LOGINSeminggu telah berlalu sejak meninggalnya Bu Sela. Selama itu, Andrean kerap menghabiskan waktunya di pemakaman.Pria itu benar-benar merasa terpukul atas kepergian sang ibu, satu-satunya keluarga yang ia miliki. Kepergian Bu Sela membuat hidup Andrean seolah kehilangan arah."Ma, sekarang aku harus gimana? Aku gak punya siapa-siapa lagi sekarang. Aku mau ikut Mama aja."Andrean yang duduk di samping gundukan tanah makam ibunya yang masih basah, menangis dan mengeluh. Matanya sembap, wajahnya terlihat kusut, dan tubuhnya pun terlihat begitu lelah. Bahkan di hari ketujuh kematian Bu Sela, ia tak hentinya menghabiskan waktu di area pemakaman tersebut.Berada di sana, Andrean seolah merasa dekat dengan ibunya."Aku gak sanggup, Ma. Hidupku udah hancur sekarang. Rain udah nikah dan bahagia sama orang lain. Sekarang Mama pergi ninggalin aku. Aku bener-bener gak sanggup lagi hidup kayak gini," kata Andrean dengan suaranya yang bergetar.Merasa putus asa, pria itu mengeluarkan sebuah belati
"Mama lega sekarang. Setelah ini Mama bisa pergi dengan tenang...."Andrean yang sejak tadi tertunduk, seketika mengangkat kepalanya setelah mendengar perkataan sang mama.Pria itu segera meraih jemari Bu Sela yang masih digenggam oleh Rain. Ia menggeleng berkali-kali, tak ingin mendengar perkataan menakutkan yang keluar dari mulut ibunya."Mama jangan ngomong kayak gitu. Rain udah datang, jadi Mama harus fokus sama kesehatan. Jangan mikir yang macam-macam," kata Andrean. Suaranya pelan dan bergetar. Air matanya menetes dan mengalir di pipinya yang tirus.Di hadapan Rain dan Satria, Andrean yang biasanya congkak dan sombong kini terlihat begitu rapuh. Tidak ada lagi kesan pria angkuh yang selalu merasa dirinya paling hebat."Mama udah gak kuat, Ndre. Mama capek... Mama juga gak mau jadi beban kamu terus-menerus...." timpal Bu Sela dengan suara yang semakin berat dan terputus-putus.Tubuh Andrean seketika bergetar hebat. Ia langsung memeluk tubuh ibunya dan menangis terisak-isak. Kepal
"Gimana keadaan Mama kamu?"Degh!Andrean yang tertunduk sambil menggenggam erat jemari ibunya yang terasa dingin seperti mayat, terkejut saat mendengar suara Rain yang berasal dari arah pintu ruangan VVIP tersebut.Pria itu kaget. Spontan, ia mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah sumber suara. Begitu melihat kedatangan Rain, Andrean langsung beranjak dari tempatnya dan segera menghampiri wanita yang kini tengah mengandung anak orang lain tersebut."Rain, aku se—""Ngomong tinggal ngomong aja. Gak usah deket-deket, apalagi berniat dan berpikiran buat meluk istriku!"Perkataan ketus bernada tegas yang dilontarkan Satria seketika menghentikan kalimat yang hendak diucapkan oleh Andrean. Bahkan, pria itu langsung menurunkan tangannya yang refleks ingin memeluk tubuh Rain yang semakin bulat dan berisi. Lalu, ia mundur dua langkah dari posisinya, berusaha menjaga jarak dari sang mantan istri agar tak membuat masalah.Andrean hanya bisa menghela napas dalam-dalam. Entah kenapa, setiap kali
Dewi yang dilabrak oleh istri penjabat dan dirampas asetnya, kini menarik koper pakaiannya menyusuri jalanan.Penampilan wanita pemilik payudara besar brutal itu pun terlihat berantakan. Rambutnya yang biasanya tertata rapi kini tampak kusut. Bahkan, di wajahnya terdapat beberapa tanda lebam bekas kekerasan yang membuat penampilannya terlihat semakin mengenaskan.Ya, Dewi yang dilabrak oleh istri penjabat bukan hanya dirampas barang-barang mewahnya, tetapi juga dipukuli dan diviralkan.Kini hampir semua orang dari kalangan penjabat tahu jika Dewi adalah wanita simpanan. Yang terparah, para penjabat yang kerap menikmati service ranjangnya kini menghilang. Tak ada satu pun dari mereka yang mau membantu Dewi, seolah-olah wanita itu tidak pernah ada dalam kehidupan mereka.Nasibnya benar-benar apes!Kini ia terpaksa harus tinggal di kontrakan sempit yang apek seperti dulu lagi. Kehidupan mewah yang selama ini ia nikmati seketika lenyap begitu saja. Tidak ada lagi apartemen mewah, mobil ma
