تسجيل الدخول“Gue cuma takut mau ngobrol sama Kafka lagi, Sar,”“Kenapa?”“Takut gue yang bakalan dimanfaatin sama Kafka.” Olivia menghembuskan nafas panjang, tatapannya menyapu taman kota di sore hari ini.Langit sudah menampakkan guratan senja, membuat warnanya jingga keemasan. Sangat cantik. Sarah dan Olivia sengaja untuk bermain di taman kota setelah pulang sekolah, mereka butuh mengobrol berdua setelah terakhir di taman sekolah dipergoki oleh Kafka. Jadi, mereka membuat plan baru untuk mengobrol di jumat sore ini.Dari tadi Sarah sibuk memakan ciki kentangnya, menimbulkan bunyi kres yang nyaring. Gadis itu belum sempat makan siang karena suasana kantin yang penuh, jadi terpaksa menahan laparnya. “Gue curiga sama Kafka, soalnya dia yang deket sama lo selama ini. Setiap lo deket sama Kafka, lo celaka. Sedangkan, pas lo jauh dari Kafka, lo aman. Gitu kan polanya?”Olivia mengerjap perlahan, tidak menyangka Sarah akan berbicara begitu. “Gue nggak menyalahkan dia, nggak curiga juga sama dia. Cum
Kamar yang sudah Olivia rapikan satu jam lalu, kembali berantakan. Hanya karena dia baru mendapatkan informasi dari wali kelasnya bahwa formulir pendaftaran Olimpiade yang pernah Karina berikan padanya adalah dokumen palsu. Olivia panik bukan main, dia takut dituduh mencuri formulir itu.“Coba kamu cek lagi keasliannya, karena Ibu ragu, Olivia. Pendaftaran peserta Olimpiade bahkan sudah ditutup. Perwakilan dari sekolah akan digantikan oleh Panji. Jadi, nggak mungkin ada formulir yang masih bisa disebarluaskan.”“Yang asli, ada cap sekolah di bagian belakang kertasnya.”Ucapan wali kelas nya berputar di kepala Olivia, kemarin pagi dia iseng memfotokan formulir yang sudah diisi data dirinya. Lalu, dia berikan kepada wali kelasnya. Akan tetapi, tanggapan wali kelasnya sangat diluar ekspektasinya. Jadi, formulir itu palsu?Lalu, maksud Karina memberikan itu pada dirinya apa? Apa hanya untuk pamer?Tangan Olivia menggapai laci paling bawah di meja belajarnya, dia bahkan mengobrak abrik se
Kafka baru saja turun dari mobilnya saat dia dihadapkan pada sebuah rumah mewah bergaya eropa klasik, rumah milik kediaman Kusuma. Sudah hampir lebih dari setahun, Kafka tidak pernah menginjakkan kaki di rumah ini lagi. Sejak Ibunya meninggal, Kafka bahkan tidak sudi barang seinci pun menyambangi kediaman Kusuma. Dia lebih memilih tinggal menyendiri di apartemen pemberian Ibunya. Pintu utama dibuka lebar saat dia benar-benar baru menginjakkan kaki di teras rumah mewah itu, disambut oleh salah satu maid disana. Kafka tau, sejak kepergiannya dari rumah ini, segala hal yang ada di sini dirubah total oleh wanita itu. Wanita perusak keluarganya.“Selamat siang, Mas Kafka. Sudah ditunggu bapak di lantai dua,” ujar maid itu, tanpa sungkan Kafka langsung saja memasuki rumah yang suasananya sudah berbeda 180 derajat. Hiasan dinding, warna cat tembok, tata letak sofa, semuanya berubah. Kafka tersenyum sinis, wajar saja, karena sekarang yang menempati rumah ini adalah Ibu tirinya.Kafka hampir
Sehari setelah pengumuman tentang geng the syndicate dibubarkan muncul di sosial media, para anggota geng kompak tidak ada yang masuk sekolah sama sekali. Mereka menunjukan aksi solidaritas, berkumpul bersama di depan basecamp sejak pukul delapan pagi.Ruangan yang telah disulap menjadi arena bermain ping pong itu menjadi satu-satunya ruangan yang harus mereka gunakan, tidak ada lagi meja makan, tidak ada lagi sofa dan karpet seperti biasa, tidak ada lagi meja panjang tempat mereka diskusi. Semua lenyap.“Sumpah! Siapa yang ngide ganti jadi ruang bermain gini anjir? Kek hah!!!!” Jerit Rio saat dia menjadi orang yang pertama kali menginjakkan kaki di ruangan itu. Tidak ada lagi cat hitam dan merah, yang ada hanya cat abu putih di setiap sisi. Dalam waktu sehari, semua isi dari ruangan itu berubah total. Semua barang menghilang kecuali satu, lukisan yang berisi anggota the syndicate.Suasana yang tadinya suram dan gelap, berganti menjadi terang, cerah dan lebih hidup. Semua lampu pijar
