로그인Aula menara dalam yang biasanya terasa dingin dan angker oleh draf sejarah kelam, kini mendadak dipenuhi oleh draf kehangatan spiritual yang tak terlukiskan dengan kata-kata. Air mata Kael yang membasahi lantai batu seolah menjadi draf pembasuh bagi seluruh penderitaan generasi masa lalu klan Serigala Perak.Mendengar draf diagnosis Kael yang membebaskan masa depan keturunannya, Valerius langsung mengembalikan sang bayi ke dalam dekapan hangat Elara dengan draf gerakan yang teramat lembut dan penuh kehati-hatian."Kau mendengarnya, Elara?" bisik Valerius, suara baritonnya bergetar hebat di sela isak tangis kebahagiaan yang tak lagi ia sembunyikan. "Kutukan itu... kutukan sialan yang membunuh ayah dan kakekku, telah mati hari ini di dalam darah anak kita.""Aku mendengarnya, Valerius... aku mendengarnya dengan sangat jelas," sahut Elara, air matanya meluncur bebas membasahi dahi mungil putranya.Sang Duke langsung berlutut di sisi tempat tidur beludru, menangkup wajah pucat istrinya, l
Sementara Elara berbaring lemas dengan senyum kelegaan yang amat sangat di atas bantal beludru, atmosfer di sekitar ranjang berangsur-angsur berubah menjadi sunyi. Kehangatan fajar musim semi yang baru saja merayap seolah tertahan di udara.Tabib Kael melangkah mendekat dengan instrumen perak kuno, sebuah mangkuk kecil berlapis draf kuningan dan sebilah jarum tipis yang telah disucikan. Tugas utamanya belum selesai.Sebagai penjaga draf medis klan, ada satu ritual taktis yang jauh lebih krusial daripada sekadar memotong tali pusat: melakukan pemeriksaan menyeluruh pada tetesan darah pertama sang bayi."Lord Duke, izinkan hamba mengambil setetes darah dari tumit sang pangeran kecil," ucap Kael, suaranya mendadak merendah, sarat akan draf kecemasan yang mendalam.Valerius tidak menjawab, namun rahang tegapnya mengetat kaku. Ia merenggangkan draf jubah bulunya sedikit, membiarkan Kael meraih kaki mungil Louis. Elara yang tadinya tersenyum lelah, kini ikut menahan napasnya, draf trauma ma
Seluruh pelayan di dalam ruangan bersujud syukur, merapatkan dahi mereka ke lantai batu yang dingin sebagai manifes kepatuhan dan kebahagiaan yang teramat besar.Sementara itu, Lyra yang sudah tidak sanggup lagi menahan luapan emosi batinnya, langsung menangis bahagia di bahu Juan yang berjaga di ambang pintu dalam setelah pintu ganda itu sedikit digeser terbuka."Dia selamat, Juan... keponakan kita selamat," isak Lyra, membasahi zirah besi di bahu sang panglima."Aku tahu, Lyra. Aku tahu," sahut Juan, suaranya parau seraya menepuk punggung Lyra dengan tangan kekarnya yang ikut bergetar. "Darah Drakenhoff tidak akan pernah padam."Di sisi ranjang beludru, Tabib Kael menyerahkan bungkusan kain wol kelabu itu dengan sangat perlahan.Tangan kekar Valerius yang biasanya tak pernah gemetar saat menebas leher musuh di medan perang, bahkan saat menghadapi draf sihir hitam Isolde di Puncak Hitam sekalipun kini tampak bergetar hebat laksana daun kering yang
"Dorong sekali lagi, Elara! Sekarang atau tidak sama sekali!" bentak Tabib Kael, suaranya yang melengking tinggi memutus kepasrahan yang sempat menggantung di udara.Ketegangan di dalam kamar tidur utama mencapai puncaknya ketika Tabib Kael memberikan instruksi terakhir dengan suara lantang di bawah pengawasan Lyra yang terus menyeka keringat di pelipis Elara dengan kain rami yang sudah basah kuyup.Seluruh pelayan senior di dalam ruangan itu menahan napas secara kolektif, tangan mereka terkunci erat pada sisi-sisi ranjang beludru."Aku... aku tidak bisa, Valerius... rahimku terasa terbakar!" jerit Elara, suaranya parau, nyaris habis akibat perjuangan berjam-jam yang menguras draf energinya."Kau bisa, Elara! Demi leluhur Utara, kau adalah wanita terkuat yang pernah menginjakkan kaki di benteng ini!" seru Valerius, suaranya bergetar hebat oleh luapan emosi yang pekat.Ia mempererat genggaman tangannya, membiarkan jemari Elara mencengkeram kulitnya