"Kata dokter, istri saya harus banyak-banyak istirahat dan gak boleh banyak pikiran. Lagi pula yang sekarat mama kamu, kenapa istri saya yang harus repot?"Tut, tut!Satria yang kesal langsung memutuskan panggilan telepon tersebut dan meletakkan kembali ponsel Rain di atas nakas. Gerakannya sedikit kasar, menunjukkan betapa kesalnya pemuda itu saat ini.Jelas, jika pemuda itu merasa tidak senang karena Andrean menghubungi istrinya. Ia tak ingin Rain kembali menjalin hubungan dengan pria bajingan itu. Meskipun hanya sekadar berkomunikasi, tetap saja Satria merasa tak nyaman. Apalagi, Andrean menelepon Rain hanya untuk meminta istrinya datang menemui sang ibu yang sedang sekarat.Bagi Satria, itu bukan urusan Rain lagi. Karena mereka sudah tidak memiliki hubungan."Kenapa lihatin aku kayak gitu?" tegur Rain dengan mata melotot pada sang suami yang memandang wajahnya dengan tatapan cemberut.Ditanya begitu, Satria langsung membuang muka. Ia enggan menjawab pertanyaan istrinya. Lalu, pemu
Rumah Sakit Medika, di sanalah kini Andrean berada. Setelah bertengkar dengan Dewi kemarin, pria itu langsung pergi ke rumah sakit, menemani ibunya yang kondisinya semakin memburuk setiap harinya.Sore itu, keadaan Bu Sela kembali drop, membuat Andrean panik setengah mati. Terlebih lagi, wanita paruh baya itu sempat kehilangan kesadaran selama beberapa jam. Keadaan sang ibu benar-benar membuat Andrean ketakutan. Yang membuat pria itu semakin mengkhawatirkan kondisi ibunya, sejak sadar dari pingsan, Bu Sela selalu menanyakan Rain dan ingin bertemu dengan mantan menantunya itu."Astaga, Ma. Aku harus gimana sekarang?" kata Andrean dengan suara yang terdengar panik. Wajahnya terlihat cemas, sedangkan pandangan matanya terus tertuju pada sang ibu yang terbaring lemah di atas ranjang pasien.Andrean benar-benar tidak tahu harus berbuat apa sekarang."Ain... Ain...."Mendengar suara ibunya yang terus memanggil nama Rain dengan artikulasi yang tidak jelas, kepala Andrean menggeleng pelan. D
"Kamu pria panggilan itu, kan? Jadilah pemuas ranjangku, maka semua beban keuanganmu tahun ini, saya yang akan menanggung." Tubuh Satria membeku. Ia meneguk ludah dengan bersusah payah, sepasang netranya yang kecoklatan menatap pada seorang wanita cantik bertubuh seksi yang duduk di kursi seberang
Lama Rain dan Satria bergumul di sore menjelang malam hari tersebut. Akhirnya keduanya pun menyudahi pergumulan mereka setelah merasa puas. Kini, Rain yang merasakan pegal pada punggung dan pinggulnya, tampak berbaring lemas di tengah-tengah kasur empuk yang luas. Sedangkan di pinggiran ranjang,
"Kalau enak, buruan gantian. Aku juga mau dipuasin!" Mata Satria yang sayu berkabut gairah, spontan melotot saat mendengar kalimat ketus yang keluar dari mulut Rain. Batin pemuda itu, cepat sekali ekspresi dan sikap Rain berubah. Ia pikir, kekasihnya serius ingin memberikan service dan memuaskann
"Lakukan apa saja yang kamu inginkan, Satria. Buat saya senang malam ini dan juga hamil secepatnya!" Gluk! Satria meneguk ludah. Permintaan Rain membuatnya semakin gugup. Batinnya, apa yang sebenarnya diinginkan oleh wanita itu? Kenapa minta dihamili oleh pria bayaran sepertinya? Kenapa tidak







