Share

Mendadak Lemas

last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-01 17:09:16

Waktu seolah berjalan dalam gerak lambat. Sera memejamkan mata, yakin bahwa gaun dan sepatunya akan basah.

Namun, guyuran air dingin yang ia bayangkan tidak pernah sampai ke kulit, gaun atapun sepatunya. Sebaliknya, ia justru merasakan sebuah dekapan kokoh.

Rendra, dengan gerakan yang luar biasa sigap, memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat. Ia menarik pinggang Sera, menyembunyikan tubuh kecil gadis itu di balik dadanya yang bidang.

Pyarr!

Gelas-gelas itu pecah berkeping di ata
Adinasya Mahila

halooo geng tinggalkan komen. Siapa yang belum pernah dapat souvenir dari Na 👇👇👇

| 41
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (18)
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Dan ..Sofia iri lihat Rendra melindungi Sera Rendra harus menjaga sera dari orang2 yg benci dia
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Selalu ada rianti cari masalah dgn Sera ,pasti ulah dia tuh yg bocorkan video itu
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Kutu kupret emang si sofia nih ,dia yg nyenggol pelayan dia yg marah dan ga sopan banget panggil presiden dgn sebut nama aja
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Tenang Namun Memprovokasi

    Sintia merebut ponsel itu dari tangan Sofia dengan gerakan cepat. Matanya membelalak lebar, terpaku pada gambar yang terpampang di layar. Di sana, terlihat jelas sosok Ratu sedang duduk berdua di sebuah bangku taman dengan seorang remaja laki-laki. "Geser saja layarnya, Tante. Masih banyak foto lain yang menunjukkan betapa dekatnya mereka berdua," bisik Sofia, suaranya terdengar begitu tenang namun memprovokasi. Jemari Sintia bergetar saat ia menyapu layar ponsel ke samping. Foto demi foto menampilkan kedekatan yang nyata. Di salah satu gambar, Ratu tampak tertawa seraya mencondongkan tubuhnya ke arah Arkan. Napas Sintia seketika tercekat, dadanya bergemuruh hebat hingga genggaman tangannya di ponsel itu mengerat kuat. "Ratu... mana mungkin..." desis Sintia tak percaya, bibirnya bergetar menahan amarah yang mulai membakar ubun-ubunnya. Sofia menarik napas panjang, melipat kedua tangannya di depan dada dengan raut prihatin yang dibuat-buat. "Aku sendiri yang meminta foto-foto

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Pasangan Romantis

    Deo melangkah mendekat, lalu tangannya terulur meraih kembali jemari Erika, menggenggamnya mantap tanpa keraguan."Aku akan menemanimu bicara ke papamu," ucap Deo dengan tatapan lurus menghujam manik mata Erika. Suaranya terdengar begitu tenang dan dalam. "Aku ingin melihat langsung bagaimana reaksinya. Dan kalau beliau sampai marah besar, aku sendiri yang akan berdiri di depan untuk melindungimu."Erika menatap pria itu lekat-lekat, bibirnya terkatup rapat sementara rasa hangat seketika melingkupi dadanya, meluruhkan sisa-sisa amarah yang tadi membakar kepalanya.Kalimat penuh kesungguhan dari Deo itu rupanya sampai ke telinga Lana yang sejak tadi mengintip dari balik sekat pembatas antara ruang tamu dan ruang tengah. Lana berdiri menyandarkan bahu di kusen kayu, meneguk air putih dari gelas kaca di tangannya seraya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah sejoli itu."Kamu sedang melihat apa, Lana? Kamu menguping ya?" bisik sebuah suara lembut tepat di belakang telinga Lana."Asta

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Tenang Dulu!

