Beranda / Urban / Pemuda Pemikat Gadis Desa / Bab 69 Keuntungan Besar

Share

Bab 69 Keuntungan Besar

Penulis: Tristar
last update Tanggal publikasi: 2026-05-01 12:00:00

Joko melajukan motornya ke kampung yang ingin di tuju Bu Yeni. Setibanya di sana, Bu Yeni meminta turun sebelum rumah temannya.

Joko pun menghentikan motornya.

Bu Yeni turun dari motor, lalu ia membuka tas yang dibawanya. Ia meraih seikat tebal uang 100 ribu, lalu menyerahkannya kepada Joko.

"Nih, bayaran kamu! Aku tambahin lima ratus, jadi dua juta lima ratus," ucap Bu Yeni dengan nada genit.

Melihat uang ya
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 398 Tato Bulan Merah

    Sosok berpakaian hitam itu tidak menaruh jarumnya. Dia justru melemparkannya. Jarum hitam itu melesat ke arah jendela yang pecah, lurus menuju ranjang ayah Nadya, secepat peluru. Tapi Joko lebih cepat. Langkah Bayangan yang dulu terasa berat kini mengalir ringan seperti napas. Tubuhnya menghilang dari tengah taman dan muncul di depan jendela dalam sekejap. Tangannya terulur, dan jarum hitam itu terjepit di antara dua jarinya, sejengkal dari bingkai jendela. Dingin jarum itu menusuk kulitnya. Tapi energi putih keemasan di jemarinya langsung membakarnya. Jarum hitam itu retak, lalu hancur menjadi serpihan abu. Joko berbalik perlahan. Sosok berpakaian hitam itu sudah mundur beberapa langkah. Benang-benang hitam di sekelilingnya berputar liar, tidak lagi teratur seperti tadi. "Kau..." desisnya. Joko melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah.

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 397 Benang Yang Menjerat

    Nyonya Desi bergerak lebih dulu. Dia melesat ke arah sosok kedua seperti anak panah yang dilepas dari busurnya. Belati melengkung itu menyambar ke arah wajahnya, tapi Nyonya Desi memiringkan kepala, membiarkan bilahnya lewat sehelai rambut di depan hidungnya, lalu menghantamkan siku ke rusuk lawannya. Bunyi tulang retak terdengar jelas di tengah sunyinya malam. Pertarungan mereka bergeser menjauh ke arah pepohonan, meninggalkan Joko berhadapan dengan sosok berbenang hitam di tengah taman. === "Wanita itu lumayan," ucap sosok berpakaian hitam, melirik sekilas ke arah Nyonya Desi. "Sayang, dia gak akan bisa menolongmu." Benang-benang hitam di sekelilingnya berputar semakin cepat. Puluhan helai, setipis rambut, tapi setajam bilah pedang. Joko menarik napas dalam-dalam. Energinya tinggal sedikit. Kalau terus begini, dia tidak akan bertahan lama. Dia memu

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 396 Bayangan Di Taman Timur

    Joko menerjang keluar dari kamar tamu. Lorong sayap barat gelap dan sunyi. Kakinya masih lemas, kepalanya masih berat setelah tujuh jam pingsan. Tapi dia memaksa tubuhnya bergerak dengan Langkah Bayangan, melesat menembus lorong demi lorong menuju sayap timur. Setiap langkah terasa seperti menarik beban berat. Energinya baru pulih kurang dari separuh. "Sial," desisnya. "Kenapa harus malam ini?" Pertanyaan bodoh. Dia tahu jawabannya. Karena malam ini dia paling lemah. Karena tadi pagi dia memotong sepuluh benang, sementara seseorang di kejauhan merasakan setiap benang itu putus. Mereka pasti tahu dia pingsan, dan mereka tidak akan menunggu sampai dia pulih. === Pintu ruangan orang tua Nadya masih tertutup. Di depannya, salah satu ahli Keluarga Lintang tergeletak di lantai, bersandar di dinding. Matanya terpejam. Sebatang jarum hitam sepanjang jari kelingking menancap di lehernya.

