แชร์

Bab 6

ผู้เขียน: Gali Pratama
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-31 11:51:49

"Aduh, Bu Clara bisa aja bercandanya. Saya ini cuma OB, Bu. Nggak berani saya kalau sampai ngelewatin batas," ujar Raka dengan kekehan canggung, sembari memundurkan langkahnya satu pijakan untuk memangkas jarak dengan bosnya tersebut.

“Saya nggak bercanda, Raka. Saya serius. Kenapa? Kamu sudah punya pacar, hm?” tanya Clara kemudian. 

Raka menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Nggak ada sih, Bu. Saya masih jomlo.”

“Terus, kenapa nolak?” 

“Eung… anu, itu Bu–” 

“Saya bisa kasih kamu bonus saat ini juga kalau kamu berhasil bikin saya puas lho, Raka,” ucap Clara kembali, memotong ucapan Raka. 

Raka menelan ludahnya.

Dia harus mencari cara yang logis supaya penolakannya barusan diterima dengan baik oleh sang bos. 

"Saya... saya permisi lanjut bersihin ruangan lain dulu ya, Bu. Kerjaan saya banyak banget pagi ini.”

Tanpa menunggu jawaban Clara yang masih menatapnya, Raka buru-buru menyambar troli pembersihnya dan keluar dari ruangan itu dengan langkah seribu.

“Bener-bener di luar dugaan. Bisa-bisanya Bu Clara minta gue gantiin mantan suami dan boneka kesayangannya itu,” gerutu Raka dengan tubuh yang meremang, terbayang-bayang ucapan Calra barusan.

**

Sore harinya, begitu jam kerja usai, Raka langsung pulang ke kontrakan sederhananya di pinggiran kota.

Namun, langkahnya terhenti telak saat sampai di depan pintu kamar nomor tiga tempatnya tinggal.

Bapak kosnya, Pak RT yang terkenal galak dan tidak punya kompromi, sudah berdiri bersedekap di depan pintu sambil mengetuk-ngetukkan kakinya ke lantai.

"Nah, balik juga kamu, Raka!" gertak pria paruh baya itu tanpa basa-basi.

"Eh, Pak RT. Ada apa ya, Pak?" tanya Raka, lalu menelan ludahnya karena gugup bukan main.

"Nggak usah pura-pura lupa! Hari ini batas terakhir tunggakan kos kamu dua bulan. Total dua juta lima ratus ribu sama uang listrik! Kamu janji lunasin hari ini kan?"

Raka sontak menyatukan kedua telapak tangannya di dada dan memasang wajah memelasnya.

"Aduh, Pak RT, tolong kasih saya waktu sampai minggu depan. Gaji saya baru keluar—"

"Nggak ada minggu-minggual!" potong Pak RT tegas.

"Kalo malam ini sebelum jam delapan uangnya nggak ada di tangan saya, barang-barang kamu saya lempar keluar dan kamar ini saya kunci dari luar! Saya butuh uangnya hari ini juga buat berobat istri saya!"

Pak RT berlalu meninggalkan Raka yang berdiri mematung bahkan belum sempat memelas untuk alasan selanjutnya.

Hingga akhirnya pria itu hanya bisa memegang kepalanya yang mendadak pening luar biasa.

Uang di tabungan selulernya cuma tersisa seratus ribu.

Kontak teman-temannya di ponsel sudah ia hubungi semua minggu lalu dan tak ada satu pun yang bisa meminjamkan uang.

“Ke mana nyari duit sebanyak itu dalam hitungan jam? Ah, sialan,” gerutu Raka frustasi.

Namun, otaknya langsung tertuju pada sang bos—Clara.

Satu-satunya harapan yang terlintas di kepalanya hanyalah Clara.

Mengingat tawaran dan percakapan intim mereka semalam serta tadi pagi, Raka akhirnya memberanikan diri.

Ia mengambil jaketnya dan buru-buru pergi menuju rumah kediaman pribadi Clara, berharap wanita itu sudah pulang dari kantor.

Jam menunjukkan pukul tujuh malam lewat sedikit ketika Raka sampai di depan apartemen milik Clara.

Kemudian mengetuk pintu tersebut beberapa kali, namun tidak ada respons.

Ia pun mencoba memanggil nama bosnya dari luar, tetapi tetap nihil.

Karena panik dikejar tenggat waktu jam delapan dari Pak RT, Raka mencoba mendorong pintu tersebut yang ternyata tidak terkunci dari dalam.

"Bu Clara?" panggil Raka pelan sembari melangkah masuk menyusuri halaman depan yang luas.

Lalu berjalan memasuki ruang tengah megah itu sembari memanggil nama sang bos kembali.

"Permisi, Bu Clara? Ini saya, Raka," ucapnya dengan pelan.