    Arkan menggeleng santai seraya menatap kakaknya tanpa rasa bersalah. "Ayah sama Ibu belum tahu. Dari awal kami memang sepakat untuk backstreet saja."Mendengar kata itu meluncur begitu enteng, Sera membelalakkan matanya sesaat, lalu menyandarkan tubuhnya kembali ke sandaran kursi seraya menggeleng-gelengkan kepala. Rasa tak percaya kian menguasai benaknya. Sikap adiknya yang terlalu santai itu justru membuktikan dugaannya sejak awal bahwa Arkan memang tidak akan pernah sanggup berpikir sampai ke jenjang yang lebih serius dengan Ratu.Sera menarik napas panjang, menatap Arkan dengan sorot mata yang sarat ketegasan. "Aku tidak akan memberitahu Ayah dan Ibu soal hubungan kalian berdua ini. Itu hak kamu sendiri untuk memberitahu mereka atau tidak, dan aku tidak mau ikut campur lebih jauh ke ranah itu."Sera memajukan sedikit tubuhnya ke arah kasur, menunjuk dada adiknya dengan jari telunjuk. "Tapi yang paling penting kamu harus ingat baik-baik, Arkan. Perasaan orang itu bukan barang maina

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Cinta Monyet

    Sera tidak langsung menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menatap lekat manik mata adiknya, lalu menganggukkan kepala perlahan dengan guratan wajah yang tegas."Ayo masuk ke dalam. Kita bicara di dalam saja," ucap Sera seraya menunjuk pintu depan rumah dengan dagunya.Arkan menghela napas pasrah, menundukkan pandangannya seraya meletakkan helm di atas jok motor. Sera kemudian berbalik, menoleh ke arah Lana dan Deo yang masih berdiri tegak di dekat pintu mobil dengan sikap waspada."Lana, Deo, kalian berdua ikut masuk saja ke dalam," ujar Sera lembut seraya melambaikan tangannya pelan. "Tidak perlu berjaga di luar seperti itu, cuacanya panas. Duduk di ruang tamu saja.""Baik, Nona Sera," sahut Deo dan Lana hampir bersamaan seraya mengangguk patuh.Mereka berempat akhirnya melangkah beriringan melewati pintu teras yang terbuka. Begitu kakinya menjejak lantai ruang tamu yang beralas karpet sederhana, Arkan berbalik menghadap kakaknya. Pemuda itu melirik sekilas ke arah Deo dan Lana yang mu

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Cemburu Berat

    Sera yang menangkap arti tatapan saling melempar pandang antara suaminya dan Evan langsung membuka suara. Sudut bibirnya terangkat tipis untuk meredakan kecemasan di ruangan itu."Tenang saja, Mas. Aku tetap tahu batas kok," ucap Sera meyakinkan seraya memandang suaminya lurus.Rendra menghela napas tipis lalu mengangguk singkat. Sera melangkah mendekat, meraih tangan kanan Rendra untuk mencium punggung tangannya dengan takzim. "Aku pamit pergi dulu ya, Mas.""Hati-hati di jalan. Jangan terbawa emosi saat bicara dengan Arkan," pesan Rendra lembut seraya membalas remasan tangan sang istri.Sera berbalik dan melangkah keluar menuju pelataran istana. Di sepanjang koridor, jemarinya terus bergerak mengetik balasan pesan singkat dari Erika. Sahabatnya itu sejak tadi tiada henti mengeluh lewat pesan teks, mengaku kepalanya hampir pecah memikirkan situasi yang ada. Pasalnya, Deo sudah berjanji akan memberanikan diri menemui papanya. Namun gara-gara berita heboh itu mencuat, papanya kini mala

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Meredam Berita

    Ratu bukannya tidak tahu soal berita yang menghebohkan publik pagi ini. Tengah malam tadi ia sempat terbangun dari tidur, iseng membuka ponsel lalu menjelajahi media sosial, dan langsung menemukan artikel serta foto-foto itu berseliweran di linimasanya. Pandangan Ratu beralih dari ujung karpet menuju layar tablet yang baru saja dilempar kasar oleh ibunya. Gadis itu menarik napas pelan, lalu menyandarkan punggungnya ke sofa tanpa rasa gentar sedikit pun. "Kenapa sih, Ma, ribut sekali sepagi ini?" keluh Ratu seraya memutar bola matanya malas. "Mana mungkin aku berkencan dengan pria seperti pengawal pribadi Sera? Itu cuma berita ngaco yang dibesar-besarkan media saja." Dada Sintia kian naik-turun mendengar jawaban santai putrinya. Sorot matanya menatap tajam ke arah Ratu. "Kalau memang berita itu ngaco, kenapa bisa sampai muncul foto dan narasi memalukan seperti ini di internet?!" "Ya mana aku tahu, Ma," sahut Ratu ketus seraya mengibaskan tangannya pelan. "Jangan tanya ke aku. T

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status