah. Dia harus segera pergi dari kamar mandi tersebut. Namun, telinganya mendengar sesuatu!
Dia mendengar suara pakaian jatuh ke lantai batu. Emily tidak bisa menahan dirinya, dan akhirnya menoleh ke belakang, lalu matanya terbuka lebar karena terkejut.
Duke Kael sudah melepaskan pakaiannya sepenuhnya. Dia berdiri telanjang bulat di depannya, tubuhnya yang berotot dan atletis terlihat jelas di bawah cahaya lampu minyak yang remang-remang.
“Aaa!! Tidak!” jerit Emily sambil menutup wajahnya dengan spontan.
Rencana pengalihan yang dilakukan Johan berjalan dengan sangat sempurna. Provokasi beringasnya berhasil memancing amarah buta semua prajurit, hingga mereka bergerak massal dalam formasi buru, meninggalkan area tenda dalam gemuruh langkah besi yang menjauh.Kael kini benar-benar berada seorang diri di dalam tendanya tanpa perlindungan kavaleri satu pun.Namun, harga yang harus dibayar Johan untuk taktik nekat ini sangatlah mahal. Sesaat setelah dia melompat ke pohon berikutnya, rentetan anak panah militer dan tembakan uap bertekanan tinggi terus menyerang posisinya dari bawah dengan sangat gencar.JEDAS! JEDAS! STREEEK!"Sialan! Mereka benar-benar menembak untuk membunuh!" umpat Johan, suaranya tenggelam di antara dahan pinus yang hancur berantakan terkena proyektil uap.Hantaman energi mekanis itu merobek mantel bulunya menjadi serpihan, membuat Johan harus melompat dari satu dahan ke dahan lain dengan bersusah payah demi menghindari maut yang mengintai di setiap jengkal udara.Napasn
Tanpa membuang waktu lagi, Johan bergerak dengan ketangkasan luar biasa yang hanya dimiliki oleh seorang ksatria terlatih perbatasan utara.Tubuh kekarnya merayap cepat, memanfaatkan tonjolan kulit pohon, lalu langsung memanjat naik ke atas dahan pohon pinus tinggi yang berada tepat di jalur luar perkemahan kavaleri. Angin badai yang mulai mereda membuat siluetnya terlihat samar namun pasti di antara dedaunan yang membeku.Dari atas sana, Johan menarik napas dalam-dalam, mengabaikan udara dingin yang menusuk paru-parunya. Ia berteriak lantang memanggil nama Kael dengan nada mengejek yang sangat menggema, memecah kesunyian lembah berbatu tersebut."Hei, Kael Ravenshire! Serigala pincang dari utara!" seru Johan, suaranya menggelegar bergaung di antara tebing-tebing granit. "Apakah zirah uap buatan kekaisaranmu itu hanya hiasan meja sampai-sampai kau tidak bisa mengejar seorang ksatria tua di halaman rumahnya sendiri?!"Tindakan provokasi yang luar biasa nekat itu seketika membuat semua
Dari balik bayang-bayang batang pohon pinus raksasa yang berselimut es, Emily dan Johan berdiri membeku. Dari celah semak-semak, mereka berdua bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana kondisi Kael yang sangat mengenaskan di dalam tenda darurat yang kain depannya sengaja dibuka setengah untuk sirkulasi udara uap pemanas."Lihat itu, Kak," bisik Emily, suaranya bergetar hebat menahan isak tangis yang nyaris pecah. "Tubuhnya menggigil sampai seburuk itu. Dia sekarat karena infeksi panahmu."Johan menyipitkan mata, memperhatikan gerak-gerik Panglima Juan dan para prajurit yang sibuk di sekitar tenda. Ia basahi ujung jarinya, mengangkatnya ke udara untuk memeriksa arah mata angin yang berembus di antara celah tebing batu."Sial, ini buruk," gumam Johan, wajahnya mendadak berubah sangat serius. Ia lalu menoleh ke arah adiknya dengan tatapan memperingatkan."Emily, dengerkan aku baik-baik. Angin malam ini berembus tepat ke arah tenda Kael. Jika Kael yang sedang demam tinggi ekstrem itu sam
