MasukJam menunjukkan pukul setengah delapan malam. Di dalam kamarnya, Satria sedang bermanja pada Rain.Satria yang bertelanjang dada, berbaring dengan posisi tengkurap di atas ranjang dan meminta Rain mengusap-usap punggungnya dengan lembut. Pemuda itu terlihat begitu menikmati perhatian yang diberikan sang istri."Agak bawah dikit, Sayang!" kata Satria. Merengek minta diusap bagian pinggangnya pada Rain.Menghadapi kelakuan aneh suami berondongnya, Rain hanya bisa menghela napas panjang dan geleng-geleng kepala. Entah sudah berapa kali ia harus menghadapi tingkah kekanak-kanakan Satria yang semakin hari justru semakin menjadi-jadi.Bukannya semakin dewasa setelah menikah, pemuda itu malah seperti menemukan sisi manjanya yang selama ini tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.Tanpa berbicara sepatah kata pun, wanita berperut buncit seperti kecebong itu pun menurunkan gerakan tangannya, mengusap bagian pinggang sang suami dengan gerakan yang agak kasar."Sayang, kok kayak gitu sih? Kay
"Egois apa maksud kamu? Setiap kali kita ngewe, aku selalu kasih kamu uang lho. Dan jumlahnya gak sedikit dan mungkin lebih banyak dari bayaran yang kamu dapat dari pejabat-pejabat langganan kamu itu!"Degh!Isak tangis Dewi seketika berhenti. Ia dibuat kaget dan syok mendengar perkataan pedas yang dilontarkan oleh Andrean. Kedua matanya yang sebelumnya berkaca-kaca kini menatap pria itu dengan tatapan tidak percaya. Bahkan, untuk beberapa saat Dewi hanya terdiam tanpa mampu membalas perkataan Andrean.Respon Andrean benar-benar di luar ekspektasinya. Ia pikir pria yang berstatus duda itu akan luluh dan membujuknya seperti biasa. Selama ini, Dewi selalu berhasil membuat Andrean merasa iba setiap kali dirinya menangis dan menunjukkan sisi lemahnya. Karena itu, ia sama sekali tidak menyangka jika kali ini Andrean justru akan membalasnya dengan perkataan yang begitu menyakitkan.Andrean bahkan mengingatkan pekerjaannya sebagai pelacur dan juga simpanan para pejabat kota."Ndre, kamu...."
"Kamu apa-apaan sih? Emangnya kamu siapa? Kok ngatur-ngatur aku terus?!"Degh!Terkejut Dewi mendengar perkataan kasar bernada tinggi yang dilontarkan oleh Andrean. Wanita itu sampai terdiam sesaat. Ia tidak menyangka Andrean akan membentaknya dengan nada setinggi itu.Wajah wanita binal pemilik dada besar brutal itu seketika memerah. Sedangkan kedua tangannya yang berada di sisi tubuh terkepal erat. Matanya menatap marah Andrean yang saat ini duduk di tengah-tengah ranjang kamarnya.Dewi merasa jika Antrean sangat keterlaluan. Bagaimana tidak? Setelah semua yang terjadi di antara mereka, Andrean justru bertanya seperti itu padanya."Kamu ngomong apa, Ndre? Kamu tanya aku siapa? Setelah semua yang terjadi di antara kita, kamu tanya aku siapa?!" kata Dewi, menimpali perkataan Andrean dengan suaranya yang melengking.Napas wanita binal memburu. Rasa kesal yang sejak tadi berusaha ditahannya kini tidak dapat lagi dikendalikanMendengar perkataan Dewi, Andrean memijat pelipisnya. Lelah,
"[Apartemen Togar kosong. Dan dari hasil pengamatan polisi, apartemen itu baru aja ditinggalkan!]"Degh!Mendengar perkataan Ares, Satria langsung terkejut. Sejak tadi pemuda mantan gigolo privat itu memang menunggu kabar terbaru dari Ares. Namun, bukannya kabar baik yang didapat, justru informasi buruk yang membuat pikirannya kembali dipenuhi kekhawatiran."Om serius?" tanya Satria. Ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.Pemuda itu bertanya kepada Ares yang berada di ujung telepon. Keningnya berkerut, membuat kedua alisnya bertautan. Sedangkan wajah tampannya kini memerah seperti tomat masak yang hampir busuk. Ada rasa kesal sekaligus cemas yang bercampur menjadi satu di dalam hatinya saat ini. Helaan napas berat Ares terdengar dari seberang telepon, menunjukan jika saat ini Ares tidak puas dengan informasi yang diapatnya dari orang dalam kantor polisi. "[Iya. Dan sekarang polisi lagi berupaya mencari pria itu sampai ketemu!]"Satria terdiam sejenak. Rahangny
