로그인Sekali lagi Reyhan menatap Arvino dengan rasa tidak percaya. “Apakah ini benar?” tanya Reyhan. “Benar,” jawab Arvino. Kayla menambahkan, “Kami sudah lama mempelajari Islam, bahkan sebelum hubungan Kayden dan Zahra berkembang sejauh ini.” Rani memandang mereka dengan mata yang sedikit berkaca. “Kenapa kalian tidak pernah memberitahu kami?” Arvino tersenyum kecil. “Karena saat itu kami sendiri belum yakin.” “Dan semalam kalian tiba-tiba melakukannya.” “Iya.” Reyhan mengusap wajahnya dengan tangan. “Sejujurnya, aku merasa tersinggung dan sedikit kecewa.” “Maafkan kami,” ucap Arvino tanpa membantah. Reyhan menatapnya. “Aku hanya tidak suka merasa tidak dipercaya oleh sahabatku sendiri.” “Bukan tidak percaya. Kami hanya takut situasinya menjadi lebih rumit,” ujar Kayla dengan lembut. “Situasi yang kalian maksud … Adeline,” Rani akhirnya berbicara dengan suara pelan. Kayla mengangguk, sementara Rani menutup mata sejenak, merasakan ketidakpercayaan yang mendalam. “Sejujurnya
Keesokan paginya di rumah Arvino terasa tenang setelah malam yang penuh emosi. Arvino duduk di ruang keluarga sambil membaca di tablet, sementara Kayla di dekatnya sedang menyiapkan teh. Kiara bersandar di sofa sambil bermain ponsel, dan Kayden baru saja turun dari tangga. Belum sempat mereka memulai aktivitas pagi, terdengar suara mobil yang berhenti di halaman. Kayla menoleh ke jendela. “Siapa ya yang datang pagi-pagi begini?” Kiara mendekat dan mengintip keluar. “Sepertinya … Om Reyhan.” Arvino langsung mengangkat kepalanya. “Reyhan?” Beberapa detik kemudian, bel rumah berbunyi. Kayla saling memandang dengan Arvino. “Mereka datang sangat pagi.” Arvino berdiri dan berjalan menuju pintu. Saat pintu dibuka, benar saja Reyhan dan Rani berdiri di sana dengan ekspresi serius. “Reyhan … Rani,” sapa Arvino pelan. “Boleh kami masuk?” tanya Reyhan tanpa basa-basi. “Tentu,” jawab Arvino sambil mempersilakan mereka masuk. Mereka melangkah ke ruang keluarga, dan suasana terasa agak c
Arvino menoleh kepada Kayden yang masih berdiri dekat Zahra. “Kayden,” panggilnya. “Iya, Pa?” “Kami pulang dulu. Kamu mau ikut sekarang atau nanti?” Kayden melirik sebentar ke arah Zahra sebelum kembali menatap ayahnya. “Aku menyusul nanti saja, Pa.” Kiara langsung berseru dari dalam mobil, “Tuh kan! Aku sudah tahu!” “Kiara,” tegur Kayla, tetapi gadis itu malah tertawa. Arvino hanya menggeleng sambil tersenyum tipis. “Jangan terlalu lama.” “Iya, Pa.” Kayla memandang Zahra dengan penuh kasih sayang. “Jaga diri baik-baik ya, Nak.” Zahra menunduk hormat. “Iya, Tante.” Kiara melambaikan tangan lagi. “Selamat malam, Kak Zahra!” “Selamat malam.” Mobil keluarga Arvino akhirnya perlahan meninggalkan halaman rumah Pak Hendra. Kini hanya tersisa Zahra, Kayden, dan Pak Hendra. Beberapa detik suasana terasa canggung. “Sudah malam,” tegur Pak Hendra sambil berdehem pelan. Kayden langsung menatapnya dengan sopan. “Iya, Pak.” Pak Hendra memandang mereka berdua sebelum berkata, “Za
Adeline yang penuh rasa ingin tahu terus mengamati ekspresi wajah kedua orang tuanya dengan curiga, sebenarnya apa yang mereka sembunyikan, karena dia adalah orang yang keras kepala dan tidak akan menyerah. “Kalian berbicara seolah semuanya sudah selesai,” ujarnya dengan penasaran. “Memang sudah,” jawab Reyhan dengan tatapan tajam. “Belum,” kata Adeline sambil melangkah lebih dekat. “Adeline …” “Aku tahu Kayden masih bisa berubah.” Rani menggelengkan kepala. “Kamu terlalu memaksakan diri.” Adeline menatap ponsel di tangan ibunya. “Sekali lagi aku tanya, apa yang ada di sana?” “Tidak ada.” “Berikan padaku.” “Tidak.” Adeline tiba-tiba meraih ponsel itu. “Adeline!” seru Rani. Namun gadis itu lebih cepat, dia melihat layar yang masih menampilkan story Kayla, dan dalam beberapa detik wajahnya membeku. “Apa ini?” Namun baik Rani maupun Reyhan tidak memberikan jawaban. Lalu Adeline memperbesar gambar itu. “Ini kan di rumah perempuan itu, dan kenapa mereka memaka