Panglima Juan akhirnya terpaksa menghentikan barisan kavaleri besi tepat di tengah lembah yang terlindung dinding batu raksasa.Ia melompat dari kudanya dengan beringas begitu melihat Kael sudah terlihat sangat sekarat, tubuh kekarnya limbung dan hampir jatuh terjerembab dari atas kudanya ke atas tumpukan salju yang membeku."Hentikan barisan! Dirikan tenda darurat sekarang juga!" teriak Juan, suaranya menggelegar mengalahkan deru angin badai. "Bawa lampu pemanas mekanis ke dalam! Cepat!"Para prajurit bergerak cekatan, memicu kompresor uap pada zirah mereka untuk menegakkan tiang-tiang tenda militer tebal dalam hitungan menit.Dua prajurit kavaleri lapis baja bergegas membopong Kael masuk ke dalam tenda, membaringkannya di atas dipan lipat darurat.Juan segera membuka wadah logistik medis, mengeluarkan sebuah botol kaca berisi cairan pekat berwarna perak kehitaman."Yang Mulia, Anda harus meminum ini. Ini adalah ramuan obat penurun demam militer dosis tinggi. Setidaknya, cairan ini b
"Lepaskan aku, Kak Johan! Kita membuang-buang waktu!" seru Emily, meronta dalam dekapan tangan kakaknya yang sekokoh karang.Johan menahan pundak adiknya dengan cengkeraman kuat agar tidak bertindak bodoh dan nekat menerobos badai salju di luar gua dalam kondisi buta. "Tenangkan dirimu, Emily! Keluar sekarang dalam keadaan badai seperti ini sama saja dengan bunuh diri!""Tapi Kael sedang terluka! Dia menderita di luar sana!" kilat Emily, air matanya kian deras membasahi pipi."Aku tahu! Dan aku setuju denganmu bahwa kita memang akan menemui Duke itu malam ini," kata Johan, suaranya meninggi demi mengalahkan deru angin, matanya menatap Emily dengan ketegasan mutlak."Maka dari itu, Emily, hapus air matamu dan segera bantu aku memasukkan racun herba ini ke dalam wadah tabung bambu agar persiapan kita segera selesai! Kita butuh tameng untuk melumpuhkan pengawalnya, atau kau akan tertembak sebelum sempat menyapanya!"Emily terengah-engah, mencoba menguasai gemuruh di dadanya, lalu mengang
Johan menatap jilatan api yang mulai mengecil, lalu mengarahkan pandangannya kembali pada Emily. "Pikirkan lagi, Emily. Paksa otakmu mengingat kembali masa sebelum rumah kita dibakar.""Aku sedang mencoba, Kak, tapi kepalaku sakit," keluh Emily, meremas pelipisnya yang terasa berdenyut akibat hawa dingin yang menusuk."Biar kubantu memancing ingatanmu," potong Johan, nadanya bergeser menjadi lebih dalam dan menyelidik."Bukankah kau dulu saat masih berusia tujuh tahun pernah memiliki seorang teman pria rahasia yang sering menyusup ke halaman belakang rumah kita? Ingatkah kau, kalian berdua bahkan sering membantu ibu kita memasak sup herba di dapur?"Emily tertegun. Detak dadanya mendadak bergemuruh hebat, seolah ada dinding besar di dalam ingatannya yang runtuh seketika. "Teman pria... rahasia?""Ya. Anak laki-laki bertubuh kurus yang selalu mengenakan jubah lusuh berkerung besar untuk menyembunyikan wajahnya," lanjut Johan, matanya berkilat intens."Ibu sering memberinya makanan kare
Dunia terasa berputar saat Emily membuka matanya. Hal pertama yang ia rasakan adalah sisa rasa terbakar di tenggorokannya, seolah ia baru saja menelan bara panas.Ia terbatuk hebat, mengeluarkan dahak hitam yang bercampur dengan abu. Tubuhnya gemetar kedinginan di atas tanah yang lembap, kontras de
“Elian! Elian, keluar dari sana!”Lucian menjerit hingga kerongkongannya terasa pecah. Ia mencoba menerjang barikade api yang kini melahap ambang pintu, namun sebuah tangan kekar menyentak kerah bajunya dan melemparnya mundur ke atas tanah yang becek.“Tetap di tempatmu, Pelayan!” bentak seorang pr
Hawa panas yang menyesakkan menyambar wajah Emily saat ia mencoba menerobos koridor yang kini dipenuhi lidah api. Asap hitam pekat menggulung di langit-langit, turun perlahan seperti tirai maut yang siap mencekik siapa pun di bawahnya.Emily menutup hidung dan mulutnya dengan sobekan celemek, namun
Langkah kaki di tangga kayu itu semakin dekat, menciptakan derit yang seolah menghitung sisa waktu hidup mereka. Emily mencengkeram lengan baju Lucian, matanya terpaku pada bayangan yang perlahan turun ke ruang arsip.Namun, alih-alih sosok pengawal Kael dengan baju zirah gemerincing, yang muncul a







