เข้าสู่ระบบMentari pagi di langit Jakarta mulai merangkak naik, memantulkan cahaya pada kaca mobil SUV hitam yang terparkir di seberang jalan. Galang Baraka, dengan mata yang merah karena tidak tidur semalaman, tidak pernah sedetik pun melepaskan pandangannya dari pintu gerbang kosan Salwa. Ia sudah bersiaga sejak fajar, mengira Salwa akan keluar pada jam kerja biasanya.
Pukul 07.30, tidak ada tanda-tanda.Pukul 08.00, pintu gerbang masih tertutup rapat.Pukul 08.15, Galang mAngin pegunungan yang dingin menyelinap masuk melalui celah-celah dinding kayu rumah tua itu, membawa aroma tanah basah dan pinus yang tajam. Namun, dinginnya cuaca tak sebanding dengan kekosongan yang dirasakan Salwa. Di dalam ruangan temaram itu, pertahanan terakhir Salwa Rumi benar-benar hancur. Kakinya yang gemetar tak lagi mampu menopang berat beban batinnya. Ia luruh, terduduk bersimpuh di atas lantai kayu yang berderit.Galang Baraka terpaku. Ia tidak pernah melihat pemandangan yang lebih menghancurkan hati daripada ini. Ia lebih memilih menghadapi serentetan peluru daripada melihat wanita di depannya hancur berkeping-keping.Tanpa sadar, Salwa merangkak kecil, jemarinya yang dingin mencengkeram kaki Galang—satu-satunya hal yang terasa kokoh di tengah dunianya yang sedang gempa. Ia memegang celana kain Galang dengan sangat erat, seolah-olah jika ia melepaskannya, ia akan jatuh ke dalam jurang yang tak berdasar. Air matanya mengalir deras, membasahi masker
Mentari pagi di langit Jakarta mulai merangkak naik, memantulkan cahaya pada kaca mobil SUV hitam yang terparkir di seberang jalan. Galang Baraka, dengan mata yang merah karena tidak tidur semalaman, tidak pernah sedetik pun melepaskan pandangannya dari pintu gerbang kosan Salwa. Ia sudah bersiaga sejak fajar, mengira Salwa akan keluar pada jam kerja biasanya.Pukul 07.30, tidak ada tanda-tanda.Pukul 08.00, pintu gerbang masih tertutup rapat.Pukul 08.15, Galang mulai gelisah. Jantungnya berdegup kencang, sebuah firasat buruk mulai merayap di balik dadanya. Apakah dia jatuh pingsan di dalam? Apakah sakit perutnya bertambah parah? Galang hampir saja keluar dari mobil dan mendobrak pintu kosan itu jika saja ia tidak mengingat janjinya untuk tidak menjadi pria yang terlalu mengintimidasi.Tepat pukul 08.20, pintu kayu di lantai dua itu akhirnya terbuka.Namun, bukan sosok Salwa yang rapi dengan blazer audit yang keluar. Galang mengernyit
Mobil SUV hitam milik Galang merayap pelan di balik kepadatan lalu lintas, menjaga jarak konstan sekitar tiga mobil di belakang motor matic krem yang dikendarai Salwa. Galang mematikan radio, mematikan segala gangguan, fokusnya hanya satu: punggung kecil yang tampak sangat rapuh itu. Di balik kemudi, Galang mencengkeram stir hingga buku-buku jarinya memutih. Ia melihat bagaimana motor Salwa sedikit goyah saat melewati jalanan yang tidak rata. Setiap kali ada kendaraan yang menyalip Salwa dengan kasar, jantung Galang seolah berhenti berdetak. Ia ingin sekali menyalip, memposisikan mobilnya di belakang motor itu sebagai tameng, namun ia teringat janjinya pada diri sendiri untuk tidak lagi "mengatur" ruang gerak Salwa secara terang-terangan. Salwa berbelok ke sebuah apotek besar di pinggir jalan protokol. Galang menghentikan mobilnya di bahu jalan, beberapa meter sebelum apotek tersebut. Dari kaca jendela yang diturunkan sedikit, ia mengawasi Salwa turun