Namun, tidak ada tanda-tanda keberadaan Clara di dalam apartemen itu.

Saat Raka melangkah beberapa meter memasuki lorong utama menuju area ruang tv, pendengarannya yang tajam mendadak menangkap sebuah suara yang teramat familiar.

“Aahhh, mhh…”

Langkah Raka seketika terhenti telak.

Dadanya langsung bergemuruh hebat. Napas lembut dan desahan tertahan itu datang dari arah sofa besar di ruang keluarga yang tertutup sebagian oleh sekat pembatas.

Raka berjalan sangat pelan menyusuri sudut sekat tanpa menimbulkan bunyi.

Dan begitu matanya mengintip ke balik sekat, pandangannya langsung terkunci pada pemandangan yang membakar seluruh kesadarannya.

Di atas sofa kulit berwarna cokelat tua, Clara terbaring dengan posisi terlentang.

Kemeja putih gading yang dikarenakannya tadi pagi sudah terbuka sepenuhnya, memperlihatkan bra renda yang tak lagi mampu menampung keindahan bentuk dadanya.

Kaki mulusnya yang panjang membentang lebar di atas sofa.

Tangan kirinya meremas bantal sofa dengan erat, sementara tangan kanannya menggenggam erat alat bergetar berwarna merah muda—alat yang tadi pagi sempat ketinggalan di kantor.

Alat itu kini bergetar menempel di area intimnya, membuat tubuh indah wanita itu berguncang pelan meliuk-liuk menahan kenikmatan.

Raka langsung membeku melihat pemandangan memabukkan itu.

Napasnya tertahan di tenggorokan. Matanya tak bisa berpaling dari lekuk paha dan raut wajah Clara yang begitu liar namun pasrah pada gairahnya sendiri.

Namun, di tengah keterpakuannya, kaki Raka yang gemetaran tanpa sengaja menyenggol sebuah vas bunga keramik kecil yang terpajang di atas meja hias sebelah sekat.

KREK! BRANG!

Vas keramik itu jatuh dan pecah berkeping-keping di atas lantai marmer.

Desahan Clara terhenti seketika. Alat bergetar di tangannya pun mati dalam sekejap.

Dengan napas yang masih tersengal-sengal dan mata berembun sisa gairah, Clara tersentak kaget dan langsung mendudukkan tubuhnya. 

Namun, begitu melihat pria yang berdiri di sana adalah Raka, Clara langsung menaikan alisnya. 

“Raka?” 

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 14

    Di pagi harinya, Raka mengayunkan gagang pel dengan ritme yang teratur, sesekali bersiul kecil mengikuti irama lagu yang terngiang di kepalanya.Rasa lelah sama sekali tidak terasa di tubuhnya. Otot-otot lengannya yang kekar bergerak santai, sementara pikirannya masih sesekali melayang pada kenikmatan terlarang yang ia reguk sebelumnya.Semangatnya pagi ini sedang berada di puncak.Tak lama kemudian, suara langkah kaki berhak tinggi itu terdengar di telinga Raka."Selamat pagi, Raka," sapanya setelah tiba di hadapan Raka.Raka akhirnya menoleh, lalu menghentikan gerakan pelnya sejenak.Maya—staf administrasi bernasib baik yang selalu tampil rapi sedang berdiri di sana dengan senyum manisnya.Raka kemudian mengulas senyum tipis dan mengangguk dengan gestur sopan yang biasa ia tunjukkan sebagai seorang staf kebersihan."Selamat pagi juga, Mbak Maya," balas Raka ramah sebelum kembali memegang gagang pel.Raka menduga Maya akan langsung berjalan menuju kubikel kerjanya, menyalakan kompute

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 13

    Clara menatap tonjolan tebal di balik celana Raka dengan binar mata liar.Tanpa ragu, jemari lentik dengan kuku berpoles cat merah itu membuka kancing dan Ritsleting celana Raka, lalu meluncurkan celana kain dan celana dalam pria itu ke bawah lutut.Anggota tubuh Raka yang besar, tebal, dan tegang keras melompat bebas. Urat-urat menonjol melingkari batangnya yang hangat.Clara menarik napas pendek. Meski sudah beberapa kali melihatnya, ukuran milik staf OB-nya ini selalu berhasil memancing rasa takjub sekaligus gairah murninya."Punya kamu selalu sebesar ini, Raka. Benar-benar gila," gumam Clara sambil memegang batang tebal itu dengan satu tangannya."Ini semua karena merekam keindahan tubuh Bu Clara," balas Raka jujur, suaranya makin berat saat jemari Clara mulai mengusap bagian kepalanya yang basah oleh cairan pra-ejakulasi.Clara membungkukkan tubuh cantiknya di tepi meja mahoni.Dengan bibir indahnya yang merekah, ia mulai melingkupi ujung kepala milik Raka, memasukkannya perlahan

