로그인"Aaa... selamat ya, Sayangku, akhirnya kamu hamil juga!"Tasya yang datang ke apartemen Rain setelah mendengar kabar kehamilan sahabatnya itu, memberikan selamat seraya memeluknya erat. Dipeluk oleh sahabatnya, Rain tersenyum kecil. Saat ini ia benar-benar merasa bahagia, bahkan tangannya tak henti mengusap perutnya yang rata."Sekarang udah positif hamil nih, jadi kapan mau ikut aku pulang ke rumah utama? Aku juga kan pengen jagain kamu dan calon keponakanku!" kata Tasya dengan nada bicaranya yang terdengar santai, sedangkan bibirnya masih saja tersenyum kecil. Mendengar perkataan Tasya yang duduk di lantai bersama Rain, Satria yang duduk di sofa itu pun beranjak dan melangkah pergi menuju dapur. Tak mau menjadi pendengar obrolan penting antara Tasya dan Rain. "Sayang, mau kemana?" tanya Rain pada Satria yang melangkah pergi. Wanita hamil itu menatap punggung Satria yang menjauh dari pandangan matanya. "Ke dapur!" sahut Satria tanpa menoleh dan menatap pada Rain yang bertanya.
"Menurut hasil pemeriksaan saya, Mbaknya hamil. Dihitung dari terakhir datang bulan, usia janinnya sekarang udah masuk minggu ke empat!" Mendengar kalimat yang diucapkan oleh Dokter, Rain dan Satria saling melempar pandang, lalu menatap massal pada Dokter itu. Keduanya sama-sama diam, mencerna maksud dari perkataan Dokter separuh baya yang mengulas senyum di hadapan mereka. Melihat ekspresi bengong pasangan yang ada di hadapannya, Dokter separuh baya itu mengerutkan kening. Pikirnya, apakah keduanya belum memiliki rencana untuk punya anak? "Mas, Mbak!" tegur Dokter pada Satria dan Rain yang bengong di hadapannya. Ditegur, Satria dan Rain sadar dari cengo mereka. Lalu, keduanya bertanya dengan kompak pada Dokter. "Dokter tadi ngomong apa? Hamil!" Kaget! Spontan Dokter separuh baya itu mundur dua langkah dari posisinya seraya mengangguk cepat. "Hmm, hamil dan udah masuk usia minggu ke empat!" kata Dokter. Menimpali pertanyaan kompak pasangan yang membuatnya terkejut. Lagi, Sat
"Kalau aku bilang jangan deket-deket, berarti kamu harus jaga jarak! Sumpah, aku eneg banget lihat muka kamu yang nyebelin!" Dikatakan menyebalkan, Satria menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Bibirnya cemberut, sedangkan tubuhnya melemas seperti tak bertulang. "Kamu denger gak?" kata Rain dengan mata melotot, seperti mau menelan Satria bulat-bulat.Satria yang duduk bersila di depan Rain, menghela napas pelan. "Astaga... rasanya pengen banget kugigit dan kukunyah bibirnya biar gak ngomel terus," batinnya merutuk sebal. Perlahan Satria beringsut dan turun dari atas ranjang, menjauhi Rain yang katanya sebal dan jengkel melihat wajahnya. Namun, baru saja berjalan dua langkah, teguran Rain membuat pergerakannya langsung terhenti. Bahkan, ia diam seperti patung di posisinya. "Mau kemana? Mau pergi lagi!"Satria memejamkan matanya sesaat, lalu menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan, berusaha sabar menghadapi tingkah Rain yang tiba-tiba aneh dan nyeleneh.
"Sayang, kamu marah sama aku?" Satria yang di dorong dan nyaris jatuh terjungkal dari sofa lantaran hilang keseimbangan, meneriaki Rain yang berlari ke arah dapur. Matanya melotot, menunjukkan jika ia terkejut di dorong oleh wanita itu. "Sayang!" "Nyonya!" Tak disahuti oleh Rain, Satria pun beranjak dari duduknya dan menyusul ke dapur. Di dapur, Rain berdiri di depan wastafel dan tampak sedang mencuci tangan dan membasuh wajahnya. "Sayang, kamu kenapa?" tanya Satria dengan suaranya yang pelan sembari melangkah mendekat. Namun, saat posisinya sudah dekat, Rain tiba-tiba mengangkat tangannya, memintanya untuk berhenti dan menjaga jarak. "Diem di situ, jangan deket-deket!" kata Rain sembari mengusap bibirnya yang basah. Spontan Satria menghentikan langkahnya, tidak bergerak sama sekali seperti patung. Hanya matanya saja yang berkedip-kedip dan juga bibirnya yang maju-maju. "Kenapa gak boleh deket-deket? Kamu marah karena aku gebukin suami brengsek kamu itu!" Satria menimpali pe
"Jadi gitu ceritanya... tapi seriusan dia cuman babak belur, gak ada cidera dan luka serius!" Satria yang duduk di samping Rain, menceritakan semua perbuatan yang telah ia dan Tono lakukan pada Andrean. Wajah pemuda sok kalem itu meringis, takut Rain tidak terima Andrean diperlakukan buruk. Karena bagaimanapun, saat ini pria brengsek itu masih berstatus sebagai suami dari kekasih ilegalnya. "Sekarang gimana? Udah puas?" tanya Rain dengan mata memicing, menatap Satria yang salah tingkah di sampingnya. Gluk! Satria meneguk ludah dengan bersusah payah. Pertanyaan macam apa yang layangkan Rain padanya? Dan, apa yang harus ia katakan? Mengatakan puas, takutnya Rain malah marah padanya karena melukai Andrean. Mengatakan tidak, bagaimana jika respon wanita itu justru sebaliknya? "Aku tanya, udah puas belum?" Rain kembali mengulangi pertanyaannya. Sedangkan matanya masih saja memicing. "Puas apanya, Sayang? Kan kita belum ngapa-ngapain, mana mungkin aku puas," kata Satria yang tiba-ti
"Jangan macam-macam! Saya bakal laporin kalian ke polisi!" Andrean yang tubuhnya di tahan oleh Satria dan Tono, mengancam dan memberontak minta dilepaskan. Namun, Satria yang memegang potongan balok kayu itu tak takut sama sekali. Yang ada, ia justru memasang ekspresi santai seperti sedang bermain di pantai.Di balik helm full face yang dipakainya, Satria menyunggingkan sudut bibirnya. Sedangkan sepasang matanya menatap remeh Andrean yang ternyata tidak memiliki kemampuan apapun selain mengancam lawan bicaranya menggunakan uang dan kekuasaan. "Lepasin saya!" kata Andrean. Satria menggeleng. Tangannya menepuk-nepuk pundak Andrean dengan keras. "Mau lepas? Mimpi!" balas Satria. "Sekarang gue bakal bikin lu ngerasain gimana rasanya istirahat total di rumah sakit!" Buk! Bibir pemuda tanggung itu berbicara, sedangkan tangannya bergerak, membogem wajah Andrean yang masih kalah ganteng darinya dengan keras. Tak ayal lagi, satu pukulan keras Satria membuat air liur Andrean muncrat dan







