로그인Keheningan malam di kamar utama kastil Drakenhoff terasa begitu mewah, sebuah kontras yang tajam setelah berjam-jam ketegangan di barak medis.Cahaya perapian yang menari-nari di dinding batu memberikan rona keemasan pada permukaan kulit Elara yang lembut.Di atas ranjang luas yang beralaskan bulu-bulu hangat, Valerius merapatkan tubuhnya, melingkarkan lengan yang kini tidak lagi memancarkan hawa dingin yang mematikan.“Kau terus menatapku seperti itu,” bisik Elara, jemarinya meraba rahang tegas Valerius yang kini terasa hangat, kehangatan manusiawi yang selama ini hanya menjadi impian belaka.“Aku hanya masih tidak percaya bahwa aku bisa menyentuhmu tanpa rasa takut akan menyakitimu, Elara,” suara Valerius terdengar rendah, bergetar oleh emosi yang tertahan.“Selama puluhan tahun, setiap kali aku bernapas, rasanya seolah ada ribuan jarum es yang menusuk paru-paruku. Sekarang... dadaku terasa begitu lapang. Begitu enteng.”Valerius mendekatkan wajahnya, menghirup aroma lavender dan ga
Aroma cuka apel dan rebusan akar valerian yang tajam memenuhi apotek kastil yang kini berubah menyerupai bengkel reparasi manusia.Elara bergerak lincah di antara meja-meja kayu besar, membantu Lyra menyiapkan benang bedah yang telah direndam dalam cairan antiseptik.Di seberangnya, Lyra sedang menghadapi seorang prajurit bertubuh kekar yang meringis kesakitan karena luka sobek di lengannya.“Berhenti merengek seperti bayi, Joran! Kau ini prajurit Drakenhoff atau kelinci hutan?” semprot Lyra sambil menusukkan jarum ke kulit pria itu tanpa aba-aba.“Aduh! Pelan sedikit, Lyra! Kau menjahit kulitku seperti sedang menambal kantong gandum yang bocor!” protes Joran, wajahnya memerah menahan perih.Lyra mendengus, sementara tangannya tetap stabil meski mulutnya tak berhenti mengoceh.“Kalau kau tidak ingin diperlakukan seperti kantong gandum, setidaknya belajarlah cara menangkis panah dengan benar. Bagaimana bisa seorang ksatria terlatih membiarkan lengannya disayat oleh pemanah amatir Punca
Cahaya fajar yang pucat merambat perlahan, menyapu salju yang kini ternoda warna abu-abu jelaga dan merah karat. Di kaki gunung, barak darurat yang didirikan dari tenda-tenda kulit tampak sibuk.Suara rintihan prajurit bercampur dengan kepulan uap panas dari kuali-kuali besar yang merebus tanaman obat.Elara melangkah di antara barisan ranjang jerami dengan gaun yang ujungnya telah kotor oleh lumpur. Tangannya yang biasanya halus kini berbau tajam akan perasan daun dedalu dan cuka.“Tekan kain ini kuat-kuat, Kael! Darahnya tidak mau berhenti!” seru Elara pada tabib tua yang berada di sisi ranjang seorang pengawal muda.“Aku mencoba, My Lady, tapi sayatan pedang Puncak Hitam ini sangat dalam. Lukanya sudah mulai berubah warna,” jawab Kael dengan napas memburu.Elara segera mengambil mangkuk berisi air rebusan dedalu yang masih mengepul.“Gunakan ini untuk membasuhnya. Zat pahit dari kulit pohon ini akan meredakan nyerinya dan mencegah pembusukan lebih lanjut. Kita tidak bisa membiarkan
Langkah kaki kuda yang berderap di atas jembatan gantung kastil Drakenhoff terdengar seperti dentuman jantung yang berpacu. Valerius turun dari pelananya dengan gerakan yang sedikit kaku, membiarkan Hans dan para ksatria lainnya membentuk barisan pelindung di sekelilingnya.Jubah bulunya yang tebal kini compang-camping, dan bau besi dari darah yang mengering menguar kuat dari sekujur tubuhnya.Begitu pintu besi ruang bawah tanah terbuka, sosok Elara muncul dari balik remang cahaya obor. Tanpa mempedulikan peringatan Tabib Kael, ia berlari menerjang, menabrak dada Valerius hingga pria itu mundur satu langkah.“Valerius! Ya Tuhan, kau kembali!” isak Elara, tangannya yang gemetar meraba wajah suaminya yang tertutup jelaga dan noda merah pekat.“Tenanglah, Elara. Aku di sini. Aku tidak apa-apa,” bisik Valerius, suaranya parau namun hangat. Ia melingkarkan lengannya yang kuat ke pinggang Elara, mencoba menenangkan badai ketakutan yang terpancar dari tubuh istrinya.“Kau berdarah... wajahmu
