Share

Bab 44

Author: Lilia
"Maaf, aku nggak mempertimbangkan dengan baik tadi. Kita akan menunggu sampai Putri benar-benar siap." Setelah terdiam untuk waktu yang lama, Luis akhirnya berbicara dengan nada sedikit menyesal.

Bagaimanapun, Anggi adalah penyelamatnya, juga adalah perempuan yang ingin dia temui selama ini. Bagaimana mungkin dia memaksanya?

Dalam kegelapan, Luis mendengar Anggi menghela napas lega. Suara itu sangat halus, tetapi menusuk ke hatinya, membuatnya merasa tidak nyaman dan sedikit terluka.

Anggi memang tidak menolak, mengatakan akan bersamanya seumur hidup. Namun di dalam hatinya, pasti ada keterpaksaan, 'kan?

Luis sudah siap untuk bersatu dengannya, tetapi sekarang semuanya harus ditahan. Hal ini sungguh menyiksanya.

"Putri, istirahatlah. Aku baru teringat ada urusan mendesak." Setelah berkata begitu, Luis memakai kembali pakaiannya, lalu mendorong kursi rodanya keluar.

Anggi ingin bangkit untuk mengantarnya, tetapi Luis menolak. Kenapa begini? Bukankah dia sendiri yang ingin melakukannya?
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (5)
goodnovel comment avatar
Indah Pratiwi
duhhh.... jd saling tebak perasaan sehhh ga saling jujur yhh ga jd deh
goodnovel comment avatar
Francisca Mary
50 point d redeemed ingat bolh tengok next.
goodnovel comment avatar
Wiwit Sihpanglipur
saya suka cetitanya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1173

    "Kamu ada urusan?"Pati mengangguk."Tapi urusan apa yang lebih penting daripada menyelesaikan amanat dari Paman Aska?"Pati melihat Ishaq yang tampak kebingungan. Di saat seperti ini, tuannya kemungkinan besar sudah akan meninggalkan ibu kota, jadi dia harus segera menjelaskan."Terus terang saja, dua peti besar ini adalah hadiah ulang tahun Putri Mahkota tahun ini. Satu peti lainnya untuk Putri Harmoni. Dua peti kecil sisanya adalah hadiah ulang tahun Putri Mahkota dan Putri Harmoni selama sepuluh tahun ke depan. Tuanku akan meninggalkan ibu kota.""Apa ...?" Ishaq sangat terkejut, tetapi setelah dipikirkan dengan saksama, dia langsung mengerti.Tak heran Aska menyerahkan Paviliun Cahaya, bahkan sampai cap resmi Biro Falak, kepadanya. Aska benar-benar berniat menjauh sepenuhnya dari ibu kota!Ishaq telah mengembara selama bertahun-tahun, menyaksikan tak terhitung perpisahan hidup dan mati, tetapi tetap merasakan getaran di hatinya.Setelah berhari-hari bersama, bagi Ishaq, Aska adala

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1172

    "Anggi, Anggi ... nama Anggi ini sudah kamu panggil seumur hidup."Aska tidak menjawab.Keswan hanya bisa menerima kotak itu dan berkata, "Baik, aku mengerti."Bahkan untuk perjalanan jauh seperti ini pun, Aska masih menyiapkan begitu banyak benda untuk Anggi dan Luis, khawatir mereka akan bertemu hal-hal sesat atau gangguan di luar sana.Keswan menghela napas berulang kali, nyaris menyeka air matanya. "Dasar ... di usia segini masih harus menanggung perpisahan ...."Aska tersenyum menatapnya.Sepanjang hidupnya, perasaan Aska memang tidak terlalu besar. Selain kepada Anggi dan anak-anak Anggi, hampir tidak ada apa pun yang benar-benar mengikat hatinya. Namun saat melihat Keswan seperti ini, tetap saja timbul sedikit rasa sendu. "Baik. Aku berjanji, aku akan kembali untuk mengantarmu di akhir ajal nanti.""Pegang janjimu!""Ya. Aku akan pegang janjiku."Keswan tahu, Aska selalu menepati ucapannya. Jadi, dia pun menahan kesedihannya.Meski bakatnya tidak sebanding dengan Aska, selama hi

