로그인Pagi itu, Jakarta diselimuti kabut tipis yang terjepit di antara gedung-gedung beton, namun suasana hati Galang jauh lebih pekat dari cuaca mana pun. Sudah dua puluh empat jam ia tidak mendengar suara Salwa. Tidak ada laporan "selamat pagi", tidak ada balasan pesan, bahkan centang biru di aplikasi percakapannya pun tidak muncul. Salwa benar-benar menghilang, seolah-olah ia telah memutuskan untuk memutus seluruh kabel yang menghubungkan dunianya dengan dunia Galang.Galang memulai pencariannya sejak fajar menyingsing. Ia mendatangi kosan Salwa, namun penjaga kos bilang Salwa tidak pulang semalam. Kamarnya gelap, gembok tambahan yang dipasang Galang masih terkunci rapat dari luar, menjadi saksi bisu bahwa penghuninya tidak pernah kembali untuk beristirahat.Panik mulai merayap di balik dada Galang yang biasanya sedingin es. Ia menghubungi Paman Salwa, satu-satunya kerabat yang ia kenal dekat."Paman, apa Salwa ada di sana? Dia tidak bisa dihubungi sejak k
Sinar matahari siang itu memantul tajam di atas aspal jalur protokol yang sedang disterilkan. Udara terasa panas dan statis, seolah-olah atmosfer sendiri sedang menahan napas. Di atas salah satu rute yang akan dilewati iring-iringan VVIP, Galang Baraka berdiri dalam formasi pengamanan ring terluar. Matanya yang biasanya sedingin es, kali ini tampak memiliki kilatan api yang tertahan.Di balik earpiece yang terpasang, suara koordinasi radio terus berdengung, namun bagi Galang, suara itu terdengar jauh. Pikirannya masih tersangkut pada bayangan Salwa yang pergi dengan penuh kebencian kemarin. Setiap detak jantungnya seolah memompa rasa bersalah dan kemarahan yang bercampur menjadi satu racun yang mematikan.Ia mencoba melakukan teknik kompartemenisasi—memasukkan masalah pribadinya ke dalam kotak gelap di sudut pikirannya—namun kotak itu telah hancur. Kebenaran bahwa Salwa telah menemui ayahnya dan mendengar semua hinaan itu tanpa dirinya di samping wanita itu, membuat Galang merasa ga
Jakarta pagi ini tidak memberikan belas kasihan. Panasnya mulai menyengat sejak pukul sembilan, menciptakan fatamorgana di atas aspal hitam yang masih menyimpan trauma bagi Salwa. Dengan sisa tenaga yang dipaksakan dan rasa nyeri di perut yang masih sesekali mencubit, Salwa kembali ke pelataran mini market itu. Ia mengabaikan saran Giska yang memintanya istirahat, mengabaikan puluhan pesan dari Galang yang tak satu pun ia buka.Namun, sosok dengan rompi oranye itu tidak ada. Area parkir itu kini diisi oleh orang lain."Maaf, Pak. Juru parkir yang kemarin di sini... yang agak tua, di mana ya?" tanya Salwa pada penjual minuman di dekat sana.Pria itu menatap Salwa dari atas ke bawah. "Oh, si Pak Hendrawan? Dia lagi sakit kayaknya, Neng. Gara-gara kejadian kemarin pingsan atau apa gitu. Kalau mau cari, dia tinggal di bedeng ujung gang itu. Masuk saja, cari rumah yang paling pojok yang atapnya pakai terpal biru."Salwa mengangguk kaku. Langkahnya
Lampu sorot lapangan asrama Paspampres masih menyala benderang, membelah kegelapan malam yang kian larut. Di tengah keheningan markas yang biasanya hanya diisi oleh derap langkah penjaga, Galang Baraka sedang berperang dengan dirinya sendiri.Sejak kembali dari kosan Salwa, fokusnya hancur berkeping-keping. Pria yang dikenal memiliki konsentrasi setajam laser, yang mampu menahan napas selama puluhan detik demi satu tembakan presisi, kini merasa otaknya seperti televisi dengan sinyal yang rusak. Bayangan Salwa yang pingsan di gerbang, wajah pucatnya di klinik, dan yang paling menyiksa, keheningan dinginnya, terus berputar tanpa henti.Galang tahu, dalam kondisinya saat ini, ia adalah ancaman bagi dirinya sendiri dan objek VVIP yang ia lindungi. Seorang perisai hidup tidak boleh memiliki retakan di hatinya, karena retakan itu akan menjadi pintu masuk bagi kelalaian yang mematikan.Galang mulai berlari. Bukan lari santai untuk menjaga kebugaran, melainkan