Rani masih memegang ponselnya dengan ekspresi wajah yang belum sepenuhnya pulih dari keterkejutan. Reyhan duduk di sampingnya, menatap layar yang sama dengan tatapan yang lebih dalam, seolah berusaha memahami sesuatu yang selama ini dianggapnya hanya lelucon. “Papa ... jadi ini benar-benar mereka?” tanya Rani dengan suara pelan. Reyhan mengangguk kecil. “Iya. Itu Kayla. Dan di sampingnya Kiara.” Rani menelan ludah. “Pantas mereka pakai kerudung ...” “Itu bukan sekadar kerudung,” jawab Reyhan pelan. “Lihat di belakangnya. Itu Kiai Ahmad.” Rani langsung memperhatikan layar ponselnya dengan lebih seksama. “Ya Tuhan benar. Ada beberapa tokoh agama juga.” Rani menarik napas dalam-dalam. “Papa jangan bilang ini ...” Reyhan bersandar di sofa. “Sepertinya mereka benar-benar melakukannya.” “Melakukan apa?” “Menjadi mualaf.” Rani menatap suaminya dengan tidak percaya. “Serius?” Reyhan mengangguk pelan. “Dulu Arvino pernah bilang hal ini.” Rani mengerutkan kening. “Kapan?” “Beberapa
Sekali lagi, ruangan itu seketika menjadi sunyi, tetapi tidak berlangsung lama. Arvino menjawab, “Jangan khawatir, dia juga belajar. Namun, kami ingin proses ini menjadi pilihan pribadinya. Kami tidak memaksanya.” “Jadi kalian semua benar-benar ingin menjadi mualaf?” suara Pak Hendra mulai melunak. “Iya,” jawab Kayla tegas. “Bukan hanya untuk Zahra, tetapi juga untuk diri kami sendiri.” Pak Hendra terdiam cukup lama. “Saya khawatir kalian akan menyesal,” katanya pelan. Arvino menggeleng. “Kami sudah mempertimbangkan ini dengan matang.” Kiai Ahmad menambahkan, “Masuk Islam harus dengan kesadaran penuh. Dan saya menyaksikan sendiri proses mereka.” Pak Hendra menundukkan kepala, merenung. “Kalau begitu … saya tidak berhak menghalangi niat baik.” Dia mengangkat wajahnya lagi. “Tapi saya ingin satu hal jelas. Jangan pernah menyalahkan Zahra jika suatu saat ada cobaan.” “Tidak akan,” jawab Kayla cepat. “Ini keputusan kami.” Arvino mengangguk. “Kami bertanggung jawab se
Kantin perlahan-lahan kembali ramai setelah Kayden membawa Zahra pergi. Namun, tidak semua orang melanjutkan aktivitas mereka dengan perasaan yang sama. Maya berdiri kaku di tempatnya, jemarinya mengepal kuat. Tatapannya mengikuti punggung Zahra yang menjauh bersama Kayden hingga menghilang di bal
Setelah beberapa waktu bekerja, akhirnya tiba saatnya untuk istirahat siang. Kantin Mahendra Group yang luas mulai dipenuhi oleh karyawan dari berbagai divisi. Suara sendok yang beradu dengan piring, tawa kecil, dan obrolan santai memenuhi ruangan. Zahra masuk sambil membawa nampan berisi nasi put
“Karena Zahra yang aku kenal selalu mengenakan kerudung,” jawab Kayden dengan nada dingin. “Yang ini tidak.” Kiara mendengus pelan. “Bang …” Kayla juga ikut mencondongkan tubuhnya. “Kayden, mungkin dia punya alasan untuk melepasnya.” “Dan nama Zahra bukanlah nama yang langka,” balas Kayden. “Ta
Seketika panggilan itu membuat Zahra terkejut, tetapi dia segera menoleh. “Iya, Pak?” Kayden menatapnya sejenak. “Jika diterima … kapan kamu siap untuk mulai bekerja?” Zahra tersenyum kecil. “Secepatnya.” Kayden mengangguk. “Baiklah.” Setelah itu, Zahra keluar dari ruangan tersebut, dan pintu