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 12

    Jemari Raka bergerak terampil meraih kepala ritsleting di bagian belakang rok pensil ketat milik bosnya.Dengan satu tarikan mantap, ritsleting besi itu bergeser turun, membelah kain ketat yang membungkus panggul berlekuk indah tersebut.Raka menuntun rok itu meluncur melewati paha mulus yang padat dan berisi, membiarkannya jatuh menumpuk di lantai marmer yang dingin.Kini, penglihatannya dimanjakan oleh pemandangan yang sanggup melipatgandakan gairah di dalam dadanya.Clara hanya mengenakan celana dalam renda tipis berwarna hitam yang teramat transparan.Di bagian tengah kain tipis itu, bercak basah berdiameter lebar sudah mencetak jelas, membuktikan betapa tubuh CEO wanita itu sangat responsif terhadap sentuhannya.Bau harum parfum vanila bercampur aroma alami tubuh wanita yang bangkit gairahnya memenuhi udara di sekitar Raka.Tanpa membuang waktu, Raka mengambil posisi berlutut tepat di antara kedua paha mulus Clara yang terkuak lebar di tepi meja mahoni.Dengan kedua tangannya yan

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 11

    “Selamat pagi, Bu Clara,” sapa Raka saat tiba di depan pintu ruang kerja sang bos.“Pagi,” jawab Clara. "Tutup pintunya dan kunci dari dalam, Raka," perintah Clara. Suaranya rendah, penuh penekanan yang tak bisa dibantah."Baik, Bu Clara," jawab Raka patuh, lalu melangkah ke arah pintu utama, memutar kait kunci besi hingga terdengar bunyi klik yang bergema di ruangan hening itu.Ia pun kembali melangkah mendekati Clara, lalu berhenti tepat satu langkah di hadapan wanita berkulit putih mulus itu.Clara melepaskan blazer mewahnya dan melemparkannya begitu saja ke atas kursi kerja.Tatapan mata tajam sang CEO wanita berumur tiga puluh tahun itu mengunci wajah Raka. Ada gairah liar yang tersirat jelas di balik tatapan dominan itu.Clara menyandarkan pinggulnya pada tepi meja mahoni. Kakinya yang berbalut rok pensil ketat bersilangan rapi."Kamu tahu persis apa tugas tambahanmu pagi ini, kan?" Suara Clara rendah, terkontrol, namun menyimpan getaran halus yang menembus hening ruangan."Saya

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 10

    Raka memacu sepeda motor tuanya menembus padatnya lalu lintas jalanan kota.Kebisingan klakson dan deretan lampu merah tak dihiraukannya; pikirannya sepenuhnya tertuju pada jarum jam yang terus berputar cepat.Angin malam menghantam dada tegapnya, tetapi rasa dingin tak terasa sama sekali karena darahnya berdesir hebat oleh ketegangan."Sedikit lagi, Raka, sedikit lagi!" gumamnya seraya memutar gas motor makin dalam.Jarum jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 19.52 WIB. Ia hanya punya waktu delapan menit sebelum Pak RT mewujudkan ancamannya.Setiap detik terasa begitu berharga, berpacu keras melawan keputusasaan yang hampir menenggelamkannya beberapa jam lalu.Sementara itu, di lorong kontrakan lantai dua, Pak RT sudah berdiri kaku di depan pintu kamar Raka. Raut wajah pria paruh baya itu sangat gusar.Di tangan kanannya tergenggam gembok besi besar yang masih baru, sedangkan tangan kirinya memegang dua kantong plastik sampah berukuran besar.Pak RT beberapa kali melirik jam

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 9

    Clara menarik napas panjang sembari membenarkan ikatan bathrobe sutranya, lalu memutar kunci dan membuka pintu apartemen.Di ambang pintu, berdiri dua sahabat sosialitanya: Fiona dan Sheila.Keduanya tampil memikat dengan gaun malam yang modis dan riasan sempurna, masing-masing memegang botol minuman mahal."Akhirnya dibuka juga! Kita pikir kamu lagi pingsan di dalam, Ra," cerocos Fiona seraya melangkah masuk tanpa diundang, disikuti Sheila yang tertawa renyah."Nggak ngabarin dulu kalau mau datang?" tanya Clara sambil berusaha menutupi kepanikannya dengan nada dingin yang biasa ia perlihatkan."Surprise, dong! Kita tahu kamu lagi butuh hiburan," balas Sheila santai.Namun, langkah Fiona dan Sheila terhenti mendadak begitu melewati lorong kecil menuju ruang tengah.Raka, yang tidak sempat bersembunyi penuh di kamar mandi karena panik dan bingung, justru keluar dari area kamar utama sambil merapikan kancing kemejanya yang belum sepenuhnya terpasang rapi.Pemuda bertubuh tegap dan berwa

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status