LOGINJoko melajukan motornya ke kampung yang ingin di tuju Bu Yeni. Setibanya di sana, Bu Yeni meminta turun sebelum rumah temannya.
Joko pun menghentikan motornya. Bu Yeni turun dari motor, lalu ia membuka tas yang dibawanya. Ia meraih seikat tebal uang 100 ribu, lalu menyerahkannya kepada Joko. "Nih, bayaran kamu! Aku tambahin lima ratus, jadi dua juta lima ratus," ucap Bu Yeni dengan nada genit. Melihat uang yaJoko menatap para wanita di hadapannya dengan senyum nakal. "Wah, punya kalian jadi makin bagus aja, ya." "Sayang!" Lana memukul pelan lengan Joko, tapi wajahnya memerah dengan senyum tertahan. Mona ikut mendekat, lalu kedua wanita itu saling pandang dengan seringai jahil. Mereka membusungkan dada, sengaja memamerkan hasil perubahan tubuh mereka di depan Joko. "Mau coba, gak? Kekenyalannya beda lho sekarang," goda Lana sambil mengerling. "Buktiin sendiri, Sayang. Jangan cuma lihat doang," tambah Mona, ikut menantang dengan nada menggoda. Joko tidak butuh waktu lama untuk menjawab. Tangannya langsung terangkat, meremas pelan semangka kedua wanita itu secara bergantian. "Ahh~" Lana dan Mona mendesah bersamaan, tubuh mereka sedikit menegang. Joko mengangguk-angguk puas, masih belum melepaskan tangannya. "Benar juga. Jadi lebih padat dan kenyal." "Wah, masih belum puas kelihatannya," celetuk Ayu yang baru ma
"Cahaya?" Joko mengulang kata itu sambil tertawa kecil, berusaha terdengar santai. "Mungkin maksudku warna sama motifnya!" Bella menyipitkan matanya, menatap Joko lebih lama dari yang seharusnya. Tapi dia tidak membantah, hanya mengangguk pelan, seolah menyimpan kecurigaannya untuk nanti. "Oh ya sudah," ucapnya akhirnya, lalu tersenyum lagi. "Joko, kamu ada waktu ngobrol sebentar gak?" Joko mengangkat alis. "Ngobrol soal apa?" "Aku percaya kamu sebenarnya paham banget soal barang antik," jawab Bella sambil melangkah ke rak di belakang meja kasir. "Aku punya beberapa koleksi yang belum sempat aku pastikan keasliannya. Kalau kamu mau lihat, aku bakal senang banget." Joko terdiam sejenak. Dia tahu, Bella bukan wanita sembarangan yang gampang dibodohi. Alasan "beruntung" yang dia pakai tadi jelas tidak akan mempan kalau diuji lagi dengan barang-barang lain. Lagi pula, kenyataannya dia memang tidak paham soal ciri-ciri barang antik. Dia cuma bisa melihat aura keasliannya lewat pengli
Bella meletakkan mangkuk itu kembali ke atas meja dengan hati-hati, seolah benda itu bisa pecah kapan saja. "Kalau kamu mau, aku bisa beli mangkuk ini darimu. Harga berapa pun, aku bayar." Joko sempat teringat rencananya memakai mangkuk itu untuk meramu pil. Tapi mendengar betapa langka dan berharganya benda itu, dia jadi berpikir ulang. Menjualnya bisa memberinya modal jauh lebih besar, dan dia masih bisa mencari bahan pengganti lain untuk memurnikan ramuan. "Boleh," jawab Joko akhirnya. "Tapi harganya harus pantas." Mata Bella berbinar. "Tentu saja. Sebentar, aku periksa dulu barang-barang lainnya. Siapa tahu ada yang menarik juga." Joko teringat barang-barang lain di dalam tasnya. Dia mengeluarkan pipa rokok dari batu hijau, kotak kayu berukir, dan bandul kalung dari logam hitam, lalu meletakkannya satu per satu di atas meja. Bella memeriksa satu per satu dengan teliti, kali ini jauh lebih hati-hati dari sebelumnya. Pipa rokok itu dia putar-putar, mengendus aromanya, la
Toko Antik Cahaya Lestari berdiri megah di sudut jalan besar, jauh berbeda dari lapak-lapak kumuh di Pasar Antik Jalan Kencana. Bangunannya dua lantai, dengan etalase kaca besar yang memamerkan barang-barang antik bernilai tinggi. Verona melangkah masuk dengan percaya diri, diikuti Joko dan dua pengawalnya di belakang. Seorang wanita muncul dari balik meja kasir begitu lonceng pintu berbunyi. Wanita itu sangat cantik, tubuhnya seksi dengan lekuk yang menggoda, dan payudaranya besar seperti semangka yang terbungkus blazer ketat. "Verona! Lama gak main ke sini!" sapa wanita itu dengan nada genit sambil melangkah mendekat. "Bella," balas Verona sambil tersenyum tipis. Wanita bernama Bella itu menoleh ke arah Joko. Matanya langsung berbinar begitu melihat wajah tampan pemuda di samping Verona. "Wah, siapa ini? Pacar baru kamu, Verona?" tanyanya sambil melirik Joko dari atas sampai bawah dengan tatapan menggoda. Wajah Verona langsung berubah. "Bukan! Dia cuma kenalan baru."
