Partager

48. PPPN

Auteur: Callme_Tata
last update Date de publication: 2026-04-19 15:55:17

Ting!

Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel Rain. Ia yang duduk di kursi samping kemudi mobil yang dikendarai oleh Satria, merogoh tas dan mengeluarkan ponselnya.

Dilihatnya sebuah pesan video dikirimkan oleh Mira, asistennya dalam mengurus butik kecilnya.

"Siapa yang ngirim pesan, Sayang? Egh, maksudnya Nyonya!" ralat Satria yang sejak semalam memanggil Rain dengan sebutan 'sayang'.

Mendengar perkataan Satria, Rain yang sedang membuka pesan di ponsel canggihnya itu pun menoleh dan tersen
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   201. PPPN

    "Rain, ngapain malem-malem di sini? Kamu sakit?!"Rain dan Tasya yang berjalan pelan menyusuri lorong rumah sakit, seketika menghentikan langkah mereka dan menatap ke arah sumber suara.Melihat wajah orang yang menyapa dan bertanya padanya, Rain menghela napas pelan dan membuang muka, tak mau melihat orang itu lebih lama.Sedangkan Tasya, seketika mencebikkan bibirnya. Menunjukkan jika ia tak suka dan sangat malas melihat wajah menyebalkan orang tersebut.Andrean yang baru keluar dari ruangan rawat ibunya, tersenyum kecil saat melihat wajah Rain yang dirindukannya beberapa minggu terakhir."Rain, kamu sakit?"Tak dipedulikan oleh Rain dan Tasya, Andrean kembali bertanya sembari melangkah mendekati mantan istrinya tersebut.Namun, baru saja mendekat, Tasya sudah lebih dulu menghalangi. Wanita bertubuh agak pendek itu menarik tubuh Rain, tak membiarkan Andrean mengganggunya."Rain lagi gak enak badan, jadi gak usah deket-deket," kata Tasya dengan mode julid on.Sepasang mata gadis tua i

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   200. PPPN

    "Akhirnya... aku dapet donor darah buat Satria!"Suara heboh Tasya yang katanya menemukan pendonor untuk Satria membuat Pak Anjas, Bu Karina, Rain, dan Bu Yohana langsung menatap ke arahnya.Mereka semua menatap serempak, hingga Tasya yang menyadari jika saat ini berada di rumah sakit langsung menutup mulutnya dan menyengir kuda."Hee, maaf. Aku dapet donor darah buat Satria ini," kata Tasya sambil menunjuk layar ponselnya yang menyala."Kamu serius, Sya? Gak lagi bercanda, kan?" tanya Rain memastikan. Matanya yang memerah dan sembab menatap serius wajah sahabatnya.Ditanya, Tasya yang memang sedang serius dan tidak bercanda itu pun menganggukkan kepalanya dengan cepat."Hmm, aku serius. Ini ada dua bersaudara yang punya golongan darah O negatif dan bersedia donor. Tapi ada syaratnya, mereka minta bayarin semua biaya rumah sakit ibu mereka yang menderita gagal ginjal dan dirawat di Rumah Sakit Sido Mulyo!""Setujui, cepat setujui. Bukan cuma biaya rumah sakit yang akan kulunasi, ibuny

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   199. PPPN

    Tuan Seno yang berada di atas ranjang dengan tubuh nyaris polos, menyunggingkan sudut bibirnya saat melihat sang istri keluar dari kamar mandi. Tubuh polosnya yang sedikit bulat, dibalut dengan handuk singkat terlihat begitu menggoda dan menggairahkan."Udah bener-bener selesai datang bulannya?" tanya Tuan Seno, sepasang matanya menatap lekukan tubuh istrinya tanpa berkedip.Sudah seminggu tidak melakukan hubungan intim dan menikmati kemontokan istrinya. Kini pria paruh baya itu sudah tidak tahan ingin memuaskan hasratnya dan juga menyenangkan sang istri yang memang selalu tergila-gila dengan keperkasaannya.Diana, istri dari Tuan Seno yang posesif dan pencemburu, mengangguk sembari melangkah pelan mendekati sang suami yang duduk bersandar di kepala ranjang.Di pinggiran ranjang, wanita paruh baya yang masih cukup cantik dengan tubuh montok itu melepaskan handuk yang melilit tubuh polosnya. Lalu melemparkan handuk tersebut secara asal ke lantai.Selanjutnya, dengan tubuh telanjang bul