“Apa yang kau bicarakan, hah?” teriak Isolde tampak marah.Valerius menyunggingkan senyum licik seraya menatap Isolde penuh dengan kemenangan. “Istriku, Elara. Dia sedang mengandung anakku. Maka dari itu Drakenhoff akan berdiri teguh dilanjutkan oleh penerusku!”Isolde mematung, belatinya yang tadi terangkat kini gemetar di udara. Prajurit Puncak Hitam yang siap menerjang pun tertahan oleh aura kemenangan yang mendadak terpancar dari wajah Valerius yang bersimbah darah.“Apa kau bilang?” suara Isolde nyaris berupa bisikan yang tercekat. “Kau berbohong. Kau hanya mencoba mengulur waktu agar jantungmu tidak kurobek sekarang juga!”Valerius tertawa, suara tawa yang jernih dan penuh kemenangan. “Aku tidak butuh kebohongan untuk menghancurkan mentalmu, Isolde. Drakenhoff tidak akan berakhir bersamaku.“Di rahim Elara, benih murni itu sudah tumbuh. Dia tidak akan memikul kutukan es, dia tidak akan terikat kontrak maut, dan dia akan menjadi penguasa sejati yang akan memburu setiap sisa jelag
Gagak-gagak hitam masih berputar di atas kepala, menciptakan bayangan gelisah di atas tanah hutan yang lembap. Isolde tidak lagi sekadar berbisik; suaranya kini terdengar dari satu arah pasti, di balik kabut tebal yang menyelimuti barisan pohon cemara tua.“Lihatlah dirimu, Valerius. Berdiri gemetar dengan pedang besi biasa, tanpa pendar es yang menjadi kebanggaan leluhurmu,” suara Isolde terdengar penuh kemenangan, seolah-olah ia sedang menatap sebuah artefak yang sudah rusak.“Kau hanyalah cangkang kosong. Manusia rapuh yang mencoba bermain menjadi pahlawan di tanah yang sudah tidak lagi mengenalimu.”Valerius tidak membalas. Ia hanya menyeka sisa darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan, lalu meludah ke tanah. Senyum sinis perlahan merekah di wajahnya yang kotor, sebuah ekspresi yang membuat Hans, ksatria di sampingnya, merasa ngeri sekaligus kagum.“Kau sangat senang mendengar suaramu sendiri, bukan?” gumam Valerius pelan, namun cukup tajam untuk menembus kabut.“Aku bicara
Dia mencengkeram bahu Elara dan melempar tubuh wanita itu ke atas ranjang besar bertiang tinggi di tengah ruangan luas dan megah itu.Elara memekik, dan tubuhnya terpental di atas kasur yang empuk namun terasa seperti hamparan es karena aura dingin yang memancar dari suaminya.“Sudah berapa kali ak
Cahaya matahari musim dingin yang pucat mulai menyelinap melalui celah jendela tinggi di ruang kerja, menyinari debu-debu yang beterbangan di atas tumpukan perkamen.Elara mengusap wajahnya yang kuyu; matanya merah dan terasa berpasir karena hanya sempat memejamkan mata selama tiga jam di atas sofa
Elara berdiri mematung di sudut ruangan sambil meremas jarinya di pinggiran meja kerja.Lalu melirik ke arah Valerius melalui sudut matanya. Pria itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda penyesalan atau kegelisahan.Sebaliknya, Valerius tampak tenang secara mengerikan. Seolah-olah drama yang b
Jam dinding besar di sudut ruangan berdentang dua belas kali, suaranya menggema berat di tengah kesunyian malam yang membeku.Elara memejamkan matanya sejenak, merasakan denyut nyeri yang menjalar dari leher hingga ke tulang punggungnya.Cahaya lilin yang mulai memendek menari-nari di atas perkamen







