แชร์

Di Mabuk Cinta

ผู้เขียน: Adinasya Mahila
last update วันที่เผยแพร่: 2026-10-06 17:03:54

Ratu membuang napasnya dengan kasar seraya menyambar kembali gelas kristal di mejanya. Ia menenggak air putih itu hingga tandas tak bersisa, lalu meletakkannya kembali ke atas meja dengan gerakan mantap.

"Karena kalau sampai ada yang tahu, pasti pikiran mereka akan persis sama seperti pikiran Mas Rendra sekarang," sahut Ratu ketus seraya melipat tangannya di dada. Matanya menatap sang kakak tanpa gentar. "Paling-paling ujungnya kami akan ditekan dan dipaksa untuk berpisah. Padahal kami ini baru
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (4)
goodnovel comment avatar
Eddy Hadarian
Mas Rendra jgn repot2 bicara sama Arkan biar urusan Arkan Sera yg ambil,Arkan pasti denger ucapan Sera. Sera lagi ngurusin Erika??
goodnovel comment avatar
🍁Mam 2R🍁
makanya cinta juga ada jukukanya cinta buta karena susah di nasehati, hihi
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Sera kemana ya???? Oh.... ya.. sera mgkin lagi temanin Erika ya.... 🫣🫣🫣
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Benar-benar Dalam Masalah Besar

    Evan membetulkan posisi duduknya, sedikit menoleh ke belakang seraya menjawab dengan sopan, "Nona Sera meminta izin pergi ke kediaman Nona Erika, Pak."Kening Rendra seketika berkerut dalam. Tatapannya menuntut penjelasan lebih. "Ke rumah Erika? Kenapa tiba-tiba sekali ke sana? Apa terjadi suatu masalah?"Evan mengangguk singkat. "Benar, Pak. Tampaknya ada urusan mendesak yang terjadi pada Nona Erika."Beberapa jam sebelumnya.Langkah kaki Sera dan Erika beriringan menyusuri lorong dingin dari arah ruang UGD menuju ruang koas. Suasana koridor cukup lengang, hanya terdengar derit roda brankar yang didorong perawat di kejauhan.Sera menoleh ke samping, memperhatikan Erika yang sejak tadi berjalan lesu dengan tatapan tertunduk ke lantai. Merasa tak tega melihat pundak sahabatnya yang merosot, Sera menyenggol pelan lengan Erika dengan sikunya."Kamu masih terus memikirkan soal rencana lamaran dari anak Pak Wapres?" tanya Sera hati-hati seraya memiringkan wajahnya, mencoba menatap manik ma

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Di Mabuk Cinta

    Ratu membuang napasnya dengan kasar seraya menyambar kembali gelas kristal di mejanya. Ia menenggak air putih itu hingga tandas tak bersisa, lalu meletakkannya kembali ke atas meja dengan gerakan mantap."Karena kalau sampai ada yang tahu, pasti pikiran mereka akan persis sama seperti pikiran Mas Rendra sekarang," sahut Ratu ketus seraya melipat tangannya di dada. Matanya menatap sang kakak tanpa gentar. "Paling-paling ujungnya kami akan ditekan dan dipaksa untuk berpisah. Padahal kami ini baru saja berpacaran, belum melangkah ke tahap yang serius sama sekali. Biarkan sajalah kami menjalaninya dulu, nanti lama-lama kalau memang tidak cocok juga kami akan berpisah sendiri."Rendra menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan, raut wajahnya tampak jelas tak habis pikir mendengar penuturan enteng dari mulut adiknya itu."Lihat saja sendiri ucapanmu itu," timpal Rendra tajam, tatapannya menghunus tepat ke manik mata Ratu. "Apa kamu sadar dengan apa yang baru saja kamu ucapkan barusan? Kamu bar