Togar, anak buah Tuan Seno yang menyadari jika saat ini petugas kepolisian sedang mencarinya dan melakukan penyelidikan, tampak sedang bersiap-siap untuk meninggalkan apartemennya."Aku harus bergerak cepat sebelum para polisi sialan itu datang ke tempat ini," kata Togar sembari memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket kulit yang dipakainya.Pria tiga puluh lima tahun itu keluar dari apartemennya dengan terburu-buru tanpa membawa apa pun, kecuali ponsel dan seluruh uang yang dimilikinya. Ia bahkan tidak sempat memikirkan barang-barang lain yang tertinggal di dalam apartemen. Yang ada di kepalanya saat ini hanya satu, yaitu bagaimana caranya agar bisa lolos dari kejaran polisi.Namun, saat akan menuju lift, langkah Togar mendadak terhenti. Dari kejauhan, ia melihat dua orang petugas polisi tanpa seragam yang sedang berjalan menuju ke arahnya."Sial! Kenapa mereka datang secepat ini?" kata Togar. Ia mengepalkan kedua tangannya dengan erat di sisi tubuh.Meskipun tidak memakai seragam tu
Jam menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Nabila yang sudah beberapa kali dipanggil oleh pelayan untuk makan malam, akhirnya beranjak dari duduknya dan turun dari atas ranjang. Dengan langkah gontai, gadis binal itu keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah. Tubuhnya terasa lemas dan tatapannya sedikit sayu. Sesekali, ia menghela napas pelan karena tubuhnya masih terasa tidak nyaman setelah kejadian yang berlangsung beberapa jam sebelumnya. Tiba di lantai bawah, Nabila langsung menuju dapur. Menghampiri Diana dan Tuan Seno yang sudah menunggunya sejak tadi di meja makan. "Ma, Pa, maaf ya udah bikin kalian nungguin," kata Nabila. Suaranya serak dan pelan, menunjukkan jika ia sedang tidak baik-baik saja. Mendengar suara serak Nabila, Diana langsung mengangkat wajahnya dan menatap ke arah sumber suara. Wanita itu bahkan sempat menghentikan gerakan tangannya yang hendak mengambil makanan. Begitu melihat raut wajah Nabila dan juga pakaian yang dikenakannya, Diana spontan menge
"Oke... jangan lupa besok malam temui saya di hotel permata kamar nomor 7!" Melotot lebar mata Satria, seperti mau melompat dari tempatnya berada. Kaget mendengar nama hotel yang disebutkan oleh Rain. "Ho-ho-hotel permata?" tanya Satria dengan suaranya yang tergagap. Rain mengangguk, sedan
"Kamu pria panggilan itu, kan? Jadilah pemuas ranjangku, maka semua beban keuanganmu tahun ini, saya yang akan menanggung." Tubuh Satria membeku. Ia meneguk ludah dengan bersusah payah, sepasang netranya yang kecoklatan menatap pada seorang wanita cantik bertubuh seksi yang duduk di kursi seberang
Lama Rain dan Satria bergumul di sore menjelang malam hari tersebut. Akhirnya keduanya pun menyudahi pergumulan mereka setelah merasa puas. Kini, Rain yang merasakan pegal pada punggung dan pinggulnya, tampak berbaring lemas di tengah-tengah kasur empuk yang luas. Sedangkan di pinggiran ranjang,
"Kalau enak, buruan gantian. Aku juga mau dipuasin!" Mata Satria yang sayu berkabut gairah, spontan melotot saat mendengar kalimat ketus yang keluar dari mulut Rain. Batin pemuda itu, cepat sekali ekspresi dan sikap Rain berubah. Ia pikir, kekasihnya serius ingin memberikan service dan memuaskann