Dunia di sekitar Salwa perlahan-lahan meredup. Suara bising kendaraan di luar gerbang asrama dan deru napas Galang yang memburu di sampingnya mendadak terdengar seperti gema yang menjauh. Rasa sakit di perutnya mencapai puncaknya, menciptakan kilatan putih yang membutakan sebelum akhirnya semuanya berubah menjadi kegelapan total. Tubuh Salwa yang semula bersandar pada dinding pagar yang kaku itu pun lunglai, limbung seperti helai daun yang terlepas dari dahannya.Namun, sebelum tubuh itu sempat menyentuh aspal yang panas, sepasang lengan yang kokoh dan sigap sudah lebih dulu menangkapnya.Galang tidak memberikan ruang bagi keraguan sedikit pun. Ketangkasan taktisnya sebagai seorang Paspampres mengambil alih sepenuhnya. Tanpa memedulikan statusnya sebagai perwira yang biasanya menjaga wibawa di depan anak buah, Galang langsung menyusupkan satu tangannya di bawah tengkuk Salwa dan tangan lainnya di bawah lipatan lutut wanita itu. Dengan satu gerakan mantap, ia meng
Kemarahan adalah api yang menghanguskan akal sehat, dan siang itu, Salwa Rumi membiarkan dirinya terbakar habis. Langkah kakinya yang meninggalkan taman asrama terasa sangat berat, seolah setiap jengkal tanah yang ia pijak menuntut pertanggungjawaban atas hatinya yang remuk. Di pikirannya, sosok Galang Baraka yang selama ini ia puja sebagai malaikat pelindung telah runtuh, berganti menjadi sosok manipulator yang tega mempermainkan kerinduannya pada sang ayah demi sebuah konsep "perlindungan" yang egois.Ia tidak ingin mendengar lagi. Suara bariton Galang yang mencoba menjelaskan tentang uang, tentang gubuk itu, atau tentang kata-kata kasar ayahnya, hanya terdengar seperti dengungan lebah yang mengganggu di telinganya. Fokus Salwa hanya satu: Galang berbohong. Galang menyembunyikan kebenaran. Galang menganggapnya selemah itu hingga harus disuapi dengan kebohongan manis.Galang sendiri tidak mengejarnya lebih jauh di taman tadi. Ia berdiri mematung, memberikan ruan
Mentari pagi mulai mengintip dari balik tirai jendela rumah sakit, membawa cahaya terang yang membangunkan kesunyian malam. Galang Baraka sudah berdiri tegak di samping jendela, wajahnya telah dibasuh, dan kemeja putihnya sudah rapi kembali meski gurat kelelahan masih tersisa di matanya yang tajam.
Setelah memastikan napas Salwa benar-benar teratur dan rintihan kecil itu hilang ditelan lelap, Galang secara perlahan menarik tangannya. Ia melakukannya dengan gerakan yang sangat halus, seolah sedang menjinakkan bom waktu yang bisa meledak hanya dengan satu getaran kecil. Ia membetulkan letak ban
Lampu neon di ruang rawat kelas satu itu meredup, menyisakan pendar kekuningan dari lampu nakas yang memberikan kesan hangat di tengah dinginnya aroma antiseptik rumah sakit. Di sana, di sisi tempat tidur yang sempit, Galang Baraka masih setia duduk. Sosoknya yang jangkung tampak sedikit terlalu be
Malam itu, di bawah temaram lampu selasar rumah sakit yang berbau karbol, sosok Galang Baraka tampak seperti sebuah anomali. Ia masih mengenakan seragam dinas taktisnya, jas hitam mahal yang antikusut, kemeja putih yang kini sedikit terbuka di bagian kerah, dan earpiece yang masih menggantung di te