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Tidak Mengaku

    Siang harinya, di balik pintu kayu berukir sebuah ruang VIP restoran ternama, suasana begitu sepi dan dingin.Rendra duduk tegak di salah satu sisi meja panjang berlapis kain putih bersih. Di hadapannya, Ratu duduk seraya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan dengan kening berkerut heran.Gadis itu menatap kakaknya lekat-lekat, lalu meletakkan serbet kain di pangkuannya. "Kenapa Mas tiba-tiba mengajak aku makan siang di tempat seperti ini? Bukankah jadwal Mas biasanya sangat padat dan sibuk?"Rendra tidak langsung menyahut. Ia hanya menatap adiknya sekilas tanpa ekspresi berarti.Melihat kakaknya bergeming, Ratu mendengus geli lalu kembali mencecar. "Kemarin juga kita baru saja bertemu di mansion, jadi mana mungkin Mas Rendra kangen sama aku sampai harus mengajak makan berdua begini. Hari ini aku juga tidak sedang ulang tahun, jadi mana mungkin Mas mentraktirku tanpa alasan yang jelas."Rendra mengulurkan tangannya, meraih gelas kristal berisi air putih di samping piringnya. Pria i

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Terjepit

    Setelah percintaan panas mereka, Rendra masih mendekap Sera erat di bawah selimut tebal yang membungkus tubuh keduanya. Deru napas mereka berdua perlahan mulai teratur, berbaur dengan hawa dingin pendingin ruangan yang menusuk kulit.Sera menggeser sedikit tubuhnya, lalu mendongak menatap wajah Rendra yang tampak tenang dengan kelopak mata terpejam rapat. Keringat tipis masih tampak di pelipis pria itu. Jemari Sera bergerak pelan, menyusuri garis rahang sang suami."Mas Rendra mau tidur lagi?" bisik Sera pelan seraya memandangi lekuk wajah tegas di hadapannya. "Apa nanti tidak terlambat berangkat ke kantor? Memangnya jadwal Mas Rendra hari ini apa saja?"Alih-alih langsung membuka mata, Rendra justru memulas senyum tipis di bibirnya. Lengan kekarnya semakin melingkar erat di pinggang telanjang Sera, menarik tubuh wanita itu hingga tak menyisakan jarak sama sekali di antara dada mereka."Sebentar lagi..." gumam Rendra dengan suara serak khas bangun tidur yang berat. Dagu pria itu bertum

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Masih Pagi

    "Tidak apa-apa," jawab Rendra tegas, sorot matanya tampak mantap menatap Sera. "Ratu memang harus tahu kalau kita mengawasi dia dan Arkan. Supaya dia sadar dan tidak bisa berbuat seenaknya sendiri. Kamu tenang saja, aku pastikan bicara baik-baik padanya nanti tanpa menimbulkan kesalahpahaman."Sera menghela napas lega, ketegangan di wajahnya perlahan mencair. Ia mengangguk pelan seraya membiarkan telapak tangan Rendra kembali terangkat, mengusap pipinya lembut dengan ibu jari."Sekarang jangan dipikirkan lagi. Ayo tidur," bisik Rendra seraya menarik selimut hingga menutupi dada mereka berdua.Sera merebahkan kepalanya kembali di samping Rendra, memejamkan mata perlahan hingga kantuk benar-benar membawanya larut dalam lelap.Keesokan harinya, jam bahkan belum menyentuh angka lima pagi. Udara masih pekat dan dingin menusuk kulit, pertanda matahari masih cukup jauh untuk menyingsing.Di tengah temaram kamar, kelopak mata Sera perlahan terbuka. Merasa dorongan kuat untuk segera buang air

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Mereka Pacaran

    "Tentu saja," jawab Rendra mantap tanpa ada nada ragu sedikit pun di suaranya. Alisnya terangkat sebelah, mengamati raut wajah Sera yang masih tegang. "Kenapa? Apa kamu tidak menginginkannya?"Sera terdiam. Tatapannya tertunduk ke arah seprai ranjang, jari-jemarinya tanpa sadar saling bertaut di atas pangkuan.Rendra memperhatikan gerak-gerik itu dalam diam. Pria itu sedikit memiringkan kepala, seolah bisa membaca gundah dan keraguan yang tertahan di balik kebungkaman sang istri."Aku masih ingin mengambil kuliah spesialis, Mas," ungkap Sera lirih. Ia mengangkat wajahnya perlahan, mencoba membaca ekspresi Rendra. "Tapi kalau memang hasilnya nanti aku hamil, aku juga sama sekali tidak masalah."Rendra mengulurkan tangan kanannya. Telapak tangannya yang hangat menempel di pipi Sera, ibu jarinya mengusap lembut tulang pipi wanita itu. "Kita jalani saja semuanya," ucap Rendra tenang, nada bicaranya begitu menenangkan. "Aku akan selalu ada untukmu, bagaimanapun situasinya nanti."Sentuhan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status