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 395 Sadar Sebentar

    Pukul tujuh pagi. Dokter Clara sudah berdiri di depan monitor saat Joko masuk. Matanya sedikit sembap, jelas dia tidak tidur semalaman. Tabletnya penuh coretan dan grafik. "Sepuluh benang," ucapnya tanpa basa-basi. "Lima di tubuh Tuan Haris, lima di tubuh istrinya. Aku sudah mengurutkannya dari yang paling stabil." "Kamu gak tidur?" "Kamu juga gak tidur," balas Dokter Clara datar. "Waktu aku pulang tengah malam, kamu masih berdiri di depan jendela." Joko tidak membantah. Nadya masuk tak lama kemudian, diikuti Tante Ratih. Dua ahli Keluarga Lintang berjaga di depan pintu. Pria-pria paruh baya berpakaian abu-abu dengan aura Master tahap awal. "Kalau sampai kamu pingsan," ucap Nadya, berdiri di depan Joko dengan tangan terlipat, "aku sendiri yang akan menyeretmu ke ranjang dan mengikatmu di sana." "Kedengarannya menyenangkan," balas Joko. Wajah Nadya me

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 394 Aliran Sesat

    Sore harinya, ruang kerja Tuan Tua Wangsa dipenuhi wajah-wajah tegang. Tuan Tua Suryo datang secepat mungkin setelah ditelepon. Dia duduk di kursi seberang meja dengan janggut putihnya yang panjang, mendengarkan cerita Joko tanpa menyela sekali pun. Nadya duduk di sofa, matanya masih merah. Tante Ratih di sampingnya, menggenggam tangan keponakannya. Dokter Clara berdiri di dekat rak buku dengan tablet di tangan. "Jadi dia bisa mengendalikan benang itu tanpa menyentuh," ucap Tuan Tua Suryo setelah Joko selesai bercerita. Suaranya berat. "Iya, Kek," jawab Joko. "Tapi aku rasa ada batasnya." Semua mata tertuju padanya. "Selama ini, simpul di tengkorak mereka cuma berdenyut pelan. Teratur. Seperti tali yang dipegang dari jauh tapi gak ditarik." Joko menatap tangannya sendiri. "Tadi pagi, begitu Tabib Mahesa berdiri dua langkah dari ranjang, denyutnya langsung liar. Tarikannya kuat sekali."

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 393 Ternyata Dia!

    Sayap timur kediaman Keluarga Permata. Dokter Clara sedang memeriksa monitor saat rombongan itu masuk. Dia menoleh, menatap Ruan Feng dan pria tua berjubah cokelat di belakangnya dengan alis terangkat. "Ini siapa?" "Tamu," jawab Joko singkat. Dia berdiri di antara pintu dan ranjang ayah Nadya. "Dokter, tolong perhatikan monitornya. Jangan lengah sedetik pun." Dokter Clara menangkap nada suara Joko. Tanpa bertanya lagi, dia memutar tubuhnya menghadap layar. Tabib Mahesa melangkah pelan ke tengah ruangan. Matanya menyapu kedua ranjang, mesin-mesin medis, lalu berhenti di wajah ayah Nadya. Lama dia menatap pria yang terbaring itu. Lalu dia menghela napas pendek, seperti seorang pengrajin yang melihat hasil karyanya dirusak orang lain. "Rapi," gumamnya. "Potongannya rapi sekali." Joko tidak menjawab. Dia berdiri tegak, energi putih keemasan mengalir samar di bawah kuli

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 2 Memiliki Hasrat Besar

    Namun, saat Bu Sinta hendak meladeni godaan Joko, tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya mendekat ke warung. Perhatikan Bu Sinta dan Joko langsung teralihkan kepada wanita paruh baya itu. Bu Sinta yang mengenali wanita paruh baya itu, langsung menyapanya dengan hangat. "Bu Sri... mau ke mana? in

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 1 Pangkalan Baru

    "Jok, kamu emang ojek, tapi kamu baik banget. Anterin aku ya, tiap hari, nanti bayarannya uang sama ada deh, bayaran khusus, plus-plus kok!"Setiap wanita yang ditemui Joko, hampir selalu seperti itu. Entah itu gadis desa, wanita lajang, hingga para janda kesepian. Usianya dua puluh lima tahun. Ia

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 7 Ada Yang Cemburu

    Waktu terus berlalu. Tak terasa, jam pulang sekolah pun sebentar lagi akan tiba. Selama menunggu waktu itu, Joko sudah mendapatkan tujuh penumpang. Tentu saja, penghasilannya hari ini sudah cukup banyak. Joko sudah bersiap menunggu para siswa SMA yang sebentar lagi pulang sekolah. Ia duduk santa

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 6 Bantu Puaskan Aku, Bang!

    Tak lama kemudian, Bu Sinta telah selesai membuat kopi, lalu dia menyajikannya di meja depan Joko. "Nih... sudah jadi, silakan di minum," ucap Bu Sinta dengan riang. "Makasih yah." Joko langsung mengambil cangkir berisi kopi itu, laku menyesap kopi di dalamnya. Ekspresi wajahnya tampak sangat me

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status