"Apa yang kamu suka dari Kafka, Liv?”Suara Oliver menggema di kamar Olivia, sejak pulang sekolah tadi Olivia sudah melakukan panggilan video dengan Abangnya, ingin menceritakan sesuatu tentang kemarin. Olivia menggeleng samar, gadis itu masih membuka dasi dan meletakkannya di keranjang pakaian kotor lalu duduk kembali di meja belajar. "Nggak ada, aku ga suka sama Kafka, Bang. Berapa kali aku jelasin ke Abang, Kafka sama aku udah nggak ada hubungan.”Oliver terkekeh di sana, pria itu hanya menampakkan setengah wajahnya. “Masa sih? Kayaknya kamu kecintaan gitu sama Kafka,” ledek Oliver."Mana ada, kebencian juga iya!” Olivia memajukan bibirnya cemberut. "Mana pacar nya Abang, mau liat,”"Lagi di Indo dia, besok baru ke sini lagi.” "Yah, padahal mau ketemu calon kakak ipar,” bibir Olivia sengaja dibuat cemberut. "Kenalin ke rumah dong, Bang, biar Mama sama Papa nggak bahas soal aku mulu. Sekali-kali gitu bahas soal Abang.”Oliver terlihat menggeser laptopnya di atas kasur, di sana sek
Lapangan sekolah yang sebelumnya terlihat sepi, hanya ada beberapa orang bermain basket, kini penuh dengan orang yang berkumpul riuh disana. Menyaksikan dengan seksama hasil petisi yang sudah ditentukan oleh sekolah.Panggung kecil di samping tiang bendera masih belum ada yang mengisi sejak sepuluh menit lalu, hanya ada podium kecil yang ditaruh oleh OB dadakan tadi.Olivia dan beberapa teman sekelasnya sedang berteduh di bawah pohon besar tepat di belakang lapangan, beberapa orang juga terlihat meneduh. Sore ini matahari masih sangat menyengat kulit, maklum saja, sudah mulai memasuki musim kemarau."Tes .. tes. Suara Bapak kedengeran?” Salah satu guru Olahraga mengetes mic yang akan digunakan. Matanya sedikit menyipit menatap bagian tengah lapangan yang kosong. "Kalian nggak mau baris? Udah mau mulai.” Teriaknya, suaranya keras sekali. Bayangkanlah guru itu meneriakkan semua orang dengan mic yang tepat berada di depan bibirnya.Bagian tengah lapangan yang tadinya kosong, langsung dip
Taman belakang sekolah SMA Budi Karya sudah sangat lama tidak dirawat, terlihat dari kursi yang sudah mulai rusak, beberapa pot bunga yang pecah dan tanaman yang sudah layu. Udara sore ini juga tidak terlalu panas, matahari sudah mulai turun. Olivia duduk sendirian di salah satu kursi panjang yang
Hari pertama Olivia kembali ke sekolah terasa seperti berjalan di atas hamparan duri. Belum sampai di pintu kelas, tatapan sinis dan bisik-bisik dari murid lain sudah menyambutnya. Olivia berusaha menunduk, namun langkahnya terhenti saat sebuah tangan besar mencekal lengannya.Semua orang di korido
Sejak dua hari lalu, Olivia memutuskan untuk tidak masuk sekolah. Ia berusaha menghindari semua hal yang berkaitan dengan Kafka. Setidaknya, dua hari ini pikirannya benar-benar teralihkan meski rasa sesak di dadanya belum sepenuhnya hilang.Mamanya menyadari ada yang tidak beres dengan Olivia sejak
“Gue curiga deh sama lo, Liv.” Olivia yang merasa dituduh langsung memutar bola mata malas.“Kenapa?” ujarnya menatap Sarah. Hari pertama sudah dianggap curiga. Bagaimana besok besoknya?Sarah bergeser, berbicara pelan. “Soal Kafka narik tangan lo, itu lagi jadi bahasan di sekolah.”Gerakan tangan