"Kael! Di mana kau, Tabib gila?!" teriak Lyra, suaranya melengking tinggi menembus koridor luar menara dalam.Atmosfer menara dalam seketika berubah menjadi medan pertempuran medis yang sangat menegangkan. Suara derap langkah kaki panik dari para pelayan senior terdengar menggema di sepanjang koridor saat mereka membawa baskom air hangat dan kain rami bersih.Pintu-pintu kayu ek dihantam terbuka, mengusir keheningan domestik yang sempat merajai benteng selama tiga bulan terakhir."Siapkan ranjang utama! Ambil draf minyak zaitun dan rebusan daun es sekarang juga!" perintah Tabib Kael, melangkah lebar memasuki kamar dengan kotak medis menara yang terbuka di pelukannya. Wajahnya mengeras penuh kalkulasi taktis medis."Rasa sakitnya... Lyra, ini terlalu cepat!" erang Elara, tubuhnya melengkung kaku di atas kasur beludru.Proses kelahiran sang buah hati berjalan dengan penuh perjuangan fisik yang luar biasa hebat bagi Elara. Kontraksi yang datang bertub
Waktu bergulir dengan sangat cepat menembus sisa-sisa musim dingin yang ekstrem di tanah Utara. Tiga bulan penuh telah berlalu sejak kepulangan ajaib Valerius dari Desa Lembah Sunyi yang membungkam faksi sayap kanan.Pemerintahan Drakenhoff kini telah sepenuhnya pulih dan menjadi jauh lebih makmur berkat draf kebijakan ekonomi baru yang dirancang bersama oleh Elara dan Tuan Vane. Saluran perdagangan perbatasan kembali berdenyut, dan gudang gandum di permukiman bawah kota selalu penuh terisi.Fokus seluruh penghuni benteng raksasa itu kini telah beralih sepenuhnya pada menara dalam. Di salah satu sudut ruang santai yang hangat, Elara duduk bersandar di kursi beludru besar, sementara usia kandungan Elara sudah menginjak sembilan bulan penuh. Perut buncitnya kini terasa sangat berat, dan Elara mulai membatasi aktivitas fisiknya di atas kursi takhta dewan adat."Kau harus meminum ramuan akar es ini sampai habis, Elara. Kael bilang ini bagus untuk melemaskan otot pan
Keheningan kembali menyelimuti ruangan itu. Valerius terdiam, namun tatapannya berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap.Tangannya yang berada di atas meja perlahan mengepal, hingga buku jarinya memutih dan meja kayu itu seolah merintih di bawah tekanannya.Valerius tidak menjawab dengan kata-
Sudut ruangan kerja Valerius kini tidak lagi hanya berisi rak buku tua yang berdebu.Sebuah meja kayu kecil telah dipindahkan ke sana, dipenuhi dengan alu, lumpang, dan berbagai botol kaca yang berisi cairan dengan warna-warna aneh.Elara sengaja memindahkan kegiatan meraciknya ke dalam ruangan ini
Master Kael terperangah seraya menatap denyut nadi di leher Valerius yang perlahan mulai stabil, dan urat-urat kebiruan yang mengerikan itu surut dari permukaan kulit sang Duke seolah-olah ditarik paksa oleh kekuatan tak terlihat.Tabib tua itu membolakan matanya, beralih menatap mangkuk kosong di
Suasana di ruang makan utama terasa jauh lebih mencekam daripada malam-malam sebelumnya karena kehadiran mantan Duke, Alistair von Drakenhoff, dan istrinya, Lady Isolde, membuat suhu di ruangan itu seolah turun hingga ke titik beku.Mereka duduk di kursi kebesaran di ujung meja, sementara Valerius