Pagi itu, Jakarta diselimuti kabut tipis yang terjepit di antara gedung-gedung beton, namun suasana hati Galang jauh lebih pekat dari cuaca mana pun. Sudah dua puluh empat jam ia tidak mendengar suara Salwa. Tidak ada laporan "selamat pagi", tidak ada balasan pesan, bahkan centang biru di aplikasi percakapannya pun tidak muncul. Salwa benar-benar menghilang, seolah-olah ia telah memutuskan untuk memutus seluruh kabel yang menghubungkan dunianya dengan dunia Galang.Galang memulai pencariannya sejak fajar menyingsing. Ia mendatangi kosan Salwa, namun penjaga kos bilang Salwa tidak pulang semalam. Kamarnya gelap, gembok tambahan yang dipasang Galang masih terkunci rapat dari luar, menjadi saksi bisu bahwa penghuninya tidak pernah kembali untuk beristirahat.Panik mulai merayap di balik dada Galang yang biasanya sedingin es. Ia menghubungi Paman Salwa, satu-satunya kerabat yang ia kenal dekat."Paman, apa Salwa ada di sana? Dia tidak bisa dihubungi sejak k
Sinar matahari siang itu memantul tajam di atas aspal jalur protokol yang sedang disterilkan. Udara terasa panas dan statis, seolah-olah atmosfer sendiri sedang menahan napas. Di atas salah satu rute yang akan dilewati iring-iringan VVIP, Galang Baraka berdiri dalam formasi pengamanan ring terluar. Matanya yang biasanya sedingin es, kali ini tampak memiliki kilatan api yang tertahan.Di balik earpiece yang terpasang, suara koordinasi radio terus berdengung, namun bagi Galang, suara itu terdengar jauh. Pikirannya masih tersangkut pada bayangan Salwa yang pergi dengan penuh kebencian kemarin. Setiap detak jantungnya seolah memompa rasa bersalah dan kemarahan yang bercampur menjadi satu racun yang mematikan.Ia mencoba melakukan teknik kompartemenisasi—memasukkan masalah pribadinya ke dalam kotak gelap di sudut pikirannya—namun kotak itu telah hancur. Kebenaran bahwa Salwa telah menemui ayahnya dan mendengar semua hinaan itu tanpa dirinya di samping wanita itu, membuat Galang merasa ga
Jakarta pagi ini tidak memberikan belas kasihan. Panasnya mulai menyengat sejak pukul sembilan, menciptakan fatamorgana di atas aspal hitam yang masih menyimpan trauma bagi Salwa. Dengan sisa tenaga yang dipaksakan dan rasa nyeri di perut yang masih sesekali mencubit, Salwa kembali ke pelataran mini market itu. Ia mengabaikan saran Giska yang memintanya istirahat, mengabaikan puluhan pesan dari Galang yang tak satu pun ia buka.Namun, sosok dengan rompi oranye itu tidak ada. Area parkir itu kini diisi oleh orang lain."Maaf, Pak. Juru parkir yang kemarin di sini... yang agak tua, di mana ya?" tanya Salwa pada penjual minuman di dekat sana.Pria itu menatap Salwa dari atas ke bawah. "Oh, si Pak Hendrawan? Dia lagi sakit kayaknya, Neng. Gara-gara kejadian kemarin pingsan atau apa gitu. Kalau mau cari, dia tinggal di bedeng ujung gang itu. Masuk saja, cari rumah yang paling pojok yang atapnya pakai terpal biru."Salwa mengangguk kaku. Langkahnya
Mentari pagi mulai mengintip dari balik tirai jendela rumah sakit, membawa cahaya terang yang membangunkan kesunyian malam. Galang Baraka sudah berdiri tegak di samping jendela, wajahnya telah dibasuh, dan kemeja putihnya sudah rapi kembali meski gurat kelelahan masih tersisa di matanya yang tajam.
Setelah memastikan napas Salwa benar-benar teratur dan rintihan kecil itu hilang ditelan lelap, Galang secara perlahan menarik tangannya. Ia melakukannya dengan gerakan yang sangat halus, seolah sedang menjinakkan bom waktu yang bisa meledak hanya dengan satu getaran kecil. Ia membetulkan letak ban
Lampu neon di ruang rawat kelas satu itu meredup, menyisakan pendar kekuningan dari lampu nakas yang memberikan kesan hangat di tengah dinginnya aroma antiseptik rumah sakit. Di sana, di sisi tempat tidur yang sempit, Galang Baraka masih setia duduk. Sosoknya yang jangkung tampak sedikit terlalu be
Malam itu, di bawah temaram lampu selasar rumah sakit yang berbau karbol, sosok Galang Baraka tampak seperti sebuah anomali. Ia masih mengenakan seragam dinas taktisnya, jas hitam mahal yang antikusut, kemeja putih yang kini sedikit terbuka di bagian kerah, dan earpiece yang masih menggantung di te