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1171

    'Kata-kata Kak Ishaq memang benar. Ayahanda dan Ibunda benar-benar orang tua terbaik di dunia. Zenna benar-benar merasa bahagia.'Tiga hari kemudian, tanggal 9 Juni.Hari itu, sidang pagi istana digelar.Luis secara resmi mengumumkan bahwa bulan depan dia akan turun takhta, sekaligus menyampaikan bahwa Aska telah memilihkan hari yang sangat baik untuk itu. Seluruh pejabat istana terkejut, tetapi juga tidak merasa benar-benar heran.Keinginan Kaisar untuk melakukan hal itu sudah ada sejak bertahun-tahun lalu.Usai sidang pagi.Para pejabat pun berbondong-bondong menuju kediaman Putri Mahkota untuk menghadiri jamuan ulang tahun Putri Mahkota.....Di Biro Falak.Ishaq menuju Paviliun Rembulan. Dia melihat gurunya mengenakan jubah putih, sedang duduk bersila bermeditasi. Dia berdiri cukup lama dan tidak berani mengganggu.Akhirnya, dia memilih mencari tempat sendiri dan duduk bersila, lalu menenangkan pikiran sambil mengingat kembali kitab-kitab Tao yang pernah dia pelajari.Dua jam kemud

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1170

    Zahra terperangah, matanya membelalak tak percaya. "Ah, mana mungkin bisa seperti itu?"Ishaq tersenyum sambil menggeleng. "Kamu seharusnya bersyukur, Ayahanda adalah ayah yang baik."Zahra kebingungan. "Ayahanda tentu saja ayah yang baik!"Ishaq teringat sesuatu, lalu mengutip berbagai kisah sejarah kepada Zenna. Dia menceritakan tentang para putri kerajaan di berbagai dinasti yang dijadikan alat pernikahan politik, serta bagaimana akhir nasib mereka.Zenna langsung menutup telinganya. "Nggak, nggak, aku nggak mau dengar.""Kalau sampai begitu, lebih baik aku mati!"Ishaq tertawa ringan. "Kamu nggak akan sampai begitu. Karena Ayahanda, juga Kak Zahra, kami semua akan melindungimu. Lalu kenapa kita malah ingin memaksa Zahra memilih suami pendamping? Bukankah itu alasan yang sama?"Zenna terdiam sejenak. "Aku hanya takut ....""Kalau itu memang ujian Zahra, maka itu juga sudah menjadi takdirnya," ujar Ishaq. Setelah berkata demikian, dia membuka kembali bukunya dan melanjutkan membaca.

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1169

    Luis menatap ke luar jendela dengan penuh harapan.Zahra mengangguk. "Ayahanda pasti akan mewujudkannya."Tentu saja akan terwujud.Semua itu telah dia persiapkan lebih dari sepuluh tahun, lintas berbagai negeri. Bukan hanya peta rute yang diberikan Keswan, tetapi juga rute yang disiapkan Gilang. Semuanya ingin mereka kunjungi satu per satu."Mulai besok, Zahra akan tinggal di istana," ujar Zahra sambil tersenyum.Sebelumnya dia sempat dibuat kalut oleh perasaan yang belum jelas arahnya. Kini dia sadar, jika sekarang tidak meluangkan waktu untuk benar-benar berkumpul sebagai keluarga, kelak Ayahanda, Ibu, bahkan Zenna mungkin akan ikut bepergian. Saat itu, sekalipun dia ingin bertemu, yang tersisa hanyalah rindu dari kejauhan."Selamat jalan, Ayahanda," ucap Zahra memberi salam.Di luar kediaman Putri Mahkota, semua orang mengantar kepergian Kaisar, "Selamat jalan, Kaisar!"Zahra menoleh ke arah Arya. "Coba tebak, apa yang Ayahanda bicarakan denganku?" Sambil berkata demikian, dia berb

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1168

    "Maksud Ayahanda ...?"Luis berkata, "Di hari ulang tahunmu, aku akan mengumumkan bahwa bulan depan aku akan turun takhta."Zahra mengernyitkan kening. Harus diakui, dia memang merasakan sedikit gejolak di hatinya. Perasaan itu bukan kegembiraan, melainkan lebih kepada ketegangan. Dia teringat apa yang pernah dikatakan Ilham, bahwa banyak anggota keluarga kekaisaran yang berebut takhta hingga kepala berdarah-darah.Saling membunuh antar saudara, pemberontakan, segala cara ditempuh demi posisi itu. Sementara dia memperolehnya dengan begitu mudah. Tidak ada perasaan yang terlalu istimewa, bahkan di dalam hatinya sempat terlintas bahwa posisi itu seharusnya diduduki oleh Ishaq.Zahra berlutut. "Zahra akan mematuhi titah Ayahanda."Luis membantunya berdiri, lalu berkata dengan nada serius, "Saat ini, Perdana Menteri Kumar memimpin para menteri. Mereka semua adalah orang-orang yang diangkat Ayahanda sendiri. Bisa jadi kelak kamu akan sulit mengendalikan mereka. Karena itu, Ayahanda meningga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status