Wanita itu menghela napas panjang. Amarahnya masih membara, tapi dia sadar berdebat lebih lama hanya akan membuang waktu. "Sudahlah! Percuma bicara sama pedagang gak tahu malu sepertimu!" Dia membalikkan badan, hendak melangkah pergi. Pedagang berkumis itu tersenyum puas, mengira dirinya menang. Namun sebelum wanita itu benar-benar beranjak, Joko melangkah maju dari kerumunan. "Tuan, boleh saya tanya sesuatu?" ucapnya sambil menunjuk ke sudut lapak yang tertutup kain lusuh. Pedagang berkumis itu menoleh, sedikit terkejut. "Tanya apa, Tuan?" "Barang yang di belakang itu, yang ditutup kain. Apa itu?" Pedagang itu melirik ke arah yang ditunjuk Joko, lalu tertawa kecil. "Oh, itu cuma tungku tua, Tuan. Karatan, gak ada nilainya. Mau saya kasih gratis juga gak masalah." "Boleh saya lihat?" Pedagang itu mengangkat bahu, lalu menyingkap kain lusuh itu. Sebuah tungku kecil dari logam gelap muncul dari balik tumpukan barang rongsokan. Bentuknya sederhana, permukaannya penuh ka
Pasar Antik Jalan Kencana... Joko memarkir mobilnya di ujung jalan. Begitu turun, matanya langsung terbelalak. Sepanjang jalan dipenuhi pedagang barang antik. Ada yang membuka toko besar dengan etalase kaca, ada juga yang cuma menggelar tikar di tepi jalan. Guci, patung, keris, uang kuno, lukisan tua, sampai perabot kayu berukir, semuanya dijajakan berjejer seperti pasar tradisional. Suara tawar-menawar terdengar di mana-mana. "Tuan, mampir, Tuan! Ini guci dinasti kuno, asli!" "Keris pusaka, Tuan! Ada isinya!" Joko hanya tersenyum sambil terus melangkah. Dia tahu, di tempat seperti ini, barang palsu jauh lebih banyak daripada yang asli. Beberapa pedagang meliriknya dengan mata berbinar. Penampilan Joko yang rapi dan wajahnya yang tampan membuat mereka mengira dia anak orang kaya yang gampang ditipu. "Sini, Tuan! Ini pusaka peninggalan kerajaan, cuma tinggal satu!" "Jangan percaya sama dia, Tuan! Punya saya yang asli!" Joko melambaikan tangan sambil terus berjalan. Dia berhen
Waktu terus berlalu. Tak terasa, jam pulang sekolah pun sebentar lagi akan tiba. Selama menunggu waktu itu, Joko sudah mendapatkan tujuh penumpang. Tentu saja, penghasilannya hari ini sudah cukup banyak. Joko sudah bersiap menunggu para siswa SMA yang sebentar lagi pulang sekolah. Ia duduk santa
Tak lama kemudian, Bu Sinta telah selesai membuat kopi, lalu dia menyajikannya di meja depan Joko. "Nih... sudah jadi, silakan di minum," ucap Bu Sinta dengan riang. "Makasih yah." Joko langsung mengambil cangkir berisi kopi itu, laku menyesap kopi di dalamnya. Ekspresi wajahnya tampak sangat me
Joko melajukan motornya ke luar dari kampung, ia pergi menjemput gadis bernama Mia di kosannya. Sampai di sana, ternyata Mia belum siap. Pada akhirnya, Joko menjemput langganannya yang lain terlebih dahulu. Gadis yang Joko jemput bernama Dea. Kosan Dea tidak jauh dari kosan Mia, jadi tidak butuh
Ketika hari mulai beranjak sore, Joko memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Penghasilannya dari mengojek hari ini sudah cukup banyak, jadi ia tidak perlu lagi berkeliling mencari penumpang hingga malam. Setelah selesai bersih-bersih, Joko duduk di kursi yang sudah tampak lapuk dimakan usia. Ia kemu