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   198. PPPN

    "Pasien kehilangan banyak darah, saat ini sedang melakukan transfusi. Tapi, ada kendala yang ingin kami sampaikan, golongan darah pasien O negatif. Dan stok darah dengan golongan O negatif hanya ada dua kantong di rumah sakit ini. Kami sudah menghubungi rumah sakit lain dan juga pusat, tapi belum juga mendapatkan darah dengan golongan tersebut." Degh! Melotot lebar sepasang mata Bu Yohana. Tubuhnya melemas dan kembali terduduk di kursi tunggu IGD tersebut. Golongan darah O negatif, bukankah golongan tersebut golongan darah langka? Batin wanita paruh baya itu. "Golongan darah saya O negatif, Suster. Ambil darah saya sebanyak yang dibutuhkan!" kata Tuan Arya, menyodorkan pergelangan tangannya ke hadapan perawat yang berdiri di depan pintu IGD. Perawat tersebut memandang wajah tegang dan cemas Tuan Arya dengan kening berkerut. Lalu ia pun menganggukkan kepalanya seraya mengulas senyum. "Baiklah, kita lakukan pemeriksaan sekarang. Jika tidak ada masalah, bisa langsung dilakukan trans

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   197. PPPN

    Tap, tap, tap!Derap langkah kaki terdengar beriringan menyusuri lorong rumah sakit dengan begitu terburu-buru.Tuan Arya dan yang lainnya mendatangi rumah sakit Citra Medika, tempat di mana Satria yang katanya mengalami kecelakaan dirawat.Tujuan keluarga besar tersebut adalah ruangan IGD, tempat Satria ditangani oleh dokter dan perawat saat ini.Tiba di depan ruangan IGD, Tuan Arya, Rain dan Bu Yohana menghampiri perawat yang kebetulan keluar dari ruangan tersebut."Suster, apa pasien dengan nama Satria Rendra berada di dalam?" tanya Rain wajah pucat dan air mata berderai.Wanita hamil itu bertanya sambil mencekal pergelangan tangan perawat tersebut.Perawat tersebut menghentikan langkahnya dan mengangguk, "Benar, Mbak. Yang berada di dalam adalah Satria Rendra, korban kecelakaan di jalan simpang.""Lalu, gimana keadaannya sekarang, Sus?" Tuan Arya ikut bertanya. Keringat jagung membasahi keningnya, menunjukkan jika pria paruh baya itu sedang panik tingkat maksimal."Keadaan pasien

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   196. PPPN

    "Kami dari pihak rumah sakit ingin memberitahukan bahwa Satria Rendra saat ini dirawat di rumah sakit kami. Saat ini kondisinya dalam keadaan kritis dan sedang menjalani perawatan intensif!"Degh!Mendengar kalimat formal yang berasal dari ujung telepon, semua orang terkejut. Bahkan tubuh Rain seketika melemas. Ponsel yang ada di tangannya nyaris terlepas dan jatuh ke lantai."Apa? Satria kritis di rumah sakit?" tanya Rain dengan suara pelan dan bergetar."[Benar, Bu. Pasien mengalami kecelakaan di area jalan simpang, dan beruntung dibawa ke rumah sakit tepat waktu. Jika tidak, mungkin nyawanya tidak tertolong.]"Penjelasan tersebut membuat tubuh Rain yang melemas nyaris ambruk. Beruntung, Tasya segera menyambar tubuh saudaranya itu dan menahannya agar tidak jatuh. "Gak mungkin, Satria gak mungkin kecelakaan dan kritis! Semua ini bohong, gak mungkin... telepon itu pasti hoaks dan penipuan."Rain yang tubuhnya ditahan oleh Tasya menggelengkan kepalanya pelan, menolak percaya pada kaba

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   189. PPPN

    Di cafe, Satria terlihat begitu sibuk bersama Tono, merapikan dan menata barang-barang yang ada di tempat tersebut. "Huh... sedikit lagi, Ton." Satria membuang napas sambil menyeka peluh yang membasahi keningnya. Melihat wajah becek Satria yang memerah, Tono menggeleng pelan. Sejak sore sahabatny

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   188. PPPN

    Tuk, tuk, tuk! "Rain, udah tidur?" Rain yang berbaring di atas kasur busa kamarnya yang luas dan empuk sambil bermain ponsel, beranjak turun dari atas ranjang tersebut setelah mendengar suara panggilan Pak Anjas. Wanita hamil itu melangkah menuju pintu dan membukanya dengan gerakan perlahan. "O

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   187. PPPN

    "Ngapain dia telepon aku?"Tuan Arya melepaskan genggaman tangan Nyonya Laras dan membiarkan istrinya memasuki ruangan VVIP khusus tersebut. Setelah memastikan istrinya sudah benar-benar memasuki ruangan tersebut. Tuan Arya melipir ke pinggir pintu dan menerima panggilan yang masuk ke ponselnya.

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   186. PPPN

    "Sial, kalau kayak gini, aku bisa mati dibunuh Tuan Seno!" Pak Hendra yang saat ini menguping pembicaraan Tuan Arya, Dokter Bagas dan Ares, mengepalkan kedua tangannya dengan erat di sisi tubuh, sedangkan wajahnya memucat. Sudah berapa kali ia gagal melenyapkan Satria. Jika kali ini gagal lagi, T

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status